Di era modern yang serba kompetitif ini, kita sering kali menyaksikan sebuah fenomena sosial yang cukup memprihatinkan. Banyak orang yang menaruh fokus luar biasa besar pada pencapaian intelektual dan formalitas akademik. Orang tua rela menghabiskan biaya ratusan juta rupiah agar anak-anak mereka bisa mendapatkan gelar sarjana, magister, hingga doktor dari universitas terbaik. Kita bangga jika memiliki deretan gelar akademis yang panjang di belakang nama kita atau posisi jabatan yang mentereng di perusahaan multinasional. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang sering kali luput dari perhatian kita: Apakah kecerdasan intelektual dan tingginya jabatan tersebut berbanding lurus dengan kebaikan perangai kita dalam kehidupan sehari-hari?
Pertanyaan krusial inilah yang dijawab dengan sangat lugas, tegas, namun disampaikan dengan bumbu humor segar yang mengocok perut oleh Abuya K.H. Ainul Yakin Abdullah Syafi'i. Sebagai pembicara penutup (pamungkas) dalam acara Pancoran Bersholawat bersama Majelis Nurul Mustofa, Abuya Ainul Yakin berhasil membius ribuan jamaah yang mulai kelelahan menjadi kembali segar bugar lewat gaya penyampaiannya yang sangat ekspresif dan karismatik. Beliau membawa sebuah pesan inti yang menjadi pondasi utama dalam peradaban Islam: Bahwasanya adab dan akhlak mulia berada di atas ilmu pengetahuan.
Abuya membuka tausiyahnya dengan mengutip sebuah kaidah keilmuan klasik dari kitab Fathul Qarib Al-Mujib tentang pentingnya menuntut ilmu (attarghibu fi tholabil ilmi). Namun, beliau memberikan sebuah catatan tebal yang sangat persuasif. Beliau menegaskan bahwa setinggi apa pun sekolah kita, sepintar apa pun otak kita, dan seberapa banyak pun kitab suci atau buku yang telah kita lahap, jika semua keilmuan itu tidak membuahkan perubahan akhlak pada diri kita, maka ilmu tersebut dikategorikan sebagai la yanfa’ ilmu yang mandul dan tidak mendatangkan manfaat sedikit pun di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Pesan Utama Abuya K.H. Ainul Yakin Abdullah Syafi'i:
"Biar ilmu lu setinggi langit, gelar berjejer dari ujung ke ujung sampai singkatan gelar lu berantakan di kartu nama, tapi kalau lu kagak punya adab sama orang tua, kagak punya akhlak sama tetangga, ilmu lu kagak ada gunanya! Penilaian pertama manusia dan Allah itu ada pada akhlakmu, baru kemudian ilmumu, dan yang terakhir barulah hartamu."
Untuk mempermudah pemahaman jamaah, Abuya memberikan beberapa ilustrasi kasus nyata yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita, dikemas dengan banyolan khas Betawi yang segar namun menohok:
Kasus 1: Adab Ketika Melewati Gang Rumah
Abuya mencontohkan bagaimana etika seseorang ketika berjalan melewati sekelompok orang tua yang sedang duduk mengobrol di sebuah gang pemukiman pada sore hari. Beliau menjelaskan bahwa orang yang memiliki adab dan telah mencicipi indahnya majelis ilmu akan otomatis merundukkan badannya, memasang wajah yang ramah, dan mengucapkan kalimat permisi atau salam dengan penuh rasa hormat. Sebaliknya, orang yang merasa pintar dan sombong akan berjalan melenggang begitu saja dengan angkuh seolah-olah jalanan itu adalah milik pribadinya. Akibatnya? Alih-alih dihormati karena kepintarannya, orang tersebut justru akan menuai caci maki dan kebencian dari lingkungan sekitar.
Kasus 2: Adab Ketika Makan di Warteg
Dengan gaya humorisnya yang khas, Abuya menyentil fenomena kejujuran sosial melalui analogi makan di warung tegal (wartek). Beliau bercanda tentang wartek modern zaman sekarang yang sudah dilengkapi dengan lampu neon yang sangat terang benderang dan kamera pengawas (CCTV). Mengapa hal itu terjadi? Karena hilangnya sifat jujur dan akhlak pada sebagian orang. Orang yang tidak memiliki adab akan tega memakan gorengan atau tahu sebanyak tiga buah namun ketika membayar di kasir hanya mengaku makan satu buah. Melalui candaan ini, Abuya ingin menekankan bahwa adab kejujuran harus dipraktikkan dalam skala sekecil apa pun, bukan hanya saat kita diawasi oleh kamera, melainkan karena kesadaran bahwa Allah Maha Melihat.
Kasus 3: Hubungan Antara Menantu dan Mertua
Beliau juga menyoroti dinamika hubungan keluarga antara menantu dan mertua. Abuya menggambarkan sebuah skenario di mana seorang menantu memiliki karier yang sangat sukses sebagai pegawai negeri atau profesional dengan gaji besar dan tunjangan melimpah, sementara sang mertua hanyalah seorang pedagang daun pisang tradisional di pasar. Abuya menegaskan bahwa ketika keduanya bertemu, aturan adab Islam mewajibkan sang menantu untuk menanggalkan seluruh ego jabatannya. Dia harus menundukkan kepala, mencium tangan sang mertua dengan takzim, dan menyapanya dengan tutur kata yang paling lembut. Keberhasilan finansial sang menantu tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan martabat orang tua yang telah melahirkan pasangannya.
Melalui artikel ini, mari kita renungkan secara mendalam pesan yang disampaikan oleh Abuya K.H. Ainul Yakin. Beliau mengingatkan kita bahwa dunia ini hanyalah sebuah tempat ujian sementara (intihan). Segala kemegahan duniawi harta yang berlimpah, rumah yang mewah, emas batangan (yang beliau jadikan bahan lelucon sebagai miliknya yang lupa kuncinya disimpan), hingga status sosial semuanya akan kita tinggalkan di liang kubur. Harta tidak akan dibawa mati, gelar akademik tidak akan ditulis di batu nisan, dan jabatan tidak akan ditanyakan oleh malaikat Munkar dan Nakir.
Satu-satunya aset terbesar yang akan menemani perjalanan kita di alam barzakh dan menjadi penentu beratnya timbangan amal kita di hari kiamat adalah keikhlasan hati dan kemuliaan akhlak kita. Majelis ilmu seperti Nurul Mustofa yang didirikan oleh Almarhum Al Habib Hasan bin Jafar Assegaf dan kini dilanjutkan oleh para putranya, sejatinya adalah sebuah madrasah tempat kita menempa adab.
Mari kita luruskan kembali niat kita dalam belajar dan menjalani hidup. Jadilah orang yang tidak hanya mengejar kecerdasan otak, tetapi juga kelembutan hati. Mari kita praktikkan akhlak mulia ini mulai dari hal yang paling kecil: berikan senyuman terbaik kepada tetangga kita, berbicaralah dengan santun kepada orang tua kita, dan jagalah integritas kejujuran kita di mana pun kita berada. Sebab, pada akhirnya, manusia yang paling dicintai oleh Rasulullah dan yang tempat duduknya paling dekat dengan beliau di surga kelak adalah mereka yang memiliki akhlak yang paling mulia.
