Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran islam lebih dalam. Membina silahtuhrrahim terhadap semua elemen umat islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rosulullah SAW sebagai hasil dari aktifitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Jangan Terlalu Dekat, Jangan Juga Terlalu Jauh: Belajar Melihat Seseorang dengan Utuh


Jangan terlalu dekat sampai melihat kekurangan, dan jangan terlalu jauh hingga melupakan kebaikan. Pelajaran tentang menghargai seseorang.

Ada satu nasihat sederhana yang kelihatannya sepele, tetapi sebenarnya cukup dalam:

“Jangan terlalu dekat sampai kamu hanya melihat kekurangannya, dan jangan terlalu jauh hingga kamu melupakan kebaikannya.”

Kalimat ini mungkin terdengar seperti nasihat tentang hubungan. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, maknanya jauh lebih luas. Ini tentang bagaimana kita memandang orang lain teman, pasangan, keluarga, bahkan seseorang yang pernah membuat kita kecewa.

Karena sering kali, masalah bukan terletak pada orangnya saja. Bisa jadi cara kita melihatnya yang mulai berubah.

Terlalu Dekat Bisa Membuat Kita Fokus pada Kekurangan

Ketika kita sudah terlalu dekat dengan seseorang, kita akan melihat sisi dirinya yang tidak terlihat oleh orang lain.

Kita tahu kebiasaannya.

Kita tahu sifat buruknya.

Kita tahu kesalahannya.

Bahkan mungkin kita tahu hal-hal kecil yang sebenarnya tidak diketahui orang lain.

Awalnya, kedekatan membuat kita merasa semakin mengenal seseorang. Namun seiring waktu, ada kemungkinan kita justru terlalu fokus pada kekurangannya.

Kesalahan kecil yang dulu dianggap biasa mulai terasa mengganggu.

Kebiasaan yang dulu kita maklumi mulai membuat kesal.

Perkataan sederhana yang sebenarnya tidak bermaksud buruk pun bisa terasa menyakitkan karena kita sudah terlalu mengenal orang tersebut.

Akhirnya, kita mulai berpikir, “Ternyata dia memang seperti itu.”

Padahal, setiap manusia memang punya kekurangan.

Tidak ada orang yang selalu sabar. Tidak ada orang yang selalu benar. Tidak ada juga manusia yang setiap tindakannya bisa sesuai dengan harapan kita.

Jangan sampai karena terlalu dekat, kita lupa bahwa seseorang juga punya sisi baik yang pernah membuat kita menghargainya.

Tapi Terlalu Jauh Juga Bisa Membuat Kita Lupa Kebaikannya

Sebaliknya, menjaga jarak terlalu jauh juga tidak selalu membuat semuanya menjadi lebih baik.

Ketika hubungan mulai renggang, terkadang yang tersisa dalam ingatan justru kesalahan-kesalahan.

Kita mengingat saat dia mengecewakan.

Mengingat perkataannya yang menyakitkan.

Mengingat bagaimana dia pernah membuat kita marah.

Namun perlahan kita lupa bahwa di balik semua itu, pernah ada banyak kebaikan.

Pernah ada seseorang yang membantu ketika kita kesulitan.

Pernah ada yang mendengarkan cerita kita tanpa menghakimi.

Pernah ada yang hadir ketika orang lain memilih pergi.

Bahkan mungkin ada kebaikan-kebaikan kecil yang dulu terasa biasa, tetapi baru kita sadari nilainya setelah semuanya berubah.

Itulah kenapa jarak terkadang bisa membuat kita salah menilai seseorang juga.

Kita terlalu jauh sampai hanya mengingat alasan untuk pergi, tetapi lupa alasan mengapa dulu kita memilih untuk bertahan.

Manusia Tidak Hanya Terdiri dari Satu Sisi

Salah satu kesalahan kita dalam menilai seseorang adalah menganggap satu kesalahan bisa mewakili seluruh dirinya.

Seseorang pernah berbohong, lalu kita menganggap dia pembohong selamanya.

Seseorang pernah marah, lalu kita menganggap dia orang yang buruk.

Seseorang pernah mengecewakan kita, lalu seluruh kebaikannya seolah tidak pernah ada.

Padahal manusia jauh lebih kompleks daripada itu.

Seseorang bisa melakukan kesalahan sekaligus memiliki banyak kebaikan.

Seseorang bisa mengecewakan kita, tetapi pernah memberikan arti yang besar dalam hidup kita.

Dan seseorang bisa menjadi tidak cocok dengan kita tanpa harus menjadi orang jahat.

Tidak semua hubungan yang berakhir berarti salah satu pihak adalah orang buruk.

Kadang-kadang, dua orang hanya sudah berada di jalan yang berbeda.

Jangan Menilai Seseorang Hanya dari Satu Bab

Bayangkan hidup seseorang seperti sebuah buku.

Jangan menilai seluruh buku hanya karena kamu tidak menyukai satu bab.

Mungkin hari ini dia sedang berada di fase yang buruk.

Mungkin dia sedang belajar menjadi lebih baik.

Mungkin ada masalah yang tidak pernah dia ceritakan.

Atau mungkin memang ada sifatnya yang tidak bisa kamu terima.

Apa pun itu, tetaplah berusaha melihat seseorang secara utuh.

Bukan berarti kita harus membenarkan semua kesalahannya. Bukan pula berarti kita harus terus bertahan dalam hubungan yang menyakiti.

Memahami seseorang tidak sama dengan membiarkan diri disakiti.

Kita tetap boleh membuat batas.

Kita tetap boleh menjauh.

Kita tetap boleh memilih pergi.

Namun ketika pergi, tidak ada salahnya tetap mengakui bahwa orang tersebut pernah memiliki sisi baik dalam hidup kita.

Belajar Menghargai Tanpa Harus Memiliki

Ada kalanya seseorang memang tidak lagi berada di dekat kita.

Teman yang dulu sering berbicara kini sudah jarang bertemu.

Orang yang dulu selalu hadir kini memilih jalannya sendiri.

Hubungan yang pernah begitu dekat akhirnya hanya menjadi kenangan.

Dan itu tidak selalu harus disesali.

Ada orang yang hadir untuk menemani perjalanan kita dalam satu fase, kemudian pergi ketika fase itu selesai.

Tugas kita bukan memaksa semua orang untuk tetap tinggal.

Tugas kita adalah menghargai apa yang pernah mereka berikan.

Kalau pernah ada kebaikan, ingatlah kebaikannya.

Kalau pernah ada kesalahan, ambil pelajarannya.

Kalau pernah ada luka, perlahan sembuhkan.

Tidak perlu mengubah seseorang menjadi sepenuhnya buruk hanya karena hubungan kalian tidak lagi sama.

Jangan Sampai Kedekatan Menghilangkan Rasa Syukur

Kadang kita terlalu terbiasa dengan seseorang sampai lupa menghargai keberadaannya.

Ketika seseorang selalu ada, kita menganggap kehadirannya sebagai sesuatu yang biasa.

Pesannya dianggap biasa.

Perhatiannya dianggap biasa.

Bantuannya dianggap biasa.

Sampai suatu hari dia tidak lagi ada.

Barulah kita sadar bahwa hal-hal kecil yang dulu kita anggap sepele ternyata memiliki arti.

Karena itu, selagi masih ada kesempatan, belajarlah menghargai orang-orang di sekitar kita.

Tidak harus dengan sesuatu yang besar.

Ucapan terima kasih sederhana pun bisa berarti.

Perhatian kecil pun bisa membuat seseorang merasa dihargai.

Dan terkadang, yang paling dibutuhkan seseorang bukan solusi, tetapi sekadar merasa bahwa keberadaannya dianggap penting.

Pada Akhirnya, Jaga Cara Kita Memandang Orang

Nasihat “jangan terlalu dekat dan jangan terlalu jauh” bukan berarti kita harus menjaga jarak dengan semua orang.

Justru sebaliknya.

Kita perlu belajar memiliki kedekatan yang sehat.

Cukup dekat untuk memahami bahwa seseorang punya kekurangan.

Namun cukup bijak untuk tetap mengingat kebaikannya.

Cukup dekat untuk mengetahui lukanya.

Namun tidak terlalu dekat sampai kita merasa berhak menghakimi seluruh hidupnya.

Dan ketika harus berjauhan, jangan sampai jarak menghapus semua kebaikan yang pernah ada.

Karena setiap orang memiliki sisi yang mungkin tidak kita sukai, tetapi hampir selalu ada alasan mengapa seseorang pernah begitu berarti dalam hidup kita.

Jangan terlalu dekat sampai kekurangannya menutupi seluruh kebaikannya.

Jangan terlalu jauh sampai kesalahannya menghapus semua kebaikan yang pernah diberikannya.

Pada akhirnya, kedewasaan bukan tentang menemukan manusia yang sempurna.

Kedewasaan adalah ketika kita mampu menerima bahwa manusia bisa punya kekurangan dan kebaikan dalam waktu yang bersamaan.

Dan mungkin, itulah cara paling adil untuk melihat seseorang:

tidak dengan terlalu dekat, tidak pula terlalu jauh tetapi dengan hati yang cukup jernih untuk melihatnya secara utuh.

Baca juga :




Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *