Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam. Membina silaturahmi terhadap semua elemen umat Islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia Islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan Islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rasulullah SAW sebagai hasil dari aktivitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya Islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Rangkul yang Bisa Sejalan, Hargai yang Bisa Menghargai: Belajar Memilih Teman


Rangkul teman yang bisa sejalan dan menghargai kita

Pernah nggak kamu merasa bahwa tidak semua orang ternyata bisa berjalan bersama kita?

Awalnya mungkin terasa cocok. Bisa ngobrol lama, bercanda, saling membantu, bahkan merasa sudah seperti keluarga sendiri. Tapi semakin lama, kita mulai menyadari bahwa cara berpikir, prinsip, dan cara memperlakukan orang ternyata bisa sangat berbeda.

Di titik seperti itu, kita sering bingung. Haruskah tetap bertahan demi menjaga hubungan, atau mulai mengambil jarak?

Mungkin jawabannya tidak harus selalu ekstrem.

Kita bisa tetap menghargai seseorang tanpa harus memaksakan diri untuk selalu dekat dengannya. Kita juga bisa menyayangi seorang teman tanpa harus mengikuti semua jalan yang dia pilih.

Tidak Semua Orang Harus Sejalan dengan Kita

Salah satu hal yang perlu kita terima dalam kehidupan adalah bahwa manusia memang berbeda.

Ada orang yang cocok menjadi teman dekat. Ada yang cukup menjadi teman dalam urusan tertentu. Ada pula yang mungkin lebih baik kita kenal dengan batas yang wajar.

Itu bukan berarti kita sedang memilih-milih manusia berdasarkan siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah.

Kita hanya sedang belajar memahami bahwa setiap hubungan memiliki batas dan tempatnya masing-masing.

Teman yang baik bukan selalu orang yang memiliki semua kesamaan dengan kita. Perbedaan pendapat tetap bisa terjadi. Yang penting adalah bagaimana perbedaan tersebut disikapi.

Kalau berbeda tetapi masih bisa saling menghormati, hubungan tetap bisa berjalan.

Namun kalau perbedaan selalu berubah menjadi saling merendahkan, menyakiti, atau memaksa, mungkin kita memang perlu mengevaluasi kedekatan tersebut.

Yang Penting Bukan Banyak Teman, Tapi Ada yang Saling Menghargai

Kadang kita terlalu fokus menghitung berapa banyak orang yang ada di sekitar kita.

Padahal, banyaknya teman belum tentu menunjukkan kualitas sebuah hubungan.

Memiliki banyak kenalan memang menyenangkan. Tetapi dalam perjalanan hidup, kita akan semakin memahami bahwa yang benar-benar berharga adalah orang yang bisa menjaga rasa hormat ketika keadaan tidak selalu menyenangkan.

Dia tidak harus selalu setuju dengan kita.

Dia boleh mengingatkan ketika kita salah.

Dia boleh menyampaikan pendapat yang berbeda.

Tetapi semua itu dilakukan tanpa merendahkan harga diri kita.

Begitu pula sebaliknya. Kalau kita ingin dihargai, kita juga harus belajar memberikan penghargaan yang sama kepada orang lain.

Hal sederhana seperti mendengarkan ketika teman berbicara, tidak mempermalukan kekurangannya, menjaga rahasianya, dan tidak memanfaatkan kebaikannya sebenarnya sudah menjadi bentuk penghargaan yang sangat berarti.

Jangan Memaksakan Hubungan yang Sudah Tidak Sehat

Ada kalanya kita bertahan terlalu lama hanya karena takut kehilangan seseorang.

Kita takut dianggap berubah. Takut dibilang sombong. Takut hubungan menjadi renggang.

Padahal, menjaga hubungan tidak berarti kita harus terus-menerus mengorbankan ketenangan diri.

Kalau seseorang berkali-kali meremehkan kita, tidak menghargai batas yang sudah disampaikan, atau membuat kita terdorong melakukan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip yang kita pegang, wajar jika kita mulai mengambil jarak.

Bukan untuk membenci.

Bukan pula untuk merasa lebih baik.

Tetapi untuk menjaga diri.

Seperti yang juga pernah dibahas dalam artikel tentang belajar menjaga diri tanpa kehilangan kebaikan, kita tetap bisa menjadi orang baik sambil memiliki batas yang sehat.

Teman yang Baik Tidak Harus Selalu Membenarkan Kita

Ini bagian yang sering terlupakan.

Kita memang ingin memiliki teman yang menghargai kita. Tetapi jangan sampai arti menghargai berubah menjadi selalu membenarkan semua tindakan kita.

Teman yang benar-benar peduli justru bisa mengatakan bahwa kita sedang salah.

Bedanya, dia menyampaikan kesalahan itu dengan cara yang tetap menjaga martabat.

Dia tidak menggunakan kelemahan kita sebagai bahan ejekan. Tidak membongkar kesalahan kita untuk menjatuhkan. Dan tidak menjadikan nasihat sebagai alasan untuk merasa dirinya lebih tinggi.

Begitu pula dengan kita.

Kalau seorang teman melakukan kesalahan, kita boleh mengingatkan. Tetapi jangan menjadikan kesalahannya sebagai alasan untuk menghapus seluruh kebaikan yang pernah dia lakukan.

Manusia memang punya kekurangan. Kita juga demikian.

Belajar Melihat Orang Secara Utuh

Salah satu kesalahan dalam hubungan adalah menilai seseorang hanya dari satu sisi.

Ketika seseorang berbuat baik, kita menganggap dia sempurna. Ketika suatu hari dia melakukan kesalahan, kita langsung menganggap semua kebaikannya tidak berarti.

Padahal manusia tidak sesederhana itu.

Seseorang bisa punya kekurangan sekaligus memiliki banyak kebaikan. Seseorang juga bisa pernah mengecewakan kita tanpa berarti seluruh dirinya buruk.

Karena itu, belajar melihat seseorang secara utuh adalah bagian dari kedewasaan.

Kita bisa mengakui kesalahan seseorang tanpa harus membencinya. Kita bisa menjaga jarak tanpa harus menyebarkan keburukannya. Kita bisa tidak cocok dengan seseorang tanpa harus menjadikannya musuh.

Pandangan seperti ini juga sejalan dengan pembahasan tentang belajar melihat seseorang secara utuh: jangan terlalu dekat sampai seluruh perhatian kita hanya tertuju pada kekurangannya, tetapi jangan pula terlalu jauh sampai kita melupakan kebaikannya.

Jadilah Teman yang Juga Bisa Menghargai

Pada akhirnya, pembahasan tentang memilih teman seharusnya tidak hanya membuat kita bertanya, “Siapa yang pantas menjadi temanku?”

Tetapi juga:

“Apakah aku sendiri sudah menjadi teman yang baik bagi orang lain?”

Apakah kita hanya datang ketika membutuhkan sesuatu?

Apakah kita mudah meninggalkan teman ketika dia sedang berada dalam kesulitan?

Apakah kita mampu menjaga rahasia yang dipercayakan kepada kita?

Apakah kita bisa memberikan nasihat tanpa merendahkan?

Dan ketika teman kita berhasil, apakah kita mampu ikut bahagia tanpa merasa tersaingi?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini justru penting untuk direnungkan.

Rangkul yang Bisa Sejalan, Hargai yang Bisa Menghargai

Kita tidak perlu memaksa semua orang untuk berjalan bersama kita.

Ada orang yang memang hanya hadir untuk satu fase kehidupan. Ada yang bertahan lebih lama. Ada pula yang akhirnya mengambil jalan berbeda.

Selama hubungan tersebut masih membawa kebaikan, rawatlah.

Kalau ada perbedaan, bicarakan dengan baik.

Kalau ada kesalahan, saling mengingatkan.

Kalau hubungan mulai tidak sehat, jangan takut menetapkan batas.

Dan kalau ada seseorang yang tetap menghargai kita meskipun mengetahui kekurangan kita, jangan anggap kehadirannya sebagai sesuatu yang biasa.

Sebab pada akhirnya, teman yang berharga bukanlah orang yang selalu berada di samping kita dalam setiap keadaan.

Teman yang berharga adalah mereka yang bisa berjalan bersama ketika arah kita sejalan, saling menghormati ketika berbeda, dan tetap menjaga adab meskipun suatu hari harus mengambil jalan masing-masing.

Rangkul yang memang bisa sejalan. Hargai yang memang bisa menghargai. Dan jangan lupa, jadilah orang yang juga mampu memberikan penghargaan yang sama kepada orang lain.





Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *