Pendahuluan: Pentingnya Menghidupkan Warisan Ilmu Para Ulama
Alhamdulillah, di malam yang penuh dengan pancaran cahaya rahmat ini, Allah SWT kembali mempertemukan kita dalam suasana yang penuh kehangatan iman. Kita duduk bersanding, bertatap muka (muwajahah) dengan para alim ulama dan para habaib. Menghadiri majelis taklim seperti ini bukan sekadar rutinitas mengisi waktu luang di malam minggu, melainkan sebuah kebutuhan rohani yang sangat mendesak. Melalui lisan para ulama, kita dialiri warisan yang paling berharga di atas muka bumi ini, yaitu warisan ilmu dari baginda Nabi Muhammad SAW.
Kita semua yang hidup di zaman sekarang patut bersyukur. Kita tidak perlu bersusah payah mencari ke mana arah kebenaran, karena jembatan ilmu itu sudah disediakan oleh para guru kita. Tugas kita sekarang tinggal satu: datang, duduk, dengarkan dengan khusyuk, pahami, lalu yang paling penting adalah mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah; dia hanya menjadi hiasan di kepala namun tidak memberikan manfaat bagi keselamatan jiwa di akhirat.
Menolak Sikap Apatis: "Paham Apa Kagak?"
Setiap kali nasihat agama disampaikan dari atas mimbar, ada sebuah pertanyaan mendasar yang harus kita lemparkan ke dalam lubuk hati kita masing-masing: Apakah kita benar-benar paham dengan apa yang disampaikan, atau ilmu itu hanya masuk melalui telinga kanan dan keluar melalui telinga kiri? Seringkali kita melihat fenomena di majelis-majelis taklim, jemaah duduk berjam-jam, berselawat dengan suara lantang, namun begitu keluar dari pintu gerbang majelis, perilaku dan tutur katanya kembali seperti semula sebelum dia mengaji.
Kita harus jujur pada diri kita sendiri. Khususnya untuk kaum jemaah wanita yang hadir malam ini, juga para pemuda: Paham apa kagak dengan apa yang sudah disampaikan oleh para habaib tadi? Memahami ilmu berarti ada perubahan paradigma dalam berpikir dan bertindak. Jika tadi kita sudah mendengar bagaimana sucinya kehidupan Sayyidatuna Fatimatuz Zahra dan betapa ketatnya para istri Nabi menjaga kehormatan mereka, maka pemahaman itu harus langsung diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata. Pulang dari majelis ini, cara berpakaian harus diperbaiki, cara bergaul harus dibatasi, dan penggunaan media sosial harus dibersihkan dari hal-hal yang mengundang dosa. Jangan sampai kita menjadi jemaah yang bebal, yang mengangguk-angguk saat mendengar ceramah, namun begitu di luar, mata dan hati kita kembali tunduk pada dikte hawa nafsu.
Kupas Tuntas Hadis: "Jika Tidak Malu, Perbuatlah Sesukamu"
Salah satu pondasi utama akhlak Islam yang sedang terkikis habis di zaman ini adalah sifat malu (al-haya’). Rasulullah SAW dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari memberikan sebuah peringatan yang sangat keras sekaligus bernada ancaman bagi umatnya:
Jika kamu sudah tidak memiliki rasa malu lagi, maka perbuatlah apa saja yang kamu kehendaki."
Hadis ini sekilas terdengar seperti memberikan kebebasan, namun para ulama menjelaskan bahwa kalimat ini adalah bentuk sindiran dan ancaman yang sangat tajam (tahdid). Artinya, jika benteng rasa malu di dalam diri seorang manusia sudah runtuh, maka tidak ada lagi pembatas antara dirinya dan binatang. Dia akan melakukan apa saja demi memuaskan syahwatnya tanpa peduli apakah hal itu melanggar hukum Allah, merusak kehormatan orang lain, atau menjatuhkan harga diri pribadinya.
Rasa malu adalah rem otomatis yang dipasang Allah di dalam jiwa manusia. Malu kepada Allah ketika akan berbuat maksiat di kesunyian; malu kepada malaikat yang mencatat setiap amal; dan malu kepada sesama manusia jika memperlihatkan perilaku yang rendahan. Di akhir zaman ini, kita melihat runtuhnya tembok rasa malu secara masal. Orang-orang dengan bangganya memamerkan aibnya di depan kamera, menceritakan maksiatnya dengan tertawa, dan memperlihatkan auratnya demi mengejar likes, views, dan materi duniawi yang remeh. Ketika rasa malu sudah hilang dari wajah-wajah manusia, maka turunlah murka Allah dalam bentuk hilangnya ketenangan hidup dan maraknya berbagai kerusakan sosial.
Kritik Sosial: Realitas Pakaian dan Perilaku Jemaah Modern
Kita harus berani melihat cermin realitas sosial hari ini dengan jujur, bahkan di dalam lingkungan majelis taklim sekalipun. Setan tidak pernah kehabisan cara untuk merusak manusia. Jika setan gagal menghalangi seseorang untuk datang ke majelis ilmu, maka setan akan merusak niat dan adab orang tersebut saat berada di dalam majelis.
Coba perhatikan fenomena di media sosial atau bahkan di sekitar kita. Ada sebagian wanita yang datang ke tempat-tempat mulia, namun pakaian yang mereka kenakan sangat jauh dari standar syariat yang diajarkan oleh Siti Fatimah. Mereka berpakaian, tetapi pakaiannya begitu ketat memperlihatkan lekuk tubuh, atau dandanannya begitu mencolok hingga menjadi pusat perhatian laki-laki asing. Ada istilah sindiran, "Pakaian umur 7 tahun tapi dipaksakan dipakai oleh anak umur 15 tahun." Akibatnya, segala yang seharusnya tersembunyi menjadi menonjol dan memicu fitnah syahwat.
Bukan hanya wanita, kaum laki-laki pun tidak luput dari kritik. Banyak pemuda zaman sekarang yang dandanannya sangat rapi dan wangi ketika hendak nongkrong atau bertemu teman-temannya. Namun, begitu masuk waktu salat wajib, bajunya ala kadarnya, bahkan kadang bolong atau kotor. Cara mereka menghadap Allah sangat meremehkan, padahal ketika menghadap makhluk atau urusan duniawi, mereka tampil maksimal.
Kita juga melihat anak-anak muda yang menghabiskan malamnya di pinggir-pinggir jalan, nongkrong hingga larut malam tanpa arah yang jelas. Perempuan dan laki-laki bercampur baur, merokok bersama tanpa ada rasa canggung atau malu lagi. Budaya luar seperti tren pop asing diadopsi mentah-mentah tanpa filter iman. Ini adalah potret nyata dari hilangnya rasa malu yang diperingatkan oleh Nabi Muhammad SAW. Jika hidup kita tidak diatur oleh aturan agama dan hanya mengikuti tren zaman yang rusak, maka kita tidak ada bedanya dengan gelandangan spiritual yang tersesat di tengah jalan.
Majelis Nurul Musthofa sebagai Oasis dan Alternatif Positif
Di tengah pekatnya arus fitnah akhir zaman inilah, Majelis Nurul Musthofa hadir sebagai oasis di tengah padang pasir. Majelis ini didirikan oleh para guru kita, mulai dari Al-Marhum Al-Habib Hasan bin Ja'far Assegaf, Habib Musthofa, hingga kini dibimbing oleh Habib Abdullah dan kita semua, bukan untuk tujuan duniawi. Majelis ini didirikan sebagai jembatan keselamatan, sebagai alternatif positif bagi anak-anak muda agar mereka tidak tersesat di jalanan.
Daripada malam minggu kalian dihabiskan untuk nongkrong di tempat-tempat balapan liar, tawuran, atau kafe-kafe yang penuh dengan kemaksiatan mata dan telinga, bukankah beribu-ribu kali lebih mulia jika kalian duduk di sini? Di sini, lisan kita dipaksa untuk membaca selawat, telinga kita diisi dengan kalam Allah dan Rasul-Nya, dan hati kita ditenangkan dengan tabuhan hadrah yang melantunkan pujian kepada Nabi.
Duduk di majelis ini, meskipun mungkin kadang kaki kita terasa pegal, pantat terasa gatal, atau konsentrasi kita sesekali terganggu, ketahuilah bahwa kalian sedang berada di tempat yang aman. Setiap detik yang kalian habiskan di ruangan ini dihitung sebagai pahala iktikaf dan thalabul ilmi. Malaikat-malaikat Allah membentangkan sayapnya di atas kepala kalian. Pulang dari majelis ini, meskipun mungkin kalian masih memiliki tumpukan utang atau masalah hidup di rumah, hati kalian akan merasakan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan uang di diskotik atau kafe manapun. Karena ketenangan adalah hadiah langsung dari Allah untuk jiwa-jiwa yang mendekat kepada kekasih-Nya, Nabi Muhammad SAW.
Kesimpulan dan Penutup
Dunia ini adalah tempat persinggahan yang sangat singkat dan menipu. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa dunia ini terlaknat beserta segala isinya, kecuali orang-orang yang berzikir kepada Allah, para orang alim yang mengajarkan kebaikan, dan para pencari ilmu yang tulus. Hawa nafsu dan keindahan dunia akan hancur dan sirna, namun kalimat Lailaheillallah Muhammadur Rasulullah yang tertanam di dalam dada kita akan menjadi penyelamat abadi di alam barzakh hingga hari kiamat.
Mari kita jaga kebersamaan kita di majelis ini dengan istikamah. Jadikan setiap nasihat dari para ulama sebagai pedoman hidup. Pulang dari sini, buang semua perilaku buruk di jalanan, perbaiki salat kita, jaga lisan kita dari mencaci, dan penuhi hati kita dengan cinta kepada Rasulullah SAW. Semoga Allah SWT menetapkan iman dan takwa di dalam dada kita hingga akhir hayat kita. Amin ya Rabbal 'Alamin.
