Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam. Membina silaturahmi terhadap semua elemen umat Islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia Islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan Islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rasulullah SAW sebagai hasil dari aktivitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya Islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Nggak Tega Menyakiti Orang, Tapi Kok Mereka Bisa Setega Itu? Ini yang Perlu Dipahami


Apakah kamu pernah berada di posisi seperti ini?

Kamu sebenarnya nggak tega menyakiti orang lain. Bahkan ketika diperlakukan kurang baik pun, kamu masih berpikir berkali-kali sebelum membalas.

Mau marah, tapi ingat perasaannya.

Mau membalas, tapi hati terasa nggak tega.

Mau mengatakan semua yang dirasakan, tetapi akhirnya memilih diam karena takut perkataanmu justru membuat orang lain terluka.

Lalu yang membuat hati semakin berat adalah ketika orang tersebut ternyata bisa melakukan sesuatu yang bahkan kamu sendiri tidak sanggup melakukannya kepada dia.

Rasanya nggak adil, ya?

Tapi mungkin dari situ kita sedang belajar satu hal penting: tidak semua orang memiliki cara yang sama dalam memperlakukan orang lain.

Kita Sering Mengukur Orang dari Cara Kita Memperlakukan Mereka

Salah satu alasan kita mudah kecewa adalah karena secara tidak sadar kita berpikir, “Kalau aku nggak mungkin melakukan itu kepada dia, berarti dia juga nggak akan melakukan hal yang sama kepadaku.”

Padahal manusia berbeda.

Kita mungkin punya pertimbangan sebelum berbicara karena takut melukai perasaan seseorang. Orang lain belum tentu memiliki pertimbangan yang sama.

Kita mungkin memilih memaafkan karena tidak ingin hubungan rusak. Orang lain mungkin memilih pergi tanpa memikirkan betapa beratnya keputusan tersebut bagi kita.

Kita mungkin masih menjaga perasaan seseorang yang sudah mengecewakan kita. Sementara dia mungkin sudah tidak lagi memikirkan perasaan kita.

Hal seperti ini memang menyakitkan untuk diterima.

Tetapi menerima kenyataan bukan berarti kita membenarkan perlakuan buruk seseorang.

Hati yang Lembut Bukan Berarti Harus Selalu Bertahan

Menjadi orang yang nggak tega menyakiti orang lain adalah sesuatu yang baik selama kebaikan tersebut tidak membuat kita kehilangan kemampuan untuk menjaga diri.

Kita boleh punya hati yang lembut.

Kita boleh mudah memaafkan.

Kita boleh memilih tidak membalas.

Tetapi semua itu tidak berarti kita harus terus memberikan akses kepada orang yang berkali-kali menyakiti kita.

Ada perbedaan antara memaafkan dan membiarkan diri terus disakiti.

Memaafkan bisa menjadi cara untuk melepaskan beban dari hati. Tetapi menjaga jarak juga terkadang diperlukan agar luka yang sama tidak terus berulang.

Dalam kehidupan sehari-hari, belajar mengendalikan emosi juga penting agar rasa kecewa tidak berubah menjadi tindakan yang nantinya kita sesali. Kamu bisa membaca pembahasan saat marah, mengapa diam bisa menjadi cara menenangkan hati sebelum berbicara.

Jangan Menyesal Karena Pernah Berbuat Baik

Saat seseorang membalas kebaikan kita dengan sesuatu yang menyakitkan, terkadang muncul penyesalan.

“Kenapa dulu aku baik sama dia?”

“Kenapa aku masih peduli?”

“Harusnya dari awal aku nggak usah membantu.”

Perasaan seperti itu sangat manusiawi.

Tetapi jangan sampai perlakuan buruk seseorang membuat kita menganggap kebaikan sebagai kesalahan.

Kalau kita pernah membantu dengan niat yang baik, maka kebaikan itu tetap menjadi bagian dari diri kita. Orang lain boleh saja tidak menghargainya. Tetapi kita tidak harus menghapus nilai dari kebaikan tersebut hanya karena hasilnya tidak sesuai harapan.

Yang perlu diperbaiki bukan kebaikannya, melainkan cara kita memberikan kebaikan.

Belajar mengatakan “tidak”.

Belajar membuat batasan.

Belajar mengenali orang yang memang membutuhkan bantuan dan orang yang hanya memanfaatkan kebaikan.

Tidak Semua Orang Akan Memiliki Hati Seperti Kita

Mungkin ini bagian yang paling sulit diterima.

Kita berharap seseorang memiliki empati yang sama seperti kita. Ketika dia melakukan sesuatu yang menurut kita sangat menyakitkan, kita bertanya-tanya bagaimana dia bisa setega itu.

Tapi justru di sinilah kita perlu berhenti mengukur hati orang lain menggunakan ukuran hati kita sendiri.

Kamu tahu bagaimana rasanya ketika perkataan seseorang membuatmu sedih. Karena itu, kamu berhati-hati sebelum mengatakannya kepada orang lain.

Sementara orang lain mungkin tidak berpikir sejauh itu.

Bukan tugas kita untuk memaksa semua orang memiliki cara berpikir yang sama.

Tugas kita adalah memastikan bahwa kekecewaan tersebut tidak mengubah kita menjadi seseorang yang sebenarnya tidak ingin kita menjadi.

Kalau Mereka Bisa Setega Itu, Bukan Berarti Kita Harus Membalas

Ada kepuasan sesaat ketika membayangkan membalas perlakuan seseorang.

Apalagi ketika kita merasa, “Biar dia tahu rasanya.”

Tetapi sering kali balasan hanya memperpanjang hubungan kita dengan masalah tersebut.

Orang yang menyakiti kita sudah membuat satu luka. Jangan sampai karena ingin membalas, kita justru menambahkan luka baru yang akhirnya harus kita bawa sendiri.

Menahan diri bukan berarti tidak punya keberanian.

Kadang justru dibutuhkan kekuatan yang lebih besar untuk berkata, “Aku tidak mau menjadi seperti itu hanya karena aku pernah diperlakukan seperti itu.”

Kalau hati masih berat untuk memaafkan, prosesnya tidak perlu dipaksakan dalam satu malam. Ada pelajaran menarik tentang bagaimana memaafkan tanpa harus membiarkan kesalahan orang lain menentukan siapa diri kita.

Jaga Hati, Tapi Jangan Naif

Menjadi baik bukan berarti harus percaya kepada semua orang.

Memiliki hati yang lembut bukan berarti tidak boleh belajar dari pengalaman.

Kalau seseorang sudah berkali-kali menunjukkan bahwa dia tidak bisa menjaga kepercayaan, kita boleh mengambil jarak.

Kalau sebuah hubungan terus membuat kita kehilangan ketenangan, kita boleh mengevaluasinya.

Kalau seseorang terus melewati batas yang sudah kita sampaikan, kita boleh mengatakan cukup.

Semua itu bisa dilakukan tanpa kebencian.

Kita tidak harus membenci seseorang hanya karena memilih tidak lagi dekat dengannya.

Kita juga tidak harus membalas keburukan hanya karena pernah menerima perlakuan yang tidak baik.

Mungkin Ini Cara Allah Mengajarkan Kita Tentang Batasan

Ada pengalaman yang datang bukan untuk membuat kita menjadi keras, tetapi untuk membuat kita lebih bijaksana.

Dulu mungkin kita memberikan kepercayaan tanpa banyak berpikir.

Sekarang kita belajar lebih berhati-hati.

Dulu mungkin kita takut mengecewakan orang lain.

Sekarang kita belajar bahwa mengatakan “tidak” tidak selalu berarti menjadi orang jahat.

Dulu kita mungkin mengira bahwa menjaga hubungan berarti harus selalu mengalah.

Sekarang kita memahami bahwa hubungan yang sehat juga membutuhkan batasan dan saling menghormati.

Pengalaman pahit tidak harus membuat hati menjadi pahit.

Ia bisa menjadi pelajaran agar kita lebih dewasa dalam memperlakukan diri sendiri maupun orang lain.

Kalau Hari Ini Kamu Sedang Kecewa

Kalau saat ini kamu sedang merasakan hal yang sama, tidak apa-apa kalau hatimu masih sakit.

Tidak perlu berpura-pura kuat setiap saat.

Akui bahwa kamu kecewa.

Akui bahwa perlakuan tersebut memang membuatmu terluka.

Tetapi setelah itu, jangan biarkan satu orang menentukan bagaimana kamu melihat seluruh dunia.

Masih ada orang baik.

Masih ada hubungan yang sehat.

Masih ada orang yang menghargai ketulusan.

Dan yang paling penting, masih ada kesempatan bagi kita untuk terus memperbaiki diri.

Tidak Perlu Menjadi Setega Mereka

Mungkin kita tidak bisa mengontrol bagaimana orang lain memperlakukan kita.

Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana akan meresponsnya.

Kalau mereka memilih menyakiti, kita tidak harus ikut menyakiti.

Kalau mereka memilih pergi, kita tidak harus mengejar.

Kalau mereka tidak menghargai ketulusan, kita tidak perlu menyesal karena pernah tulus.

Dan kalau akhirnya kita memilih menjauh, lakukan karena ingin menjaga ketenangan, bukan karena ingin membuat mereka merasakan sakit yang sama.

Sebab menjadi baik bukan berarti membiarkan diri terus disakiti. Dan menjaga diri bukan berarti harus kehilangan hati yang lembut.

Mungkin kita memang nggak akan pernah mengerti bagaimana seseorang bisa setega itu kepada kita.

Tapi kita tidak harus memahami semuanya untuk bisa melanjutkan hidup.

Cukup ambil pelajarannya, jaga hati, perbaiki batasan, dan serahkan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan kepada Allah.





Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *