Ada orang yang terlihat baik karena kita belum terlalu mengenalnya.
Ada juga orang yang tetap kita anggap baik setelah kita mengetahui sisi yang tidak sempurna darinya.
Dan ternyata, di situlah letak nilainya.
Karena seseorang yang benar-benar berarti bukan selalu orang yang datang ketika hidup kita sedang baik-baik saja. Kadang, justru orang yang paling berharga adalah mereka yang tetap memilih ada setelah melihat kekurangan, kesalahan, dan sisi diri kita yang selama ini kita sembunyikan.
Kita Semua Punya Sisi yang Tidak Ingin Dilihat Orang
Di awal mengenal seseorang, tentu kita ingin menunjukkan versi terbaik dari diri sendiri.
Kita lebih mudah tersenyum. Lebih menjaga perkataan. Lebih sabar. Bahkan terkadang kita berusaha terlihat seolah-olah semuanya baik-baik saja.
Tetapi waktu berjalan.
Semakin dekat dengan seseorang, semakin banyak sisi diri yang akhirnya terlihat.
Kita bisa terlihat lelah. Bisa salah bicara. Bisa marah. Bisa keras kepala. Bisa melakukan kesalahan. Bahkan ada masa ketika kita sendiri merasa tidak menyukai versi diri kita.
Di titik itulah hubungan dengan seseorang biasanya mulai menunjukkan kualitas sebenarnya.
Bukan lagi tentang bagaimana seseorang melihat kita ketika semuanya terlihat indah, tetapi bagaimana dia memperlakukan kita setelah mengetahui bahwa kita juga memiliki kekurangan.
Yang Membuat Seseorang Berharga Bukan Kesempurnaannya
Kita sering mencari orang yang sempurna.
Ingin seseorang yang selalu memahami. Tidak pernah mengecewakan. Selalu sabar. Selalu tahu apa yang harus dilakukan.
Padahal manusia tidak seperti itu.
Kita sendiri pun tidak sempurna.
Maka agak tidak adil jika kita menuntut kesempurnaan dari orang lain sementara diri sendiri masih terus belajar.
Yang jauh lebih penting adalah melihat bagaimana seseorang bersikap ketika kekurangan mulai terlihat.
Apakah dia memilih menghina?
Apakah dia menggunakan kelemahan kita sebagai senjata?
Atau dia tetap menghargai kita sambil mengingatkan ketika memang ada yang perlu diperbaiki?
Perbedaannya mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar.
Tetap Bertahan Bukan Berarti Membenarkan Semua Kesalahan
Ada satu hal yang perlu diluruskan.
Menerima kekurangan seseorang bukan berarti kita harus membiarkan semua kesalahannya.
Hubungan yang sehat tetap membutuhkan batas, komunikasi, dan kemauan untuk berubah.
Kalau seseorang salah, tentu boleh diingatkan. Kalau ada perilaku yang menyakiti, tentu perlu dibicarakan. Kalau ada kekurangan yang bisa diperbaiki, jangan takut untuk memperbaikinya.
Justru orang yang benar-benar peduli biasanya tidak hanya berkata, "Aku menerima kamu apa adanya."
Kadang dia juga berani mengatakan, "Kamu bisa menjadi lebih baik dari ini."
Bedanya, nasihat diberikan untuk membantu kita tumbuh, bukan untuk membuat kita merasa tidak berharga.
Jangan Sampai Kekurangan Menjadi Alasan untuk Merendahkan
Setiap orang mempunyai bagian hidup yang tidak ingin diceritakan kepada banyak orang.
Ada yang sedang berjuang memperbaiki diri. Ada yang pernah melakukan kesalahan. Ada yang sedang belajar mengendalikan emosi. Ada yang belum mampu mencapai sesuatu yang diinginkan.
Karena itu, ketika kita mengetahui kekurangan seseorang, jangan merasa otomatis lebih tinggi darinya.
Bisa jadi dia sedang berjuang menghadapi sesuatu yang tidak pernah kita lihat.
Dan bisa jadi, kekurangan yang kita lihat hari ini justru sedang dia perbaiki sedikit demi sedikit.
Dalam kehidupan sehari-hari, menerima keadaan dengan lapang juga merupakan bagian dari proses belajar. Kita bisa membaca kembali renungan tentang indahnya menerima dalam keadaan apa pun sebagai pengingat bahwa menerima bukan berarti berhenti berusaha, tetapi belajar berdamai dengan keadaan sambil tetap melakukan yang terbaik.
Ada Bedanya Menerima dan Terpaksa Bertahan
Ini juga penting.
Tidak semua hubungan harus dipertahankan hanya karena sudah lama berjalan.
Tidak semua orang yang mengetahui kekurangan kita otomatis menjadi orang yang baik untuk dipertahankan.
Kalau seseorang terus menggunakan kekurangan kita untuk merendahkan, mengontrol, mempermalukan, atau menyakiti, maka kita tetap perlu memiliki batas.
Menerima seseorang berarti memahami bahwa dia tidak sempurna.
Sedangkan terpaksa bertahan berarti mengabaikan luka yang terus berulang hanya karena takut kehilangan.
Keduanya sangat berbeda.
Orang yang Tepat Tidak Membuat Kita Takut Menjadi Diri Sendiri
Salah satu tanda hubungan yang sehat adalah adanya ruang untuk menjadi manusia biasa.
Kita tidak harus selalu terlihat kuat.
Kita boleh mengakui sedang lelah.
Kita boleh mengatakan bahwa kita tidak tahu.
Kita boleh meminta maaf ketika salah.
Kita juga boleh menerima nasihat ketika memang membutuhkannya.
Yang membuat hubungan terasa berharga adalah ketika semua itu tidak langsung membuat kita kehilangan rasa aman untuk menjadi diri sendiri.
Karena pada akhirnya, kita membutuhkan seseorang yang mampu melihat sisi baik sekaligus sisi kurang dari diri kita tanpa menjadikan salah satunya sebagai alasan untuk menghilangkan rasa hormat.
Jangan Hanya Mencari Orang yang Melihat Kelebihanmu
Orang yang hanya melihat kelebihan kita tentu menyenangkan.
Tetapi orang yang tetap menghargai kita setelah mengetahui kekurangan kita memiliki makna yang berbeda.
Sebab dia tidak lagi menyukai gambaran yang kita tunjukkan di awal.
Dia sudah mengenal sisi yang lebih nyata.
Dia tahu kita tidak selalu sabar.
Dia tahu kita pernah salah.
Dia tahu kita punya kekurangan.
Namun dia tetap memilih memperlakukan kita dengan hormat.
Bukan karena menganggap kita sempurna, melainkan karena memahami bahwa setiap manusia memang sedang menjalani proses menjadi lebih baik.
Begitu Juga Sebaliknya, Belajarlah Menjadi Orang yang Bisa Bertahan
Renungan ini bukan hanya tentang mencari seseorang yang mampu menerima kekurangan kita.
Kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri:
Apakah kita sudah menjadi orang yang mampu menerima kekurangan orang lain?
Jangan hanya ingin dipahami tetapi tidak mau memahami.
Jangan hanya ingin dimaafkan tetapi sulit memaafkan.
Jangan ingin diterima apa adanya tetapi terus menuntut orang lain menjadi sesuai keinginan kita.
Hubungan yang baik berjalan dua arah.
Kita sama-sama belajar memahami. Sama-sama memperbaiki diri. Sama-sama menjaga ucapan. Dan sama-sama memberikan ruang ketika ada kekurangan yang sedang diperbaiki.
Karena manusia yang baik bukan manusia yang tidak memiliki kekurangan, melainkan manusia yang mau menyadari kekurangannya dan terus berusaha menjadi lebih baik.
Kita Tidak Perlu Menjadi Sempurna untuk Layak Dihargai
Terkadang kita terlalu sibuk memperbaiki diri sampai lupa bahwa kita juga perlu menghargai proses yang sedang dijalani.
Kalau hari ini masih banyak kekurangan, bukan berarti selamanya akan seperti itu.
Kalau pernah gagal, bukan berarti kita adalah orang gagal.
Kalau pernah melakukan kesalahan, bukan berarti seluruh diri kita hanya terdiri dari kesalahan.
Yang penting adalah kemauan untuk belajar.
Kalau salah, perbaiki.
Kalau menyakiti, minta maaf.
Kalau belum tahu, belajar.
Kalau masih lemah, minta pertolongan kepada Allah.
Dan kalau ada seseorang yang tetap menghargai kita selama proses itu, jangan lupa menghargai keberadaannya juga.
Belajar Melihat Seseorang Secara Utuh
Kita tidak akan pernah benar-benar mengenal seseorang hanya dari kelebihannya.
Seseorang baru terlihat lebih utuh ketika kita mengetahui bagaimana dia bersikap saat kecewa, marah, gagal, lelah, atau menghadapi masalah.
Karena itu, jangan terlalu cepat menilai seseorang hanya dari satu sisi.
Seperti yang dibahas dalam renungan belajar melihat seseorang dengan lebih utuh, kedekatan memang membuat kita mengetahui kekurangan seseorang, tetapi kedewasaan membuat kita tidak membiarkan kekurangan tersebut menghapus seluruh kebaikannya.
Itulah cara pandang yang lebih adil.
Penutup: Yang Bertahan Setelah Melihat Kekurangan Punya Arti Berbeda
Pada akhirnya, manusia tidak membutuhkan seseorang yang menganggap dirinya sempurna.
Kita membutuhkan orang yang mampu melihat diri kita secara utuh.
Tahu kelebihan kita.
Tahu kekurangan kita.
Tahu kesalahan kita.
Tahu sisi buruk yang sedang kita perjuangkan.
Namun tetap memilih memperlakukan kita dengan baik selama kita juga mau bertumbuh.
Begitu pula dengan diri kita.
Jangan hanya mencari orang yang mampu menerima kekuranganmu. Belajarlah menjadi seseorang yang juga mampu menerima kekurangan orang lain.
Karena hubungan yang berarti bukan tentang menemukan manusia yang sempurna.
Melainkan tentang dua manusia yang sama-sama tidak sempurna, tetapi mau saling menghargai, saling mengingatkan, dan terus belajar menjadi lebih baik.
