Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran islam lebih dalam. Membina silahtuhrrahim terhadap semua elemen umat islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rosulullah SAW sebagai hasil dari aktifitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Kamu Jangan Merasa Kalau Kamu Ngeluarin Duit Bakal Habis


Kamu Jangan Merasa Kalau Kamu Ngeluarin Duit Bakal Habis

Kitab Al Qirtos adalah kitab yang menerangkan tentang kemuliaan Habib Umar bin Abdurrahman Al Athos berserta keturunan-keturunan mulia, murid-murid mulia, semoga kita semua mendapatkan berkah. Ini adalah ilmu untuk menenangkan jiwa kita dari rasa was-was, kebingungan, ketakutan dan ketidakpastian kehidupan di alam dunia ini. Ilmu-ilmu yang diucapkan oleh salafunasholihin dalam qirtosnya adalah ilmu yang membawa kita untuk menuju kebahagiaan, kesenangan, derajat yang tinggi sehingga bila kita memakainya selangkah demi selangkah maka kita akan sampai ke langkahnya Nabi Muhammad SAW.

Diantara begitu banyak ketenangan-ketenangan hikmah yang diberikan oleh Habib Umar bin Abdurrahman Al Athos adalah sifat-sifat yang kita dengar yaitu kedermawanan. Bahwasanya Allah SWT tidak menjadikan 124.000 Nabi melainkan semuanya adalah orang-orang yang dermawan. Allah tidak menjadikan 25 Rasul melainkan semuanya adalah orang-orang dermawan. Allah tidak menjadikan Ulul Azmi dipilih oleh Allah sebagai orang-orang mulia dari para nabi dan rasul melainkan mereka adalah orang-orang dermawan. Dan juga para sahabat mereka, khususnya baginda Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah SAW adalah orang yang tidak perlu dibilang lagi kemuliaan dan kedermawanannya. Tidak ada seorang Rasul yang berani masuk ke dalam kandang kancil. Suatu ketika ada kancil, kancil ini ditangkap oleh seorang baduy dan dimasukan ke dalam kandang lalu baduy tersebut keluar. Nabi Muhammad SAW bersama sahabatnya sedang berjalan ketika itu mendengar suara tangisan, tangisan tersebut terdengar datang dari seekor kancil maka kancil tersebut ditanya oleh Nabi Muhammad SAW, "Kenapa engkau wahai kancil?". Kancil menjawab, "Ya Allah... Ya Habiballah... Wahai kekasih Allah.. memang sudah qodrat saya, saya ditangkap, disembelih dan dimakan itu sudah menjadi takdir saya. Tapi Rasulullah SAW, saya belum menyusui anak saya. Tolongin ya Rasul, supaya saya bisa menyusui dahulu anak saya lalu nanti saya kembali lagi.". Rasulullah SAW tersenyum..

Akhirnya kancil tersebut dilepas sama Rasulullah SAW dan Rasulullah sebagai penjamin untuk si kancil, lalu Rasulullah SAW masuk ke dalam kandang tersebut. Pergilah kancil tersebut dan tak lama baduy datang lalu melihat Nabi Muhammad SAW berada di dalam kandang. Selang beberapa waktu baduy mulai sadar bahwa kancil yang dia tangkap sebelumnya sudah tidak ada di dalam kandang. Namanya baduy, tidak bisa diajak berkompromi. Baduy tersebut berkata, "Pokoknya saya tidak mau tahu Ya Muhammad... Ya Abubakar... itu kancil saya cari dengan susah payah, kalau dijual juga mahal dan harganya luar biasa. Dagingnya sudah pasti manis karena masih muda. Kamu malah melepasnya, saya tidak mau tahu kalau 1x24 jam kancil itu tidak kembali, kamu yang saya potong." kata Rasulullah SAW, "Tenang aja.. Tidak masalah..".

Mulai menunggu kancil... Zuhur belum datang, Sayyidina Abubakar mulai was-was dan keringet dingin. Kira-kira selepas zuhur sekitar jam 2, ternyata kancil itu datang dengan anak-anaknya. Kancil itu mengucap salam dan mencium kaki Rasululah SAW. "Ya Rasulullah, saya nepatin janji, saya tidak bawa diri saya sendiri, saya bawa anak-anak saya, rombongan saya buat gantiin waktu yang kebuang" kata kancil. Dan satu-satu kancil itu mencium kaki Nabi Muhammad SAW. Itu baduy bengong melihat kancil begitu banyak. Tidak panjang kata baduy tersebut mengucap syahadat.

Lihatlah dermawannya Nabi Muhammad SAW. Kalau kita dermawan, ada perhitungannya tentu pengen dapet balesan dari Allah dan tentunya kalau tidak digandakan dapat surganya Allah SWT. Kalau kita sedekah, kita lihat dulu nih orang mampu atau tidak. Nih siapa, orangnya yang mana, modelnya kaya gimana. Ini dermawannya Rasulullah, lihat sampai ke binatang ruhnya siap dipertaruhkan sebab kedermawanan Rasulullah ingin memberikan ibu seekor kancil untuk memberikan minum anak-anaknya. Kita kalau sedekah mikir, duit dikantong kita ada 120 ribu pasti yang kita kasih yang 20 ribu. Apalagi kalau ada yang 2 ribu, yang 2 ribu dikasih. Mustinya yang 100 ribunya kamu kasih jangan yang 2 ribunya. Karena kita dicontohin sama Nabi Muhammad SAW.

Bahkan Habib Umar bin Abdurrahman Al Athos menceritakan 2 sumur yang dikeluarkan bukan tambah kurang melainkan bertambah banyak. Jadi kamu jangan merasa kalau kamu ngeluarin bakal habis.

Yang dikeluarkan duit atau sedekah itu sesuatu yang akan bertambah dan bertambah terus. Tapi kalau kamu pelit, duit tidak akan bertambah, kurang iya. Kamu tidak ambil dan keluar-keluarin itu duit jadi bau apek yang ada itu duit jadi digigitin rayap. Tidak digigit rayap, hilang. Tidak hilang, akhirnya jadi penyakit. Kemakan sama diri, yang tadinya tidak mempunyai penyakit jantung, jadi penyakit jantung. Yang tadinya kamu tidak mempunyai penyakit paru-paru, jadi punya penyakit paru-paru. Akhirnya itu duit keluar jadi buat ngobatin. Makanya jangan pelit. Mendingan duit buat makan.

Kita contoh Habib Umar bin Abdurrahman Al Athos. Kalau kita sedekah, kita kasih orang tidak bakal habis rezeki kita. Dan itu memperlembut hati kita, jadi kita gak pelit dan gak punya penyakit hati. Sebab orang bisa sombong, bangga diri, ujub, riya itu sebab pelit. Orang pelit itu musuh Allah walaupun dia orang alim. Orang dermawan itu kekasih Allah, walaupun diri dia bodoh. Jadilah kamu kekasih Allah, nanti kalau sudah jadi kekasih Allah, Allah akan memberikan ilmunya. Dikasih ilmu laduni, alim dengan sendirinya dengan cahaya Allah SWT.

Kita belajar ilmunya Habib Umar bin Abdurrahman Al Athos supaya kita tidak mempunyai cinta dunia. Kamu cari dunia capek-capek, yang kamu bawa cuma 2.5 meter. Kalau yang dia pakai barangnya saat ini dan tidak diajarin anak bininya bisa dipakai untuk maksiat kepada Allah SWT. Kalau dapet waris, jangan girang. Kalau waris itu tidak digunain untuk kebaikan yang punya waris, keburukan akan sampai kepada ahli barzah. Jangan mentang-mentang dapat waris 13 miliyar terus dipakai untuk merokok contohnya, jontor itu mayyit. Coba dipakai buat ngepelin ulama, habaib, buat ngumpulin orang bawa maulid, baca tahlil, kasih makan orang, ahli barzah seperti pakai ac. Itu yang disebut Raudhoh min riyadhil jannah.

Kita diajarin sama Habib Umar bin Abdurrahman Al Athos agar kita tidak punya penyakit hati, caranya kita jangan pelit. Kita bisa sombong, bangga diri, riya, bisa punya penyakit hati yang kagak bagus sebab pelit. Kalau sudah pelit tuh datang penyakit sombong, penyakit bangga diri, penyakit ujub dan macem-macem penyakit hati sebabnya pelit.

Jangan dibiasain pelit. Pelit sama ibu kita, abah kita, istri kita, anak kita, guru kita, jangan. Karena itu akan menjadikan datangnya kemiskinan. Pelit itu bikin miskin. Jadi jika kamu bilang, "Bib kok ane susah tidak kaya-kaya". Kamu tidak kabul niat dan hajat-hajat kamu karena kamu pelit. Kamu hanya ngurusin diri kamu dan anak cucu keturunan kamu doang. Kamu tidak mengurusi haknya Allah, gak ngurusin haknya Nabi, gak ngurusin haknya Wali para auliya Allah, padahal kamu bisa dan mampu. Allah tidak mengasih kamu lebih. Kalau kamu mau diberikan lebih sama Allah, maka jangan pernah biarkan atau biasakan hati itu pelit. Biasakan hati itu dermawan.

Dikutip dari Habib Hasan bin Ja'far Assegaf, 26 Juni 2022
Baca juga :




Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *