Pernah merasa hidupmu biasa-biasa saja ketika melihat kehidupan orang lain?
Melihat teman membeli kendaraan baru, kita mulai merasa tertinggal. Melihat orang lain punya rumah bagus, kita merasa belum sukses. Melihat seseorang jalan-jalan ke tempat impiannya, kita tiba-tiba merasa hidup sendiri kurang menarik.
Padahal, bisa jadi bukan nikmat yang kita miliki yang sedikit. Kita hanya terlalu sering membandingkannya dengan nikmat milik orang lain.
Kalimat pada gambar ini sederhana, tetapi cukup menampar:
“Akan selalu kurang, jika standar bersyukurmu adalah nikmat orang lain.”
Pesannya sangat relevan dengan kehidupan sekarang, ketika media sosial membuat kita begitu mudah melihat pencapaian orang lain setiap hari.
Kenapa Kita Sering Merasa Kurang?
Manusia memang mudah membandingkan.
Kita melihat apa yang dimiliki orang lain, kemudian secara tidak sadar menjadikannya sebagai ukuran untuk menilai kehidupan sendiri.
Masalahnya, kita sering membandingkan kehidupan nyata kita dengan bagian terbaik kehidupan orang lain.
Kita melihat seseorang sukses, tetapi tidak melihat perjuangannya.
Kita melihat seseorang bahagia, tetapi tidak mengetahui masalah yang sedang dia sembunyikan.
Kita melihat rumahnya, kendaraannya, pekerjaannya, liburannya, tetapi tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di balik semua itu.
Akibatnya, kita merasa kalah dalam perlombaan yang sebenarnya tidak pernah kita ikuti.
Media Sosial Bisa Membuat Rasa Syukur Menjadi Kabur
Coba perhatikan kebiasaan kita ketika membuka media sosial.
Hari ini ada teman yang menikah.
Besok ada yang membeli mobil.
Lusa ada yang mendapatkan pekerjaan baru.
Minggu depan ada yang liburan ke luar negeri.
Tanpa sadar kita mulai bertanya kepada diri sendiri:
“Kapan aku seperti mereka?”
Pertanyaan itu sebenarnya tidak selalu salah. Keinginan untuk berkembang adalah hal yang baik.
Yang menjadi masalah adalah ketika pencapaian orang lain membuat kita membenci kehidupan yang sedang kita jalani.
Kita lupa bahwa masih ada banyak hal yang sebenarnya layak disyukuri.
Yang Kamu Anggap Biasa Bisa Jadi Impian Orang Lain
Pernah terpikir bahwa sesuatu yang sekarang kamu anggap biasa mungkin merupakan sesuatu yang sangat diinginkan orang lain?
Bisa jadi kamu mengeluh karena harus bangun pagi untuk bekerja, sementara ada orang yang sedang berjuang mendapatkan pekerjaan.
Kamu merasa makanan di rumah sederhana, sementara ada orang yang berharap hari ini bisa makan dengan tenang.
Kamu menganggap kesehatan sebagai sesuatu yang biasa, sementara ada orang yang rela melakukan apa saja agar bisa kembali menjalani aktivitas normal.
Kamu mungkin merasa keluargamu banyak kekurangan, tetapi ada orang lain yang justru sangat merindukan kehadiran orang tua yang sudah tidak ada.
Sering kali kita baru menyadari nilai sebuah nikmat setelah nikmat tersebut pergi.
Bersyukur Bukan Berarti Berhenti Mengejar Kesuksesan
Ini bagian yang penting.
Bersyukur bukan berarti kamu harus berhenti punya cita-cita.
Bersyukur juga bukan berarti tidak boleh ingin punya rumah yang lebih baik, penghasilan yang lebih besar, pekerjaan yang lebih bagus, atau kehidupan yang lebih nyaman.
Boleh ingin lebih. Tetapi jangan membenci apa yang sudah ada hanya karena melihat milik orang lain.
Kamu tetap boleh mengejar impian sambil bersyukur.
Kamu bisa berkata:
“Aku bersyukur dengan apa yang aku punya hari ini, tetapi aku juga akan terus berusaha menjadi lebih baik.”
Itu jauh lebih sehat daripada terus merasa kurang dan menganggap hidup baru akan bahagia setelah memiliki apa yang dimiliki orang lain.
Jangan Jadikan Kehidupan Orang Lain sebagai Penggaris Hidupmu
Setiap orang punya jalan masing-masing.
Ada yang sukses di usia muda.
Ada yang baru menemukan jalannya setelah bertahun-tahun.
Ada yang menikah lebih cepat.
Ada yang memilih menunggu.
Ada yang langsung mendapatkan pekerjaan impian.
Ada pula yang harus mencoba berkali-kali sebelum menemukan tempat yang tepat.
Kecepatan orang lain bukan ukuran keterlambatanmu.
Kalau temanmu sudah sampai di lantai sepuluh, bukan berarti kamu gagal karena masih berada di lantai tiga.
Mungkin memang perjalananmu berbeda.
Yang penting, jangan berhenti berjalan.
Bedakan Antara Motivasi dan Perbandingan
Melihat kesuksesan orang lain sebenarnya bisa menjadi motivasi.
Misalnya kamu melihat seseorang sukses membangun bisnis, lalu kamu belajar dari caranya. Kamu melihat seseorang berhasil menyelesaikan pendidikan, lalu kamu menjadi lebih semangat belajar.
Itu positif.
Tetapi kalau setelah melihat pencapaian orang lain kamu justru merasa:
- hidupmu tidak berguna,
- dirimu selalu tertinggal,
- nikmat yang kamu punya tidak berarti,
- kamu iri dengan kehidupan orang lain,
- atau merasa tidak akan pernah bahagia,
maka mungkin sudah waktunya mengubah cara pandang.
Jadikan kesuksesan orang lain sebagai inspirasi, bukan sebagai alasan untuk merendahkan dirimu sendiri.
Coba Lihat Lagi Apa yang Sudah Kamu Miliki
Kalau hari ini kamu merasa hidupmu kurang, coba berhenti sebentar.
Jangan langsung melihat apa yang belum kamu punya.
Lihat dulu apa yang sudah ada.
Masih bisa bangun pagi.
Masih punya kesempatan belajar.
Masih bisa bekerja.
Masih bisa memperbaiki kesalahan.
Masih ada orang yang peduli.
Masih punya kesempatan untuk berdoa.
Masih diberi waktu untuk memperbaiki diri.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana.
Tetapi ketika kita kehilangan salah satunya, barulah kita sadar bahwa ternyata selama ini kita memiliki sesuatu yang sangat berharga.
Syukur Mengubah Cara Kita Melihat Kehidupan
Keadaan tidak selalu bisa kita ubah dengan cepat.
Penghasilan mungkin belum sesuai harapan. Rumah mungkin belum seperti impian. Karier mungkin masih berjalan pelan. Rencana hidup mungkin belum semuanya tercapai.
Tetapi ada satu hal yang bisa kita ubah sekarang: cara kita memandang semua itu.
Daripada berkata:
“Kenapa aku tidak punya seperti dia?”
Cobalah menggantinya dengan:
“Apa yang bisa aku syukuri hari ini, dan apa yang masih bisa aku perjuangkan?”
Pertanyaan kedua membuat kita tetap bersyukur tanpa kehilangan semangat untuk berkembang.
Jangan Sampai Mengejar Nikmat Orang Lain, Lalu Kehilangan Nikmat Sendiri
Ini salah satu jebakan terbesar dari kebiasaan membandingkan diri.
Kita terlalu sibuk menginginkan kehidupan orang lain sampai tidak sempat menikmati kehidupan sendiri.
Sudah punya pekerjaan, tetapi tidak pernah menikmatinya karena ingin pekerjaan orang lain.
Sudah punya keluarga, tetapi sibuk membandingkannya dengan keluarga orang lain.
Sudah punya kendaraan, tetapi merasa kurang karena kendaraan orang lain lebih bagus.
Sudah memiliki rumah, tetapi tidak merasa bahagia karena rumah orang lain lebih besar.
Kalau terus seperti itu, sebanyak apa pun yang kita miliki tidak akan pernah terasa cukup.
Belajar Merasa Cukup, Bukan Berarti Menjadi Pasrah
Ada perbedaan besar antara qanaah dan menyerah.
Merasa cukup bukan berarti tidak mau berkembang.
Merasa cukup berarti hati tidak terus-menerus tersiksa oleh apa yang belum dimiliki.
Sementara tangan tetap bekerja.
Pikiran tetap belajar.
Doa tetap dipanjatkan.
Usaha tetap dilakukan.
Dengan begitu, kita bisa mengejar masa depan tanpa membenci masa kini.
Kalau Ingin Membandingkan, Bandingkan dengan Dirimu yang Dulu
Daripada terus melihat pencapaian orang lain, sesekali lihatlah perjalananmu sendiri.
Apakah kamu sekarang lebih sabar daripada dulu?
Apakah kamu lebih bertanggung jawab?
Apakah kamu sudah meninggalkan kebiasaan buruk?
Apakah kamu sudah lebih dekat dengan Allah?
Apakah kamu sudah lebih berani menghadapi masalah?
Apakah kamu sudah belajar dari kesalahan masa lalu?
Kalau jawabannya iya, berarti sebenarnya kamu sudah bertumbuh.
Tidak semua kemajuan harus terlihat dalam bentuk uang, rumah, kendaraan, atau jabatan.
Ada kemajuan yang hanya kamu dan Allah yang tahu.
Mulai Bersyukur dari Hal-Hal Kecil
Kamu tidak perlu menunggu menjadi kaya untuk bersyukur.
Tidak perlu menunggu sukses untuk merasa bahagia.
Tidak perlu menunggu semua masalah selesai untuk mengucapkan Alhamdulillah.
Cobalah mulai dari hal sederhana.
- Syukuri kesehatan yang masih diberikan.
- Syukuri keluarga dan orang-orang yang masih menemani.
- Syukuri pekerjaan dan kesempatan mencari rezeki.
- Syukuri makanan yang bisa dinikmati hari ini.
- Syukuri kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri.
- Syukuri waktu yang masih diberikan untuk beribadah dan berbuat baik.
Ketika kita mulai menghitung nikmat, kita akan sadar bahwa ternyata hidup tidak sesempit yang selama ini kita pikirkan.
Penutup: Jangan Ukur Hidupmu dengan Nikmat Orang Lain
Kalimat “akan selalu kurang, jika standar bersyukurnya adalah nikmat orang lain” sebenarnya mengajak kita untuk berhenti sejenak dari perlombaan yang melelahkan.
Kita tidak harus memiliki semuanya.
Kita juga tidak harus menjadi seperti orang lain agar hidup kita bernilai.
Kejar impianmu, tetapi jangan lupa menikmati prosesnya.
Perbaiki kehidupanmu, tetapi jangan hina kehidupanmu yang sekarang.
Belajar dari orang lain, tetapi jangan jadikan hidup mereka sebagai standar mutlak kebahagiaanmu.
Karena kalau standar syukur kita selalu milik orang lain, sebanyak apa pun nikmat yang kita terima akan terasa kurang.
Mulai hari ini, mungkin kita tidak perlu bertanya, “Kenapa hidupku tidak seperti dia?”
Lebih baik bertanya:
“Apa yang sudah Allah berikan kepadaku, dan bagaimana aku bisa menjadikannya lebih berarti?”
Sebab bisa jadi, kehidupan yang sekarang kamu keluhkan justru merupakan kehidupan yang suatu hari nanti akan sangat kamu rindukan.
Bersyukurlah. Bukan karena hidupmu sempurna, tetapi karena di tengah ketidaksempurnaan itu masih begitu banyak nikmat yang layak dihargai.
