Pernah nggak sih kamu merasa capek banget sama rutinitas harian? Berangkat pagi, pulang malam, macet-macetan di jalan, sampai rumah cuma bisa scroll media sosial tanpa arah. Di tengah hiruk-pikuk hustle culture dan tuntutan hidup yang kayak nggak ada habisnya, kita sering lupa ngasih "makan" buat batin kita sendiri. Nah, kalau kamu lagi ada di fase pencarian ketenangan ini, mungkin kamu butuh upgrade tempat nongkrong. Bukan ke kafe aesthetic yang kopinya seharga makan siang tiga hari, tapi nyobain hadir ke sebuah majelis ilmu atau acara haul.
Baru-baru ini, di momen peringatan Haul Al Habib Umar bin Ja'far Assegaf, ada sebuah sambutan pembuka yang hangat banget dari shahibul bait atau perwakilan keluarga tuan rumah, yaitu Al Habib Hasyim bin Syekh bin Umar bin Ja'far Assegaf. Dari apa yang beliau sampaikan, kita bisa membedah sebenarnya apa sih magic-nya sebuah majelis sampai orang rela datang jauh-jauh, macet-macetan, bahkan keluar uang bensin yang nggak sedikit?
1. Apresiasi yang Memanusiakan Manusia
Hal pertama yang di-highlight oleh Habib Hasyim adalah rasa syukur dan terima kasih yang luar biasa. Coba deh bayangin, kamu datang ke sebuah acara yang tamunya ribuan orang. Biasanya, panitia cuma sibuk ngurusin tamu VIP, kan? Tapi di majelis yang penuh keberkahan, setiap langkah kaki, setiap tetes keringat, dan setiap rupiah yang dikeluarkan untuk hadir itu sangat dihargai.
Habib Hasyim dengan sangat humble mewakili keluarga besar, terkhusus Al Habib Abdullah bin Ja'far Assegaf, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak. Mulai dari jamaah yang datang dari jauh, warga sekitar Jambuluk, aparat keamanan, sampai ke tingkat RT dan RW. Ini ngajarin kita satu hal penting: tradisi ulama kita itu sangat memanusiakan manusia. Nggak ada sekat. Semua yang hadir berniat baik adalah tamu agung yang harus dihormati. Ketika kita merasa dihargai secara tulus, energi positif itu nular, lho. Hati yang tadinya penat langsung terasa plong.
2. Kekuatan Doa Kolektif (The Power of Circle)
Di tengah sambutannya, Habib Hasyim nggak cuma fokus ngomongin acara, tapi juga menyelipkan doa untuk keluarga yang sedang diuji dengan sakit, salah satunya Al Habib Qasim bin Ja'far Assegaf. Kenapa ini penting? Di sinilah letak kekuatan doa kolektif.
Pernah dengar pepatah, "Kita nggak tahu dari mulut siapa doa itu dikabulkan"? Saat ribuan orang mengaminkan sebuah doa dengan niat yang tulus, frekuensi kebaikannya itu luar biasa besar. Duduk di majelis itu seperti masuk ke dalam sebuah pelindung ( shield ) energi positif. Kamu yang mungkin lagi punya banyak masalah, lagi ruwet mikirin cicilan, atau lagi pusing nyari kerjaan, tiba-tiba ikut terhanyut dalam doa-doa kebaikan. Tanpa sadar, beban di pundak terasa lebih ringan. Ini investasi spiritual yang ROI (Return on Investment)-nya nggak bisa dihitung pakai kalkulator.
3. "Sesuap Berkah" dan Filosofi Berbagi Makanan
Nah, ini bagian yang paling ikonik dari sambutan Habib Hasyim, dan jujur aja, ini tradisi yang ngangenin banget. Di akhir kalimatnya, beliau berpesan dengan sangat kuat: Jangan pulang sebelum mencicipi hidangan, walaupun cuma sesuap.
Buat sebagian orang modern yang mungkin terbiasa higienis dan serba individualis, makan nampanan atau nyicipin makanan sisa majelis mungkin kelihatan aneh. Tapi, guys, di situlah letak intisari dari yang namanya "Tabarruk" atau mengambil berkah. Makanan yang disajikan di acara haul atau majelis itu udah dibacain ribuan zikir, selawat, dan doa. Ada energi kebaikan yang meresap ke dalam makanan itu.
Lebih dari sekadar urusan mistis atau supranatural, memakan hidangan dari shahibul bait adalah bentuk penghormatan kita kepada tuan rumah. Ini adalah simbol persaudaraan (ukhuwah). Saat kamu rela duduk lesehan, makan nasi kebuli atau sekadar minum air mineral bareng orang-orang yang nggak kamu kenal sebelumnya demi mencari rida Allah, egomu sedang dihancurkan. Rasa sombongmu sedang dikikis. Kamu menyadari bahwa di hadapan Tuhan, kita semua ini sama-sama butuh rahmat-Nya.
Jadi, buat kamu yang mungkin selama ini ragu buat datang ke majelis karena takut awkward atau ngerasa ilmunya belum nyampe, buang jauh-jauh pikiran itu. Majelis ilmu, peringatan haul orang saleh, itu ibarat rumah sakit buat hati yang lagi sakit, dan rest area buat jiwa yang lagi capek. Kamu nggak perlu jadi orang suci buat hadir. Datang aja dulu, rasain vibes-nya, niatin nyari berkah, dan jangan lupa cobain makanannya. Percaya deh, sepiring nasi di majelis itu rasanya jauh lebih nikmat dan bikin tenang daripada steak mahal di restoran bintang lima.
Yuk, agendakan weekend kamu sesekali buat "nongkrong" di majelis. Siapa tahu, di sanalah jawaban dari doa-doa yang selama ini kamu langitkan.
Dikutip dari Habib Hasyim bin Syekh bin Umar bin Ja'far Assegaf
