Pernah nggak sih kamu merasa kesal banget kepada seseorang yang pernah menyakiti hati?
Mungkin awalnya cuma kecewa. Lama-lama berubah menjadi marah. Kemudian muncul keinginan untuk membalas, atau setidaknya berharap orang tersebut merasakan sakit yang sama.
Perasaan seperti itu manusiawi. Kita memang bisa terluka ketika diperlakukan tidak baik.
Tetapi ada satu pertanyaan yang menarik untuk direnungkan: apakah membalas keburukan benar-benar membuat hati menjadi lebih tenang?
Dalam sebuah tausiyah pada rangkaian Pembacaan Burdah dan Maulid Agung Masjid Al Hawi Condet 2026, Habib Ahmad bin Jindan mengajak jamaah kembali melihat salah satu sisi paling indah dari akhlak Rasulullah ﷺ: bagaimana beliau menghadapi orang-orang yang pernah menyakiti dan memusuhinya.
Pesannya sederhana, tetapi dalam sekali.
Kekuatan seseorang tidak selalu terlihat dari kemampuannya membalas. Terkadang kekuatan justru terlihat ketika seseorang mampu menahan amarah, memaafkan, dan memilih jalan yang lebih baik.
Rasulullah ﷺ Mengajarkan Bahwa Dendam Bukan Jalan Keluar
Kalau kita berada di posisi orang yang pernah dizalimi, memaafkan mungkin terasa sangat sulit.
Apalagi kalau luka tersebut terjadi berulang kali.
Kita mungkin berpikir, "Kalau saya memaafkan, bukankah berarti saya lemah?"
Padahal memaafkan tidak selalu berarti membenarkan kesalahan orang lain. Memaafkan juga tidak berarti kita harus membiarkan diri terus-menerus disakiti.
Memaafkan adalah usaha untuk tidak membiarkan kebencian menguasai hati.
Dalam kehidupan Rasulullah ﷺ, kita menemukan banyak teladan tentang bagaimana keburukan tidak selalu dibalas dengan keburukan.
Prinsip ini juga menjadi tema yang pernah dibahas di PMNM dalam artikel Memaafkan Kesalahan, Mengubur Dendam. Memaafkan dan menahan amarah bukan tanda seseorang kehilangan harga diri, tetapi bagian dari latihan mengendalikan diri.
Fathu Makkah: Saat Kekuasaan Tidak Dipakai untuk Membalas
Salah satu pelajaran besar dapat kita renungkan dari peristiwa Fathu Makkah.
Selama bertahun-tahun, Rasulullah ﷺ dan para sahabat menghadapi berbagai bentuk penolakan, tekanan, gangguan, bahkan pengusiran dari Makkah.
Kemudian datang sebuah masa ketika Makkah berada dalam posisi yang berbeda.
Rasulullah ﷺ memasuki Makkah dalam keadaan memiliki kekuatan.
Kalau seseorang ingin membalas semua perlakuan buruk yang pernah diterimanya, mungkin inilah saat yang dianggap paling tepat.
Tetapi yang kita lihat justru pelajaran yang jauh lebih besar.
Kemenangan tidak dijadikan alasan untuk menumpahkan dendam.
Inilah bagian yang sangat relevan untuk kehidupan kita sekarang.
Kita mungkin tidak pernah mengalami peperangan seperti generasi terdahulu. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendapatkan "pertempuran" versi masing-masing.
Konflik keluarga.
Perselisihan dengan teman.
Masalah di tempat kerja.
Perbedaan pendapat di media sosial.
Atau seseorang yang pernah membuat kita kecewa.
Di situ kita memiliki pilihan: memperpanjang masalah atau mencoba menyelesaikannya dengan cara yang lebih baik.
Kisah Utsman bin Thalhah dan Pelajaran tentang Kepercayaan
Dalam tausiyah tersebut juga disampaikan kisah Utsman bin Thalhah, sosok yang memiliki hubungan dengan penjagaan kunci Ka'bah.
Kisah ini menjadi menarik karena menunjukkan bagaimana Rasulullah ﷺ tidak menjadikan persoalan pribadi sebagai alasan untuk mengabaikan amanah.
Ketika keadaan berubah setelah Fathu Makkah, Rasulullah ﷺ mengembalikan kunci Ka'bah kepada Utsman bin Thalhah dan keluarganya.
Ada pelajaran penting di balik kisah tersebut.
Orang yang mampu memaafkan tidak harus kehilangan prinsip.
Kita tetap dapat bersikap tegas ketika diperlukan, tetapi ketegasan tidak harus disertai kebencian.
Kita dapat menjaga batas, tetapi tidak perlu memenuhi hati dengan dendam.
Kita bisa tidak setuju dengan seseorang tanpa harus mengharapkan keburukan menimpanya.
Merangkul Orang yang Sedang Jatuh
Ada pula kisah seorang pemuda yang datang kepada Rasulullah ﷺ dengan membawa keinginan melakukan perbuatan zina.
Para sahabat tentu merasa marah mendengar permintaan tersebut.
Namun Rasulullah ﷺ memilih pendekatan yang berbeda.
Beliau tidak sekadar memarahinya.
Pemuda tersebut justru diajak mendekat dan diajak berpikir melalui pertanyaan yang menyentuh sisi kemanusiaannya.
Apakah ia rela jika perbuatan tersebut menimpa ibunya?
Bagaimana jika menimpa putrinya?
Bagaimana jika menimpa saudara perempuannya?
Pendekatan ini menunjukkan sesuatu yang sangat penting dalam mendidik manusia: kesalahan perlu diluruskan, tetapi orang yang melakukan kesalahan tidak selalu harus dipermalukan.
Ada kalanya seseorang berubah bukan karena dimarahi lebih keras, tetapi karena ada orang yang mau menyentuh hati dan mengajaknya berpikir.
Kenapa Merangkul Bisa Lebih Efektif daripada Menghakimi?
Coba kita lihat kehidupan sehari-hari.
Ketika seseorang melakukan kesalahan, reaksi pertama kita sering kali adalah menghakimi.
"Kamu memang selalu begitu."
"Dasar nggak bisa berubah."
"Memang dari dulu kelakuannya seperti itu."
Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terasa melegakan karena kita sedang marah.
Tetapi apakah orang tersebut benar-benar berubah?
Belum tentu.
Bisa jadi ia justru semakin menjauh.
Karena itu, cara Rasulullah ﷺ dalam membimbing manusia menjadi pelajaran yang sangat berharga.
Tegas terhadap kesalahan, tetapi tetap memberikan ruang bagi manusia untuk kembali.
Inilah yang sering kita butuhkan ketika menghadapi keluarga, anak, teman, bahkan diri sendiri.
Memaafkan Tidak Berarti Membiarkan Kezaliman
Bagian ini juga penting supaya kita tidak salah memahami makna memaafkan.
Kalau seseorang menyakiti kita, memaafkan bukan berarti kita harus membiarkan tindakan tersebut terus terjadi.
Jika ada tindakan yang membahayakan, kita tetap perlu menjaga diri dan mengambil langkah yang tepat.
Jika terjadi pelanggaran hak, kita tetap boleh mencari penyelesaian.
Jika seseorang terus melakukan kesalahan, kita tetap boleh membuat batasan.
Yang perlu dijaga adalah jangan sampai penyelesaian masalah berubah menjadi dendam yang menguasai hati.
Kita boleh tegas tanpa kasar.
Kita boleh menjaga jarak tanpa membenci.
Kita boleh mengatakan tidak tanpa menghina.
Dan kita boleh memperjuangkan hak tanpa kehilangan akhlak.
Media Sosial Juga Menjadi Ujian untuk Memaafkan
Kalau dulu konflik mungkin hanya terjadi di lingkungan sekitar, sekarang persoalan bisa menyebar jauh lebih cepat.
Satu komentar bisa memicu pertengkaran.
Satu unggahan bisa membuat orang saling menyerang.
Satu kesalahan bisa terus diungkit karena jejak digital sulit hilang.
Di sinilah akhlak Rasulullah ﷺ menjadi semakin relevan.
Sebelum membalas komentar, berhenti sebentar.
Sebelum menyebarkan kesalahan orang lain, pikirkan kembali.
Sebelum menulis kalimat yang menyakitkan, tanyakan kepada diri sendiri:
"Kalau Rasulullah ﷺ melihat cara saya berbicara, apakah saya akan merasa malu?"
Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi rem sebelum jari kita menekan tombol kirim.
Maulid Seharusnya Membuat Hati Lebih Lembut
Majelis Maulid bukan hanya tempat untuk berkumpul dan mendengarkan kisah Rasulullah ﷺ.
Lebih dari itu, majelis dapat menjadi ruang untuk mengevaluasi diri.
Apakah setelah mendengar kisah akhlak Nabi, kita menjadi lebih mudah memaafkan?
Apakah kita menjadi lebih lembut kepada keluarga?
Apakah kita semakin mampu menahan amarah?
Apakah kita semakin berhati-hati ketika berbicara tentang orang lain?
Rangkaian Maulid Agung Masjid Al Hawi Condet pada 11–12 September 2026 sendiri menjadi salah satu momentum berkumpulnya jamaah untuk membaca Burdah, Maulid, bershalawat, dan mendengarkan tausiyah.
Kalau setelah majelis kita hanya mendapatkan informasi baru tetapi hati tetap sama, mungkin masih ada pekerjaan rumah yang perlu kita selesaikan.
Sebab ilmu yang baik semestinya membawa perubahan.
Jangan Pulang Hanya Membawa Rasa Haru
Rasa haru ketika mendengar kisah Rasulullah ﷺ adalah sesuatu yang indah.
Tetapi akan jauh lebih indah kalau rasa tersebut berubah menjadi tindakan.
Misalnya, hari ini kita memutuskan untuk tidak lagi membalas pesan dengan kemarahan.
Besok kita mencoba meminta maaf kepada orang yang selama ini kita jauhi.
Lusa kita belajar menahan komentar ketika sedang emosi.
Pelan-pelan kita mulai mengurangi kebiasaan mengungkit kesalahan orang.
Dan ketika seseorang yang pernah menyakiti kita datang meminta maaf, kita belajar memberikan ruang untuk memperbaiki hubungan selama keadaan memang memungkinkan dan aman bagi semua pihak.
Itulah perubahan yang nyata.
Merangkul Bukan Berarti Naif
Menjadi pemaaf bukan berarti kita harus mudah percaya kepada semua orang.
Menjadi lembut bukan berarti tidak punya pendirian.
Dan merangkul bukan berarti membiarkan diri terus dimanfaatkan.
Justru diperlukan kebijaksanaan untuk mengetahui kapan harus mendekat, kapan harus menasihati, dan kapan harus menjaga jarak.
Yang ingin kita hilangkan adalah kebencian yang tidak perlu.
Karena terlalu lama menyimpan dendam bisa membuat kita sendiri yang lelah.
Orang yang kita benci mungkin sudah melanjutkan hidupnya, sementara kita masih membawa kejadian lama setiap hari.
Maka memaafkan juga bisa menjadi bentuk kasih sayang kepada diri sendiri.
Mulai dari Satu Orang yang Paling Sulit Kita Maafkan
Kalau ingin mempraktikkan pelajaran ini, tidak perlu langsung berpikir terlalu jauh.
Coba pikirkan satu nama.
Seseorang yang selama ini masih membuat hati kita berat.
Kemudian tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah saya bisa menyerahkan urusan ini kepada Allah dan berhenti memelihara dendam?
Mungkin jawabannya belum.
Tidak apa-apa.
Proses memaafkan tidak selalu terjadi dalam satu malam.
Yang penting, jangan berhenti berusaha.
Doakan kebaikan jika mampu.
Jaga jarak jika memang diperlukan.
Perbaiki diri.
Dan jangan biarkan kesalahan orang lain menentukan siapa diri kita.
Akhlak Nabi Bukan Hanya untuk Diceritakan
Salah satu cara terbaik mencintai Rasulullah ﷺ adalah belajar mengenal akhlak beliau lalu berusaha menerapkannya.
Kita mungkin tidak mampu melakukan semuanya sekaligus.
Tetapi kita bisa mulai dari satu kebiasaan.
Lebih sabar.
Lebih mudah memaafkan.
Lebih lembut ketika menasihati.
Lebih berhati-hati ketika berbicara.
Lebih mampu mengendalikan emosi.
Dan lebih banyak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memperbaiki diri.
Pembahasan tentang cinta kepada Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa mencintai Nabi tidak berhenti pada ucapan, tetapi perlu diwujudkan melalui usaha mengikuti akhlak dan sunnah beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Penutup: Memaafkan Bisa Menjadi Awal Perubahan
Kisah-kisah yang disampaikan Habib Ahmad Assegaf memberi kita satu bahan renungan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kita tidak selalu bisa memilih bagaimana orang lain memperlakukan kita.
Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana kita meresponsnya.
Kita bisa membalas dengan kemarahan.
Kita bisa menyimpan dendam bertahun-tahun.
Atau kita bisa belajar dari Rasulullah ﷺ untuk menjadi pribadi yang lebih lapang, lebih bijaksana, dan lebih mampu merangkul.
Memaafkan memang tidak selalu mudah.
Tetapi ketika hati mulai belajar melepaskan dendam, ada ruang baru untuk ketenangan.
Dan ketika kita mampu memperlakukan orang yang sedang salah dengan cara yang tetap menjaga martabatnya, mungkin di situlah kita sedang belajar sedikit demi sedikit meneladani akhlak Rasulullah ﷺ.
Semoga setelah menghadiri majelis, membaca Maulid, dan mendengarkan kisah Rasulullah ﷺ, kita tidak hanya pulang dengan hati yang tersentuh, tetapi juga dengan akhlak yang perlahan berubah.
Semoga Allah melembutkan hati kita, mengajarkan kita untuk memaafkan, menjaga lisan dari menyakiti, serta memberikan kekuatan untuk memperbaiki diri dan hubungan dengan sesama.
Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala ali Sayyidina Muhammad.
