Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran islam lebih dalam. Membina silahtuhrrahim terhadap semua elemen umat islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rosulullah SAW sebagai hasil dari aktifitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Merinding! Habib Hasan Ba'alawi Bongkar Ciri-Ciri Orang Paling Pelit di Hadapan Rasulullah, Anda Termasuk?


Mari kita bicara jujur dari hati ke hati. Jika malam minggu tiba, pilihan aktivitas mana yang paling cepat disetujui oleh tubuh dan pikiran kita? Apakah nongkrong di kafe kekinian bersama teman-teman, menonton pertandingan sepak bola di layar kaca selama 90 menit penuh, atau mengendarai sepeda motor berpuluh-puluh kilometer demi duduk bersila di lantai masjid mendengarkan ceramah agama? Sebagian besar dari kita, terutama anak-anak muda, pasti akan merasakan sebuah pergolakan batin yang dahsyat ketika opsi terakhir yang dipilih. Kaki mendadak terasa seberat beton, mulut mendadak menguap tanda kantuk, dan sejuta alasan logis muncul di kepala untuk membatalkan niat berangkat ke majelis taklim.

​Fenomena psikologis-spiritual inilah yang dibedah dengan sangat tajam namun santai oleh Al Habib Hasan Ba'alawi dalam tausiyahnya di acara Pancoran Bersholawat. Beliau membuka ceramahnya dengan sebuah hadis nubuat yang sangat legendaris, sebuah hukum kepastian spiritual yang tidak bisa ditawar-tawar:

​Pesan Utama Al Habib Hasan Ba'alawi:

"Ketahuilah bahwasanya surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai oleh hawa nafsu (huffatil jannah bil makarih), sedangkan neraka itu dikelilingi oleh hal-hal yang sangat memanjakan syahwat dan kesenangan duniawi (huffatinar bisyahwat)."

​Dengan gaya penyampaian yang persuasif dan penuh energi khas dai muda, Habib Hasan menantang cara berpikir kita selama ini. Beliau menegaskan bahwa jika kita merasakan berat yang luar biasa saat ingin berbuat baik seperti melangkah ke majelis Nurul Mustofa, duduk beriktikaf, atau membasahi lidah dengan zikir maka kita tidak perlu terkejut atau berkecil hati. Rasa berat itu adalah sebuah konfirmasi sahih bahwa tempat yang sedang kita tuju adalah surga! Sesuatu yang nilainya sangat mahal dan eksklusif tentu tidak bisa didapatkan dengan cara yang santai dan mudah. Ada "harga" berupa perjuangan melawan gravitasi kemalasan diri sendiri yang harus dibayar lunas.

​Sebaliknya, jalan menuju neraka itu jalurnya sangat mulus, menurun, dan tanpa hambatan. Segala bentuk kemaksiatan dan kelalaian selalu dibungkus dengan kemasan yang menyenangkan ego kita. Menonton tayangan yang tidak bermanfaat di ponsel pintar terasa sangat ringan dan bisa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa terasa, sementara mendengarkan untaian ilmu selama 30 menit saja rasanya seperti ujian kesabaran yang tak berujung. Di sinilah letak ujian keimanan kita yang sesungguhnya di akhir zaman.

​Habib Hasan kemudian mengarahkan perhatian jamaah pada sebuah peringatan keras dari Baginda Nabi Muhammad Sallallahu\ Alaihi\ Wasallam tentang konsep orang yang bakhil (pelit). Dalam definisi sosial, kita menganggap orang pelit adalah mereka yang menyembunyikan hartanya dan enggan berbagi dengan orang miskin. Namun, dalam kacamata spiritual Rasulullah, ada jenis kepelitan yang jauh lebih mengenaskan dari itu.

​Siapakah orang yang paling pelit di muka bumi ini? Beliau adalah orang yang ketika nama suci Nabi Muhammad disebut di hadapannya, lidahnya terkunci rapat dan enggan membalasnya dengan ucapan salawat.

​Beliau mengajak kita merenung: dari tadi dalam majelis ini, nama Nabi telah digemakan ratusan kali melalui lagu-lagu pujian dan untaian sejarah. Setiap kali nama itu terdengar, itu adalah kesempatan emas bagi kita untuk membersihkan dosa dan menaikkan derajat kita di sisi Allah. Jangan sampai kita duduk di dalam masjid, namun menjadi makhluk yang paling bakhil karena membiarkan mulut kita diam membisu tanpa respons cinta kepada Rasulullah.

​Lebih lanjut, Habib Hasan menekankan pentingnya rasa syukur atas hidayah langkah kaki. Beliau mengajak kita melihat realitas sosial di luar sana. Ada begitu banyak orang yang dikaruniai kesehatan fisik yang luar biasa oleh Allah. Mereka sanggup berlari maraton sejauh puluhan kilometer, sanggup berolahraga di pusat kebugaran hingga mandi keringat, namun ketika azan berkumandang atau ketika sebuah majelis ilmu diadakan tepat di sebelah rumah mereka, kaki mereka lumpuh tak berdaya untuk melangkah masuk. Kehadiran kita di dalam masjid malam itu, dengan segala keterbatasan fisik dan rasa kantuk yang mendera, adalah sebuah bukti nyata bahwa Allah masih menginginkan kebaikan ada di dalam diri kita. Nikmat hidayah inilah yang harus kita jaga dengan cara mensyukurinya.

​Bagaimana cara mensyukuri nikmat majelis ilmu ini agar tidak dicabut oleh Allah? Habib Hasan memberikan sebuah formula yang sangat praktis dan penuh kasih sayang: Ajaklah orang-orang yang Anda cintai! Jika kita mengaku mencintai istri kita, anak-anak kita, orang tua kita, atau sahabat dekat kita, jangan biarkan diri kita menikmati jalan menuju surga ini sendirian. Gandeng tangan mereka, ajak mereka untuk ikut merasakan kehangatan majelis salawat.

​Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja; tantangan moral dan fitnah akhir zaman kian hari kian ganas mengintai generasi muda kita. Jika kita tidak membentengi keluarga kita dengan atmosfer spiritual yang kuat seperti di Majelis Nurul Mustofa, maka ombak kehidupan di luar sana akan dengan sangat mudah menyeret mereka ke dalam pusaran kelalaian.

​Mari kita jadikan pesan dari Al Habib Hasan Ba'alawi ini sebagai sebuah batu loncatan untuk mereformasi gaya hidup kita. Setiap kali kemalasan datang melanda untuk beribadah atau hadir di majelis taklim, bisikkan pada diri sendiri: "Ini adalah jalan mendaki menuju surga, dan aku tidak akan membiarkan hawa nafsuku menang hari ini." Mari kita basahi hari-hari kita dengan selawat tanpa henti, agar kelak di hari kiamat, wajah kita adalah wajah pertama yang dikenali oleh Rasulullah sebagai umatnya yang paling rajin merindukannya melalui salawat.

Baca juga :




Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *