Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam. Membina silaturahmi terhadap semua elemen umat Islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia Islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan Islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rasulullah SAW sebagai hasil dari aktivitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya Islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Tetap Berbuat Baik, Meski Kebaikanmu Tak Selalu Kembali


Tetap berbuat baik meski kebaikan tidak kembali

Ada kebaikan yang langsung mendapat ucapan terima kasih. Ada juga yang bahkan tidak dianggap.

Kita mungkin pernah membantu seseorang, tetapi ketika suatu hari membutuhkan bantuan, orang itu tidak datang. Pernah menjaga perasaan orang lain, tetapi justru diri sendiri yang terluka. Atau pernah memberikan sesuatu dengan tulus, lalu kebaikan itu seolah hilang begitu saja tanpa balasan.

Di titik seperti itu, wajar kalau hati bertanya, “Untuk apa aku terus berbuat baik kalau akhirnya tidak dihargai?”

Tapi mungkin di sinilah letak pentingnya meluruskan kembali niat.

Tidak Semua Kebaikan Harus Kembali dari Manusia

Kebaikan memang menyenangkan ketika dihargai. Mendapat ucapan terima kasih, perhatian, atau balasan yang setimpal tentu bisa membuat hati merasa bahagia.

Namun, jangan sampai penghargaan manusia menjadi alasan utama kita berbuat baik.

Sebab manusia punya keterbatasan. Ada yang lupa. Ada yang tidak menyadari. Ada yang tidak mampu membalas. Bahkan ada pula yang mungkin menerima kebaikan kita tanpa pernah benar-benar menghargainya.

Kalau ukuran kebaikan hanya berdasarkan balasan manusia, kita akan mudah kecewa.

Sebaliknya, ketika kebaikan dilakukan karena Allah, kita belajar untuk tidak terlalu bergantung pada penilaian manusia.

Allah Tahu Kebaikan yang Tidak Dilihat Orang

Ada banyak kebaikan yang tidak pernah masuk kamera, tidak pernah diceritakan kepada siapa pun, dan tidak mendapatkan pujian.

Mungkin hanya kita dan Allah yang mengetahuinya.

Seperti menolong seseorang diam-diam, menahan amarah ketika sebenarnya kita punya alasan untuk membalas, memaafkan meski tidak diminta, atau memberikan sesuatu ketika kondisi diri sendiri juga tidak berlebihan.

Manusia mungkin tidak melihat semua itu. Tetapi bukan berarti kebaikan tersebut tidak berarti.

Justru di situlah kita belajar bahwa nilai sebuah amal tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak orang yang mengetahuinya.

Kalau sedang merasa lelah karena kebaikanmu tidak dihargai, cobalah berhenti sejenak dan membaca kembali tentang belajar tetap tenang ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana. Kadang yang perlu diperbaiki bukan kebaikannya, tetapi cara hati kita memandang hasilnya.

Berbuat Baik Bukan Berarti Membiarkan Diri Disakiti

Ada satu hal yang juga perlu dipahami.

Tetap berbuat baik bukan berarti kita harus selalu membiarkan orang lain memanfaatkan diri kita.

Islam mengajarkan kebaikan, tetapi kebaikan juga perlu disertai kebijaksanaan. Kita boleh berkata tidak. Kita boleh menjaga jarak dari orang yang terus-menerus menyakiti. Kita boleh berhenti memberikan sesuatu ketika pemberian tersebut justru membuat kita semakin terpuruk.

Menjaga batas bukan berarti menjadi orang jahat.

Kita bisa tetap memiliki hati yang baik tanpa harus memberikan akses kepada semua orang untuk memperlakukan kita sesuka hati.

Jangan Biarkan Kekecewaan Mengubah Hatimu

Salah satu hal yang paling berat bukan ketika kebaikan kita tidak dibalas, tetapi ketika pengalaman tersebut membuat kita berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mau berbuat baik.

Pernah dikecewakan bukan berarti semua orang akan mengecewakan kita.

Pernah dimanfaatkan bukan berarti semua orang akan memanfaatkan kita.

Dan pernah tidak dihargai bukan berarti kebaikan kita menjadi sia-sia.

Jangan biarkan satu atau dua pengalaman buruk mengambil sesuatu yang baik dari dalam dirimu.

Tetaplah menjadi pribadi yang baik, tetapi lebih bijaksana dalam menentukan kepada siapa, kapan, dan bagaimana kebaikan itu diberikan.

Kebaikan yang Tulus Tidak Selalu Membutuhkan Saksi

Ada kebaikan yang memang lebih indah ketika tidak diketahui banyak orang.

Tidak perlu selalu menjelaskan bahwa kita pernah membantu. Tidak perlu menunggu orang lain menyadari pengorbanan kita. Tidak perlu kecewa ketika tidak ada yang berkata, “Terima kasih.”

Jika niat awalnya karena Allah, biarkan Allah yang mengetahui dan menilai.

Karena bisa jadi, kebaikan yang menurut kita kecil justru menjadi sesuatu yang sangat berarti dalam perjalanan hidup seseorang.

Dan bisa jadi pula, balasan yang kita harapkan dari manusia memang tidak pernah datang karena Allah ingin mengajarkan kita tentang keikhlasan.

Tetap Baik, Tetap Bijaksana

Pada akhirnya, hidup bukan tentang memastikan setiap kebaikan mendapat balasan yang sama dari manusia.

Hidup juga bukan tentang menghitung siapa yang sudah membalas dan siapa yang belum.

Kalau hari ini kita masih diberi kesempatan untuk membantu, menguatkan, memaafkan, berbagi, atau sekadar membuat seseorang merasa tidak sendirian, lakukanlah dengan niat yang baik.

Kalaupun tidak ada yang melihat, Allah tahu.

Kalaupun tidak ada yang berterima kasih, Allah tahu.

Kalaupun kebaikan itu tidak kembali kepada kita melalui manusia, jangan buru-buru menganggapnya sia-sia.

Tetaplah berbuat baik. Bukan karena semua orang akan membalasnya, tetapi karena kita ingin kebaikan itu menjadi bagian dari diri kita dan karena Allah mengetahui setiap kebaikan yang dilakukan dengan tulus.

Semoga hati kita tetap lembut tanpa menjadi lemah, tetap tulus tanpa mudah dimanfaatkan, dan tetap berbuat baik tanpa selalu menunggu pengakuan dari manusia.





Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *