Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran islam lebih dalam. Membina silahtuhrrahim terhadap semua elemen umat islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rosulullah SAW sebagai hasil dari aktifitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Jadilah Orang yang Kehadirannya Bikin Adem, Kepergiannya Bikin Kangen, dan Wafatnya Bikin Tenang


Ilustrasi orang baik yang kehadirannya membawa ketenangan dan meninggalkan kebaikan

Ada orang yang kalau datang, suasana terasa lebih tenang. Bukan karena dia paling lucu, paling pintar, atau paling banyak bicara. Tapi karena sikapnya membuat orang lain merasa nyaman.

Ada juga orang yang ketika tidak ada, justru terasa kehilangan. Bukan karena dia selalu menjadi pusat perhatian, melainkan karena kebaikannya meninggalkan kesan yang sulit digantikan.

Dan yang paling indah, ada manusia yang ketika sudah meninggalkan dunia, orang-orang yang mengenalnya tidak hanya menangis karena kehilangan, tetapi juga merasa tenang karena tahu bahwa selama hidupnya ia berusaha mengumpulkan amal baik.

“Jadilah orang yang kalau ada, kehadirannya bikin adem; kalau gak ada, kebaikannya bikin kangen; dan kalau mati, amal solehnya bikin tenang.”

Kalimat ini mungkin sederhana. Tapi kalau direnungkan lebih dalam, kalimat tersebut sebenarnya adalah gambaran tentang bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan.

Bukan sekadar bagaimana kita ingin dikenal, tetapi bagaimana keberadaan kita memberikan manfaat untuk orang lain.

Bukan Tentang Menjadi Orang yang Sempurna

Kita sering berpikir bahwa untuk menjadi orang baik, kita harus menjadi manusia yang sempurna.

Padahal tidak ada manusia yang benar-benar sempurna.

Kita semua pernah salah. Pernah berkata kasar. Pernah mengecewakan orang lain. Pernah marah berlebihan. Pernah iri. Pernah melakukan sesuatu yang kemudian kita sesali.

Menjadi orang baik bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan.

Menjadi orang baik adalah ketika kita mau belajar memperbaiki diri setelah melakukan kesalahan.

Kita tidak harus menjadi orang paling hebat untuk memberikan ketenangan kepada orang lain.

Terkadang cukup dengan menjadi seseorang yang tidak suka merendahkan, tidak mudah menghakimi, tidak senang mempermalukan, dan tidak menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan candaan.

Dan yang paling penting, jangan membuat orang lain merasa kecil hanya supaya diri sendiri terlihat besar.

Sebab ada orang yang mungkin tidak punya banyak harta, tetapi ketika bersamanya hati terasa nyaman.

Ada orang yang tidak banyak bicara, tetapi sekali berbicara selalu memberikan ketenangan.

Ada orang yang hidupnya sederhana, tetapi kebaikannya membuat banyak orang merasa bersyukur pernah mengenalnya.

Kalau Ada, Kehadirannya Bikin Adem

Kehadiran seseorang tidak selalu diukur dari seberapa sering dia berbicara.

Kadang, orang yang paling menenangkan justru adalah mereka yang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.

Ketika orang lain sedang bercerita, dia mau mendengarkan.

Ketika orang lain sedang jatuh, dia tidak sibuk menghakimi.

Ketika orang lain mendapatkan keberhasilan, dia tidak merasa tersaingi.

Ketika orang lain sedang mengalami kesulitan, dia tidak malah menambah beban.

Inilah jenis manusia yang kehadirannya bikin adem.

Bukan karena dia selalu memberikan solusi.

Bukan pula karena dia selalu punya kata-kata bijak.

Tetapi karena berada di dekatnya membuat kita merasa aman menjadi diri sendiri.

Kita tidak takut salah bicara. Tidak takut ditertawakan. Tidak takut cerita kita disebarkan. Tidak takut kekurangan kita dijadikan senjata ketika sedang bertengkar.

Sungguh, menjadi tempat yang aman bagi orang lain adalah bentuk kebaikan yang sering kali tidak kita sadari nilainya.

Maka mulai sekarang, coba tanyakan kepada diri sendiri:

“Ketika orang bertemu denganku, apakah mereka merasa lebih tenang atau justru lebih lelah?”

Pertanyaan sederhana, tetapi jawabannya bisa menjadi bahan introspeksi yang sangat dalam.

Kalau Tidak Ada, Kebaikannya Bikin Kangen

Ada perbedaan antara orang yang dirindukan karena popularitasnya dan orang yang dirindukan karena kebaikannya.

Orang yang populer mungkin dirindukan karena kehadirannya selalu membuat suasana ramai.

Tetapi orang yang baik akan dirindukan karena sesuatu yang jauh lebih dalam.

Kebaikan kecilnya. Perhatiannya. Ucapan sederhananya. Kebiasaannya membantu tanpa banyak bicara. Pesannya yang selalu datang ketika kita sedang susah.

Bahkan mungkin hanya secangkir kopi yang pernah dia traktir bertahun-tahun lalu.

Hal-hal kecil seperti itu terkadang justru menjadi kenangan yang paling melekat.

Karena manusia sering kali tidak mengingat semua perkataan kita. Tetapi mereka akan mengingat bagaimana perasaan mereka ketika bersama kita.

Pernahkah kamu tiba-tiba mengingat seseorang hanya karena melihat sesuatu yang mengingatkanmu kepadanya?

Mungkin sebuah tempat, sebuah lagu, sebuah makanan, atau bahkan kalimat sederhana yang dulu sering dia ucapkan.

Itulah kekuatan kebaikan.

Ia bisa bertahan lebih lama daripada kehadiran seseorang.

Karena ketika seseorang pergi, yang tersisa bukan hanya foto dan kenangan, tetapi juga jejak kebaikan yang pernah ia tinggalkan.

Kalau Mati, Amal Solehnya Bikin Tenang

Bagian terakhir mungkin adalah bagian yang paling dalam.

Karena pada akhirnya, setiap manusia akan sampai pada titik di mana dunia tidak lagi menjadi tempat tinggalnya.

Jabatan selesai. Harta ditinggalkan. Popularitas berhenti. Media sosial tidak lagi penting. Jumlah followers tidak lagi berarti.

Yang dibawa bukan mobil, rumah, pakaian mahal, atau barang-barang yang selama hidup kita banggakan.

Karena itu, sudah seharusnya kita mulai memikirkan sesuatu yang lebih panjang daripada sekadar kehidupan hari ini.

Apa yang akan tersisa setelah kita tidak ada?

Apakah orang hanya mengenang kita karena pernah memiliki banyak uang?

Atau karena pernah memiliki jabatan?

Atau karena pernah terkenal?

Semoga bukan itu.

Semoga ketika nama kita disebut setelah kita tiada, orang-orang berkata:

“Dia orang baik.”

“Dulu dia pernah membantu saya.”

“Dia tidak pernah membeda-bedakan orang.”

“Semoga Allah mengampuninya.”

“Semoga amal baiknya diterima.”

Bayangkan betapa indahnya jika setelah kita meninggal, masih ada orang yang mendoakan kita.

Bukan karena kita memintanya. Bukan karena kita membayar mereka. Tetapi karena selama hidup kita pernah memberikan kebaikan yang tulus.

Itulah warisan yang jauh lebih berharga daripada harta.

Tidak Harus Menunggu Kaya untuk Berbuat Baik

Kadang kita menunda kebaikan karena merasa belum punya cukup.

“Nanti kalau sudah kaya, aku mau sedekah.”

“Nanti kalau sudah sukses, aku mau membantu orang.”

“Nanti kalau sudah punya banyak waktu, aku mau lebih sering berbuat baik.”

Padahal kebaikan tidak selalu membutuhkan uang.

Senyum bisa menjadi kebaikan.

Membantu orang membawa barang bisa menjadi kebaikan.

Mendengarkan teman yang sedang punya masalah juga bisa menjadi kebaikan.

Menjaga ucapan agar tidak menyakiti orang lain adalah kebaikan.

Memaafkan seseorang juga bisa menjadi kebaikan.

Memberikan informasi yang bermanfaat juga bisa menjadi kebaikan.

Bahkan memilih diam ketika kita mampu membalas keburukan dengan keburukan pun bisa menjadi sebuah kebaikan.

Jadi jangan menunggu menjadi kaya untuk menjadi manusia yang bermanfaat.

Mulailah dari hal-hal kecil yang bisa kita lakukan hari ini.

Jangan Sibuk Mencari Kesan, Tapi Tinggalkan Kebaikan

Di zaman sekarang, kita sering terlalu sibuk memikirkan bagaimana orang lain melihat kita.

Ingin terlihat sukses. Ingin terlihat bahagia. Ingin terlihat punya banyak teman. Ingin terlihat paling keren. Ingin terlihat paling benar.

Padahal yang terlihat di mata manusia belum tentu berarti di hadapan Allah.

Tidak masalah kalau hidup kita sederhana. Tidak masalah kalau tidak semua orang mengenal kita. Tidak masalah kalau kebaikan kita tidak pernah diposting di media sosial.

Karena tidak semua kebaikan harus mendapatkan tepuk tangan.

Ada kebaikan yang lebih indah ketika hanya kita dan Allah yang mengetahuinya.

Justru di situlah keikhlasan diuji.

Kita berbuat baik bukan supaya dipuji.

Kita membantu bukan supaya dianggap hebat.

Kita bersedekah bukan supaya disebut dermawan.

Kita meminta maaf bukan karena kalah.

Kita memaafkan bukan karena orang lain pantas mendapatkannya.

Tetapi karena kita ingin menjadi manusia yang lebih baik.

Mulai dari Lingkungan Terdekat

Kalau ingin menjadi orang yang kehadirannya bikin adem, tidak perlu langsung mengubah dunia.

Mulailah dari rumah.

Berbicaralah lebih lembut kepada orang tua.

Lebih sabar kepada pasangan.

Lebih perhatian kepada anak.

Lebih menghargai teman.

Jangan mudah membentak hanya karena sedang lelah.

Jangan membawa masalah di luar rumah untuk kemudian melampiaskannya kepada orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah.

Sebab terkadang kita bisa sangat baik kepada orang lain, tetapi justru kasar kepada orang terdekat.

Padahal mereka adalah orang-orang yang paling sering merasakan versi asli diri kita.

Kalau kita mampu membuat keluarga merasa aman dan nyaman bersama kita, itu sudah menjadi langkah besar.

Hidup Ini Jangan Hanya Tentang “Aku”

Pada akhirnya, kehidupan yang bermakna bukan hanya tentang apa yang berhasil kita dapatkan.

Tetapi juga tentang apa yang berhasil kita berikan.

Bukan hanya berapa banyak uang yang berhasil kita kumpulkan, tetapi berapa banyak orang yang pernah kita bantu.

Bukan hanya berapa tinggi posisi kita, tetapi seberapa banyak orang yang merasa terbantu karena keberadaan kita.

Bukan hanya seberapa terkenal nama kita, tetapi seberapa baik nama kita dikenang ketika kita sudah tidak ada.

Karena hidup ini terlalu singkat kalau hanya digunakan untuk mengejar pengakuan.

Hari ini kita masih bisa tertawa bersama orang-orang yang kita sayangi. Besok belum tentu kita masih punya kesempatan yang sama.

Hari ini kita masih bisa meminta maaf. Besok mungkin sudah terlambat.

Hari ini kita masih bisa membantu. Besok mungkin kesempatan itu sudah tidak ada.

Maka selagi masih diberi waktu, mari belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Tidak perlu sempurna. Tidak perlu terlihat hebat.

Cukup terus memperbaiki diri.

Penutup: Tinggalkan Jejak yang Baik

Pada akhirnya, mungkin kita tidak akan dikenang karena seberapa mahal barang yang pernah kita punya.

Kita juga mungkin tidak akan dikenang karena seberapa tinggi jabatan yang pernah kita duduki.

Tetapi kebaikan yang kita lakukan bisa tinggal jauh lebih lama daripada usia kita.

Maka jadilah orang yang ketika hadir, orang lain merasa nyaman.

Ketika pergi, orang lain merasa kehilangan.

Dan ketika suatu hari nanti kita dipanggil menghadap Allah, orang-orang yang kita tinggalkan tidak hanya menangis karena kehilangan, tetapi juga tersenyum dan berkata:

“Dia sudah menjalani hidupnya dengan baik. Semoga Allah menerima amal solehnya dan menempatkannya di tempat terbaik.”

Sebab hidup bukan hanya tentang bagaimana kita ingin dikenang.

Hidup adalah tentang jejak seperti apa yang ingin kita tinggalkan.

Kalau hari ini kita belum menjadi orang seperti itu, tidak apa-apa. Kita masih punya kesempatan.

Mulailah dari satu kebaikan.

Satu ucapan yang lembut.

Satu bantuan kecil.

Satu maaf yang tulus.

Satu doa untuk orang lain.

Karena bisa jadi, sesuatu yang menurut kita kecil justru menjadi alasan seseorang mengingat kita sebagai manusia yang baik.

Jadilah orang yang kalau ada, kehadirannya bikin adem; kalau tidak ada, kebaikannya bikin kangen; dan kalau mati, amal solehnya bikin tenang.

Itulah salah satu bentuk kehidupan yang layak diperjuangkan.

Baca juga :




Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *