Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran islam lebih dalam. Membina silahtuhrrahim terhadap semua elemen umat islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rosulullah SAW sebagai hasil dari aktifitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Mereka Patah, Lambat Tumbuh. Mereka Hilang, Lambat Berganti



Senyum lebar ada di dalam benak kita bahkan wajah kita. Saat ini kita ditinggalkan para ulama dan para habaib. Timbul suatu pertanyaan, ada apa bumi saat ini? maka yang bisa jawab tidak lain adalah nilai-nilai keimanan kita kepada Allah SWT.

Pesan Sayyidil Walid Al Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf, ketika sela-sela ta'lim beliau selalu berpesan kepada kita yaitu ada dua. Jangan tinggalkan majlis ta'lim. Yang kedua tetap lazimkan ucapan Laailahaillah Muhammadur Rasulullah. Dua inilah yang harus kita pegang teguh.

Sebab Imam Hasan al Basri yang hidup di zaman abad kedua Hijriyah, beliau pernah melontarkan pertanyaan kepada murid-muridnya. Kata Imam Hasan al Basri: "Wahai murid-muridku tercinta, ada beberapa hal yang bisa membahayakan hati manusia. Ada beberapa hal yang dapat menjadikan hati manusia berkarat, hancur, luluh lantak tak tersisa."

Didalam kitab Nashohibul Ibad salah satunya kata beliau hati manusia bisa rusak, hati manusia bisa berkarat. Ketika kita mengusung jenazah saudara kita, ketika kita menyolatkan jenazah sahabat kita, ketika mendengar seorang alim, seorang guru kembali kepada Allah SWT. Disitulah kita tidak bisa mengambil satu pelajaran berharga lewat wafatnya para ulama. Disitulah hati kita mati total ketika mendengar kabar kematian seorang ulama justru kita tidak bersedih mendengar kabar meninggalnya orang-orang alim, naudzubillah min zalik.

Saat itulah pelajaran berharga yang dapat kita lihat ketika wafatnya seorang ulama. Tersentak hati kita kaget, seolah-olah nafas berhenti sejenak, bermuram durja duka membelenggu dalam kehidupan. Ketika Sayyidil Walid telah meninggal dipanggil oleh Allah SWT tersyiar kabar dari masjid ke masjid, mushola ke mushola, wa ke wa, semua memasang update status, semua status innalillahi, kita keluar rumah, kita pandang aksara langit, seolah-olah ada apa gerangan ini Allah memanggil orang-orang terbaik dalam kehidupan, selesai itu pula muncul bencana dimana-mana.

Gunung Semeru batuk, itu baru batuk belum muntahnya. Kaya anak bayi, batuk sedikit gumuh dia. Banjir bandang di depan mata, Kalimantan hampir tenggelam, ada apa alam ini semua menjawab tidak lain adalah nilai-nilai kepada Allah SWT. Jangan jauh-jauh dari ulama, jangan jauh-jauh dari agama, ini sudah akhir zaman. Patah tumbuh, hilang berganti. Mereka patah, lambat tumbuh. Mereka hilang, lambat berganti. Kalau dunia ini sudah kosong dengan para habaib dan ulama, sesat menyesatkan akan tumbuh menjamur di muka bumi ini, naudzubillah min zalik.

Artinya jangan pernah jauhi majelis ta'lim, kita dekatkan guru-guru kita biar nanti kita dituntun oleh guru kita Habib Hasan bin Ja'far Assegaf. Biar kita dituntun oleh Sayyidil Walid Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf. Ketika kita lagi kebingungan kita dituntun masuk ke dalam surga. Tapi orang alim sebentar, ngapain? tuntunin orang-orang ketika hidup di alam dunia senantiasa datang ke majelis ta'lim digiring masuk ke dalam surganya Allah SWT.

Mudah-mudahan kita senantiasa mencintai ulama-ulama kita, kita mencintai guru kita Al Habib Hasan bin Ja'far Assegaf, kita doakan beliau supaya Allah panjangkan umurnya, panjangkan umurnya, panjangkan umurnya berkah fiddunya wal akhiroh. Para habaib para ulama yang istiqomah yang lurus di jalan Allah SWT semoga berkah kehidupannya. aaamin
Baca juga :




Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *