Pernah nggak kamu bertemu seseorang yang tetap berbuat baik, padahal sebelumnya kamu pernah memperlakukannya dengan kurang baik?
Rasanya justru jadi malu sendiri.
Karena ternyata, orang yang kita sakiti belum tentu membalas dengan keburukan. Bisa saja dia memilih tetap diam, tetap menghargai, bahkan tetap membantu ketika kita sedang membutuhkan.
Di situlah kita sering sadar bahwa kebaikan seseorang kadang jauh lebih “menampar” daripada kemarahan.
Kalimat pada gambar ini mengingatkan kita pada satu hal sederhana:
“Jangan jahat-jahat sama orang, nanti kalau dibales dengan kebaikan malunya sampai akhir.”
Kebaikan Bisa Membuat Kita Introspeksi
Kalau seseorang membalas keburukan dengan keburukan, mungkin kita masih merasa punya alasan untuk membela diri.
“Dia juga begitu ke aku.”
“Dia yang mulai duluan.”
“Aku cuma membalas.”
Tapi bagaimana kalau orang tersebut justru memilih berbuat baik?
Di situlah hati biasanya mulai berpikir.
Kita jadi bertanya kepada diri sendiri, “Kenapa dulu aku memperlakukannya seperti itu?”
Dan terkadang, rasa malu karena menyadari kesalahan sendiri jauh lebih berat daripada menerima sebuah teguran.
Tidak Semua Keburukan Harus Dibalas dengan Keburukan
Hidup memang tidak selalu adil. Ada kalanya kita diperlakukan tidak baik, disalahpahami, diremehkan, atau bahkan disakiti oleh orang lain.
Tetapi kita tetap punya pilihan tentang bagaimana cara meresponsnya.
Kita bisa membalas dengan kemarahan. Bisa menyimpan dendam. Bisa membicarakannya kepada banyak orang.
Atau kita bisa memilih untuk tidak ikut menjadi buruk hanya karena seseorang pernah berbuat buruk kepada kita.
Berbuat baik bukan berarti kita lemah. Kadang justru dibutuhkan kekuatan besar untuk tetap menjaga sikap ketika kita punya alasan untuk membalas.
Kebaikan Tidak Berarti Membiarkan Diri Disakiti
Namun ada satu hal yang juga perlu dipahami.
Berbuat baik bukan berarti kita harus membiarkan orang lain terus menyakiti kita.
Kita tetap boleh menjaga jarak. Kita boleh berkata tidak. Kita boleh menetapkan batas. Kita juga boleh meninggalkan hubungan yang tidak sehat.
Yang perlu dijaga adalah jangan sampai luka membuat kita berubah menjadi orang yang sama buruknya dengan orang yang pernah menyakiti kita.
Kita bisa tegas tanpa harus kasar.
Kita bisa pergi tanpa harus membenci.
Kita bisa memaafkan tanpa harus kembali memberikan kepercayaan yang sama.
Kalau Bisa Membalas, Pilihlah dengan Bijak
Dalam Islam, prinsip membalas kebaikan dengan kebaikan juga memiliki dasar yang kuat. Al-Qur'an menyebutkan dalam Surah Ar-Rahman ayat 60:
“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).”
QS. Ar-Rahman: 60
Ayat tersebut berada dalam rangkaian pembahasan tentang balasan bagi orang-orang yang berbuat baik.
Pesannya indah: kebaikan bukan sesuatu yang sia-sia. Allah mengetahui kebaikan yang dilakukan manusia dan memberikan balasan yang baik atasnya.
Karena itu, ketika seseorang berbuat buruk kepada kita, tidak selamanya kita harus mengikuti cara mereka.
Kita boleh memilih menjadi lebih baik.
Jangan Sampai Penyesalan Datang Belakangan
Ada banyak hubungan yang akhirnya rusak bukan karena masalahnya terlalu besar, tetapi karena masing-masing orang terlalu gengsi untuk mengakui kesalahan.
Ucapan yang seharusnya tidak keluar akhirnya terucap.
Perlakuan yang seharusnya tidak dilakukan akhirnya dilakukan.
Dan ketika semuanya sudah berlalu, barulah muncul penyesalan.
Apalagi kalau ternyata orang yang pernah kita sakiti justru tetap mendoakan kita, membantu kita, atau tidak pernah membalas perlakuan buruk tersebut.
Rasa malu bisa datang bukan karena dia membalas, tetapi karena kita sadar bahwa kita pernah berbuat salah kepada orang yang ternyata jauh lebih baik daripada yang kita kira.
Jangan Menunggu Kehilangan untuk Menghargai Orang
Kita sering baru menyadari nilai seseorang setelah mereka tidak lagi berada di dekat kita.
Padahal selama masih ada kesempatan, kita bisa memperbaiki sikap.
Kalau pernah salah kepada seseorang, tidak ada salahnya meminta maaf.
Kalau pernah menyakiti, belajar untuk tidak mengulanginya.
Kalau pernah meremehkan kebaikan seseorang, mulai belajar menghargainya.
Tidak perlu menunggu hubungan benar-benar berakhir untuk menyadari bahwa seseorang pernah memberikan banyak kebaikan dalam hidup kita.
Berbuat Baik Bukan Karena Ingin Dipuji
Ada satu hal penting lainnya: jangan berbuat baik hanya karena ingin mendapatkan balasan dari manusia.
Kalau kebaikan kita selalu dihitung berdasarkan apa yang akan kita terima kembali, kita akan mudah kecewa.
Berbuat baiklah karena memang itu pilihan yang ingin kita ambil.
Kalau suatu hari kebaikan tersebut dibalas dengan kebaikan, syukuri.
Kalau tidak dibalas, jangan merasa bahwa semuanya sia-sia.
Dalam perspektif iman, balasan kebaikan tidak hanya bergantung pada manusia. Allah mengetahui dan menilai amal kebaikan yang dilakukan seseorang. Prinsip Surah Ar-Rahman 55:60 juga mengingatkan tentang balasan kebaikan.
Kalau Pernah Berbuat Jahat, Masih Bisa Berubah
Kalau membaca kalimat ini lalu tiba-tiba teringat seseorang yang pernah kamu sakiti, jangan hanya berhenti pada rasa bersalah.
Jadikan itu sebagai kesempatan untuk berubah.
- Akui kalau memang pernah melakukan kesalahan.
- Jangan mencari pembenaran untuk kesalahan tersebut.
- Jika memungkinkan, minta maaf dengan tulus.
- Perbaiki perilaku, bukan hanya kata-kata.
- Jangan mengulangi kesalahan yang sama kepada orang lain.
- Belajar menghargai kebaikan sekecil apa pun yang diberikan orang lain.
Karena meminta maaf itu bukan tanda kalah.
Justru dibutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa kita pernah salah.
Pada Akhirnya, Kebaikan Akan Menjadi Cermin
Mungkin itu alasan kenapa kebaikan terkadang terasa sangat menampar.
Seseorang tidak membalas keburukan kita dengan kemarahan. Dia justru memilih tetap baik.
Dan tanpa banyak bicara, sikapnya membuat kita melihat diri sendiri.
Kita akhirnya sadar bahwa masalah sebenarnya bukan selalu tentang bagaimana orang lain memperlakukan kita.
Kadang kita juga perlu bertanya:
“Sudahkah aku menjadi orang yang baik dalam memperlakukan orang lain?”
Jadi, sebelum menyakiti seseorang, pikirkan lagi.
Sebelum berkata kasar, tahan sebentar.
Sebelum membalas keburukan dengan keburukan, tarik napas dan pikirkan akibatnya.
Karena siapa tahu, suatu hari orang yang kamu sakiti justru menjadi orang yang membalasmu dengan kebaikan.
Dan saat itu terjadi, mungkin kamu bukan marah.
Mungkin kamu justru hanya bisa menunduk dan berkata dalam hati:
“Ternyata aku pernah salah memperlakukan orang sebaik ini.”
Jadi, sebisa mungkin jangan jahat kepada orang lain. Bukan hanya karena takut mendapatkan balasan buruk, tetapi karena menjadi baik adalah pilihan yang jauh lebih menenangkan.
Dan kalau suatu hari kebaikanmu dibalas dengan kebaikan, semoga itu menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak pernah benar-benar sia-sia.
