Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran islam lebih dalam. Membina silahtuhrrahim terhadap semua elemen umat islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rosulullah SAW sebagai hasil dari aktifitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Hati-Hati, Zikirmu Bisa Jadi Sia-Sia! Ini 4 Tingkatan Zikir Menurut Imam Ghazali yang Wajib Kamu Tahu


Pernahkah Anda terbangun di sepertiga malam, atau mungkin terjebak di tengah kemacetan kota besar, lalu tiba-tiba merasakan sebuah kekosongan yang aneh di dalam dada? Secara materi, mungkin hidup kita baik-baik saja. Pekerjaan aman, kebutuhan fisik terpenuhi, dan hiburan digital selalu ada di genggaman tangan. Namun, ada satu bagian di dalam diri kita yang rasanya seperti tanah liat yang kering, retak-retak, dan merindukan tetesan air hujan. Bagian itu adalah ruhani kita. Ketika ruhani dibiarkan kelaparan tanpa asupan spiritual yang tepat, ia akan memancarkan sinyal berupa rasa cemas, hambar, dan gelisah yang tidak tahu dari mana asalnya.

​Dalam gelaran akbar Pancoran Bersholawat yang diselenggarakan oleh Majelis Nurul Mustofa, Ustaz K.H. Muhyiddin hadir membawa sebuah resep spiritual kuno namun sangat kontekstual untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan membaca dan membedah kitab legendaris Nasahih Diniah karya Al Imam Al Quthb Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad, beliau mengajak kita semua untuk melakukan audit terhadap aktivitas ibadah harian kita, khususnya dalam hal mengingat Allah.

​Beliau membuka kajiannya dengan mengutip sebuah gelar yang sangat luar biasa dari tradisi keilmuan Islam, yaitu Hujjatul Islam. Gelar ini disematkan kepada Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. Ustaz Muhyiddin menceritakan sebuah kisah yang sangat menggetarkan hati tentang bagaimana Imam Ghazali diakui keilmuannya, bahkan dalam sebuah dialog spiritual di alam mimpi oleh Nabi Musa Alaihi Salam di hadapan Baginda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Mengapa sosok Imam Ghazali begitu dihormati? Karena beliau bukan hanya seorang raksasa di bidang hukum Islam (syariat), melainkan juga seorang maestro di bidang penataan hati (tasawuf) dan hakikat spiritual.

​Dari masterpiece spiritual Imam Ghazali itulah, Ustaz Muhyiddin mengupas sebuah konsep yang sangat krusial bagi kehidupan modern kita hari ini: 4 Tingkatan Zikir. Di zaman di mana perhatian kita terus-menerus terpecah oleh notifikasi ponsel, target pekerjaan, dan hiruk-pikuk media sosial, materi ini menjadi sebuah tamparan lembut sekaligus petunjuk jalan pulang bagi jiwa-jiwa yang tersesat. Mari kita bedah satu per satu tingkatan tersebut agar kita tahu di mana posisi spiritual kita saat ini.

​1. Zikrul Lisan Faqat (Zikir Lisan Semata)

​Ini adalah tingkatan zikir yang paling mendasar dan paling sering kita lakukan. Pada tahap ini, lidah kita bergerak dengan sangat lancar mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah seperti Lailahaillallah, Subhanallah, atau Alhamdulillah. Namun, kelancaran lisan ini tidak dibarengi dengan kehadiran hati. Saat lisan kita berucap, pikiran kita sedang melanglang buana memikirkan cicilan yang belum lunas, konflik dengan rekan kerja, atau menu makanan apa yang ingin kita santap setelah majelis selesai. Hati kita berada dalam kondisi lalai (ghoflah).

​2. Zikrul Qolbi maal Lisani Takalufan (Zikir Hati dan Lisan yang Diupayakan)

​Tingkatan kedua ini adalah zona perjuangan. Di sini, seseorang tidak lagi membiarkan lisannya berjalan sendiri secara mekanis. Ada usaha yang sadar dan terarah (takalluf) untuk memaksa hati ikut serta mendengarkan apa yang diucapkan oleh lisan. Ketika lisan mengucapkan Allah, pikiran dikunci, dan hati dipaksa untuk menyadari kehadiran-Nya. Ini adalah proses yang melelahkan bagi ego kita karena menuntut fokus penuh. Pikiran mungkin akan melayang pergi, namun kita dengan sengaja menariknya kembali untuk fokus pada zikir. Di sinilah letak nilai latihan spiritual yang sesungguhnya.

​3. Zikrul Qolbi Th'an (Zikir Hati yang Mengalir Alami)

​Pada tingkatan ketiga, zikir telah bertransformasi dari sebuah kewajiban yang dipaksakan menjadi sebuah karakter yang melekat. Hati seseorang telah terlatih sedemikian rupa sehingga ia bisa mengingat Allah secara alami tanpa perlu lagi diperintah oleh lisan atau dipaksa oleh pikiran. Orang yang berada di maqam ini mungkin sedang sibuk mengetik laporan di kantor, sedang menyetir mobil, atau sedang berbelanja di pasar, namun di balik semua aktivitas fisik itu, hatinya terus berdenyut menyebut nama Allah. Setiap detak jantungnya adalah tasbih, dan setiap hembusan nafasnya adalah pujian kepada Sang Pencipta.

​4. Itilaul Mazkur alal Qalbi wastighraquhu bihi (Tenggelam dalam Nama yang Diingat)

​Inilah puncak tertinggi dari perjalanan seorang hamba dalam berzikir. Pada level ini, hati dan seluruh kesadaran seseorang telah sepenuhnya dikuasai oleh Dzat yang diingat, yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ketika ia menyebut nama "Allah", maka lenyaplah seluruh persepsi tentang dunia, harta, jabatan, bahkan persepsi tentang dirinya sendiri. Jiwa, roh, dan pikirannya benar-benar tenggelam (wastighraq) dalam kelezatan dan keagungan cinta ilahi. Dunia di matanya menjadi sangat kecil dan tidak berarti apa-apa lagi.

​Pesan Utama Ustaz K.H. Muhyiddin:

"Jangan pernah setan membisikkan kepadamu untuk berhenti berzikir hanya karena hatimu belum bisa khusyuk. Memang benar bahwa zikir lisan yang disertai hati lalai itu manfaatnya sedikit dan pengaruhnya lemah jika dibandingkan dengan tingkatan di atasnya. Akan tetapi, ketahuilah dengan pasti bahwa berzikir dengan lisan yang lalai itu jauh, jauh lebih baik daripada engkau meninggalkan zikir sama sekali!"

​Beliau menambahkan sebuah kutipan indah dari para kaum arif billah. Ketika seseorang mengeluh bahwa mereka telah berzikir namun hatinya tidak merasakan getaran apa pun, orang arif itu menjawab, "Pujilah Allah! Bersyukurlah karena Allah masih sudi menghiasi salah satu anggota tubuhmu, yaitu lisanmu, untuk menyebut nama-Nya yang agung."

​Pernyataan ini mengandung sebuah perspektif yang sangat persuasif dan menenangkan. Di luar sana, ada jutaan orang yang diberi kesehatan fisik yang luar biasa, namun lidah mereka terkunci untuk memuji Allah. Mereka fasih berbicara tentang bisnis, politik, atau gosip terbaru, tetapi kaku ketika harus mengucapkan kalimat tauhid. Maka, keberadaan kita yang duduk di dalam majelis ilmu, ikut melantunkan salawat dan zikir meskipun hati kita masih compang-camping oleh urusan dunia adalah sebuah anugerah yang harus disyukuri dengan setulus hati.

​Melalui gaya penyampaiannya yang sistematis, Ustaz Muhyiddin mengajak kita untuk melakukan transformasi spiritual secara bertahap. Beliau tidak menuntut kita untuk langsung melompat ke tingkatan keempat, karena itu adalah karunia murni dari Allah setelah melalui proses perjuangan yang panjang. Tugas kita sebagai hamba yang penuh dosa dan keterbatasan adalah terus melatih diri di tingkatan pertama dan kedua.

​Mari kita bayangkan zikir sebagai sebuah magnet. Awalnya, magnet itu mungkin tertutup oleh debu dan kotoran duniawi sehingga daya tariknya lemah. Namun, jika kita terus-menerus menggosoknya dengan konsistensi zikir lisan dan usaha untuk menghadirkan hati, maka lambat laun kotoran itu akan runtuh. Hati kita akan mulai merasakan kehangatan, pikiran yang tadinya ruwet akan mulai terurai, dan ketenangan yang selama ini kita cari di tempat-tempat hiburan duniawi akan kita temukan di dalam untaian zikir kita sendiri.

​Sebagai penutup kajiannya yang mendalam, Ustaz Muhyiddin mengingatkan tentang urgensi keistiqamahan. Menghadiri majelis ilmu secara rutin, seperti Majelis Nurul Mustofa setiap pekannya, adalah cara terbaik untuk menjaga agar lisan kita tetap terbiasa dengan kalimat-kalimat suci. Perjuangan melawan kemalasan untuk hadir di majelis adalah investasi terbaik yang bisa kita lakukan. Sebab, kalimat yang paling sering kita ucapkan selama hidup, kalimat itulah yang insyaallah akan keluar dari lisan kita saat kita menghadapi ujian terbesar dalam hidup manusia: sakaratul maut. Semoga Allah mengaruniakan kita lisan yang basah dengan zikir dan hati yang selalu rindu pada-Nya.

Baca juga :




Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *