Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam. Membina silaturahmi terhadap semua elemen umat Islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia Islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan Islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rasulullah SAW sebagai hasil dari aktivitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya Islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Jangan Buang Waktu Menjelaskan Diri: Tidak Semua Orang Ingin Mendengar


Jangan buang waktu menjelaskan diri kepada orang yang hanya ingin mendengar

Ada satu hal yang sering menguras energi tanpa kita sadari: terlalu sibuk menjelaskan diri kepada orang yang sebenarnya tidak ingin memahami.

Kita menjelaskan niat. Kita menerangkan kronologi. Kita mencoba meluruskan perkataan. Bahkan kadang kita mengulang cerita yang sama berkali-kali karena berharap akhirnya orang tersebut mengerti.

Tapi setelah semuanya dijelaskan, responsnya tetap sama.

Dia tetap mendengar hanya bagian yang ingin dia dengar.

Di titik seperti ini, mungkin masalahnya bukan karena penjelasan kita kurang lengkap. Bisa jadi, orang tersebut memang sudah memiliki kesimpulan sendiri sebelum kita selesai berbicara.

Tidak Semua Orang Mendengarkan untuk Memahami

Mendengar dan memahami adalah dua hal yang berbeda.

Seseorang bisa saja berada di depan kita, mengangguk, bahkan membiarkan kita berbicara panjang. Tetapi belum tentu dia benar-benar mencoba memahami apa yang sedang kita sampaikan.

Ada orang yang mendengar untuk mencari kesalahan. Ada yang mendengar untuk mencari celah membantah. Ada pula yang sebenarnya hanya menunggu giliran untuk menyampaikan pendapatnya sendiri.

Karena itu, jangan merasa harus terus berbicara hanya karena seseorang belum menerima penjelasan kita.

Kalau penjelasan sudah disampaikan dengan jujur dan sewajarnya, kita tidak selalu memiliki kewajiban untuk membuat semua orang setuju dengan versi cerita kita.

Menjelaskan Diri Itu Penting, Tapi Ada Batasnya

Bukan berarti setiap masalah harus dihadapi dengan diam.

Ada keadaan ketika klarifikasi memang diperlukan. Terutama ketika terjadi kesalahpahaman yang bisa merugikan hubungan, pekerjaan, keluarga, atau orang lain.

Menjelaskan sesuatu dengan tenang justru bisa menjadi bentuk tanggung jawab.

Yang perlu dihindari adalah ketika penjelasan berubah menjadi usaha tanpa akhir untuk mendapatkan pengakuan dari seseorang.

Awalnya kita hanya ingin meluruskan satu kesalahpahaman.

Lalu kita mulai menjelaskan detail lainnya.

Kemudian kita merasa harus membuktikan bahwa niat kita sebenarnya baik.

Setelah itu muncul kebutuhan untuk membuktikan bahwa kita tidak bersalah.

Akhirnya, satu percakapan sederhana berubah menjadi pertarungan panjang untuk mendapatkan validasi.

Padahal belum tentu orang tersebut sedang mencari kebenaran. Bisa jadi dia hanya ingin mendengar sesuatu yang sesuai dengan pikirannya.

Bedakan Orang yang Ingin Memahami dan Orang yang Ingin Menang

Salah satu tanda percakapan yang sehat adalah adanya ruang untuk saling mendengar.

Kita boleh berbeda pendapat. Kita boleh memiliki sudut pandang yang tidak sama. Bahkan kita boleh mengatakan, “Saya tidak setuju.”

Tetapi masih ada usaha untuk memahami alasan di balik pendapat tersebut.

Sebaliknya, percakapan akan melelahkan ketika apa pun yang kita katakan selalu dipelintir menjadi kesalahan baru.

Kita menjelaskan A, dibawa ke B.

Kita menjawab B, muncul persoalan C.

Kita menjelaskan C, tiba-tiba pembahasannya kembali ke masalah lama.

Kalau polanya terus seperti itu, mungkin kita tidak sedang menyelesaikan masalah. Kita hanya sedang berputar di tempat yang sama.

Dalam situasi seperti ini, kemampuan untuk berhenti berbicara justru menjadi penting. Bukan karena kita tidak memiliki jawaban, tetapi karena kita sadar bahwa percakapan tersebut sudah tidak menghasilkan pemahaman.

Diam Bukan Berarti Mengakui Kesalahan

Banyak orang takut diam karena khawatir dianggap kalah.

Padahal diam tidak otomatis berarti setuju. Diam juga tidak selalu berarti tidak memiliki jawaban.

Kadang diam adalah keputusan untuk tidak memperpanjang sesuatu yang memang tidak perlu diperpanjang.

Kita tetap tahu apa yang terjadi. Kita tetap memahami posisi kita. Hanya saja, kita tidak lagi merasa harus menjelaskan semuanya kepada setiap orang.

Kalau sedang menghadapi percakapan yang emosional, memberi waktu untuk menenangkan diri juga bisa membantu. Ada pembahasan yang memang lebih baik dilakukan setelah pikiran tidak lagi dipenuhi amarah. Prinsip ini juga bisa diterapkan ketika menghadapi situasi seperti saat marah dan ingin langsung membalas perkataan orang lain.

Jangan Jadikan Pendapat Orang sebagai Penentu Nilai Dirimu

Salah satu alasan kita terlalu sering menjelaskan diri adalah karena kita takut dinilai buruk.

Kita takut dianggap sombong.

Takut dianggap salah.

Takut dianggap tidak peduli.

Takut seseorang pergi karena salah memahami kita.

Perasaan seperti itu manusiawi. Tetapi kalau terus dibiarkan, kita bisa menghabiskan terlalu banyak energi untuk mengatur bagaimana orang lain melihat diri kita.

Padahal, kita tidak mungkin mengendalikan semua penilaian manusia.

Seberapa baik pun kita menjelaskan, tetap akan ada orang yang memiliki kesimpulan berbeda.

Karena itu, belajar menerima bahwa tidak semua orang akan memahami kita adalah bagian dari kedewasaan.

Bukan berarti kita menjadi cuek terhadap kritik. Justru kita perlu belajar membedakan mana kritik yang memang bisa menjadi bahan perbaikan dan mana perkataan yang hanya membuat kita kehilangan ketenangan.

Pembahasan tentang hal ini juga menarik untuk direnungkan melalui tulisan tentang bagaimana menghadapi penilaian orang lain tanpa harus menjalani hidup demi memuaskan semua orang.

Kapan Kita Perlu Menjelaskan?

Ada beberapa keadaan ketika penjelasan memang layak diberikan.

  • Ketika seseorang benar-benar ingin memahami situasinya.
  • Ketika terjadi kesalahpahaman yang penting untuk diluruskan.
  • Ketika diam justru bisa menimbulkan masalah yang lebih besar.
  • Ketika ada tanggung jawab yang memang perlu kita jelaskan.
  • Ketika percakapan masih berlangsung dengan sikap saling menghargai.

Namun, kita juga perlu tahu kapan harus berhenti.

Jika seseorang sudah tidak ingin mendengar, penjelasan tambahan belum tentu membuat keadaan menjadi lebih baik.

Kapan Lebih Baik Berhenti Menjelaskan?

Berhenti menjelaskan bisa menjadi pilihan ketika percakapan sudah berubah menjadi saling menyalahkan, provokasi, atau usaha untuk terus mencari kesalahan.

Daripada menghabiskan satu malam hanya untuk menyusun kalimat agar seseorang akhirnya memahami kita, mungkin lebih baik gunakan waktu tersebut untuk memperbaiki sesuatu yang memang masih berada dalam kendali kita.

Kita tidak bisa mengatur pikiran orang lain.

Kita tidak bisa memaksa seseorang mempercayai kita.

Kita juga tidak bisa memastikan semua orang memiliki penilaian yang sama terhadap diri kita.

Yang bisa kita lakukan adalah menjaga sikap, berbicara seperlunya, dan memastikan bahwa apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan nilai yang kita yakini.

Tidak Semua Kesalahpahaman Harus Diselesaikan Hari Ini

Ada masalah yang memang membutuhkan jawaban segera.

Tetapi ada juga kesalahpahaman yang tidak perlu kita kejar sampai larut malam.

Kadang waktu akan memperlihatkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh seribu kalimat.

Sikap kita dalam jangka panjang bisa berbicara lebih banyak daripada pembelaan diri yang terus-menerus.

Jadi, kalau hari ini ada seseorang yang salah memahami kita, tarik napas sebentar.

Kalau memang perlu dijelaskan, jelaskan dengan tenang.

Kalau dia mau mendengar, dengarkan juga sudut pandangnya.

Tetapi kalau dia hanya ingin mendengar apa yang sesuai dengan pikirannya, kita tidak harus menghabiskan seluruh energi untuk mengubahnya.

Karena tidak semua orang membutuhkan penjelasan. Sebagian hanya membutuhkan alasan untuk tetap percaya pada kesimpulannya sendiri.

Dan ketika kita sudah melakukan bagian kita dengan baik, tidak ada salahnya berhenti sejenak, menjaga lisan, menjaga hati, lalu melanjutkan hidup.





Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *