Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran islam lebih dalam. Membina silahtuhrrahim terhadap semua elemen umat islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rosulullah SAW sebagai hasil dari aktifitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Istri Sering Ngomel? Jangan Minta Keajaiban, Tapi Jadilah Pendengar yang Budiman!


Pernah nggak sih, kamu baru pulang kerja, badan capek, pikiran kusut karena target kantor, eh pas sampai rumah bukannya disambut teh hangat dengan senyuman manis ala iklan margarin, malah disambut dengan "rentetan tembakan" kata-kata?

​Mulai dari cucian yang belum kering, anak yang rewel, sampai tetangga sebelah yang baru beli dispenser baru. Rasanya telinga panas, hati bergejolak, dan dalam hati kamu membatin: "Ya Allah, kapan ya istriku bisa ngomong lemah lembut terus tanpa ngomel?"

​Kalau kamu pernah merasakan itu, selamat! Kamu adalah suami normal. Tapi, ada kabar "buruk" sekaligus kabar baik buat kamu. Habib Ahmad bin Novel bin Salim Jindan baru-baru ini memberikan sebuah perspektif yang sangat jleb di hati, tapi sekaligus bikin kita sadar tentang hakikat rumah tangga.

​Mari kita bedah kenapa "istri ngomel" itu sebenarnya adalah bagian dari paket ibadah kita sebagai laki-laki.

​1. Mengharap Istri Nggak Ngomel? Itu Mustahil, Mas Bro!

​Dalam sebuah potongan video yang viral, ada seorang jamaah (atau mungkin representasi kegelisahan banyak suami) yang bertanya atau berharap supaya istrinya selalu bicara baik, lembut, dan nggak ngomel-ngomel terus.

​Jawaban Habib Ahmad sangat singkat, padat, dan menohok: "Ente meminta sesuatu yang mustahil."

​Wah, kok gitu? Kenapa mustahil? Habib menjelaskan bahwa istri kita itu manusia, dan dia perempuan. Secara fitrah, memang begitulah desainnya. Perempuan diciptakan dengan kemampuan verbal yang luar biasa. Jika laki-laki mungkin hanya butuh 7.000 kata per hari, perempuan bisa butuh 20.000 kata atau lebih untuk merasa "lega".

​Jadi, kalau kamu minta istri berhenti ngomel, itu sama saja kamu minta matahari terbit dari barat atau minta kucing jago berenang di lautan. Bisa? Mungkin bisa dengan mukjizat, tapi secara hukum alam, itu melawan arus!

​2. Jangan Paksa Dia Jadi "Laki-laki Kedua"

​Habib Ahmad memperingatkan dengan sangat tegas: "Ente paksain kayak begitu (berhenti ngomel), ente patahin dia."

​Ini dalam banget, lho. Perempuan itu ibarat tulang rusuk yang bengkok. Kalau kamu paksakan untuk lurus seketika, dia akan patah. Kalau kamu biarkan saja tanpa arah, dia akan semakin bengkok. Lantas gimana? Ya harus disikapi dengan penuh kelembutan dan kesabaran.

​Istri yang "bawel" atau sering ngomel sebenarnya sedang mengekspresikan emosinya. Itu cara dia berkomunikasi, cara dia melepas stres, dan sering kali itu adalah tanda bahwa dia percaya sama kamu. Kenapa? Karena dia nggak mungkin ngomel-ngomel ke tukang sayur atau ke bos kamu, kan? Dia hanya berani menumpahkan segala "isinya" ke orang yang dia anggap sebagai pelindungnya: Kamu.

​3. Tugas Suami: Dengerin, Terima, Sabar!

​Terus, kalau dia sudah mulai "bernyanyi", apa yang harus kita lakukan sebagai suami? Apakah kita harus balas dengan argumen logis? Apakah kita harus ceramah balik?

​Habib Ahmad kasih resep simpel tapi berat praktiknya:

​Dengerin: Jangan cuma masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Coba kasih atensi.

​Terima: Anggap saja itu "musik latar" dalam rumah tangga. Terima bahwa ini adalah bagian dari karakternya sebagai perempuan.

​Sabar: Ini kuncinya. Sabar bukan berarti kalah, tapi sabar adalah bentuk kekuatan mental seorang laki-laki.

​Jadi pendengar yang baik itu nggak butuh gelar S2 Komunikasi. Kamu cuma butuh telinga yang siap menampung, mata yang menatap (bukan malah main HP), dan sesekali anggukan kepala sambil bilang, "Oh gitu ya, Sayang," atau "Sabar ya, kamu hebat kok udah ngadepin itu."

​Percaya deh, sering kali istri itu nggak butuh solusi logis kamu. Dia cuma butuh divalidasi perasaannya.

​4. Kapan Kita Boleh Menegur?

​Apakah berarti kita harus diam saja kalau istri sudah mulai keterlaluan? Habib Ahmad memberikan batasan yang sangat jelas: "Kecuali kalau sudah masuk ke ranah yang haram, baru tegur."

​Apa itu ranah haram?

  1. ​Kalau omongannya mulai menghina agama.
  2. ​Kalau dia mulai berani mencaci maki orang tua kamu.
  3. ​Kalau dia mulai mengeluarkan kata-kata kotor atau fitnah yang membahayakan.
  4. ​Kalau dia sudah melanggar syariat secara terang-terangan.

​Selama "ngomelnya" masih seputar urusan rumah tangga, capek urus anak, atau sekadar mengeluh soal harga cabe, Habib bilang: "Sebelum itu, biarin." Iya, biarin aja. Anggap itu adalah cara dia membersihkan hatinya supaya nggak stres sendiri.

​5. Menjadi Suami yang "Kuat"

​Banyak laki-laki merasa harga dirinya turun kalau "didiamkan" atau "diomeli" istri. Padahal, justru laki-laki yang paling mulia adalah yang paling baik sikapnya kepada istrinya.

​Rasulullah SAW pun adalah sosok yang sangat sabar menghadapi dinamika perasaan istri-istrinya. Beliau nggak pernah membalas omelan dengan bentakan. Beliau mendengarkan, beliau memahami.

​Kalau kita merasa "panas" saat istri ngomel, coba ingat lagi: dia sudah mempertaruhkan nyawa melahirkan anak-anakmu, dia yang mengurus rumah saat kamu nggak ada, dan dia yang selalu mendoakan kesuksesanmu. Masa cuma gara-gara "suara merdu" alias ngomel aja kita langsung mau menyerah?

​Kesimpulan: Seni Menikmati "Bisingnya" Rumah Tangga

​Rumah tangga yang terlalu sepi itu malah bahaya, lho. Kalau istri sudah diam seribu bahasa, nggak mau ngeluh lagi, nggak mau ngomel lagi, itu tandanya dia sudah apatis atau mungkin hatinya sudah beku. Selama dia masih mau "berbagi" keluh kesah (meskipun lewat jalur ngomel), itu tandanya dia masih butuh kamu.

​Jadi, buat para suami di luar sana, yuk kita ubah mindset. Kalau nanti sore atau besok pagi istri mulai ngomel, tarik napas dalam-dalam, pasang senyum paling tulus, dan katakan dalam hati: "Ini fitrahnya, ini pahala sabarku hari ini."

​Seperti kata Habib Ahmad, tugas kita itu simpel: Dengerin, terima, jangan banyak omong, sabar.

​Karena pada akhirnya, rumah yang "berisik" oleh obrolan dan omelan istri yang kita cintai jauh lebih indah daripada rumah mewah yang megah tapi sepi tanpa jiwa.

​Bagaimana menurutmu? Sudah siap jadi pendengar setia hari ini? Ingat, dengerin istri itu lebih murah daripada bayar psikiater atau urus surat cerai di pengadilan!

​Semoga rumah tangga kita semua selalu sakinah, mawaddah, wa rahmah. Amin!

Dikutip dari: Habib Ahmad bin Novel bin Salim Jindan

Baca juga :




Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *