Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran islam lebih dalam. Membina silahtuhrrahim terhadap semua elemen umat islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rosulullah SAW sebagai hasil dari aktifitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Rahasia di Balik Tidak Memberi yang Sebenarnya Adalah Hadiah Terindah


Pernah gak sih kamu berada di satu titik dalam hidup di mana kamu merasa sudah berjuang setengah mati, berdoa sampai menangis di sepertiga malam, tapi ujung-ujungnya realitas malah menamparmu dengan kata: GAGAL?

Kamu pengen banget keterima di perusahaan A, tapi malah ditolak. Kamu pengen proyek bisnismu tembus tahun ini, tapi zonk. Atau mungkin hal-hal sesederhana berharap urusan harimu lancar, tapi malah nemu jalan buntu. Di momen-momen kayak gitu, jujur aja, bisikan pertama yang muncul di kepala kita pasti gak jauh-jauh dari: “Kenapa ya doa gua gak dikabulkan? Apa Tuhan gak denger? Atau gua yang kurang saleh?”

Sobat santai, kalau kamu sedang atau pernah merasakan fase sesak seperti itu, yuk kita duduk bareng dulu. Tarik napas dalam-dalam, seduh kopi atau teh kesukaanmu, dan mari kita bedah satu sudut pandang yang dijamin bakal bikin hatimu jauh lebih plong.

Hari ini kita mau ngobrolin satu rahasia besar tentang konsep doa dan takdir. Sebuah konsep yang seringkali salah kita tafsirkan hanya karena kita terlalu egois mendikte apa yang kita sebut sebagai "kebaikan". Fakta menariknya: Tuhan itu gak pernah gak ngejawab doa kita. Gak pernah. Tapi, ada kalanya cara Dia menjawab adalah dengan cara tidak memberi apa yang kita minta. Kok bisa?

1. Doa Itu Ibadah, Bukan Daftar Belanjaan

Satu kekeliruan terbesar kita sebagai manusia adalah sering menganggap doa itu mirip kayak wishlist di aplikasi e-commerce. Kita list barangnya, kita bayar dengan sedikit kebaikan, lalu kita tuntut agar barangnya datang sesuai estimasi waktu yang kita mau. Kalau kurirnya telat atau barangnya gak datang, kita langsung ngamuk dan kecewa.

Padahal, hakikat doa itu jauh melampaui itu semua. Doa itu adalah ibadah. Bahkan, kalau mau jujur, doa adalah inti dari ibadah itu sendiri.

Ketika kita mengangkat kedua tangan kita dan meminta, esensi utamanya bukanlah pada barang atau hasil yang kita minta, melainkan pada pengakuan bawah sadar kita bahwa: *“Ya Tuhan, saya ini lemah, saya ini butuh Engkau, dan saya gak punya daya apa-apa tanpa-Mu.”*

Makanya, orang yang sama sekali gak pernah berdoa, atau malas meminta sama Tuhannya, kondisi keimanannya sebenarnya lagi gak beres. Kenapa? Karena di dalam hatinya ada benih kesombongan. Dia merasa bisa mengatur hidupnya sendiri tanpa campur tangan Sang Pencipta.

Jadi, saat kita berdoa dengan kalimat universal seperti:

"Robbana Atina Fiddunya Hasanah..." (Ya Tuhan, berikanlah kepadaku kebaikan di dunia...)

Kita sebenarnya sedang menyerahkan definisi "kebaikan" itu kepada Tuhan, bukan kita yang menentukan bentuknya secara kaku. Kita meminta keselamatan, tapi seringkali ego kita menyempitkannya menjadi sekadar nominal uang atau jabatan.

2. Belajar dari Pejabat yang Gagal dan Pedagang Kampung

Coba kita pakai analogi yang sering terjadi di sekitar kita. Bayangkan ada seseorang yang berambisi besar menjadi pejabat publik. Dia ikutan kontestasi politik, pemilu, atau pileg demi kursi DPR. Di setiap sujudnya, dia meminta dengan sangat agar diberikan kemenangan. Menurut dia, jadi anggota dewan adalah "kebaikan" tertinggi yang bisa dia capai saat itu.

