Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam. Membina silaturahmi terhadap semua elemen umat Islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia Islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan Islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rasulullah SAW sebagai hasil dari aktivitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya Islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Orang yang Paling Zalim kepada Dirinya Sendiri Adalah yang Terus Merendahkan Diri


Orang yang paling zalim kepada dirinya sendiri karena terus merendahkan diri

Pernah nggak, kamu lebih keras kepada dirimu sendiri daripada kepada orang lain?

Ketika orang lain melakukan kesalahan, kamu bisa memahami.

Ketika teman gagal, kamu bisa berkata, “Tidak apa-apa, namanya juga manusia.”

Tapi ketika giliran dirimu sendiri yang gagal, kalimat yang keluar justru berbeda:

“Aku memang bodoh.”
“Aku memang nggak bisa apa-apa.”
“Kenapa aku selalu gagal?”
“Orang lain jauh lebih baik dariku.”

Tanpa sadar, kita terkadang menjadi orang yang paling sering merendahkan diri sendiri.

Padahal, kesalahan bukan alasan untuk membenci diri sendiri.

Ketika Kritik Berubah Menjadi Kebencian kepada Diri Sendiri

Mengevaluasi diri itu penting.

Kita perlu mengakui ketika salah. Kita perlu belajar ketika gagal. Kita juga perlu berani memperbaiki kekurangan.

Namun ada perbedaan besar antara mengoreksi diri dan merendahkan diri.

Mengoreksi diri berkata:

“Aku salah. Aku harus belajar supaya tidak mengulanginya lagi.”

Sementara merendahkan diri berkata:

“Aku memang selalu gagal. Aku memang tidak berguna.”

Yang pertama membuat kita tumbuh.

Yang kedua justru membuat kita semakin sulit bangkit.

Karena itu, jangan jadikan satu kesalahan sebagai identitas dirimu.

Satu Kesalahan Tidak Menghapus Semua Kebaikanmu

Kita sering memiliki kebiasaan aneh: mengingat satu kesalahan jauh lebih lama daripada puluhan hal baik yang sudah dilakukan.

Hari ini mungkin kamu melakukan sesuatu yang membuatmu kecewa.

Lalu sepanjang hari kamu terus memikirkannya.

“Seharusnya aku tidak melakukan itu.”

“Kenapa tadi aku bicara seperti itu?”

“Kenapa aku mengambil keputusan itu?”

Evaluasi memang diperlukan.

Tetapi setelah mengambil pelajarannya, izinkan dirimu untuk melanjutkan hidup.

Kamu bukan hanya kesalahan yang pernah kamu lakukan.

Kamu juga adalah proses panjang dari berbagai usaha, perjuangan, kebaikan, doa, dan pelajaran yang sudah kamu lewati.

Jangan Bandingkan Bab Hidupmu dengan Bab Orang Lain

Salah satu penyebab kita mudah merendahkan diri adalah terlalu sering membandingkan kehidupan.

Kita melihat seseorang sudah sukses.

Kita melihat orang lain sudah memiliki pekerjaan bagus.

Ada yang sudah menikah.

Ada yang punya rumah.

Ada yang usahanya berkembang.

Ada yang terlihat bahagia di media sosial.

Lalu kita melihat diri sendiri dan bertanya:

“Kenapa hidupku belum seperti mereka?”

Padahal kita hanya melihat hasil akhirnya.

Kita tidak melihat berapa banyak kegagalan yang mereka lewati, berapa kali mereka menangis, berapa banyak penolakan yang mereka terima, atau berapa lama mereka menunggu sebelum akhirnya sampai di titik tersebut.

Setiap manusia memiliki jalan yang berbeda. Karena itu, membandingkan perjalanan hidup secara mentah hanya akan membuat kita lupa menghargai proses sendiri.

Merendahkan Diri Tidak Membuatmu Menjadi Lebih Baik

Ada anggapan bahwa semakin keras kita menyalahkan diri sendiri, semakin cepat kita berubah.

Padahal tidak selalu begitu.

Kamu tidak perlu membenci dirimu sendiri untuk menjadi lebih baik.

Kamu tidak perlu mengatakan bahwa dirimu tidak berguna agar termotivasi.

Kamu juga tidak perlu terus mengingat kegagalan hanya supaya tidak mengulanginya.

Belajar dari kesalahan tidak sama dengan hidup di dalam kesalahan.

Kalau memang salah, perbaiki.

Kalau memang kurang, belajar.

Kalau memang gagal, coba lagi.

Kalau memang belum mampu, beri dirimu waktu.

Itulah cara yang lebih sehat untuk bertumbuh.

Jangan Biarkan Perkataan Orang Menjadi Suara di Kepalamu

Terkadang yang membuat kita semakin keras kepada diri sendiri bukan hanya pikiran kita.

Bisa jadi ada perkataan orang lain yang pernah kita dengar.

Pernah diremehkan.

Pernah dibandingkan.

Pernah dianggap tidak mampu.

Pernah dibuat merasa tidak cukup.

Lalu tanpa sadar, suara orang tersebut menjadi suara di dalam kepala kita.

Setiap kali gagal, kita mengulang perkataan yang sama kepada diri sendiri.

Padahal, penilaian seseorang terhadap kita tidak otomatis menjadi kebenaran.

Kalau ada kritik yang benar, ambil pelajarannya.

Kalau ada nasihat yang baik, dengarkan.

Tetapi kalau perkataan tersebut hanya bertujuan merendahkan, kamu tidak wajib menjadikannya identitas dirimu.

Belajar membedakan kritik yang membangun dengan perkataan yang hanya menjatuhkan adalah bagian dari menjaga kesehatan hati. Jangan sampai penilaian orang lain membuatmu lupa bahwa dirimu juga memiliki nilai. Baca juga tentang bagaimana menghadapi penilaian orang lain tanpa kehilangan ketenangan.

Berhenti Menghukum Diri untuk Kesalahan yang Sudah Lewat

Ada kesalahan yang sudah terjadi berbulan-bulan lalu, tetapi masih kita hukum setiap hari.

Setiap mengingatnya, hati kembali sakit.

Padahal waktu terus berjalan.

Orang-orang mungkin sudah melupakannya.

Keadaannya sudah berubah.

Tetapi kita masih tinggal di kejadian yang sama.

Kalau kesalahan itu masih bisa diperbaiki, perbaiki.

Kalau ada orang yang perlu dimintai maaf, minta maaf.

Kalau ada sesuatu yang bisa dipelajari, ambil pelajarannya.

Setelah itu, berikan kesempatan kepada dirimu untuk tumbuh.

Jangan terus menghukum seseorang yang sudah berusaha menjadi lebih baik.

Termasuk ketika seseorang itu adalah dirimu sendiri.

Belajar Menghargai Diri Tanpa Menjadi Sombong

Menghargai diri sendiri bukan berarti merasa paling hebat.

Menjaga diri bukan berarti egois.

Mengakui bahwa kita memiliki kelebihan juga bukan berarti sombong.

Kita hanya sedang belajar melihat diri secara lebih adil.

Ada kekurangan yang harus diperbaiki.

Ada kelebihan yang harus disyukuri.

Ada kesalahan yang harus diakui.

Ada pencapaian yang boleh kita apresiasi.

Semuanya bisa berjalan bersamaan.

Karena menjadi rendah hati tidak berarti harus selalu merendahkan diri.

Allah Tidak Meminta Kita Menjadi Sempurna

Manusia memang tempatnya salah dan lupa.

Karena itu, jangan menuntut dirimu untuk selalu sempurna.

Ada hari ketika kamu kuat.

Ada hari ketika kamu lelah.

Ada masa ketika semuanya terasa mudah.

Ada pula masa ketika bangun dari tempat tidur saja terasa membutuhkan perjuangan.

Itu bagian dari perjalanan manusia.

Yang penting bukan apakah kita tidak pernah jatuh.

Yang penting adalah apakah kita mau bangkit dan terus memperbaiki diri.

Kalau hari ini belum menjadi versi terbaik dirimu, tidak apa-apa.

Kamu masih punya hari esok untuk belajar menjadi lebih baik.

Jangan Merendahkan Diri Hanya Karena Belum Sampai

Mungkin sekarang kamu belum mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Mungkin usahamu belum berhasil.

Mungkin doa yang kamu tunggu belum terjawab dengan cara yang kamu harapkan.

Mungkin orang lain sudah berjalan jauh sementara kamu merasa masih berada di tempat yang sama.

Tetapi jangan buru-buru menyimpulkan bahwa hidupmu gagal.

Bisa jadi kamu sedang berada di bagian perjalanan yang memang membutuhkan lebih banyak kesabaran.

Seperti halnya orang lain tidak seharusnya menjadi standar mutlak untuk perjalananmu, jangan pula menjadikan keterlambatan sebagai alasan untuk merendahkan diri. Kamu tetap bisa mengevaluasi diri sambil menghargai proses yang sedang kamu jalani.

Kalau Hari Ini Kamu Gagal, Besok Masih Bisa Mencoba

Coba ubah cara berbicara kepada diri sendiri.

Daripada:

“Aku memang tidak bisa.”

Ganti dengan:

“Aku belum bisa, tapi aku bisa belajar.”

Daripada:

“Aku selalu gagal.”

Ganti dengan:

“Kali ini belum berhasil. Aku akan mencoba memahami kesalahannya.”

Daripada:

“Aku tidak sebaik orang lain.”

Ganti dengan:

“Aku punya perjalanan sendiri dan masih bisa terus berkembang.”

Kalimat sederhana seperti ini memang tidak langsung menyelesaikan semua masalah.

Tetapi cara kita berbicara kepada diri sendiri dapat memengaruhi bagaimana kita menghadapi kegagalan dan proses perbaikan.

Jadilah Orang yang Tegas kepada Kesalahan, Bukan Kejam kepada Diri Sendiri

Ini mungkin inti dari semuanya.

Kita boleh tegas kepada diri sendiri tanpa harus kejam.

Kalau salah, katakan salah.

Kalau malas, akui bahwa kita perlu berubah.

Kalau menyakiti orang lain, bertanggung jawab dan minta maaf.

Tetapi jangan berhenti di sana.

Setelah mengakui kesalahan, lakukan sesuatu untuk memperbaikinya.

Karena tujuan introspeksi bukan membuat kita membenci diri sendiri.

Tujuannya adalah membuat kita menjadi manusia yang lebih baik.

Dan ketika hati mulai terlalu keras kepada diri sendiri, ingat bahwa terkadang kita hanya perlu berhenti sejenak, menerima bahwa manusia memang memiliki kekurangan, lalu kembali berjalan. Belajar menjaga diri dan tetap menjadi pribadi yang baik tanpa harus terus mengorbankan diri.

Penutup: Jangan Jadi Orang yang Paling Kejam kepada Dirimu Sendiri

Kalimat pada gambar ini sebenarnya sederhana:

“Orang yang paling zalim kepada dirinya sendiri adalah dia yang merendahkan dirinya di hadapan orang yang tidak menghormatinya.”

Pesannya bukan agar kita menjadi sombong atau menutup diri dari kritik.

Justru sebaliknya.

Kita tetap perlu mengevaluasi diri, menerima nasihat, mengakui kesalahan, dan belajar dari orang lain.

Namun, jangan sampai semua itu berubah menjadi kebiasaan membenci diri sendiri.

Kamu boleh memperbaiki diri tanpa merendahkan diri.

Kamu boleh mengakui kekurangan tanpa menganggap dirimu tidak berharga.

Kamu boleh gagal tanpa menyebut dirimu sebagai manusia gagal.

Dan yang paling penting, jangan biarkan perkataan orang yang tidak menghargaimu menentukan bagaimana kamu melihat dirimu sendiri.

Perbaiki apa yang memang harus diperbaiki.

Terima apa yang memang harus diterima.

Tinggalkan perkataan yang tidak perlu.

Lalu lanjutkan hidup dengan hati yang lebih tenang.

Renungan hari ini:
Jangan terlalu keras kepada dirimu sendiri. Kamu memang masih punya kekurangan, tetapi itu bukan alasan untuk membenci dirimu. Jadikan kesalahan sebagai pelajaran, bukan hukuman seumur hidup. Teruslah memperbaiki diri dan percayalah bahwa proses menjadi lebih baik memang membutuhkan waktu.

Kamu tidak harus menjadi sempurna untuk menjadi berharga.





Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *