Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam. Membina silaturahmi terhadap semua elemen umat Islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia Islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan Islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rasulullah SAW sebagai hasil dari aktivitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya Islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Sikap Kita kepada Orang Lain Bisa Mengubah Mereka: Jangan Sampai Terlambat Menyadarinya


Sikap kita bisa mengubah seseorang dan membuatnya berubah dalam hubungan

Pernah nggak kamu berpikir bahwa cara kita memperlakukan seseorang ternyata bisa mengubah dirinya?

Awalnya dia mungkin orang yang sangat ramah. Mudah tersenyum, mudah membantu, mudah percaya, bahkan selalu berusaha memahami orang lain.

Tapi setelah berkali-kali mendapatkan perlakuan yang membuatnya kecewa, perlahan sikapnya berubah.

Dia mulai lebih diam.

Mulai menjaga jarak.

Mulai berhati-hati ketika berbicara.

Mulai sulit percaya.

Dan mungkin suatu hari kita bertanya-tanya:

“Kok dia sekarang berubah?”

Padahal bisa jadi, kita lupa melihat bagian yang lebih penting:

“Apa yang membuat dia berubah?”

Sikap Kita Bisa Meninggalkan Bekas pada Orang Lain

Kita sering menganggap sikap kecil sebagai sesuatu yang sepele.

Cuek sebentar. Mengabaikan pesan. Tidak menghargai usaha seseorang. Menganggap bantuan orang lain sebagai sesuatu yang biasa. Atau bahkan sering bercanda tanpa memikirkan apakah candaan tersebut sebenarnya menyakiti.

Bagi kita mungkin selesai begitu saja.

Tapi bagi orang lain, belum tentu.

Ada perkataan yang kita lupakan setelah mengucapkannya, tetapi justru terus diingat oleh orang yang mendengarnya.

Ada sikap yang menurut kita biasa saja, tetapi membuat seseorang mulai mempertanyakan apakah dirinya benar-benar dihargai.

Dan ada perlakuan yang perlahan membuat seseorang belajar untuk tidak lagi memberikan versi terbaik dirinya kepada kita.

Karena manusia bisa berubah akibat pengalaman.

Dulu Terbuka, Sekarang Lebih Banyak Diam

Mungkin kamu pernah mengenal seseorang yang dulu sangat terbuka.

Dia sering bercerita. Sering bertanya kabar. Sering membantu. Bahkan mungkin selalu ada ketika orang lain membutuhkan.

Tetapi sekarang semuanya berbeda.

Dia tidak lagi banyak bercerita.

Dia tidak lagi terlalu berharap.

Dia mulai memilih mana yang perlu diceritakan dan mana yang cukup disimpan sendiri.

Apakah berarti dia menjadi orang yang buruk?

Belum tentu.

Bisa jadi dia hanya sedang belajar dari pengalaman.

Ketika seseorang terlalu sering kecewa, wajar jika akhirnya dia menjadi lebih berhati-hati.

Ketika seseorang berkali-kali merasa tidak dihargai, wajar jika dia mulai mengurangi ekspektasi.

Dan ketika seseorang pernah memberikan kepercayaan tetapi justru disakiti, wajar jika dia membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali percaya.

Jangan Cepat Menuduh Seseorang Berubah

Salah satu kesalahan yang sering kita lakukan adalah menilai perubahan seseorang tanpa pernah bertanya apa yang terjadi sebelumnya.

Kita hanya melihat hasil akhirnya.

“Sekarang dia cuek.”

“Sekarang dia sombong.”

“Sekarang dia beda.”

Padahal mungkin ada banyak hal yang terjadi sebelum perubahan tersebut.

Mungkin dia sudah berkali-kali mencoba bersikap baik.

Mungkin dia sudah pernah menjelaskan perasaannya.

Mungkin dia sudah memberikan banyak kesempatan.

Dan mungkin akhirnya dia memilih menjaga jarak karena merasa itu adalah cara terbaik untuk menjaga dirinya sendiri.

Karena itu, sebelum mengatakan seseorang berubah menjadi buruk, coba tanyakan kepada diri sendiri:

“Apakah ada sikapku yang ikut membuatnya berubah?”

Pertanyaan sederhana ini mungkin tidak nyaman, tetapi bisa menjadi awal dari introspeksi yang sangat penting.

Perlakuan yang Kita Anggap Biasa Bisa Sangat Berarti bagi Orang Lain

Tidak semua orang membutuhkan sesuatu yang besar untuk merasa dihargai.

Terkadang cukup dengan didengarkan.

Cukup dengan tidak diremehkan.

Cukup dengan ucapan terima kasih.

Cukup dengan menghargai waktu dan usaha mereka.

Atau cukup dengan tidak membuat mereka merasa keberadaannya hanya penting ketika kita sedang membutuhkan sesuatu.

Hal-hal sederhana seperti ini sering kali justru membentuk kualitas sebuah hubungan.

Ketika seseorang merasa dihargai, dia akan lebih nyaman menjadi dirinya sendiri.

Sebaliknya, ketika seseorang terus merasa diremehkan, perlahan dia akan belajar untuk berhenti berharap.

Jangan Baru Menghargai Setelah Kehilangan

Ada satu hal yang sering terjadi dalam kehidupan.

Kita baru menyadari nilai seseorang ketika dia sudah tidak lagi memberikan perhatian seperti sebelumnya.

Dulu dia selalu ada.

Kita anggap biasa.

Dulu dia selalu membantu.

Kita anggap memang sudah seharusnya begitu.

Dulu dia selalu berusaha menjaga hubungan.

Kita bahkan tidak terlalu memikirkannya.

Sampai akhirnya dia berhenti.

Barulah kita sadar bahwa ternyata kehadirannya selama ini sangat berarti.

Sayangnya, tidak semua hubungan bisa kembali seperti sebelumnya.

Karena kepercayaan yang rusak membutuhkan waktu untuk dibangun kembali.

Dan terkadang seseorang tidak pergi karena sudah tidak peduli.

Dia pergi karena terlalu lama merasa tidak dihargai.

Belajar Menjaga Sikap Sebelum Orang Lain Berubah

Kalau kita ingin memiliki hubungan yang sehat dengan keluarga, teman, pasangan, maupun lingkungan sekitar, salah satu hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah mulai memperhatikan cara kita memperlakukan mereka.

Bukan berarti kita harus selalu menyenangkan semua orang.

Bukan pula berarti kita harus mengorbankan diri demi mempertahankan hubungan.

Tetapi setidaknya, belajarlah untuk menghargai.

Kalau salah, minta maaf.

Kalau ada yang membantu, ucapkan terima kasih.

Kalau seseorang sedang bercerita, dengarkan.

Kalau sedang marah, jangan menjadikan emosi sebagai alasan untuk merendahkan.

Dan kalau ada masalah, cobalah menyelesaikannya dengan komunikasi yang baik.

Sebab menjadi baik tidak berarti harus selalu mengalah. Kita juga perlu belajar memiliki batas yang sehat. Menjaga diri sambil tetap menghargai orang lain adalah bagian dari kedewasaan.

Prinsip ini juga penting ketika kita menghadapi orang yang pernah mengecewakan. Jangan sampai pengalaman buruk membuat kita kehilangan akhlak dan berubah menjadi pribadi yang sama buruknya.

Seperti yang dibahas dalam artikel Jangan Takut Disebut Berubah, Bisa Jadi Kamu Sedang Belajar Menjaga Diri, berubah menjadi lebih tegas dan mampu menjaga batas bukan berarti kita harus kehilangan kebaikan.

Tetap Baik, Tapi Jangan Membiarkan Diri Terus Disakiti

Ada hal penting yang juga harus dipahami.

Jika sikap kita bisa memengaruhi orang lain, bukan berarti kita bertanggung jawab atas semua perubahan seseorang.

Setiap orang tetap memiliki pilihan.

Orang lain bisa memilih untuk memaafkan, menjauh, memperbaiki diri, atau mengambil keputusan yang berbeda.

Kita tidak bisa mengontrol semuanya.

Yang bisa kita kontrol adalah sikap kita sendiri.

Karena itu, jangan menggunakan nasihat tentang menjadi baik sebagai alasan untuk membiarkan diri terus diperlakukan buruk.

Kamu boleh memaafkan tanpa kembali terlalu dekat.

Kamu boleh memahami seseorang tanpa menyetujui semua perilakunya.

Kamu boleh tetap mendoakan seseorang meskipun hubungan kalian tidak lagi seperti dulu.

Dan kamu boleh menjaga jarak tanpa harus membenci.

Itulah salah satu bentuk kedewasaan dalam hubungan.

Kalau Kamu Merasa Seseorang Berubah, Coba Introspeksi Diri

Sebelum kecewa karena seseorang berubah, coba lihat kembali perjalanan hubungan kalian.

Apakah kamu pernah mengabaikannya?

Apakah kamu pernah meremehkan usahanya?

Apakah kamu hanya datang ketika membutuhkan sesuatu?

Apakah kamu pernah mengatakan sesuatu yang mungkin masih dia ingat sampai sekarang?

Atau mungkin kamu memang tidak melakukan sesuatu yang besar, tetapi terlalu sering membuatnya merasa tidak dianggap?

Introspeksi seperti ini bukan berarti menyalahkan diri sendiri untuk segala sesuatu.

Tujuannya adalah menemukan bagian yang memang perlu diperbaiki.

Karena terkadang kita terlalu sibuk menuntut orang lain berubah, sampai lupa bahwa diri kita sendiri juga memiliki sesuatu yang harus diperbaiki.

Jangan Tunggu Orang Pergi Baru Belajar Menghargai

Kalau hari ini masih ada orang yang menyayangi kita, menghargai kita, membantu kita, atau selalu berusaha hadir ketika kita membutuhkan, jangan anggap semuanya sebagai sesuatu yang otomatis.

Hargai mereka selagi masih ada.

Ucapkan terima kasih.

Tanyakan kabarnya.

Jaga perkataan.

Jangan sengaja menguji kesabarannya hanya karena merasa dia tidak akan pernah pergi.

Karena setiap orang memiliki batas.

Bahkan orang yang paling sabar sekalipun bisa memilih berhenti ketika terus-menerus merasa tidak dihargai.

Dan ketika seseorang akhirnya berubah, mungkin sebenarnya dia bukan tiba-tiba berubah.

Mungkin kita saja yang baru sadar setelah semuanya berbeda.

Penutup: Perhatikan Sikapmu Sebelum Terlambat

Kalimat dalam gambar ini sebenarnya menyimpan pesan yang cukup dalam:

“Orang bakal sadar kalau sikap kita ke mereka itu berubah, tapi orang nggak bakal sadar kalau ternyata sikap merekalah yang membuat kita berubah.”

Kalimat tersebut bukan alasan untuk menyalahkan orang lain.

Justru sebaliknya, ini adalah ajakan untuk lebih sadar terhadap bagaimana kita memperlakukan manusia di sekitar kita.

Kita tidak pernah tahu perjuangan seseorang.

Kita tidak pernah tahu seberapa lama dia menahan kecewa.

Kita juga tidak pernah tahu berapa kali dia memilih diam agar hubungan tetap baik.

Jadi, sebelum membuat seseorang merasa tidak dihargai, pikirkan kembali sikap kita.

Sebelum menganggap seseorang berubah, coba tanyakan apa yang mungkin terjadi.

Dan sebelum kehilangan seseorang yang sebenarnya berarti, belajarlah menghargai kehadirannya.

Karena hubungan yang baik bukan dibangun oleh satu orang saja.

Hubungan dibangun oleh dua pihak yang sama-sama mau menghargai, memahami, memaafkan, memperbaiki diri, dan menjaga batas.

Kalau kita ingin diperlakukan dengan baik, mari mulai dari diri sendiri.

Jangan menunggu orang berubah untuk kemudian sadar bahwa sikap kita ternyata ikut menjadi alasan di balik perubahan itu.

Dan kalau hari ini kamu sedang merasa tidak dihargai oleh seseorang, jangan buru-buru membalas dengan keburukan. Tetap jaga akhlak, evaluasi hubungan dengan tenang, dan lakukan apa yang memang perlu dilakukan.

Sebab menjadi manusia yang baik bukan berarti tidak pernah terluka.

Menjadi baik berarti kita tetap memilih memperbaiki diri tanpa membiarkan luka mengubah kita menjadi orang yang tidak kita kenali.

Jika kamu ingin memahami lebih jauh tentang bagaimana pengalaman, lingkungan, dan perlakuan orang lain dapat memengaruhi cara seseorang bersikap, kamu juga bisa membaca Orang Baik Bisa Salah, Orang yang Pernah Salah Juga Bisa Berbuat Baik.





Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *