Pernah nggak kita melihat seseorang lalu tanpa sadar langsung menilai?
Melihat penampilannya, pekerjaannya, cara bicaranya, kehidupannya, atau mungkin kesalahannya. Dari sana, kadang muncul perasaan bahwa diri kita lebih baik darinya.
Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang diperjuangkan orang tersebut.
Itulah kenapa nasihat sederhana tentang mendidik mata dan mulut sebenarnya memiliki makna yang dalam. Mata perlu dididik agar tidak mudah memandang rendah, sementara mulut perlu dididik agar tidak gampang merendahkan.
Karena bisa jadi, masalahnya bukan pada orang yang kita lihat. Bisa jadi cara kita melihatnya yang perlu diperbaiki.
Jangan Biarkan Mata Terbiasa Mencari Kekurangan Orang Lain
Ada kebiasaan yang sering tidak kita sadari: lebih cepat melihat kekurangan seseorang daripada kebaikannya.
Ketika seseorang melakukan satu kesalahan, kita langsung mengingatnya. Ketika penampilannya tidak sesuai dengan standar kita, kita mulai menilainya. Ketika hidupnya berbeda dengan kehidupan kita, kita merasa punya alasan untuk menganggapnya lebih rendah.
Padahal setiap manusia mempunyai perjalanan yang berbeda.
Ada orang yang sedang belajar memperbaiki diri. Ada yang sedang berusaha keluar dari masa sulit. Ada yang mungkin belum mengetahui sesuatu yang menurut kita sudah biasa.
Dan kita pun sebenarnya masih memiliki banyak kekurangan yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain.
Karena itu, belajar menghargai orang lain bukan berarti menganggap semua orang sempurna. Kita tetap bisa melihat kesalahan, tetapi tidak harus menjadikan kesalahan tersebut sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi.
Merendahkan Orang Lain Tidak Membuat Kita Lebih Mulia
Kadang seseorang merasa lebih tinggi hanya karena memiliki lebih banyak ilmu, harta, pengalaman, jabatan, penampilan, atau lingkungan pergaulan tertentu.
Masalahnya, kelebihan yang kita miliki sebenarnya bukan alasan untuk merendahkan orang lain.
Justru ketika mendapatkan sesuatu yang lebih, seharusnya kita semakin sadar bahwa semua itu adalah amanah dan kesempatan untuk berbuat baik.
Orang yang memiliki ilmu bisa membantu orang yang belum tahu. Orang yang memiliki rezeki bisa membantu yang sedang membutuhkan. Orang yang lebih berpengalaman bisa membimbing mereka yang baru memulai.
Bukan menjadikannya bahan untuk merasa paling hebat.
Karena ilmu yang benar seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati. Pembahasan tentang hal ini juga pernah diangkat dalam artikel kenapa adab harus didahulukan sebelum ilmu, bahwa banyaknya pengetahuan seharusnya berjalan bersama perubahan akhlak.
Mulut Juga Perlu Dididik
Kalau mata bisa menilai dalam hati, mulut bisa membuat penilaian itu terdengar oleh orang lain.
Satu kalimat yang menurut kita hanya bercanda bisa saja menjadi luka bagi seseorang.
Satu komentar tentang kehidupan orang lain mungkin terlihat sepele bagi kita, tetapi belum tentu ringan bagi orang yang menerimanya.
Karena itu, sebelum berbicara, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri:
- Apakah perkataan ini benar-benar perlu?
- Apakah cara menyampaikannya sudah baik?
- Apakah saya sedang membantu atau hanya ingin menjatuhkan?
- Apakah saya akan tetap mengucapkannya jika berada di posisi orang tersebut?
Pertanyaan sederhana seperti itu bisa menjadi rem sebelum ucapan keluar.
Berbeda Bukan Berarti Lebih Rendah
Salah satu alasan manusia mudah merendahkan orang lain adalah karena kita terlalu sering menjadikan diri sendiri sebagai ukuran.
Kalau cara berpikir seseorang berbeda, dianggap aneh. Kalau pilihannya tidak sama, dianggap salah. Kalau kehidupannya tidak seperti kita, dianggap kurang.
Padahal perbedaan adalah bagian dari kehidupan.
Kita tidak harus menyetujui semua pilihan orang lain. Kita juga tidak harus membenarkan sesuatu yang memang keliru. Tetapi menyampaikan perbedaan dengan tetap menjaga kehormatan orang lain adalah bagian dari adab.
Berbeda pendapat boleh. Mengingatkan boleh. Memberikan nasihat juga boleh.
Yang perlu dijaga adalah jangan sampai nasihat berubah menjadi penghinaan dan koreksi berubah menjadi kesombongan.
Jangan Merasa Lebih Baik Hanya Karena Melihat Kekurangan Orang
Ini bagian yang sering luput.
Kita mungkin melihat seseorang melakukan kesalahan hari ini. Tetapi kita tidak tahu bagaimana akhir perjalanan hidupnya.
Sebaliknya, kita mungkin merasa sedang berada dalam kondisi yang baik hari ini. Tetapi bukan berarti kita akan selalu berada di posisi tersebut.
Maka daripada sibuk menghitung kekurangan orang lain, lebih baik gunakan kesempatan tersebut untuk bercermin.
Kalau melihat orang yang belum baik, semoga kita tergerak untuk mendoakan, bukan menghina.
Kalau melihat seseorang melakukan kesalahan, semoga kita bisa mengingatkan dengan cara yang baik.
Dan ketika menemukan kekurangan orang lain yang ternyata juga ada dalam diri kita, mungkin itu saat yang tepat untuk memperbaiki diri.
Adab Dimulai dari Hal yang Kelihatannya Kecil
Menjaga adab tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar.
Kadang sesederhana tidak ikut menertawakan seseorang.
Tidak menyebarkan aib.
Tidak memotong pembicaraan.
Tidak meremehkan pekerjaan orang lain.
Tidak menggunakan kelemahan seseorang sebagai bahan bercandaan.
Dan ketika kita mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain, kita memilih membantu daripada mempermalukannya.
Hal-hal kecil seperti ini justru sering menjadi cerminan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Sejalan dengan pembahasan tentang cara memuliakan orang lain, kebaikan tidak hanya terlihat dari ibadah dan ilmu, tetapi juga dari bagaimana kita memperlakukan sesama.
Belajar Melihat Orang Lain dengan Lebih Adil
Mungkin mulai sekarang kita bisa mencoba mengubah kebiasaan sederhana.
Ketika melihat kekurangan seseorang, jangan buru-buru merasa lebih baik.
Ketika melihat seseorang belum memahami sesuatu, jangan langsung mengejek.
Ketika seseorang melakukan kesalahan, jangan merasa dirinya tidak memiliki kebaikan sama sekali.
Dan ketika kita mendapatkan kesempatan untuk menasihati, lakukan dengan niat membantu, bukan untuk menunjukkan bahwa kita lebih pintar.
Karena setiap manusia sedang berada dalam perjalanan masing-masing.
Ada yang sudah jauh melangkah. Ada yang baru mulai. Ada yang sedang jatuh dan mencoba bangkit lagi.
Kita tidak tahu siapa yang lebih dekat kepada Allah. Kita juga tidak tahu bagaimana akhir perjalanan seseorang.
Penutup
Nasihat “didiklah matamu agar tidak memandang rendah orang lain, dan didiklah mulutmu agar tidak mudah merendahkan orang lain” sebenarnya mengajak kita untuk lebih sering bercermin.
Sebelum melihat kekurangan orang lain, lihat kembali diri sendiri.
Sebelum mengomentari kehidupan seseorang, pikirkan apakah ucapan kita benar-benar membawa manfaat.
Sebelum merasa lebih tinggi, ingat bahwa setiap kelebihan yang kita miliki adalah sesuatu yang patut disyukuri, bukan alasan untuk merendahkan.
Semoga Allah menjaga pandangan kita dari sikap meremehkan, menjaga lisan kita dari ucapan yang menyakiti, dan menjadikan kita pribadi yang mampu menghargai orang lain tanpa kehilangan prinsip.
Karena terkadang, akhlak bukan tentang bagaimana kita bersikap kepada orang yang kita kagumi, tetapi bagaimana kita memperlakukan orang yang menurut kita tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepada kita.