Tapi apa yang terjadi? Dia kalah total. Jangankan duduk di kursi parlemen, modal kampanyenya pun habis. Akhirnya, dia kembali ke realitas menjadi pedagang biasa di kampungnya. Kecewa? Pasti. Stres? Sempat.

Namun, mari kita putar waktu beberapa tahun ke depan. Di masa depan, ternyata area dinas jabatan yang dia incar dulu terkena badai kasus korupsi besar-besaran. Teman-teman seangkatannya satu per satu ditangkap oleh komisi antikorupsi dan terseret ke jurang kehancuran.

Di momen itulah dia baru tersadar sambil mengelus dada: “Ya Tuhan... untung dulu saya gak menang. Kalau saya menang, mungkin hari ini saya yang pakai rompi oranye itu.”

Skenario ini membuktikan satu hal: Kita gak pernah tahu masa depan, tapi Tuhan tahu. Keinginan kita seringkali didorong oleh nafsu visual yang kelihatannya indah di depan mata, padahal di baliknya ada jurang kehancuran yang siap menelan kita bulat-bulat. Ketika Tuhan tidak memberi apa yang kamu minta, itu bukan karena Dia pelit. Itu karena Dia sedang melindungimu dari sesuatu yang belum sanggup kamu tanggung.

3. "Tidak Memberi" Adalah Sejatinya Pemberian

Ini dia kalimat kunci yang harus kamu catat baik-baik dalam pikiranmu: Seringkali, tidak memberinya Tuhan kepada kita itulah sejatinya pemberian yang paling indah.

Lho, kok paradoks banget rasanya? Gini penjelasannya. Ketika kamu meminta sesuatu lalu tidak dikabulkan dalam bentuk fisik yang kamu mau, Tuhan sebenarnya sedang memberimu hal lain yang nilainya jauh lebih mahal. Apa itu? Karunia untuk terus bermunajat, mengadu, dan mendekat kepada-Nya.

Bayangkan kalau semua doa kita langsung dikabulkan dalam hitungan detik. Detik ini minta kaya, detik ini juga dapet uang 1 triliun di rekening. Kira-kira, apa yang bakal terjadi sama kita manusia yang lemah ini?

 Mungkin kita bakal langsung lupa waktu shalat.

 Mungkin kita bakal malas membaca kitab suci lagi.

 Mungkin kita gak akan pernah lagi menangis di keheningan malam untuk mencari Tuhan, karena ngerasa semua kebutuhan sudah terpenuhi lewat genggaman tangan kita sendiri.

Tuhan sengaja membuat kita "menunggu" atau mengalihkan hasil doa kita agar kita tetap punya alasan untuk datang kepada-Nya. Rasa butuh itulah yang menjaga iman kita tetap hidup. Tuhan lebih mencintai rintihan taubat dan ketukan pintumu yang konsisten, daripada kesenangan duniawi yang justru membuatmu berjalan menjauh dari-Nya.

4. Kisah Mantan Petinju Surabaya dan Tukang Cuci Mobil di SCBD

Untuk membuat konsep ini lebih membumi, ada sebuah kisah nyata yang sangat menyentuh tentang tingkat kedamaian hidup (ilmu tasawuf) yang dipraktikkan oleh orang-orang biasa di sekitar kita.

Ada seorang pria asal Papua yang merantau ke Jakarta. Postur badannya besar, tegap, dan luar biasa kekar. Di masa mudanya pada awal tahun 2000-an, dia adalah seorang petinju profesional di Surabaya yang sering memenangkan pertandingan di ring bayaran. Sekali menang, dia bisa memegang uang puluhan juta rupiah angka yang sangat besar di zaman itu. Jika dikonversi ke nilai mata uang sekarang, penghasilannya mungkin setara ratusan juta per bulan.

Namun, roda kehidupan berputar. Di masa tuanya, dia bekerja sebagai tukang cuci mobil sederhana di kawasan elit Senopati/SCBD, Jakarta. Penghasilannya tentu jauh dari kata mewah jika dibandingkan masa kejayaannya dulu.

Suatu hari, ada seorang pelanggan yang memperhatikan fisiknya yang tegap lalu bertanya, "Pak, badan bapak besar dan sehat begini, kenapa gak kerja jadi security atau bodyguard saja? Pasti gajinya lebih besar dan sesuai dengan profil bapak."

Pria itu tersenyum dengan sangat tulus dan menjawab, "Ah tidak Pak, saya lebih senang bekerja di sini, jadi tukang cuci mobil."

Ketika ditanya alasannya, jawabannya sungguh menampar ego kita semua. Pria itu bercerita bahwa dulu saat dia masih jadi petinju dan punya uang melimpah setiap bulan, uangnya selalu habis begitu saja tanpa bekas. Dan yang paling parah, dia merasa hidupnya tidak tenang.

Tapi sekarang, meskipun hanya menjadi tukang cuci mobil dengan penghasilan pas-pasaran, hatinya justru dipenuhi oleh rasa bahagia dan damai yang luar biasa. Dia bisa tidur nyenyak, makan dengan nikmat, dan menikmati setiap detik hidupnya tanpa beban ketakutan akan kehilangan harta.

Pria ini yang bahkan mungkin tidak memahami teori agama secara rumit telah mempraktikkan level tertinggi dari ilmu kebahagiaan: menerima takdir dengan kelapangan dada dan tidak mendikte Tuhan.  Dia paham betul bahwa kebaikan hidup tidak pernah diukur dari seberapa besar nominal yang masuk ke dompet kita, melainkan dari seberapa besar rasa syukur yang bersemayam di dalam dada.

5. Berhenti Menafsirkan "Kebaikan" Berdasarkan Standar Ego Kita

Seringkali, kitalah yang jahat dan menafsirkan kebaikan secara sepihak. Kita mengira kalau saldo rekening kita cuma ada 2 juta rupiah, kita adalah orang yang malang. Lalu kita berasumsi kalau saldo kita ada 2 triliun rupiah, kita pasti bakal bahagia dan rajin ibadah.

Tapi benarkah begitu? Jangan-jangan, kalau hari ini di rekeningmu tiba-tiba ada uang 2 triliun, shalat Asarmu tadi justru bakal hilang karena kamu sibuk memikirkan aset dan investasi baru?

Kita gak pernah tahu kelemahan diri kita sendiri, tapi Tuhan tahu batas kemampuan kita.

Oleh karena itu, ketika kamu menghadapi penolakan demi penolakan dalam hidup, jangan pernah putus asa dari ikhtiar. Secara lahiriah, silakan pergi ke rumah sakit kalau sakit, silakan daftar kerja ke ratusan perusahaan, silakan berbisnis sekreatif mungkin. Lakukan semua bentuk ikhtiar lahiriah itu sebagai bagian dari kewajiban kita sebagai manusia.

Namun, begitu berbicara tentang HASIL, serahkan seluruhnya kepada Tuhan. Taruh harapanmu hanya di genggaman-Nya, bukan pada hasil ikhtiarmu.

Kesimpulan: Jawaban Tuhan Itu Selalu "Iya"

Mulai hari ini, yuk kita ubah cara pandang kita. Setiap kali kita berdoa, sadarilah bahwa jawaban Tuhan itu selalu ada tiga bentuk, dan ketiganya adalah jawaban "Iya":

 1. "Iya, Aku berikan sekarang" (karena ini sudah waktu yang tepat dan baik untukmu).

 2. "Iya, tapi nanti dulu" (karena Aku ingin mendengarmu lebih lama bercerita kepada-Ku, atau kamu belum siap menerimanya sekarang).

 3. "Iya, Aku ganti dengan yang jauh lebih baik" (karena apa yang kamu minta justru bisa menghancurkan masa depanmu).

Ketika permintaanmu belum mewujud dalam realitas, tersenyumlah. Bisikkan pada hatimu yang sedang gundah: “Tuhan tidak sedang menolakku, Dia hanya sedang mengalihkannya menjadi sesuatu yang menyelamatkanku.” Karena pada akhirnya, kedamaian hidup sejati hanya akan didapatkan oleh mereka yang rida terhadap setiap jengkal ketetapan-Nya.

Tetap semangat, tetap melangkah, dan jangan bosan untuk terus mengetuk pintu langit ya, Sobat!

Baca juga :




Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *