Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran islam lebih dalam. Membina silahtuhrrahim terhadap semua elemen umat islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rosulullah SAW sebagai hasil dari aktifitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Bagaimana Cara Allah Memberikan Rezeki pada Manusia


Bagaimana Cara Allah Memberikan Rezeki pada Manusia

Sebagai muslim kita dianjurkan untuk senantiasa bersyukur kepada Allah swt yang telah banyak menganugerahkan nikmat dan rezeki dalam kehidupan kita di dunia. Segala nikmat yang dianugerahkan ini tak mungkin bisa kita hitung satu persatu. Hal ini telah ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 18:

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ 

Artinya: “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kita perlu sadar sesadar-sadarnya bahwa di dunia ini kita diwajibkan berusaha untuk mendapatkan rezeki dari Allah swt. Namun kita juga harus sadar bahwa jumlah rezeki yang kita terima dari usaha yang telah kita lakukan adalah semata-mata ditentukan oleh Allah swt. Karena rezeki di dunia itu bukanlah matematika yang 1+1 =2. Namun terkait rezeki, adakalanya kita alami 1+1=0 atau bisa 1+1=11. Semua adalah kehendak Allah swt dalam memberikan rezeki kepada manusia baik dari jumlahnya maupun jalan atau cara Allah memberikannya.

Dari hal ini kita harus menyadari pula bahwa rezeki tidak hanya kita dapatkan dari bekerja atau berusaha saja. Allah memberikan rezeki kepada kita melalui banyak cara yang semuanya sudah diingatkan dan disebutkan dalam Al-Qur’an. Berikut ini kami  sampaikan ayat Al-Qur’an yang menyebutkan jenis cara atau jalan Allah memberikan rezekinya kepada manusia.

Pertama, rezeki yang memang telah dijamin dan ditentukan oleh Allah swt. Rezeki ini disebutkan dalam Surat Hud ayat 6:

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ 

Artinya: “Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauhulmahfuz)."

Kedua, rezeki yang diberikan dan disebabkan karena kita bekerja atau berusaha. Hal ini disebutkan dalam Surat An-Najm ayat 39:

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ 

Artinya: “bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,”

Ketiga, rezeki yang dianugerahkan Allah kepada kita karena kita bersyukur. Hal ini disebutkan dalam Surat Ibrahim ayat 7:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ 

Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”

Keempat, rezeki yang kita dapat dari arah yang tidak terduga-duga. Hal ini disebutkan dalam Surat At-Thalaq ayat 2-3:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا 

Artinya: “Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu."

Kelima, rezeki yang dianugerahkan Allah kepada kita karena kita memohon ampun kepada-Nya. Hal ini disebutkan dalam Surat Nuh ayat 10-11:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ 

Artinya: “Lalu, aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu,”

Keenam, rezeki yang didapat dari pernikahan. Hal ini disebutkan dalam Surat An-Nur ayat 32:

وَاَنْكِحُوا الْاَيَامٰى مِنْكُمْ وَالصّٰلِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَاِمَاۤىِٕكُمْۗ اِنْ يَّكُوْنُوْا فُقَرَاۤءَ يُغْنِهِمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ 

Artinya: “Nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu, baik laki-laki maupun perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Ketujuh, rezeki yang didapat dari anak-anak kita. Rezeki ini disebutkan dalam Surat Al-Isra ayat 31:

وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ اِمْلَاقٍۗ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَاِيَّاكُمْۗ اِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْـًٔا كَبِيْرًا 

Artinya: “Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan (juga) kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka itu adalah suatu dosa yang besar.”

Kedelapan, rezeki yang kita dapatkan karena bersedekah. Sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 261:

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ 

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.”

Saudara-saudariku rahimakumullah,
Firman-firman Allah tentang jenis, cara, atau jalan rezeki yang diberikan Allah swt ini sudah seharusnya menambah keimanan kita kepada-Nya dan meningkatkan sikap tawakal kita dalam kehidupan. Jangan sampai kita terobsesi dengan bekerja tanpa kenal waktu sehingga melupakan tugas utama kita di dunia ini yakni beribadah kepada-Nya. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ 

Artinya: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Dalam bekerja, kita juga harus tanamkan niat sebagai bentuk ibadah kepada Allah untuk memenuhi kebutuhan hidup sebagai bekal beribadah kepada-Nya. Jika hal ini bisa kita tanamkan dalam diri kita, maka Insyaallah, Allah akan terus mengalirkan rezeki yang maksimal dari sisi kuantitas dan kualitas. Kita harus tetap bekerja untuk kehidupan dunia, namun kita juga harus menyadari bahwa kehidupan ini akan berakhir dan kita akan kembali kepada-Nya. Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Umar, rasulullah bersabda:

اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَداً وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَداً

Artinya, “Bekerjalah untuk duniamu seolah akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah engkau akan mati esok hari.”

Saudara-saudariku rahimakumullah,
Semoga kita senantiasa menjadi hamba-hamba yang terus mengalir rezekinya dan mendapatkan keberkahan dan ridho Allah swt dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Aamiin.
Baca juga :




Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *