Dunia media sosial sering kali membuat kita terpaku pada hal-hal yang viral. Tapi menurut Ustadz Yasin, ada satu hal yang pasti akan dialami oleh setiap orang baik pengikutnya jutaan maupun nol namun sering terlupakan: kematian.
Membedah Rumus "3A"
Ustadz Yasin membawakan materi yang cukup berat namun dengan gaya yang sangat santai, bahkan sesekali menyentil fenomena TikTok. Beliau memperkenalkan konsep "3A" sebagai rahasia kematian yang hanya diketahui oleh Allah:
- Auqat (Waktu): Tidak ada yang tahu kapan giliran kita tiba. Bisa saat kita sedang semangat bekerja, atau justru saat kita sedang bersantai.
- Asbab (Sebab): Banyak orang sehat yang tiba-tiba "berpulang", sementara yang sakit menahun tetap bertahan. Sebab kematian adalah rahasia ilahi yang tak tertebak.
- Amkan (Tempat): Di belahan bumi mana kita akan menghembuskan napas terakhir? Itulah misteri ketiga.
"Jangan sampai Izrail kirim pesan singkat atau miss call, baru kita panik," canda beliau yang disambut tawa jamaah, namun sekaligus memberikan perenungan mendalam.
Kebiasaan Menentukan Akhir Cerita
Pesan paling krusial dari Ustadz Yasin adalah tentang bagaimana kita menghabiskan hari-hari kita. Beliau menjelaskan bahwa seseorang biasanya akan meninggal sesuai dengan kebiasaan hidupnya. Jika hari-hari kita diisi dengan hal-hal baik seperti hadir di majelis, berkumpul dengan orang shaleh, dan berdzikir, maka besar kemungkinan Allah akan memanggil kita dalam kondisi tersebut (Husnul Khatimah).
Beliau mengajak kita untuk mengurangi waktu "scroll" hal-hal yang tidak bermanfaat dan menggantinya dengan aktivitas yang memiliki nilai kekekalan. Di tengah gempuran konten-konten yang sering kali hanya memuaskan nafsu sesaat, majelis taklim adalah tempat kita "log out" sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk mengingat tujuan akhir kita.
Ajakan untuk Bertumbuh Bersama
Artikel ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengajak kita lebih sadar akan berharganya waktu. Ustadz Yasin sangat persuasif dalam mengajak anak muda untuk tidak menjauh dari ulama. "Jangan sampai kita hanya viral di dunia, tapi tidak dikenal di langit," pungkasnya.
Mari kita jadikan setiap pertemuan di Majelis Nurul Musthofa sebagai ajang untuk memperbaiki kebiasaan. Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak harta yang kita kumpulkan yang akan dibawa, melainkan seberapa sering kita bersimpuh memohon ampunan-Nya. Siapkah Anda memperbaiki daftar kebiasaan hari ini?
