Pernah gak sih kamu merasa dunia hari ini makin hari makin chaos? Buka media sosial sedikit, muncul berbagai konten yang bikin elus dada. Tren yang aneh-aneh dipromosikan atas nama kebebasan, nilai-nilai moral mendadak dianggap "kuno", dan kemaksiatan yang dulu tersembunyi, sekarang malah dipamerkan terang-terangan. Kalau kita jujur sama diri sendiri, ada rasa khawatir yang menyelip: Kita ini sebenarnya lagi jalan menuju mana, sih?
Dalam sebuah majelis mulia di Rawa Bambu, Kota Bekasi, Al Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf menyampaikan sebuah pesan mendalam yang sangat menohok. Pesan ini bukan cuma sekadar pengingat rutin, melainkan sebuah alarm keras buat kita semua terutama para generasi muda yang hidup di tengah gempuran arus zaman.
Yuk, kita bedah bareng-bareng apa yang disampaikan beliau dengan santai, tapi penuh dengan perenungan mendalam.
Sejarah yang Berulang: Melirik Pesan Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad
Habib Ahmad mengutip pesan emas dari ulama besar, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, yang berpesan agar kita benar-benar menjaga diri dari perilaku kaum Nabi Luth AS. Kenapa pesan ini kembali diangkat? Karena Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda dalam hadisnya tentang ancaman keras dan laknat bagi siapa saja yang meniru perbuatan kaum tersebut.
Kalau kita buka lembaran sejarah di dalam Al-Qur'an, tepatnya pada Surah Al-Ankabut ayat 29, Allah SWT mengabadikan kisah bagaimana kaum Nabi Luth sangat gemar melakukan penyimpangan hubungan sesama jenis. Akibat dari kemaksiatan dan pembangkangan yang sudah melampaui batas tersebut, azab Allah datang dengan begitu mengerikan: Allah menurunkan hujan batu meteor yang sangat panas dan meratakan tempat tinggal mereka.
Pertanyaannya sekarang: Kenapa cerita puluhan abad lalu ini harus terus diulang-ulang di majelis-majelis taklim?
Jawabannya sederhana: karena manusia gampang lupa, dan sejarah selalu punya pola untuk berulang.
Ketika Kebodohan Dipoles Atas Nama Kebebasan
Mari kita bicara jujur dan realistis. Di era digital saat ini, perilaku penyimpangan moral sering kali dibungkus dengan narasi yang kelihatan "keren", "modern", atau "paling toleran". Orang-orang yang berusaha mempertahankan fitrah dasar manusia justru sering dituduh ketinggalan zaman.
Padahal, kalau kita pakai logika paling dasar saja, fitrah makhluk hidup itu selalu berpasangan antara laki-laki dan perempuan. Habib Ahmad menyentilnya dengan analogi yang sangat santai tapi menohok:
"Ayam jago saja nikahnya sama ayam betina. Masa laki-laki kawinnya sama laki-laki juga? Itu namanya apa kalau bukan kebodohan?"
Sentilan ini sederhana, tapi memukul tepat di sasaran. Ketika logika dasar dan fitrah penciptaan sudah dilawan, sebenarnya yang sedang terjadi adalah penurunan kualitas berpikir manusia itu sendiri. Mendukung hal-hal yang merusak fitrah bukannya membuat seseorang terlihat pintar atau keren, melainkan justru menunjukkan betapa jauhnya manusia dari petunjuk Sang Pencipta.
Kita patut bersyukur jika bangsa dan pemimpin kita masih memiliki ketegasan sikap untuk menolak kebiasaan penyimpangan ini masuk dan dilegalkan dalam ranah hukum negara. Sebab, menjaga negeri ini bukan cuma soal membangun infrastruktur atau ekonomi, tapi juga menjaga keberkahan dan moralitas masyarakatnya agar terhindar dari murka Allah SWT.
Lisan dan Anggota Tubuh: Nikmat Gratis yang Sering Kita Sepelekan
Di balik teguran keras soal moralitas zaman, Habib Ahmad juga mengingatkan kita pada hal dasar yang sering banget kita lupakan: rasa syukur atas organ tubuh yang kita miliki.
Coba bayangkan, hari ini kita masih bisa bergerak, melangkah, dan bernapas dengan lega. Kita punya lisan yang masih bisa berbicara, merasakan enaknya makanan, dan menyampaikan kata-kata. Pernah gak kita berpikir, berapa harga yang harus dibayar kalau nikmat lisan ini dicabut sehari saja oleh Allah?
Lalu, bagaimana cara terbaik buat bersyukur atas nikmat lisan ini?
- Basahi lisan dengan selawat: Daripada lisan kita dipakai buat bergosip, ngatain orang, atau nyebarin ujaran kebencian di kolom komentar sosmed, jauh lebih adem kalau dipakai berselawat kepada Nabi Muhammad SAW.
- Jaga dari ghibah dan celaan: Jangan sampai lisan yang sama yang dipakai berdoa, malah dipakai buat mencela para ulama atau bersuuzon pada sesama.
Beliau mengingatkan bahwa nanti di akhirat, banyak sekali manusia yang memohon-mohon kepada Allah agar diberikan kesempatan kedua:
"Ya Allah, kembalikanlah kami ke dunia walau sebentar saja... Kami ingin berbuat baik, ingin bersedekah, ingin duduk di majelis taklim, dan ingin berselawat."
Namun penyesalan di sana sudah tidak ada gunanya lagi. Kita yang hari ini masih bernapas, masih sehat, dan masih punya waktu, adalah orang-orang terpilih yang sedang diberi kesempatan emas itu!
Majelis Taklim: Benteng Terakhir di Akhir Zaman
Kalau kamu merasa hidupmu belakangan ini gampang cemas, sering overthinking, atau merasa hampa padahal semua kebutuhan materi terpenuhi, coba periksa: kapan terakhir kali kamu duduk bersimpuh di majelis ilmu?
Duduk di majelis taklim di akhir zaman ini bukan sekadar rutinitas mingguan. Ini adalah tempat perlindungan diri.
- Menghapus Dosa: Setiap langkah kaki menuju majelis ilmu dan setiap detik kita duduk mendengarkan kebaikan menjadi pembersih atas dosa-dosa kita yang menumpuk.
- Mendapat Syafaat: Tempat di mana nama kita dipanggil dan dicatat dalam lingkaran kebaikan bersama para pencinta Rasulullah SAW.
- Mengisi Daya Rohani: Hati itu seperti baterai ponsel. Kalau tidak pernah diisi (recharge) dengan ilmu dan peringatan agama, dia akan mati (drop).
Langkah Nyata: Apa yang Harus Kita Lakukan Sekarang?
Membaca atau mendengar nasehat itu baru langkah awal. Yang paling penting adalah aksi nyatanya dalam kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa komitmen sederhana yang bisa kita mulai dari sekarang:
- Kembali ke Fitrah: Mulailah membenahi gaya hidup, pergaulan, dan cara kita berbusana maupun berperilaku sesuai dengan syariat yang diajarkan.
- Filter Konten Sosmed: Jangan jadikan gawai kita sebagai pintu masuknya maksiat. Unfollow akun-akun yang mempromosikan gaya hidup tidak sehat secara syar'i.
- Luangkan Waktu untuk Majelis: Jangan tunggu luang baru ke majelis, tapi luangkan waktu khusus untuk menuntut ilmu.
Semoga berkat majelis-majelis ilmu yang terus menyala di sekitar kita, kota kita, negeri kita, dan generasi muda kita selalu dilindungi oleh Allah SWT dari segala bentuk fitnah akhir zaman. Wallahu a'lam bish-shawab.
