Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran islam lebih dalam. Membina silahtuhrrahim terhadap semua elemen umat islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rosulullah SAW sebagai hasil dari aktifitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Orang Baik Bukan Dilihat dari Banyaknya Ibadah Saja, Tapi dari Cara Memuliakan Orang Lain


Di media sosial, kita sering menemukan kutipan yang begitu menenangkan hati. Salah satunya seperti yang tertulis pada gambar di atas:

"Orang baik itu tidak dilihat dari ibadahnya, tidak juga dilihat dari banyaknya ilmu. Tapi dilihat dari caranya memuliakan orang lain."

Di bagian bawah gambar juga terdapat kalimat berbahasa Arab:

حَبِيبُ اللهِ حَبِيبُ مَنِ النَّاسِ

Yang kurang lebih bermakna, "Orang yang dicintai Allah adalah orang yang dicintai manusia."

Kalimat ini bukan berarti ibadah dan ilmu tidak penting. Justru keduanya adalah pondasi. Namun, ukuran kebaikan seseorang tidak berhenti pada seberapa rajin ia beribadah atau seberapa tinggi ilmunya. Semua itu seharusnya tercermin dalam akhlak dan cara memperlakukan sesama.

Ibadah yang Melahirkan Akhlak

Bayangkan ada seseorang yang tidak pernah meninggalkan salat berjamaah, rajin puasa sunnah, dan hafal banyak kitab. Namun saat berbicara, ia suka merendahkan orang lain. Saat diberi amanah, ia tidak jujur. Ketika melihat orang yang berbeda pendapat, ia mudah menghina.

Lalu ada orang lain yang ibadahnya biasa saja dibandingkan yang pertama, tetapi tutur katanya lembut, ringan membantu, menjaga lisan, dan membuat siapa pun merasa dihargai.

Mana yang lebih nyaman berada di dekat kita?

Inilah mengapa Islam sangat menekankan akhlak. Ibadah yang benar semestinya memperbaiki perilaku. Jika ibadah belum mampu membuat seseorang lebih penyayang, lebih sabar, dan lebih rendah hati, berarti masih ada yang perlu diperbaiki dalam penghayatannya.

Ilmu Tanpa Adab Bisa Menjadi Bumerang

Ilmu adalah cahaya. Namun cahaya itu akan redup jika tidak dihiasi adab.

Tidak sedikit orang yang pandai berdiskusi, hafal dalil, bahkan mampu menjelaskan banyak perkara agama. Sayangnya, semua itu terkadang digunakan untuk menjatuhkan orang lain, merasa paling benar, atau meremehkan yang masih belajar.

Padahal orang berilmu justru seharusnya semakin rendah hati. Semakin banyak mengetahui, semakin sadar bahwa dirinya masih memiliki banyak kekurangan.

Memuliakan Orang Lain Adalah Tanda Kedewasaan

Memuliakan orang lain bukan berarti selalu setuju dengan semua orang. Bukan pula harus mengorbankan prinsip.

Memuliakan berarti:

  • Menghargai tanpa memandang status sosial.
  • Menjaga lisan agar tidak menyakiti.
  • Mendengarkan sebelum menghakimi.
  • Membantu tanpa berharap balasan.
  • Menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.
  • Tetap sopan meski berbeda pendapat.

Sikap-sikap sederhana seperti inilah yang sering kali lebih membekas di hati seseorang dibandingkan nasihat yang panjang.

Rasulullah Menjadi Teladan

Keindahan akhlak Rasulullah ﷺ menjadi alasan banyak orang mencintai beliau.

Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan, memaafkan orang yang menyakitinya, menghormati tamu, menyayangi anak-anak, dan memperlakukan semua orang dengan penuh kasih sayang.

Tak heran jika banyak orang masuk Islam bukan hanya karena mendengar dakwah beliau, tetapi karena menyaksikan akhlaknya.

Dunia Sedang Haus Akan Orang yang Menghargai Sesama

Hari ini kita hidup di zaman ketika komentar pedas lebih mudah viral daripada kata-kata yang menyejukkan. Orang berlomba-lomba terlihat hebat, tetapi lupa membuat orang lain merasa dihargai.

Padahal senyum, sapaan yang ramah, mengucapkan terima kasih, meminta maaf ketika salah, dan tidak meremehkan orang lain adalah bentuk ibadah yang sering dianggap sepele.

Mungkin kita tidak akan dikenal sebagai orang paling pintar. Mungkin kita juga belum menjadi ahli ibadah seperti para ulama. Namun jika kehadiran kita membuat orang lain merasa nyaman, dihormati, dan dimuliakan, itu adalah nikmat yang sangat besar.

Penutup

Ibadah adalah hubungan kita dengan Allah. Ilmu adalah bekal untuk memahami agama. Namun keduanya akan terlihat indah ketika melahirkan akhlak yang baik kepada sesama manusia.

Karena pada akhirnya, orang akan lebih mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka daripada seberapa banyak ilmu yang kita miliki atau seberapa panjang ibadah yang kita lakukan.

Mari terus memperbaiki ibadah, menambah ilmu, dan yang tidak kalah penting, belajar memuliakan setiap orang yang Allah hadirkan dalam kehidupan kita. Sebab bisa jadi, akhlak yang baik itulah yang menjadi jalan datangnya cinta Allah dan cinta manusia.

Baca juga :




Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *