Pendahuluan: Masjid dan Majelis sebagai Taman Surga di Bumi
Setiap kali kaki kita melangkah memasuki rumah Allah, ada sebuah kesadaran spiritual yang mendalam yang harus hadir di dalam jiwa kita. Malam ini, Allah SWT telah menganugerahkan dua kemuliaan besar sekaligus bagi kita yang hadir di tempat ini. Kemuliaan pertama adalah status kita yang dipilih menjadi tamu-tamu khusus-Nya (dhuyufullah) di dalam masjid. Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bersabda: “Ahabbul biladi ilallah masajiduha.” Tempat yang paling dicintai oleh Allah di atas muka bumi ini adalah masjid-masjidnya. Maka, berada di dalam masjid berarti berada di bawah naungan cinta dan rahmat-Nya yang langsung mengalir.
Kemuliaan kedua adalah posisi kita yang tengah duduk bersimpuh di dalam salah satu taman di antara taman-taman surga (raudhah min riyadhal jannah), yaitu majelis zikir dan majelis selawat Nurul Musthofa. Di tempat inilah malaikat-malaikat Allah mengepakkan sayap-sayap mereka, menaungi orang-orang yang duduk mengingat Allah, dan memohonkan ampunan bagi setiap jiwa yang hadir. Kita semua masuk ke tempat ini membawa beban dosa dan kesalahan, namun dengan janji Allah melalui lisan Rasul-Nya, kita berharap keluar dari ruangan ini dalam keadaan bersih, diampuni segala dosa, dan disegarkan kembali keimanan kita.
Sayyidatina Khadijah al-Kubra: Pengorbanan Totalitas demi Dakwah
Untuk memahami bagaimana Islam membentuk karakter manusia yang agung, kita harus membuka kembali lembaran sejarah dan memandang sosok-sosok luar biasa yang berdiri tegak di samping Rasulullah SAW pada masa-masa awal dakwah. Sosok pertama yang tidak boleh luput dari ingatan kita adalah Sayyidatina Khadijah al-Kubra radhiallahu 'anha. Beliau bukan sekadar seorang istri, melainkan pilar utama penopang dakwah Islam di masa-masa tersulit.
Sebelum menikah dengan Nabi Muhammad SAW, Sayyidatina Khadijah adalah seorang bangsawan dan saudagar wanita terkaya di kota Makkah. Kekayaannya begitu melimpah, hingga dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa seperempat kekayaan perdagangan kota Makkah adalah milik Khadijah. Namun, apa yang terjadi ketika beliau dinikahi oleh Nabi Muhammad SAW? Beliau melihat bahwa pria yang menjadi suaminya bukanlah pemburu harta duniawi, melainkan seorang utusan Allah yang memikul beban risalah yang amat berat.
Dengan ketulusan iman yang tiada banding, Sayyidatina Khadijah menyerahkan seluruh hidup, jiwa, dan hartanya demi perjuangan suaminya. Ketika kaum kafir Quraisy memboikot umat Islam di Syi'ib Ali, di mana umat Islam kelaparan hingga harus memakan dedaunan, Sayyidatina Khadijah berada di garda terdepan mendampingi Rasulullah. Seluruh kekayaannya habis tak tersisa demi memberi makan umat Islam yang terasing.
Di akhir hayatnya, digambarkan betapa mengharukannya kondisi fisik wanita suci ini. Beliau jatuh sakit parah akibat penderitaan selama masa pemboikotan. Ketika Rasulullah SAW pulang dari berdakwah dengan tubuh lelah dan penuh tekanan, Sayyidatina Khadijah yang sedang terbaring di atas kasur dengan tubuh yang panas tinggi, mendengar langkah kaki kekasihnya. Meskipun tubuhnya sangat lemah dan ajalnya sudah mendekat, rasa hormat dan cintanya yang mendalam kepada kedudukan suaminya sebagai Rasulullah membuat beliau memaksa dirinya untuk bangun.
Putri beliau, Sayyidatina Fatimah, melihat hal itu dan berkata dengan penuh rasa iba, "Wahai ibuku, engkau sedang sakit parah, cukuplah engkau tetap berbaring di kasur, biarkan Rasulullah yang datang menghampirimu." Namun, apa jawaban Khadijah? Dengan sisa-sisa tenaganya beliau berkata, "Tidak, wahai putriku. Aku ingin menghormati suamiku, Rasulullah SAW. Aku ingin menyambutnya berdiri seperti biasanya."
Inilah standar tertinggi dari sebuah pengabdian dan kesetiaan seorang istri kepada suaminya. Beliau tidak pernah mengeluh kehilangan hartanya, tidak pernah menyesal hidup menderita bersama Nabi. Pengorbanan totalitas inilah yang membuat Allah SWT mengirimkan salam khusus untuk Khadijah melalui malaikat Jibril, dan menjanjikannya sebuah istana di surga yang terbuat dari mutiara, di mana tidak ada kegaduhan dan keletihan di dalamnya.
Sayyidatina Aisyah radhiallahu 'anha: Kemuliaan Menjaga Iffah hingga Liang Lahad
Sosok kedua yang menjadi cermin kesucian bagi kaum wanita adalah Umul Mukminin Sayyidatina Aisyah radhiallahu 'anha. Beliau adalah wanita yang cerdas, yang darinya mengalir ribuan hadis nabi yang menjadi hukum fikih bagi umat Islam hingga hari ini. Namun, selain kecerdasannya, satu hal yang sangat luar biasa dari Sayyidatina Aisyah adalah bagaimana beliau menjaga iffah (kesucian diri) dan rasa malunya.
Ketika Rasulullah SAW wafat, beliau dimakamkan di dalam kamar Sayyidatina Aisyah, tempat di mana beliau mengembuskan napas terakhirnya di pangkuan istri tercintanya. Kamar itu menjadi tempat peristirahatan suci Nabi. Beberapa tahun kemudian, ayahanda Sayyidatina Aisyah, yaitu Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq radhiallahu 'anhu, wafat dan dimakamkan tepat di samping Rasulullah SAW di dalam kamar yang sama. Selama bertahun-tahun, Sayyidatina Aisyah tinggal di kamar tersebut dan merawat makam suami dan ayahnya dengan wajar. Beliau sering melepas pakaian luarnya atau beristirahat dengan santai di dalam kamar itu, karena beliau tahu bahwa yang terbaring di sana adalah suaminya dan ayahnya sendiri keduanya adalah mahramnya.
Namun, sejarah mencatat momen yang luar biasa ketika Sayyidina Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu berada dalam keadaan sakaratul maut setelah ditikam saat mengimami salat subuh. Dalam kondisi tubuh penuh luka dan ajal yang sudah di depan mata, Umar bin Khattab mengutus putranya, Abdullah bin Umar, untuk menemui Sayyidatina Aisyah. Umar berpesan, "Pergilah kepada Aisyah, katakan padanya bahwa Umar bukan datang sebagai Amirul Mukminin, tapi sebagai Umar manusia biasa. Mintalah izin kepadanya, apakah aku diperbolehkan untuk dikuburkan di samping kedua sahabatku, Rasulullah dan Abu Bakar, di dalam kamarnya?"
Mendengar permintaan itu, Sayyidatina Aisyah menangis. Sebenarnya, beliau memiliki keinginan yang sangat besar bahwa jika kelak beliau wafat, beliau ingin dikuburkan di samping suami dan ayahnya sendiri di rumahnya sendiri. Itu adalah hak beliau. Namun, karena kemuliaan hatinya dan rasa hormatnya kepada Sayyidina Umar, beliau berkata, "Hari ini aku mendahulukan Umar di atas keinginanku sendiri. Aku izinkan dia dimakamkan di sini."
Perhatikan apa yang terjadi setelah Sayyidina Umar bin Khattab dimakamkan di dalam kamar tersebut. Sayyidatina Aisyah menceritakan bahwa sejak hari di mana Umar dikuburkan di samping suami dan ayahnya, beliau tidak pernah lagi memasuki kamar tersebut tanpa mengenakan hijab yang rapat dan pakaian yang menutup seluruh tubuhnya. Beliau berkata, "Aku merasa malu kepada Umar yang berada di dalam kubur itu, karena dia bukan mahramku."
Subhanallah! Pandanglah kedalaman rasa malu ini. Sayyidina Umar sudah wafat, sudah berada di dalam tanah, ditimbun oleh bumi, dan tidak bisa melihat apa-apa lagi di alam dunia. Namun, rasa malu Sayyidatina Aisyah begitu menembus batas alam fisik. Beliau menolak untuk memperlihatkan dirinya tanpa hijab di dekat kuburan seorang laki-laki yang bukan mahramnya. Jika istri Nabi memiliki rasa malu setinggi ini kepada orang yang sudah meninggal, bagaimana dengan kondisi sebagian wanita di zaman kita sekarang, yang dengan ringannya memperlihatkan aurat dan lekuk tubuhnya di hadapan jutaan mata laki-laki hidup yang bukan mahramnya melalui layar kaca dan media sosial? Ini adalah tamparan keras sekaligus cermin besar bagi keimanan kita.
Sayyidatuna Fatimah dan Kekhawatiran di Hari Kiamat
Tidak kalah mengagumkan adalah kisah Sayyidatuna Fatimatuz Zahra radhiallahu 'anha. Suatu hari, Rasulullah SAW sedang menceritakan tentang dahsyatnya keadaan hari kiamat dan peristiwa di Padang Mahsyar. Nabi menggambarkan bahwa pada hari itu, matahari didekatkan, setiap manusia berada dalam ketakutan yang luar biasa, dan mereka dikumpulkan dalam keadaan 'uratan (telanjang bulat) tanpa sehelai benang pun, persis seperti saat mereka dilahirkan dari rahim ibunya.
Mendengar penjelasan ayahnya, apa yang pertama kali terlintas di dalam pikiran Sayyidatuna Fatimah? Beliau tidak menanyakan tentang emas, tidak menanyakan tentang keselamatan istananya, melainkan menangis terisak-isak karena rasa takut yang mendalam. Beliau bertanya dengan suara bergetar, "Wahai ayahku, wahai Rasulullah. Di hari Mahsyar nanti ketika semua manusia dikumpulkan dalam keadaan telanjang, lalu bagaimana dengan kondisi tubuhku? Apakah lekuk tubuhku akan dilihat oleh mata laki-laki yang bukan mahramku?"
Rasa takut terbesar Siti Fatimah di hari kiamat, di tengah huru-hara yang bisa menghancurkan gunung, adalah ketakutan jika auratnya terlihat oleh orang lain. Beliau begitu menjaga kesucian dirinya. Melihat kesucian hati putrinya, Rasulullah SAW tersenyum bangga dan menenangkan hatinya. Nabi bersabda, "Wahai putriku, tenanglah. Allah SWT telah memberikan keistimewaan khusus untukmu. Nanti di hari kiamat, ketika engkau akan melewati jembatan Shirath bersamaku, malaikat Allah akan berseru dengan suara yang menggelegar ke seluruh penjuru Mahsyar: 'Wahai sekalian manusia! Tundukkan pandangan mata kalian, dan pejamkan mata kalian semua, karena Fatimah binti Rasulullah SAW akan lewat!'"
Begitulah Allah memuliakan wanita yang menjaga kehormatan dirinya di dunia. Pandangan seluruh manusia di Padang Mahsyar dipaksa untuk menunduk demi menghormati kesucian jalannya Siti Fatimah. Bahkan, sebelum wafatnya, Siti Fatimah memanggil suaminya, Imam Ali bin Abi Thalib, dan memberikan wasiat yang sangat unik: "Wahai suamiku Ali, jika aku wafat nanti, aku minta tolong buatkan keranda yang tertutup rapat, dan makamkan tubuhku di tengah malam yang gelap gulita secara sembunyi-sembunyi."
Mengapa beliau meminta dimakamkan di malam hari? Karena beliau tidak ingin ketika jenazahnya digotong ke kuburan di siang hari, bentuk dan lekuk tubuhnya di atas keranda kain kafan membekas dan terlihat oleh mata laki-laki yang mengantarkannya. Sampai mati pun, Siti Fatimah menolak tubuhnya menjadi objek pandangan laki-laki lain.
Kesimpulan dan Harapan bagi Umat Akhir Zaman
Kisah-kisah nyata dari Sayyidatina Khadijah, Sayyidatina Aisyah, dan Sayyidatuna Fatimah bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan standar baku bagi setiap wanita Muslimah yang mengaku mencintai Nabi Muhammad SAW. Keindahan sejati seorang wanita bukan terletak pada seberapa banyak mata yang memandangnya dengan syahwat, melainkan seberapa aman dirinya dari pandangan-pandangan yang tidak diridai Allah.
Di tengah gempuran zaman yang berusaha menelanjangi martabat wanita atas nama kebebasan dan tren, jemaah Majelis Nurul Musthofa harus tampil berbeda. Kita berdoa semoga Allah SWT mengaruniakan tetesan rasa malu Siti Fatimah ke dalam hati para wanita Muslimah kita saat ini. Semoga mereka mampu menjaga auratnya, menjaga kehormatannya, dan menjadikan istri serta putri Nabi sebagai satu-satunya idola dalam hidup mereka, sehingga kelak di akhirat mereka dapat berkumpul bersama di bawah panji suci Rasulullah SAW. Amin ya Rabbal 'Alamin.
