Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran islam lebih dalam. Membina silahtuhrrahim terhadap semua elemen umat islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rosulullah SAW sebagai hasil dari aktifitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Siksaan Abu Lahab Diringankan karena Gembira dengan Kelahiran Nabi Muhammad SAW


Rabi'ul Awal adalah bulan yang dinanti-nantikan para pencinta Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Sebab pada bulan inilah Sang Pembawa Cahaya dilahirkan ke dunia.

Setiap bulan Rabi'ul Awal kita sering mendengar kisah ini disampaikan di berbagai majelis dan perayaan Maulid Nabi. Kisah ini menceritakan siksaan Abu Lahab yang diringankan Allah sebab kegembiraannya dengan kelahiran Nabi صلى الله عليه وسلم. Para ulama menyebutkan kisah ini dalam kitab-kitab hadits. 

Dikisahkan, Abu Lahab pernah memerdekakan budaknya Tsuaibah ketika ia menyampaikan berita kelahiran Nabi صلى الله عليه وسلم. Sahabat mulia Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu melihat Abu Lahab dalam mimpinya setelah wafatnya Abu Lahab.

Dalam mimpinya, Ibnu Abbas menanyakan kepada Abu Lahab tentang keadaannya, maka Abu Lahab menjawab: "Setelah aku wafat, aku tidak melihat akan adanya suatu kebaikan yang menghampiriku kecuali aku diberi minum dan diringankan siksaku setiap malam Senin, sebab aku memerdekakan budakku Tsuaibah."

Sumber kisah yang menerangkan diringankannya siksa Abu Lahab adalah hadits berikut:

قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ


"Berkata 'Urwah "Tsuwaibah adalah bekas budak Abu Lahab ,pada waktu itu Abu Lahab membebaskannya, lalu Tsuwaibah pun menyusui Nabi صلى الله عليه وسلم. Ketika Abu Lahab meninggal, ia pun diperlihatkan kepada sebagian keluarganya di alam mimpi dengan keadaan yang memprihatinkan. Sang kerabat berkata padanya, Apa yang telah kamu dapatkan? Abu Lahab berkata: Setelah kalian, aku belum pernah mendapati sesuatu nikmat pun, kecuali aku diberi minum lantaran memerdekakan Tsuwaibah."

Hadits di atas diriwayatkan banyak dari para ulama hadits dan ulama sejarah, di antaranya:
1) Imam al-Bukhari dalam kitab sahihnya.
2) Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fathulbarinya.
3) Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam kitab Sirah an-Nabawiyahnya.
4) Al-Hafidz Al-Baghowi dalam kitab Syarah Sunnahnya.
5) Al-Hafidz Al-Baihaqi dalam kitab Dalaailnya.

Para ulama yang meriwayatkan hadits tersebut adalah ulama pembesar hadits dan sudah sampai derajat al-Hafidz, yaitu ulama yang hafal seratus ribu hadits sanad dan matannya.
Bagaimanakah status hadits tersebut? Status hadits itu adalah hadits mursal yang diterima, sebab beberapa alasan, di antaranya :

1. Imam Al-Bukhari meriwayatkannya.
2. Para ulama yang bergelar al-Hafidz berpegang dengan hadits tersebut.
3. Hadits tersebut menerangkan kisah dan kelebihan-kelebihan, bukan masalah halal dan haram.

Imam Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam kitab Bidayah wa Nihayahnya berkata: "Diringankannya siksaan Abu Lahab adalah berupa balasan dari rasa gembiranya ia ketika Nabi dilahirkan kemudian ia memerdekakan budaknya Tsuaibah."

Imam al-Hafidz Abdurrahman Asy-Syaibani dalam kitab Sirahnya berkata: "Diringankannya siksaan Abu Lahab hanyalah sebab kemuliaan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. 

Imam al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fathulbarinya berkata: "Hasil dari perkara ini adalah keringanan siksaan Abu Lahab merupakan suatu balasan baik atas kebaikan yang ia lakukan, yaitu gembiranya ia ketika nabi dilahirkan kemudian ia memerdekakan budaknya Tsuaibah."

Kisah tersebut adalah suatu kisah yang sudah masyhur dalam kitab-kitab hadits dan sejarah dan kisah tersebut disampaikan juga oleh para al-Hafidz yang dipercaya dan diperpegangi.
Kisah ini disampaikan sang Imam hadits yaitu Imam al-Bukhari dalam kitab sahihnya, dimana kitab itu disepakati tentang keagungannya dan hadits-hadits musrsalnya tidak keluar dari daerah maqbul (diterima).

Apabila Abu Lahab yang merupakan seorang kafir yang jelas dalam Al-Qur'an dijelaskan masuk neraka, ia mendapat balasan baik sebab bergimbaranya dengan kelahiran Nabi. Lantas bagaimana dengan muslim yang bertauhid bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم?
Semoga kisah ini dapat menambah kecintaan kita kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Dan mudah-mudahan kita tidak terhalang mendapat berkah dari merayayakan kelahiran Nabi صلى الله عليه وسلم yang mulia. Aamiiin. 

Referensi:
1. Kitab Fath al-Baarii Karya Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-'Asqollaani.
2. Kitab Haul al-Ihtifaal Bidzikroo al-Maulid an-Nabawi asy-Syariif Karya Abuya Sayyid Muhammad bin 'Alwi al-Maliki.
3. Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah Karya al Hafizh Ibnu Katsir.
4. Kitab Shohih al-Bukahri Karya Imam al-Bukahri.
5. Kitab Mafaahiim Yajibu an Tushohhah Karya Abuya Sayyid Muhammad bin 'Alwi al-Maliki.

Wallahu A'lam




Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *