Pendahuluan: Kitab Nasa’ih ad-Diniyyah dan Esensi Kebaikan Umat
Dalam lembaran-lembaran kitab Nasa’ih ad-Diniyyah wal Washaya al-Imaniyah yang ditulis oleh Quthbil Irsyad Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, tersimpan mutiara-mutiara hikmah yang tidak pernah usang oleh waktu. Salah satu bab krusial yang diangkat dalam pertemuan majelis mulia ini adalah bagaimana Islam memandang kehormatan dan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan. Ketika kita mengkaji untaian nasihat dari Habib Abdullah Al-Haddad, kita diajak untuk kembali pada akar sunah baginda Nabi Muhammad SAW yang menempatkan akhlak sebagai fondasi tertinggi dalam kehidupan bermasyarakat.
Manusia yang baik bukanlah mereka yang hanya saleh secara ritual di dalam mihrab-mihrab masjid, melainkan mereka yang mampu memancarkan kebaikan tersebut kepada lingkungan terdekatnya, khususnya keluarga. Fondasi kebaikan sebuah peradaban dimulai dari bagaimana entitas terkecil dalam masyarakat, yaitu hubungan suami-istri dan interaksi antargenerasi, dibangun di atas rasa saling menghormati dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Makna Hadis "Lelaki Terbaik adalah yang Terbaik pada Wanitanya"
Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang sangat populer menegaskan, “Khiyarukum khiyarukum li nisa’ihim.” Laki-laki yang paling baik di antara kalian adalah laki-laki yang paling bisa berbuat baik, bersikap lembut, dan memuliakan kaum perempuannya baik itu istri, ibu, anak perempuan, maupun saudara perempuannya. Mengapa indikator kebaikan seorang pria diukur dari bagaimana dia memperlakukan wanita? Jawabannya terletak pada sifat dasar manusia yang cenderung memperlihatkan karakter aslinya di dalam rumah. Di luar rumah, seseorang bisa saja memakai topeng keramahan, kemuliaan, dan wibawa demi reputasi sosial. Namun, di dalam rumah, ketika topeng itu lepas, sifat asli ego, kesabaran, dan ketulusannya akan diuji.
Memuliakan wanita bukan berarti tunduk pada segala keinginan yang menjauhkan dari syariat, melainkan membimbing mereka dengan penuh kasih sayang, memberikan hak-hak mereka dengan sempurna, dan menjaga perasaan mereka dari luka. Laki-laki yang sejati dalam pandangan Islam adalah mereka yang menjadi pelindung (qawwam), yang tangannya tidak pernah ringan untuk memukul, dan lisannya tidak pernah mudah untuk mencaci. Ketika seorang pria mampu menghadirkan kedamaian bagi wanita di dalam rumahnya, maka dia telah meletakkan batu pertama bagi tegaknya masyarakat yang diridai Allah SWT.
Fenomena Tabarruj dan Ancaman Budaya Jahiliah Modern
Sebaliknya, jika kaum laki-laki dituntut untuk memuliakan wanita, maka kaum perempuan juga diberikan kewajiban yang sangat mulia oleh Allah SWT, yaitu menghargai dan menjaga kehormatan dirinya sendiri. Di era globalisasi saat ini, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh kaum wanita Muslimah adalah tarikan budaya luar yang mengaburkan batasan antara kecantikan yang terhormat dan eksploitasi visual. Banyak wanita yang tanpa sadar terjebak dalam fenomena yang disebut oleh Al-Qur'an sebagai Tabarruj.
Secara bahasa dan syariat, tabarruj berarti tindakan seorang wanita yang memamerkan perhiasan, keindahan tubuh, atau dandanan secara berlebihan di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya. Allah SWT secara tegas melarang hal ini dalam Al-Qur'an surah Al-Ahzab ayat 33:
"Dan janganlah kamu berdandan dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu."
Melalui ayat ini, Allah mengingatkan kita bahwa tren memamerkan kecantikan secara berlebihan, berpakaian tetapi telanjang, dan berdandan secara over make-up demi mendapatkan pujian pandangan mata asing bukanlah sebuah kemajuan, melainkan kemunduran peradaban menuju zaman jahiliah kuno. Jiwa jahiliah itu mengukur nilai seorang wanita hanya dari penampilan fisik dan sejauh mana dia bisa dinikmati oleh pandangan mata publik. Ketika seorang wanita Muslimah terjebak dalam arus ini, dia sedang menurunkan derajat kemuliaan yang telah diangkat setinggi-tingginya oleh Islam.
Sayyidatuna Fatimatuz Zahra: Parameter Wanita Surga
Sebagai benteng dari gempuran zaman, Islam tidak membiarkan kaum wanita berjalan tanpa arah. Allah dan Rasul-Nya telah memberikan sebaik-baiknya contoh dan panutan (uswah), dan pemuka dari seluruh wanita surga tidak lain adalah putri tercinta baginda Rasulullah SAW, Sayyidatuna Fatimatuz Zahra radhiallahu 'anha. Beliau adalah potret nyata dari keindahan yang terjaga, kecerdasan yang terhormat, dan kesucian jiwa.
Dalam berbagai lembaran sirah dan sejarah kehidupan Ahlul Bait, digambarkan betapa Sayyidatuna Fatimah memiliki prinsip hidup yang sangat agung. Salah satu perkataan beliau yang paling masyhur ketika ditanya tentang apa yang terbaik bagi seorang wanita, beliau menjawab: "An la taraha rajulan wala yaraha rajulun." Arti terdalam dari ungkapan ini adalah, hal terbaik bagi kesucian hati seorang wanita adalah ketika dia tidak memandang laki-laki asing dengan pandangan yang tidak terjaga, dan paras cantiknya pun tidak menjadi konsumsi pandangan mata laki-laki asing.
Siti Fatimah adalah seorang wanita yang sangat cantik, yang memiliki kemiripan paling dekat dengan Rasulullah SAW baik dari cara berjalan maupun bertutur kata. Namun, kecantikan itu tidak pernah beliau obral. Beliau menyembunyikannya di balik tabir rasa malu dan ketakwaan. Beliau memahami bahwa kecantikan fisik adalah amanah yang sangat berharga yang hanya berhak dipersembahkan untuk orang yang telah dihalalkan oleh Allah SWT. Beliau tidak mencari validasi dari pandangan manusia, melainkan mencari rida dari Allah yang Maha Mengetahui.
Pesan untuk Banat Nurul Musthofa: Menjaga Martabat di Ruang Publik
Melihat realita hari ini, di mana dunia digital dan media sosial seolah memaksa semua orang untuk tampil dan memamerkan segala hal, pesan dari Sayyidatuna Fatimatuz Zahra ini menjadi sangat relevan dan mendesak. Khusus kepada para jemaah wanita, wabil khusus Banat (putri-putri) Majlis Nurul Musthofa, ada sebuah tanggung jawab moral yang besar yang dipikul di pundak kalian. Menjadi bagian dari majelis selawat berarti berkomitmen untuk mendekatkan diri kepada Rasulullah SAW dan keluarganya, termasuk Siti Fatimah.
Oleh karena itu, sangat tidak selaras jika seorang wanita hadir di majelis selawat, namun penampilannya di ruang publik atau media sosial justru mencerminkan budaya jahiliah modern. Menyembunyikan kecantikan bukan berarti seorang wanita tidak boleh bersih, rapi, atau anggun. Islam mencintai keindahan dan kebersihan. Namun, yang dilarang adalah keindahan yang sengaja didesain untuk menarik perhatian, menggoda syahwat, dan memicu fitnah hati bagi orang yang melihatnya.
Tirulah rasa malu Siti Fatimah. Rasa malu bukanlah sebuah kelemahan atau kepolosan yang tertinggal zaman, melainkan mahkota tertinggi bagi seorang wanita Muslimah. Ketika seorang wanita memiliki rasa malu, dia tidak akan sudi menjadikan dirinya sebagai objek tontonan murah. Dia akan menjaga cara berpakaiannya, cara bicaranya, dan cara berinteraksinya di dunia nyata maupun di media sosial.
Kesimpulan dan Doa Keberkahan
Keberkahan sebuah majelis taklim seperti Nurul Musthofa bin Ja'far ini diukur dari sejauh mana ilmu yang disampaikan mampu mengubah karakter dan gaya hidup jemaahnya. Kita berharap dan berdoa, melalui perantara cinta kita kepada Rasulullah SAW dan Ahlul Bait, Allah SWT menganugerahkan kepada kaum wanita kita, istri-istri kita, anak-anak perempuan kita, kekuatan hati untuk meneladani Sayyidatuna Fatimatuz Zahra.
Semoga Allah menjaga mereka dari fitnah akhir zaman, menjauhkan mereka dari sifat tabarruj, dan menghiasi jiwa mereka dengan rasa malu yang menyelamatkan. Semoga dari rahim-rahim wanita yang salehah dan terjaga ini, akan lahir generasi-generasi penerus dakwah yang tangguh, yang mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segala-galanya. Amin ya Rabbal 'Alamin.
