Pendahuluan: Hakikat Iman yang Bersifat Fluktuatif (Yazid wa Yanqush)
Salah satu realitas spiritual yang paling mendasar dan harus dipahami oleh setiap Muslim adalah bahwa keimanan di dalam dada kita tidak pernah berada dalam kondisi yang statis. Para ulama akidah Ahlussunnah wal Jama'ah telah merumuskan sebuah kaidah penting mengenai sifat iman: “Al-Imanu yazidu wa yanqushu.” Iman itu bisa bertambah, meninggi, dan menguat; namun di sisi lain, iman juga bisa berkurang, merosot, dan melemah.
Iman bertambah dengan apa? Yazidu bi tha’ah iman akan semakin tebal dan kuat setiap kali kita melakukan ketaatan kepada Allah SWT, seperti salat khusyuk, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan menghadiri majelis taklim. Sebaliknya, iman berkurang dengan apa? Yanqushu bil ma’siyah iman akan terkikis habis, meredup, dan melemah setiap kali panca indra kita digunakan untuk melakukan kemaksiatan dan melanggar larangan-larangan Allah SWT. Memahami hukum fluktuasi iman ini sangat penting agar kita tidak pernah merasa aman dengan kondisi spiritual kita hari ini, dan selalu waspada terhadap potensi penurunan kualitas iman di dalam dada.
Analogi Gadget: Ketika Baterai Iman Mengalami Low-Bat
Untuk memudahkan kita memahami dinamika naik-turunnya iman di era modern ini, mari kita gunakan sebuah analogi yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Saya yakin, seluruh jemaah yang hadir di majelis mulia malam ini baik yang tua maupun yang muda, yang duduk di depan maupun di belakang pasti memiliki dan memegang yang namanya smartphone atau HP. Punya HP semua, kan? Tentu punya.
Sekarang, mari kita perhatikan bagaimana perilaku kita terhadap HP tersebut. Ketika kita bangun di pagi hari, setelah HP itu dicas semalaman, indikator baterainya menunjukkan angka 100%. Baterainya penuh, layarnya cerah, perilakunya cepat, dan siap digunakan untuk berbagai aktivitas. Namun, apa yang terjadi seiring berjalannya waktu dari pagi menuju siang, sore, dan malam? Kita mulai membuka aplikasi Facebook, berselancar di Instagram, menonton video di TikTok, atau bahkan menggunakannya untuk live streaming dan membuat konten.
Perlahan tapi pasti, energi di dalam baterai HP tersebut akan terkikis. Angka 100% itu akan turun menjadi 80%, merosot lagi ke 50%, hingga akhirnya menyentuh angka kritis 15% atau 10%. Ketika baterai sudah berada di posisi low-bat, sistem HP akan memberikan sinyal peringatan: suara alarm berbunyi (clung, clung, clung), layar mulai meredup, dan kinerja HP menjadi lambat atau patah-patah.
Pertanyaannya: Apa yang pertama kali terlintas di dalam pikiran kita ketika melihat HP kita sudah low-bat? Apakah kita akan membiarkannya mati total? Tentu tidak. Hal pertama yang akan kita lakukan dengan panik adalah mencari kabel casan (charger) dan colokan listrik. Di manapun kita sedang nongkrong baik di warung kopi pinggir jalan maupun di kafe-kafe modern mata kita akan bergerak liar menyisir ruangan hanya untuk mencari satu hal: di mana ada colokan listrik yang terdekat. Kita akan langsung mencolokkan HP kita agar dayanya kembali terisi dan HP bisa berfungsi dengan normal kembali.
Indikasi Penurunan Iman dalam Kehidupan Sehari-hari
Nah, hadirin jemaah sekalian yang dimuliakan oleh Allah, sadar atau tidak, diri kita ini jiwa rohani kita ini memiliki sistem kerja yang sangat mirip dengan HP tersebut. Ketika kita baru saja menyelesaikan ibadah salat, atau baru pulang dari umrah, atau baru saja keluar dari majelis taklim yang besar, "baterai iman" di dalam dada kita sedang berada di posisi 100%. Kita merasa sangat bersemangat untuk beribadah, hati terasa lembut, dan lidah terasa ringan untuk berzikir.
Namun begitu kita keluar ke dunia nyata, melangkah di jalanan, dan berinteraksi dengan lingkungan sosial di akhir zaman ini, baterai iman kita mulai terkikis secara drastis akibat paparan gelombang maksiat. Di jalanan, mata kita melihat pemandangan yang merusak—anak-anak muda bercampur baur, wanita-wanita berpakaian ketat yang memperlihatkan auratnya. Di tempat kerja atau tempat tongkrongan, telinga kita mendengarkan ghibah, fitnah, atau caci maki. Belum lagi gempuran konten-konten negatif yang kita saksikan sendiri melalui layar HP kita. Akibatnya, tanpa kita sadari, baterai iman kita yang tadinya 100% merosot tajam menuju angka 20%, 10%, bahkan hampir mati total.
Jika HP memiliki alarm fisik yang berbunyi saat low-bat, lalu apa indikasi atau tanda-tanda ketika iman di dalam dada kita sedang mengalami drop? Tanda-tandanya sangat jelas dan bisa kita rasakan sendiri:
Malas beribadah: Ketika adzan berkumandang, hati tidak lagi bergetar. Kita menunda-nunda salat dengan alasan "entar dulu, tanggung, masih sibuk".
Berat melakukan kebaikan: Ketika orang tua meminta bantuan, misalnya ibu kita meminta tolong dibelikan martabak atau telur ke warung, wajah kita langsung cemberut dan kita menolaknya dengan seribu alasan.
Respons cepat pada kemaksiatan: Sebaliknya, giliran ada ajakan maksiat misalnya pacar mengirim pesan memberi tahu bahwa rumahnya sedang kosong karena orang tuanya pergi iman yang sedang drop akan membuat kita merespons dengan sangat cepat: "Otw, langsung berangkat!" tanpa peduli keselamatan, bahkan mengendarai motor tanpa helm sekalipun demi mengejar maksiat.
Ini adalah tanda-tanda bahaya bahwa ruhani kita sedang sakit parah dan baterai iman kita sedang berada di titik nadir.
Teori Imam Al-Ghazali tentang Kematian Hati
Pentingnya menjaga asupan makanan bagi iman ini dipertegas oleh Hujjatul Islam Al-Imam Al-Ghazali radhiallahu 'anhu di dalam kitab monumentalnya, Ihya Ulumuddin. Suatu ketika, Imam Al-Ghazali bertanya kepada murid-muridnya: "Bukankah seorang pasien yang sedang sakit, jika kita menahan darinya makanan, menahan darinya minuman, dan tidak memberikan obat kepadanya selama beberapa hari, apakah dia akan mati?" Murid-muridnya menjawab, "Benar, wahai Imam, dia pasti akan mati."
Imam Al-Ghazali kemudian menyambung dengan sebuah kalimat yang sangat menggetarkan jiwa:
"Begitu pula dengan hati manusia. Jika hati itu dihalangi dari mendapatkan hikmah dan ilmu agama selama tiga hari berturut-turut, maka hati tersebut akan mati."
Tiga hari saja kita tidak mendengarkan nasihat agama, tidak duduk di majelis ilmu, dan tidak membaca kalam-kalam ulama, maka sel-sel spiritual di dalam hati kita akan mulai mengalami kematian fungsi. Hati yang mati akan kehilangan sensitivitasnya terhadap dosa. Dia tidak lagi merasa bersalah saat berbuat maksiat, tidak lagi merasa rugi saat meninggalkan pahala, dan tidak lagi memiliki rasa takut kepada ancaman Allah SWT. Jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus tanpa pernah dicas kembali, maka manusia tersebut akan berjalan di atas muka bumi ini sebagai mayat hidup fisiknya bergerak, namun ruhaninya telah mati dan membusuk di hadapan Allah SWT.
Majelis Ulama sebagai Tempat Fast Charging Tercepat
Jika kita sudah menyadari bahwa hati kita sangat rentan mengalami low-bat dan kematian spiritual, maka solusi satu-satunya adalah kita harus sesering mungkin melakukan proses pengisian ulang daya (charging). Di dunia teknologi, kita mengenal adanya fitur fast charging sebuah teknologi pengisian daya super cepat yang bisa mengisi baterai HP dari 0% hingga 100% hanya dalam hitungan menit.
Di dalam alam spiritual Islam, Allah SWT juga menyediakan fasilitas fast charging bagi iman umat Nabi Muhammad SAW. Dan tempat fast charging terbaik, tercepat, dan paling efektif tidak lain adalah Majelis Ilmu dan Majelis Taklim bersama para Alim Ulama.
Mengapa menghadiri langsung majelis ilmu disebut sebagai fast charging? Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang mulia menegaskan: “Jalisul ulama, fa innallaha yuhyil qalbal maita bi nuril hikmah.” Duduklah kalian bersama para ulama, karena sesungguhnya Allah SWT akan menghidupkan kembali hati yang telah mati dengan pancaran cahaya hikmah, sebagaimana Allah menghidupkan bumi yang tandus dengan guyuran air hujan yang lebat.
Ada perbedaan yang sangat besar antara seseorang yang mendengarkan ceramah agama hanya melalui live streaming di media sosial dengan orang yang melangkahkan kakinya secara fisik hadir di majelis taklim. Menonton lewat HP memang mendatangkan barokah dan ilmu, namun proses pengisian dayanya lambat karena banyak distrasi bisa diselingi melihat notifikasi lain atau tergoda membuka aplikasi hiburan.
Namun, ketika antum hadir langsung secara fisik (muwajahah), duduk bersimpuh di lantai masjid, memandang wajah-wajah sejuk para keturunan Nabi (para habaib) dan alim ulama, mendengarkan getaran suara selawat dari ribuan jemaah secara langsung, maka pada detik itulah kabel spiritual antum sedang dicolokkan ke sumber energi rahmat Allah yang maha besar. Energi iman itu akan mengalir deras tanpa sekat, meruntuhkan segala karat dosa di dalam hati, dan seketika menaikkan daya iman antum kembali ke posisi 100%.
Kesimpulan dan Pesan Istiqamah
Kehadiran kita di Majelis Nurul Musthofa ini adalah nikmat besar yang harus kita jaga dengan penuh rasa syukur. Jangan biarkan diri kita melewatkan waktu berminggu-minggu tanpa pernah mengeces iman kita. Mari kita berkomitmen untuk menjaga keistikamahan ini. Pulang dari majelis malam ini, bawa pulang cahaya hikmah ini ke rumah masing-masing.
Jaga pandangan mata kita di jalanan, perbaiki hubungan kita dengan orang tua, dan kurangi intensitas keterikatan kita pada dunia digital yang melalaikan. Jika HP yang mati bisa kita hidupkan kembali dengan casan buatan manusia, maka mari kita hidupkan hati kita yang redup ini dengan casan Ilahi, yaitu selawat dan ilmu di majelis para ulama. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga keistikamahan kita di bawah bendera dakwah Rasulullah SAW hingga kita diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Amin ya Rabbal 'Alamin.
