Siapa yang menyangka bahwa di tengah riuh rendahnya pusat grosir terbesar di Asia Tenggara, terdapat sebuah oase spiritual yang telah bertahan hampir dua dekade? Malam itu, di bawah langit Tanah Abang tahun 2026, Haji Heri berdiri di atas panggung dengan mata yang berkaca-kaca namun suara yang mantap. Bagi warga Jakarta, khususnya jamaah Majelis Nurul Mustofa, sosok Haji Heri bukan sekadar panitia atau penyedia tempat; beliau adalah penjaga amanah, seorang sahibul bait yang hatinya tertambat pada syiar dakwah.
Amanah yang Tak Lekang Oleh Waktu
Dalam sambutannya yang emosional, Haji Heri mengingatkan kita semua bahwa Takbir Akbar ini sudah memasuki tahun ke-18. Angka 18 bukanlah waktu yang sebentar. Jika ini adalah seorang anak, maka ia sudah tumbuh menjadi pemuda yang gagah. Haji Heri menekankan bahwa konsistensi ini bukan lahir dari ambisinya pribadi, melainkan sebuah instruksi sakral—sebuah amanah dari sang guru tercinta, Al-Maghfurlah Habib Hasan bin Jafar Assegaf.
"Malam tahun baru dan malam takbiran, pusatnya ada di Tanah Abang. Jangan coba-coba bikin di tempat lain," kata beliau mengutip pesan sang guru. Kalimat ini bukan sekadar klaim wilayah, melainkan simbol ketaatan seorang murid kepada gurunya. Di tahun 2026 ini, di mana banyak hal berubah begitu cepat, Haji Heri membuktikan bahwa ada hal-hal yang harus tetap tegak berdiri: yaitu istiqamah dalam menjalankan perintah guru. Beliau ingin memastikan bahwa meskipun Habib Hasan secara fisik telah tiada, api semangat yang beliau nyalakan di Tanah Abang tidak boleh padam.
Duka Pribadi di Balik Syiar Publik
Ada sisi kemanusiaan yang sangat menyentuh dalam ceramah singkat Haji Heri malam itu. Beliau menceritakan bahwa Lebaran tahun ini terasa berbeda. Hanya berselang 30 hari yang lalu, ibunda tercinta beliau baru saja berpulang ke rahmatullah. Bisa kita bayangkan betapa berat beban mental yang dipikul: di satu sisi sedang berduka kehilangan sosok ibu yang selama ini mendukung kegiatannya, di sisi lain beliau harus tetap tegak berdiri menyambut ribuan jamaah.
Beliau memohon doa dari para jamaah agar kegiatan takbiran ini menjadi amal jariyah yang pahalanya mengalir deras untuk sang ibu. Ini adalah pelajaran bagi kita semua tentang arti pengorbanan. Haji Heri mengajarkan bahwa duka pribadi tidak boleh menghalangi khidmat kepada umat. Justru dengan melayani umat, beliau berharap mendapatkan keberkahan yang bisa dikirimkan untuk orang tua yang telah tiada.
Tanah Abang: Bukan Sekadar Pasar, Tapi Mimbar Dakwah
Bagi Haji Heri, pasar adalah tempat yang penuh berkah jika diisi dengan zikir. Beliau menepis anggapan bahwa pasar bukanlah tempat yang layak untuk takbiran akbar karena becek atau berantakan. "Pasar ini berkah, pasarnya dapet doa dari para habaib," tegasnya. Beliau ingin mengubah citra Tanah Abang dari tempat yang identik dengan hiruk pikuk perdagangan semata menjadi tempat yang juga dikenal sebagai mimbar dakwah akbar.
Haji Heri menutup sambutannya dengan mengajak seluruh kru dan panitia untuk tetap solid. Beliau tahu bahwa tanpa dukungan kru yang militan, acara sebesar ini tak mungkin berjalan. Pesannya jelas: ketaatan, soliditas, dan doa adalah kunci keberhasilan sebuah pergerakan dakwah. Di akhir sambutannya, beliau tak lupa menyelipkan harapan agar kita semua dipanjangkan umur untuk bisa bertemu lagi di Tanah Abang tahun depan. Sebuah penutupan yang sederhana namun penuh dengan harapan dan keikhlasan.
