Tahun baru Islam selalu membawa suasana yang berbeda bagi umat Muslim. Saat sebagian orang menyambut pergantian tahun dengan membuat resolusi baru, ada pula yang menghidupkan berbagai amalan dan tradisi yang diwariskan oleh para ulama serta orang-orang saleh terdahulu. Salah satu tradisi yang cukup dikenal di kalangan pecinta majelis ilmu adalah minum susu putih pada tanggal 1 Muharram.
Mungkin bagi sebagian orang, tradisi ini terdengar unik. Mengapa harus susu putih? Mengapa dilakukan tepat pada malam atau tanggal 1 Muharram? Apakah ada dalil khusus yang memerintahkannya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering muncul setiap kali memasuki bulan Muharram. Nah, dalam artikel ini kita akan membahasnya dengan santai, mulai dari asal-usul tradisi tersebut, makna simbolis di baliknya, hingga bagaimana para ulama memandang amalan ini.
Muharram, Bulan yang Istimewa dalam Islam
Sebelum membahas soal susu putih, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu keistimewaan bulan Muharram.
Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah SWT. Dalam bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh, memperbanyak dzikir, serta menjauhi segala bentuk maksiat.
Bulan Muharram juga menjadi penanda awal tahun dalam kalender Hijriah. Karena itu, banyak umat Islam menjadikannya sebagai momentum untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan memulai lembaran baru yang lebih baik.
Tidak heran jika para ulama terdahulu memiliki berbagai amalan yang mereka lakukan ketika memasuki bulan Muharram. Salah satunya adalah tradisi minum susu putih.
Kebiasaan Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki
Dalam poster yang beredar luas menjelang Muharram, disebutkan bahwa salah satu kebiasaan Prof. Dr. Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki ketika memasuki bulan Muharram adalah minum susu putih.
Beliau merupakan ulama besar asal Makkah yang sangat dihormati oleh banyak ulama di dunia Islam. Dikenal luas karena keluasan ilmunya, kelembutan akhlaknya, serta kecintaannya kepada Rasulullah SAW.
Disebutkan pula bahwa ketika memasuki bulan Muharram, beliau sering membagikan susu kepada para santri dan murid-muridnya.
Tradisi ini kemudian diteruskan oleh banyak murid dan pecinta beliau di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Namun perlu dipahami, kebiasaan ini bukanlah sebuah kewajiban agama ataupun ibadah yang memiliki hukum khusus. Ia lebih merupakan bentuk tafa'ul atau pengharapan baik.
Apa Itu Tafa'ul?
Mungkin istilah ini masih terdengar asing bagi sebagian orang.
Tafa'ul adalah sikap mengambil pertanda baik atau mengharapkan kebaikan dari sesuatu yang memiliki makna positif.
Dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya kita sering melakukan tafa'ul tanpa sadar.
Misalnya:
- Berdoa agar awal tahun menjadi awal yang baik.
- Memulai usaha pada hari tertentu dengan harapan membawa keberkahan.
- Mengenakan pakaian terbaik saat hari raya sebagai simbol kebahagiaan.
- Memberikan hadiah kepada orang lain sebagai simbol kasih sayang.
Nah, minum susu putih pada tanggal 1 Muharram termasuk dalam kategori tafa'ul.
Mengapa Harus Susu Putih?
Pertanyaan ini tentu yang paling sering muncul.
Warna putih dalam banyak budaya dan tradisi Islam sering dikaitkan dengan:
- Kesucian
- Kebersihan
- Kebaikan
- Kejujuran
- Ketulusan
Ketika seseorang meminum susu putih di awal tahun Hijriah, ia berharap agar sepanjang tahun yang akan dijalani menjadi:
- Tahun yang bersih dari dosa
- Tahun yang penuh keberkahan
- Tahun yang dipenuhi amal saleh
- Tahun yang lebih baik daripada tahun sebelumnya
Dengan kata lain, susu putih dijadikan simbol harapan.
Bukan karena susunya memiliki kekuatan tertentu, melainkan karena makna baik yang melekat padanya.
Doa Ketika Minum Susu
Dalam poster tersebut juga dicantumkan doa yang memang dianjurkan ketika minum susu:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ
Allahumma barik lana fihi wa zidna minhu
Artinya:
"Ya Allah, berilah keberkahan kepada kami pada susu ini dan tambahkanlah kepada kami darinya."
Para ulama menjelaskan bahwa kata "tambahkanlah kepada kami darinya" dapat dipahami sebagai tambahan nikmat, rezeki, kesehatan, dan keberkahan.
Karena itulah banyak orang membaca doa ini ketika minum susu pada malam atau tanggal 1 Muharram.
Waktu yang Dianjurkan
Menurut tradisi yang berkembang di kalangan sebagian ulama dan santri, waktu pelaksanaannya adalah:
Mulai Maghrib tanggal 1 Muharram hingga sebelum Subuh.
Karena dalam kalender Hijriah, pergantian hari dimulai sejak terbenam matahari atau waktu Maghrib.
Jadi ketika malam 1 Muharram tiba, banyak orang berkumpul di majelis, masjid, pesantren, atau rumah masing-masing untuk berdoa bersama dan meminum susu putih.
Tradisi yang Sarat Makna
Menariknya, tradisi ini bukan sekadar soal minum susu.
Di balik segelas susu putih tersimpan pesan yang sangat mendalam.
1. Mengingatkan untuk Memulai Tahun dengan Kebaikan
Banyak orang memulai tahun baru Masehi dengan pesta dan hiburan.
Sebaliknya, umat Islam diajak memulai tahun Hijriah dengan doa, dzikir, dan harapan baik.
Segelas susu putih menjadi simbol sederhana bahwa kita ingin memulai tahun dengan sesuatu yang bersih dan baik.
2. Mengajarkan Optimisme
Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berbaik sangka kepada Allah.
Dengan melakukan tafa'ul, seseorang menanamkan optimisme dalam dirinya.
Ia berharap:
- Rezeki lebih lancar
- Ibadah lebih baik
- Keluarga lebih harmonis
- Hidup lebih berkah
Optimisme seperti ini sangat penting untuk menjaga semangat menjalani kehidupan.
3. Menjalin Kebersamaan
Di banyak pesantren, tradisi minum susu dilakukan bersama-sama.
Santri berkumpul, membaca doa, mendengarkan nasihat guru, lalu menikmati susu bersama.
Momen sederhana seperti ini mampu mempererat ukhuwah dan kebersamaan.
Apakah Tradisi Ini Wajib?
Jawabannya jelas: tidak wajib.
Minum susu putih pada tanggal 1 Muharram bukan termasuk rukun Islam, bukan pula ibadah wajib yang harus dilakukan setiap Muslim.
Seseorang yang tidak melakukannya sama sekali tidak berdosa.
Begitu pula seseorang yang melakukannya tidak boleh merasa lebih mulia dibanding orang lain.
Tradisi ini hanya merupakan amalan yang lahir dari harapan baik serta kecintaan kepada kebiasaan para ulama.
Karena itu, sikap yang paling bijak adalah saling menghormati.
Yang ingin mengamalkannya dipersilakan.
Yang tidak melakukannya juga tidak perlu dipermasalahkan.
Jangan Terjebak pada Simbol Semata
Ada satu hal penting yang perlu diingat.
Terkadang kita terlalu fokus pada simbol, tetapi lupa pada maknanya.
Padahal yang paling penting bukanlah susunya.
Yang paling penting adalah:
- Taubat di awal tahun
- Memperbanyak istighfar
- Memperbaiki shalat
- Menjaga lisan
- Menjaga hubungan dengan sesama
- Memperbanyak sedekah
Kalau hanya minum susu tetapi tetap melakukan kebiasaan buruk yang sama sepanjang tahun, tentu tujuan dari tafa'ul tersebut menjadi kurang bermakna.
Sebaliknya, jika segelas susu itu menjadi pengingat untuk berubah menjadi lebih baik, maka tradisi tersebut memiliki nilai yang luar biasa.
Cara Mengamalkannya di Rumah
Bagi Anda yang ingin mencoba tradisi ini, caranya sangat sederhana.
Siapkan segelas susu putih.
Setelah Maghrib pada malam 1 Muharram, niatkan sebagai bentuk tafa'ul dan harapan baik.
Bacalah doa minum susu:
Allahumma barik lana fihi wa zidna minhu
Berdoalah kepada Allah agar tahun yang akan dijalani penuh keberkahan.
Minumlah dengan penuh rasa syukur.
Jika memungkinkan, ajak keluarga untuk melakukannya bersama agar suasana tahun baru Hijriah terasa lebih berkesan.
Penutup
Tradisi minum susu putih pada tanggal 1 Muharram merupakan salah satu kebiasaan baik yang diwariskan oleh para ulama sebagai bentuk tafa'ul, yaitu mengharapkan kebaikan di awal tahun Hijriah.
Susu putih dipilih karena melambangkan kesucian, kebersihan, dan harapan agar sepanjang tahun dipenuhi amal saleh serta keberkahan. Tradisi ini juga dikaitkan dengan kebiasaan Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki yang dikenal sering membagikan susu kepada para santri ketika memasuki bulan Muharram.
Meski bukan amalan wajib dan tidak memiliki keharusan untuk dilakukan, tradisi ini mengandung pesan yang sangat indah: memulai tahun baru Islam dengan doa, optimisme, rasa syukur, dan harapan terbaik kepada Allah SWT.
Jadi, jika nanti malam 1 Muharram Anda melihat segelas susu putih di meja makan atau di majelis tempat Anda hadir, jangan hanya melihatnya sebagai minuman biasa. Jadikan ia sebagai pengingat bahwa setiap tahun baru adalah kesempatan baru untuk menjadi pribadi yang lebih bersih, lebih baik, dan lebih dekat kepada Allah SWT.
Selamat menyambut Tahun Baru Hijriah. Semoga tahun ini menjadi tahun yang penuh keberkahan, kesehatan, rezeki yang halal, serta limpahan rahmat dari Allah SWT.
