Istiqomah sering kali kita bayangkan sebagai seseorang yang rajin beribadah, berpakaian baik, rutin menghadiri majelis ta'lim, atau terlihat semakin dekat dengan agama.
Semua itu tentu merupakan bagian dari kebaikan. Namun, ada satu bentuk istiqomah yang jauh lebih sulit dan sering tidak terlihat oleh manusia: istiqomah menjaga hati.
Sebab, menjaga penampilan mungkin bisa dilakukan ketika berada di depan orang lain. Tetapi menjaga hati ketika tidak ada yang melihat? Di situlah perjuangan sebenarnya.
Seperti pesan sederhana dalam gambar yang menjadi inspirasi tulisan ini:
“Istiqomah yang paling sulit bukanlah cara berpakaian atau rajin pergi ke majelis ta'lim, melainkan sulitnya menjaga hati agar tidak merasa lebih baik dari orang lain.”
Kalimatnya sederhana, tetapi kalau benar-benar direnungkan, pesannya dalam sekali.
Rajin Beribadah Belum Tentu Membuat Kita Lebih Baik dari Orang Lain
Kadang kita merasa senang ketika melihat diri sendiri mulai berubah.
Dulu mungkin jarang membaca Al-Qur'an, sekarang mulai rutin. Dulu jarang datang ke kajian, sekarang mulai rajin. Dulu mudah meninggalkan salat, sekarang berusaha menjaganya.
Itu semua patut disyukuri.
Tetapi ada satu jebakan yang harus kita waspadai: jangan sampai kebaikan yang sedang kita perjuangkan justru membuat kita memandang orang lain lebih rendah.
Tanpa sadar, hati bisa berbisik:
“Aku sudah lebih baik daripada dia.”
“Kok dia masih seperti itu?”
“Aku sudah rajin kajian, sementara dia tidak.”
Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana kedudukan seseorang di hadapan Allah.
Yang Terlihat oleh Kita Hanya Bagian Luarnya
Kita melihat seseorang mungkin belum rajin beribadah. Kita melihat kekurangannya. Kita melihat kesalahannya.
Tetapi kita tidak melihat perjuangan yang sedang dia jalani.
Kita tidak tahu doa yang diam-diam dia panjatkan.
Kita tidak tahu air mata yang mungkin jatuh ketika tidak ada seorang pun di sampingnya.
Kita juga tidak tahu satu kebaikan kecil yang mungkin sangat berarti di sisi Allah.
Karena itu, jangan terlalu cepat menilai perjalanan spiritual orang lain hanya dari apa yang terlihat.
Bisa jadi orang yang hari ini kita anggap jauh dari Allah justru sedang berjalan menuju-Nya dengan cara yang tidak kita ketahui.
Istiqomah Menjaga Hati Jauh Lebih Sulit
Berpakaian baik bisa dilihat manusia.
Datang ke majelis ta'lim bisa diketahui orang.
Rajin membaca Al-Qur'an bisa terlihat dari kebiasaan kita.
Tetapi bagaimana dengan menjaga hati dari rasa ujub, sombong, iri, dengki, dan merasa lebih mulia?
Tidak ada yang tahu.
Bahkan orang terdekat kita mungkin tidak menyadarinya.
Karena itulah menjaga hati menjadi perjuangan yang sangat personal. Kita bisa terlihat baik di luar, tetapi masih harus terus berjuang membersihkan apa yang ada di dalam.
Jangan Sampai Amal Membuat Kita Merasa Lebih Tinggi
Ini bagian yang perlu kita renungkan bersama.
Kita beribadah karena ingin mendekat kepada Allah, bukan untuk mendapatkan gelar sebagai orang paling saleh.
Kita belajar agama bukan supaya bisa merasa paling benar, tetapi supaya semakin mengenal kebenaran dan semakin rendah hati.
Kita menghadiri majelis ta'lim bukan untuk mencari alasan menghakimi orang lain, tetapi untuk memperbaiki diri sendiri.
Semakin banyak ilmu seharusnya membuat kita semakin sadar bahwa masih banyak yang harus diperbaiki.
Bukan semakin mudah menunjuk kesalahan orang lain.
Kalau Melihat Orang Lain Belum Berubah, Doakan
Ada perbedaan besar antara menasihati dan merasa lebih tinggi.
Menjadi baik bukan berarti kita harus diam ketika melihat kemungkaran. Nasihat tetap memiliki tempat. Tetapi cara menyampaikannya harus lahir dari kasih sayang, bukan dari kesombongan.
Daripada hati berkata, “Aku lebih baik darinya,” jauh lebih baik jika kita berkata dalam hati:
“Semoga Allah memberi dia kebaikan. Dan semoga Allah juga memperbaiki diriku.”
Dengan begitu, kita tidak menjadikan kebaikan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.
Jangan Merasa Aman Hanya Karena Hari Ini Sedang Taat
Hari ini kita mungkin sedang rajin beribadah.
Besok kita tidak tahu.
Hari ini hati kita mungkin terasa dekat dengan Allah.
Besok kita tidak tahu ujian apa yang akan datang.
Karena itu, daripada sibuk menghitung kekurangan orang lain, lebih baik kita sibuk memohon kepada Allah agar hati kita tetap dijaga.
Istiqomah bukan hanya meminta agar langkah kita tetap berada di jalan kebaikan, tetapi juga meminta agar hati kita tetap rendah ketika sedang berada di jalan tersebut.
Hati-Hati dengan Pujian
Salah satu ujian ketika seseorang mulai berubah menjadi lebih baik adalah pujian.
Awalnya kita beribadah karena Allah. Kemudian orang lain mulai mengatakan:
“Wah, sekarang kamu sudah rajin.”
“Kamu kelihatan semakin alim.”
“Kamu berbeda sekarang.”
Pujian seperti itu memang menyenangkan. Tetapi jangan sampai perlahan-lahan kita mulai menikmati penilaian manusia lebih daripada ridha Allah.
Kalau hati mulai senang dianggap baik, saat itulah kita perlu kembali mengingat bahwa manusia hanya melihat apa yang tampak, sedangkan Allah mengetahui seluruh isi hati.
Belajar Menjadi Baik Tanpa Merasa Lebih Baik
Ini mungkin salah satu bentuk kedewasaan dalam beragama.
Kita tetap berusaha menjadi lebih baik, tetapi tidak merasa lebih baik.
Kita tetap belajar, tetapi tidak merendahkan orang yang belum tahu.
Kita tetap beribadah, tetapi tidak menjadikan ibadah sebagai alasan untuk merasa lebih suci.
Kita tetap menasihati, tetapi tidak lupa bahwa diri kita juga membutuhkan nasihat.
Kita tetap menjaga diri, tetapi tidak sibuk menghakimi perjalanan orang lain.
Inilah sikap yang membuat kebaikan terasa lebih teduh.
Kalau Hati Mulai Merasa Lebih Baik, Segera Ingat Kekurangan Diri
Ada cara sederhana untuk mengingatkan diri sendiri.
Ketika hati mulai merasa lebih baik daripada orang lain, coba tanyakan kepada diri sendiri:
- Apakah semua amal saya sudah benar-benar ikhlas?
- Apakah saya sudah bebas dari dosa yang tidak diketahui orang lain?
- Apakah saya benar-benar lebih baik, atau hanya terlihat lebih baik?
- Apakah saya tahu bagaimana akhir perjalanan hidup saya?
- Apakah saya sudah cukup bersyukur atas kesempatan yang Allah berikan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bukan untuk membuat kita rendah diri, tetapi untuk menjaga hati agar tetap rendah hati.
Jangan Bandingkan Perjalanan Imanmu dengan Orang Lain
Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda.
Ada yang sejak kecil sudah dekat dengan agama. Ada yang baru menemukan jalan setelah melewati banyak kesalahan. Ada yang terlihat sangat kuat dari luar, tetapi ternyata sedang berjuang keras di dalam.
Kita tidak perlu sibuk membandingkan.
Yang perlu kita tanyakan justru:
“Apakah hari ini aku lebih baik daripada diriku yang kemarin?”
Kalau jawabannya iya, lanjutkan.
Kalau hari ini masih jatuh, bangkit lagi.
Kalau masih banyak kekurangan, perbaiki perlahan.
Karena tujuan kita bukan menjadi lebih baik daripada manusia lain. Tujuan kita adalah terus berusaha menjadi hamba yang lebih baik di hadapan Allah.
Istiqomah Bukan Tentang Terlihat Sempurna
Jangan merasa harus terlihat sempurna untuk disebut sedang memperbaiki diri.
Manusia pasti punya kekurangan.
Yang penting adalah terus kembali ketika salah, terus belajar ketika belum tahu, terus berusaha ketika jatuh, dan terus meminta pertolongan Allah ketika merasa lemah.
Jangan sampai kita terlalu sibuk membangun citra sebagai orang baik sampai lupa membangun hati yang benar-benar baik.
Karena yang paling berharga bukan bagaimana kita terlihat di mata manusia, tetapi bagaimana keadaan hati kita ketika hanya Allah yang mengetahuinya.
Penutup: Semoga Kita Istiqomah Sampai Akhir
Pada akhirnya, menjadi baik bukan perlombaan untuk mengalahkan orang lain.
Menjadi baik adalah perjalanan untuk mendekat kepada Allah.
Kalau hari ini Allah memberi kita kesempatan untuk rajin beribadah, jangan gunakan kesempatan itu untuk merasa lebih tinggi. Gunakan untuk semakin bersyukur.
Kalau Allah memberi kita ilmu, jangan gunakan untuk merendahkan. Gunakan untuk menerangi.
Kalau Allah memberi kita kesempatan hadir di majelis ta'lim, jangan hanya membawa pulang pengetahuan. Bawa juga pulang kerendahan hati.
Dan kalau suatu hari hati mulai berbisik bahwa kita lebih baik daripada orang lain, semoga kita segera sadar:
Kita masih sama-sama membutuhkan ampunan Allah.
Semoga Allah menjaga langkah kita dalam kebaikan, membersihkan hati dari ujub dan kesombongan, menjauhkan kita dari iri dan dengki, serta memberikan kita istiqomah yang bukan hanya terlihat dari luar, tetapi juga terasa dalam hati.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.
