Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran islam lebih dalam. Membina silahtuhrrahim terhadap semua elemen umat islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rosulullah SAW sebagai hasil dari aktifitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Belajar Quiet Luxury dari Kisah Habib Umar bin Ja'far Assegaf Sang Wali Mastur


Kalau kita ngomongin trend zaman now, pasti kamu familier banget sama istilah flexing. Punya mobil baru, posting. Liburan ke luar negeri, update story. Bahkan, sedekah atau ibadah pun kadang nggak luput dari kamera buat diunggah ke reels. Nggak salah sih sepenuhnya, namanya juga era digital. Tapi, sadar nggak sih kalau kita kadang jadi kecapekan sendiri ngejar validasi orang lain? Di tengah budaya "lihatin apa yang gue punya" ini, ada satu konsep hidup dari para pendahulu kita yang jauh lebih keren dan elegan: Wali Mastur.

​Dalam acara Haul Al Habib Umar bin Ja'far Assegaf, Ustaz Muhyiddin membawakan sesi manaqib (biografi riwayat hidup) yang sukses bikin merinding. Kisah hidup Habib Umar dan keluarganya ini ngajarin kita arti sesungguhnya dari quiet luxury (kemewahan yang sunyi) bukan dalam konteks tas branded tanpa logo, tapi dalam konteks amal saleh dan keikhlasan tingkat tinggi. Mari kita bedah pelan-pelan kisah hidden gem spiritual ini.

​1. "Crazy Rich" Sesungguhnya: Berkorban Tanpa Pamrih

Ustaz Muhyiddin mengawali ceritanya bukan dari Habib Umar, tapi dari sang ayah: Al Habib Ja'far. Habib Ja'far ini bukan tipikal penceramah yang naik turun mimbar. Beliau adalah seorang saudagar kaya raya dari Palembang, Sumatera Selatan. Hartanya melimpah. Tapi, apa yang beliau lakukan dengan kekayaannya? Dipakai foya-foya? Beli yacht pribadi? Sama sekali enggak.

​Di masa penjajahan Belanda, Habib Ja'far menggunakan kapal-kapal dagangnya dan seluruh kekayaannya untuk mendukung pergerakan dakwah dan memfasilitasi para pejuang melawan penjajah. Saking vokalnya mendukung perlawanan dari balik layar, beliau sampai diburu oleh intelijen Belanda dan harus berpindah-pindah kota, dari Jakarta hingga wafat di Cicurug, Sukabumi.

​Ini pelajaran mahal buat kita yang kebetulan dikasih rezeki lebih sama Allah. Kalau kamu nggak bisa jadi ulama yang ngajarin ilmu agama, jadilah pengusaha dermawan yang hartanya jadi jalan mulus buat orang lain berbuat baik. Support system itu kedudukannya sama mulianya dengan orang yang tampil di depan layar. Habib Ja'far membuktikan bahwa crazy rich sejati adalah mereka yang kekayaannya nggak cuma habis di dunia, tapi diinvestasikan habis-habisan untuk tiket ke surga dan kemerdekaan bangsa.

​2. Konsistensi dalam Kesunyian: Berjalan Kaki Membawa Cinta

Nah, dari ayah yang luar biasa, lahirlah anak yang tak kalah istimewa, yaitu Al Habib Umar bin Ja'far Assegaf. Mengikuti jejak datuk-datuknya dari Yaman, Habib Umar memilih jalan ilmu dan dakwah. Tapi, beliau ini adalah Wali Mastur, yang artinya kewaliannya, ibadahnya, dan amal salehnya sangat disembunyikan dari pandangan publik. Beliau nggak suka popularitas.

​Ada satu cerita epik yang di-spill oleh Ustaz Muhyiddin. Suatu ketika, Habib Ali Kwitang (salah satu ulama sentral di Jakarta) meminta Habib Umar untuk ikut mengajar di Kwitang. Apa yang dilakukan Habib Umar? Beliau berjalan kaki dari rumahnya di Kebayoran menuju Kwitang! (Coba cek Google Maps jarak Kebayoran ke Kwitang, guys. Jauh banget!).

​Lebih mindblowing-nya lagi, beliau jalan kaki sambil menggendong cucunya yang masih kecil (yang kelak menjadi ulama besar, Habib Hasan bin Ja'far Assegaf). Dan sepanjang perjalanan panjang itu, bibir beliau nggak pernah berhenti melantunkan ayat suci Al-Qur'an dan Asmaul Husna. Tiap ketemu anak kecil di jalan, beliau senyum dan kasih permen.

​Bisa ngebayangin nggak vibes-nya? Di saat orang sibuk cari nama, beliau sibuk nyari rida Allah dalam diam. Jalan kaki puluhan kilometer sambil bawa beban gendongan cucu, tapi yang diucapin bukan keluhan, melainkan zikir. Ini namparan keras buat kita yang baru kejebak macet setengah jam di Sudirman aja udah ngedumel sampai update status lima kali. Konsistensi dalam ibadah meski nggak ada yang applause adalah kunci utama menjadi mastur.

​3. "Game Recognize Game": Pertemuan Dua Kekasih Tuhan

Ustaz Muhyiddin juga menceritakan betapa uniknya kematian dan kehidupan Habib Umar. Beliau wafat di usia 99 tahun, angka yang sangat sinkron dengan jumlah Asmaul Husna yang selalu beliau wiridkan sepanjang hidupnya. Kematian yang indah adalah cerminan kebiasaan semasa hidup.

​Buktinya beliau bukan orang sembarangan adalah ketika beliau bertemu dengan wali masyhur yang doa-doanya terkenal instan dikabulkan, yaitu Habib Saleh bin Muhsin Al Hamid dari Tanggul, Jember. Saat mereka bertemu di Surabaya, Habib Umar menyapa Habib Saleh dengan pujian tinggi, "Selamat datang orang yang doanya menyambar bagaikan petir." Dan apa balasan Habib Saleh? "Selamat datang orang yang doanya selalu ditunggu-tunggu (karena maqam spiritualnya)."

​Orang yang benar-benar hebat nggak butuh validasi dari netizen. Kebesaran mereka akan diakui secara otomatis oleh orang-orang hebat lainnya. Game recognize game. Ulama sekelas Habib Ali Bungur bahkan pernah bilang: Kalau mau lihat mukjizat doa instan, lihat Habib Saleh Tanggul. Tapi kalau mau lihat wajah Nabi Muhammad SAW di malam hari yang sejuk dan menenangkan, tataplah wajah Habib Umar bin Ja'far Assegaf.

​Takeaway Buat Kita

Kisah manaqib ini bukan cuma dongeng masa lalu, tapi roadmap buat kita. Kita nggak perlu jadi influencer atau viral untuk bisa impactful. Mulailah merawat amalan-amalan rahasia yang cuma kamu dan Allah yang tahu. Bisa sedekah subuh diam-diam, bangun tahajud tanpa perlu update jam, atau sekadar menahan diri dari membicarakan keburukan orang lain. Jadilah pahlawan dalam kesunyianmu sendiri. Tertarik buat mulai nyari hidden deeds (amal rahasia) kamu hari ini?

Dikutip dari Ustadz Muhyiddin

Baca juga :




Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *