Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam. Membina silaturahmi terhadap semua elemen umat Islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia Islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan Islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rasulullah SAW sebagai hasil dari aktivitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya Islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Jangan Jalani Hidup untuk Memenuhi Standar Orang Lain, Ini Cara Menjaga Hati Tetap Tenang


Renungan tentang tidak mengikuti standar orang lain dan menjalani hidup dengan tenang

Pernah merasa hidup harus mengikuti standar orang lain supaya dianggap berhasil?

Harus punya pekerjaan tertentu. Harus memiliki penghasilan sekian. Harus menikah di usia tertentu. Harus punya rumah, kendaraan, atau pencapaian yang terlihat oleh banyak orang.

Tanpa sadar, kita bisa menjalani hidup bukan lagi berdasarkan apa yang memang kita butuhkan, tetapi berdasarkan apa yang dianggap bagus oleh orang lain.

Padahal setiap manusia punya keadaan, kemampuan, kesempatan, dan jalan hidup yang berbeda.

Karena itu, pesan sederhana dari gambar tersebut sebenarnya cukup dalam: tidak perlu mengikuti standar orang lain selama kita mampu menjalani hidup dengan baik sesuai porsi dan kemampuan diri sendiri.

Standar Orang Lain Tidak Selalu Cocok untuk Hidup Kita

Setiap orang punya ukuran keberhasilan yang berbeda.

Bagi seseorang, memiliki pekerjaan dengan gaji besar mungkin merupakan impian. Bagi orang lain, pekerjaan sederhana tetapi lingkungan yang nyaman justru sudah cukup membuat hati bersyukur.

Ada yang mengejar bisnis. Ada yang memilih bekerja. Ada yang ingin tinggal di kota besar. Ada pula yang lebih nyaman hidup sederhana dan dekat dengan keluarga.

Semua pilihan tersebut tidak bisa disamakan begitu saja.

Masalahnya muncul ketika kita mulai menganggap kehidupan orang lain sebagai patokan mutlak untuk menilai kehidupan sendiri.

Melihat orang lain berhasil kemudian membuat kita merasa gagal. Melihat orang lain memiliki lebih banyak kemudian membuat kita merasa kekurangan.

Padahal kita hanya melihat hasil yang tampak, bukan seluruh perjalanan yang mereka jalani.

Jangan Mengukur Nilai Diri dari Pencapaian Orang Lain

Salah satu kebiasaan yang paling melelahkan adalah membandingkan bab kehidupan kita dengan bab kehidupan orang lain.

Teman mungkin sudah mencapai sesuatu yang kita inginkan. Orang lain mungkin sudah lebih mapan. Ada yang terlihat bahagia, sementara kita masih berusaha menyelesaikan persoalan sendiri.

Kalau terus melihat ke sana, hati akan selalu merasa tertinggal.

Padahal belum tentu kita benar-benar tertinggal.

Bisa saja jalan kita memang berbeda.

Daripada terus menghitung apa yang sudah dimiliki orang lain, lebih baik melihat apa yang masih bisa kita perbaiki dari kehidupan sendiri.

Pelan-pelan tidak masalah. Sederhana juga tidak masalah. Yang penting kita tetap bergerak ke arah yang baik.

Menjalani Hidup Sesuai Porsi Bukan Berarti Menyerah

Ada yang salah memahami sikap menerima sebagai alasan untuk berhenti berusaha.

Padahal keduanya berbeda.

Menerima keadaan berarti memahami bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan. Sementara berusaha berarti tetap melakukan bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita.

Kita tetap boleh punya cita-cita.

Kita tetap boleh ingin kehidupan yang lebih baik.

Kita tetap boleh bekerja keras untuk memperbaiki keadaan.

Namun, jangan sampai keinginan tersebut membuat kita membenci kehidupan yang sedang dijalani sekarang.

Berusaha dan menerima bisa berjalan bersama. Kita melakukan yang terbaik, kemudian belajar berdamai dengan hasil yang berada di luar kendali.

Tidak Semua Keinginan Harus Terpenuhi Sekarang

Kadang kita terlalu terburu-buru mendapatkan sesuatu karena melihat orang lain sudah memilikinya.

Teman sudah punya rumah, kita merasa harus segera punya rumah. Orang lain sudah sukses dalam bisnis, kita merasa harus mengikuti. Seseorang sudah mencapai target tertentu, kita merasa kehidupan sendiri tidak ada kemajuan.

Padahal hidup bukan perlombaan dengan jadwal yang sama untuk semua orang.

Ada hal yang memang membutuhkan waktu.

Ada keinginan yang perlu diperjuangkan lebih lama. Ada pula sesuatu yang mungkin belum diberikan karena keadaan kita memang belum siap menerimanya.

Daripada memaksa diri mengikuti kecepatan orang lain, lebih baik tanyakan kepada diri sendiri: apa yang memang sedang menjadi tanggung jawab saya hari ini?

Pertanyaan sederhana itu bisa membantu kita kembali fokus.

Belajar Menerima Tanpa Berhenti Memperbaiki Diri

Menerima diri bukan berarti menganggap semua kekurangan harus dibiarkan.

Kalau ada yang perlu diperbaiki, perbaiki. Kalau ada kebiasaan buruk, perlahan tinggalkan. Kalau ada kesalahan, akui dan ambil pelajarannya.

Tetapi jangan mengubah proses memperbaiki diri menjadi kebiasaan membenci diri sendiri.

Kita boleh mengatakan, “Aku masih perlu belajar,” tanpa mengatakan, “Aku tidak berguna.”

Kita boleh mengakui bahwa hidup belum sesuai harapan tanpa menganggap diri sebagai orang yang gagal.

Ini penting karena proses menjadi lebih baik membutuhkan kesabaran.

Jangan Hidup Hanya untuk Membuktikan Sesuatu kepada Orang Lain

Ada kalanya kita bekerja terlalu keras bukan karena benar-benar menginginkannya, tetapi karena ingin membuktikan sesuatu kepada orang lain.

Ingin membuktikan bahwa kita sukses.

Ingin membuktikan bahwa kita mampu.

Ingin membuat orang yang pernah meremehkan kita menyesal.

Masalahnya, kalau seluruh hidup digunakan untuk membuktikan sesuatu, kita akan sulit merasa cukup.

Setelah satu pencapaian tercapai, muncul target baru hanya demi mendapatkan pengakuan berikutnya.

Pada akhirnya, kita tidak lagi bertanya apakah hidup ini membuat hati tenang, tetapi terus bertanya apakah orang lain sudah menganggap kita berhasil.

Padahal kita tidak mungkin mengendalikan penilaian semua orang.

Seperti yang juga dibahas dalam renungan tentang jangan menjalani hidup hanya untuk memuaskan penilaian orang lain, akan selalu ada orang yang memiliki pendapat berbeda tentang kita.

Fokus pada Apa yang Bisa Kita Kendalikan

Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain menilai kehidupan kita.

Kita juga tidak bisa memaksa semua orang memahami pilihan yang kita ambil.

Yang bisa kita lakukan adalah menjaga sikap, memperbaiki usaha, memilih lingkungan yang baik, dan menjalani tanggung jawab dengan sebaik mungkin.

Kalau hari ini kemampuan kita masih terbatas, tidak perlu malu.

Kalau perjalanan kita lebih lambat, tidak perlu langsung menganggap diri tertinggal.

Yang penting jangan berhenti bertumbuh.

Sebab hidup yang tenang bukan selalu hidup yang memiliki paling banyak. Terkadang ketenangan justru muncul ketika seseorang tahu mana yang perlu dikejar dan mana yang perlu diterima.

Jadikan Rasa Cukup sebagai Kekuatan

Rasa cukup bukan berarti tidak punya keinginan.

Rasa cukup berarti kita tidak membiarkan keinginan menguasai seluruh hati.

Kita tetap bekerja untuk mendapatkan rezeki. Tetap belajar supaya berkembang. Tetap berusaha memperbaiki masa depan.

Namun, di saat yang sama kita juga mampu melihat nikmat yang sudah ada.

Sebab kalau hati hanya fokus pada apa yang belum dimiliki, sebanyak apa pun pencapaian yang datang mungkin tetap terasa kurang.

Sebaliknya, ketika seseorang belajar menghargai apa yang sudah dimiliki sambil terus berusaha menjadi lebih baik, perjalanan hidup terasa jauh lebih ringan.

Renungan tentang indahnya menerima keadaan dengan hati yang lapang juga mengingatkan bahwa menerima bukan berarti berhenti berusaha, melainkan belajar berdamai dengan keadaan sambil tetap melakukan bagian kita.

Jalani Hidupmu, Bukan Versi Hidup Orang Lain

Pada akhirnya, kita tidak harus menjalani kehidupan dengan ukuran yang dibuat orang lain.

Kalau orang lain berjalan lebih cepat, biarkan.

Kalau orang lain memiliki lebih banyak, syukuri untuk mereka.

Kalau perjalanan kita masih panjang, jalani dengan sabar.

Tidak semua pencapaian harus datang sekarang. Tidak semua keinginan harus terpenuhi sekaligus. Dan tidak semua kehidupan harus terlihat hebat di mata orang lain.

Yang lebih penting adalah bagaimana kita menjalani bagian kita dengan sungguh-sungguh, tetap berusaha, menjaga hati, dan tidak kehilangan rasa syukur.

Jangan terlalu sibuk mengejar standar kehidupan orang lain sampai lupa menikmati perjalananmu sendiri.

Kamu punya jalanmu sendiri. Ada bagian yang memang harus diperjuangkan, ada yang harus ditunggu, dan ada pula yang harus diterima dengan lapang.

Selama kita terus memperbaiki diri dan berjalan menuju kebaikan, tidak perlu merasa malu hanya karena kehidupan kita tidak sama dengan kehidupan orang lain.

Karena hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai.

Hidup adalah tentang bagaimana kita menjalani perjalanan yang Allah berikan dengan sebaik-baiknya.





Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *