Pernahkah Anda merasa bahwa liburan akhir pekan yang Anda rencanakan dengan matang, atau cangkir kopi mahal yang Anda nikmati di kafe estetik saat senja tiba, ternyata gagal memberikan kedamaian yang Anda cari? Anda pulang ke rumah, merebahkan tubuh di kasur, namun pikiran tetap ruwet dan dada tetap terasa sesak oleh beban kehidupan. Istilah keren anak muda zaman sekarang adalah burnout atau stres berat. Kita sering kali sibuk melakukan healing untuk menyembuhkan fisik dan pikiran kita, namun kita lupa bahwa ada satu komponen paling vital di dalam diri kita yang sedang menjerit kehausan: yaitu hati (qalb).
Dalam tausiyahnya yang penuh kehangatan dan dibalut dengan bahasa tren anak muda di acara Pancoran Bersholawat, Al Ustaz Muhammad Ali Yusuf, atau yang akrab dan populer disapa Ustaz Jojo, memberikan sebuah analisis yang sangat menarik tentang kondisi psikologis manusia modern. Beliau membawa sebuah analogi geografis yang sangat membumi untuk menggambarkan kondisi spiritual hati kita.
Ustaz Jojo mengibaratkan hati manusia seperti tanah di daerah Babelan, Bekasi sebuah daerah yang dikenal memiliki suhu udara panas dan tanah yang kering jika musim kemarau tiba. Ketika tanah tersebut dibiarkan tanpa siraman air dalam jangka waktu yang lama, ia akan mulai mengeras, retak-retak, gersang, dan tidak ada tanaman indah yang bisa tumbuh di atasnya.
Begitu pula dengan hati kita. Jika dari hari Senin hingga hari Sabtu, seluruh fokus, energi, dan waktu kita habiskan hanya untuk memikirkan perkara duniawi mencari uang, mengejar karier, memikirkan persaingan bisnis, dan ditambah dengan asupan konsumsi media sosial yang tiada habisnya maka hati kita secara perlahan akan berubah menjadi gersang dan keras. Jiwa kita menjadi sumpek.
Lalu, apa "hujan sejuk" yang bisa menyembuhkan tanah hati yang retak-retak tersebut? Jawabannya adalah Majelis Ilmu, Zikir, dan Salawat. Keberadaan kita duduk bersila di dalam masjid, mendengarkan untaian nasihat para ulama, adalah proses detoksifikasi hati yang sesungguhnya.
Ustaz Jojo kemudian mengutip sebuah peringatan yang sangat serius dari Al Imam Ghazali tentang kesehatan mental spiritual kita. Imam Ghazali menasihatkan bahwa jangan sampai seorang muslim membiarkan dirinya absen atau melewati waktu lebih dari 3 hari tanpa duduk di majelis ilmu atau tanpa mendengarkan untaian hikmah dari para ulama. Mengapa batasan waktu 3 hari ini begitu krusial? Karena jika hati kita dibiarkan kosong dari asupan spiritual lebih dari jangka waktu tersebut, hati itu akan memasuki kondisi yang dalam bahasa dunia game disebut game over hati itu bisa mengeras bahkan mati! Ketika hati seseorang telah mati, ia tidak akan lagi bisa merasakan kelezatan dalam beribadah, hilangnya rasa empati kepada sesama, dan kemaksiatan akan terasa biasa saja di matanya. Tentu ini adalah sebuah tragedi kehidupan yang paling menakutkan.
Oleh karena itu, Ustaz Jojo memberikan sebuah ajakan yang sangat persuasif dan revolusioner bagi kita semua:
Pesan Utama Al Ustaz Muhammad Ali Yusuf (Ustaz Jojo):
"Jadikanlah urusan agama dan kehadiranmu di majelis ilmu itu seperti sebuah kecanduan—tentunya candu yang positif! Jangan menjadi orang yang pasif, yang baru mau datang ke majelis kalau diundang, kalau ada teman, atau kalau dikabarkan terlebih dahulu. Di mana pun engkau mendengar ada majelis ilmu dan selawat diadakan, carilah ia, kejar ia, dan samperin dengan antusiasme yang tinggi!"
Beliau memberikan sebuah perbandingan yang sangat menarik di bidang olahraga. Beliau mencontohkan pesepakbola top dunia seperti Erling Haaland atau Cristiano Ronaldo. Seorang striker hebat tidak akan pernah mencetak gol jika dia hanya diam berdiri di lapangan menunggu bola datang menghampiri kakinya. Striker hebat adalah mereka yang aktif berlari, bergerak mencari ruang kosong, mencari celah, dan mengejar bola demi menciptakan sebuah gol kemenangan.
Begitu pula dalam urusan akhirat kita. Kita tidak bisa mengharapkan iman kita meningkat atau hidup kita berubah menjadi lebih berkah jika kita hanya diam bersikap pasif di rumah menunggu hidayah jatuh dari langit. Kita harus aktif bergerak, mencari jadwal majelis taklim, dan meluangkan waktu secara sengaja untuk hadir di dalamnya.
Untuk memotivasi para jemaah yang mulai dirundung rasa kantuk karena malam yang semakin larut, Ustaz Jojo memaparkan sebuah fakta pahala yang sangat mencengangkan tentang keutamaan berzikir. Beliau mengutip kisah Nabi Sulaiman Alaihi\ Salam, seorang nabi yang dikaruniai kekayaan yang paling legendaris dalam sejarah manusia, yang kerajaannya meliputi manusia, hewan, hingga bangsa jin. Nabi Sulaiman pernah menyatakan bahwa: "Satu ucapan kalimat Subhanallah yang keluar dari lisan seorang mukmin dengan penuh keikhlasan, nilainya jauh lebih baik dan lebih kekal daripada seluruh kerajaan Sulaiman bin Daud beserta segala kemegahan isinya."
Mengapa demikian? Karena seluruh kekayaan Nabi Sulaiman di dunia ini telah sirna ditelan sejarah, namun satu ucapan Subhanallah yang kita lantunkan malam ini akan tersimpan dengan rapi di dalam buku catatan amal kita dan akan terus menemani kita hingga di akhirat kelak. Beliau juga menceritakan bagaimana ada orang-orang yang sudah berhasil masuk ke dalam surga, namun mereka masih merasakan penyesalan yang mendalam. Mengapa mereka menyesal? Bukan karena mereka tersiksa, melainkan karena mereka melihat ada orang lain yang tinggal di tingkatan surga yang jauh lebih tinggi di atas mereka di mana perbedaan tingkat itu jaraknya seperti bumi dan langit dan setelah diselidiki, perbedaan itu terjadi hanya karena orang di atasnya memiliki tabungan satu ucapan kalimat Subhanallah lebih banyak selama hidup di dunia.
Melalui artikel blog ini, mari kita resapi baik-baik pesan dari Ustaz Jojo. Ubahlah prioritas hidup kita. Jika kita sanggup meluangkan waktu dan uang untuk melakukan detoks fisik dan mencari hiburan duniawi, pastikan kita meluangkan waktu yang jauh lebih konsisten untuk melakukan detoks hati kita di majelis ilmu. Jangan biarkan tanah hati kita berubah menjadi gersang seperti kemarau. Datanglah ke majelis taklim terdekat, duduklah dengan takzim di sana, dan biarkan air hujan hikmah serta salawat menyiram kembali jiwamu hingga tumbuh menjadi pribadi yang penuh ketenangan, kebahagiaan, dan keberkahan.
