Pernah nggak sih kita merasa sudah cukup rajin belajar agama, rajin hadir di majelis, bahkan merasa semakin banyak tahu, tetapi hati kok masih gampang marah, mudah meremehkan orang lain, atau ucapan kita justru sering menyakiti?
Kalau pernah merasakan hal seperti itu, mungkin ada satu hal penting yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri: apakah ilmu yang kita pelajari sudah berjalan bersama adab?
Pertanyaan ini terasa begitu dalam setelah menyimak pesan Al Habib Ridho bin Ahmad bin Yahya dalam rangkaian Maulid Agung di Masjid Al Hawi, Condet, Jakarta Timur.
Di tengah suasana majelis yang dipenuhi shalawat dan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, terselip sebuah pesan yang sebenarnya sederhana, tetapi sering kita lupakan: kemuliaan seseorang bukan hanya dilihat dari seberapa banyak ilmu yang dimilikinya, tetapi juga dari adab, akhlak, dan kecintaannya kepada Rasulullah ﷺ.
Dan kalau dipikir-pikir lagi, pesan ini memang sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini.
Ilmu Tinggi, Tapi Kalau Adab Hilang, Apa Artinya?
Zaman sekarang kita hidup di tengah banjir informasi.
Mau belajar agama? Tinggal buka smartphone.
Mau mendengar ceramah? Ada ribuan video.
Mau membaca kitab, artikel, atau penjelasan ulama? Semuanya semakin mudah ditemukan.
Masalahnya bukan lagi soal sulit mencari ilmu.
Masalahnya adalah bagaimana ilmu tersebut membentuk diri kita.
Sebab seseorang bisa saja hafal banyak nasihat tentang kesabaran, tetapi masih mudah membentak orang tua. Bisa saja memahami banyak dalil tentang ukhuwah, tetapi gemar merendahkan saudara sendiri. Bisa juga rajin menghadiri majelis, tetapi ketika berbeda pendapat langsung mencaci dan merasa paling benar.
Di sinilah adab menjadi sangat penting.
Ilmu seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin tinggi hati. Semakin banyak belajar, semestinya semakin sadar bahwa masih begitu banyak hal yang belum diketahui.
Bahkan pembahasan mengenai pentingnya adab di tengah pendidikan dan keilmuan juga pernah menjadi tema yang sangat kuat dalam artikel Gelar Sarjana Tapi Nol Adab. Intinya sama: kecerdasan tanpa akhlak bisa kehilangan makna ketika tidak diwujudkan dalam perilaku.
Kenapa Para Sahabat Begitu Menjaga Adab kepada Rasulullah ﷺ?
Salah satu pelajaran penting yang disampaikan dalam tausiyah tersebut adalah bagaimana para sahabat Rasulullah ﷺ menjaga sikap ketika berada di hadapan beliau.
Mereka bukan hanya datang untuk mendengar perkataan Rasulullah ﷺ.
Mereka belajar bagaimana cara bersikap.
Bagaimana cara berbicara.
Bagaimana cara mendengarkan.
Bagaimana cara menghormati.
Bagaimana cara menempatkan hati.
Dalam Al-Qur'an bahkan terdapat peringatan agar kaum Muslimin tidak meninggikan suara di atas suara Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa hubungan dengan Rasulullah ﷺ tidak hanya dibangun melalui pengetahuan, tetapi juga melalui penghormatan dan adab.
Pesannya terasa sederhana, tetapi dalam sekali.
Jangan sampai kita sibuk mengejar pahala, tetapi lupa menjaga sikap.
Jangan sampai kita merasa sedang memperjuangkan agama, tetapi lisan justru membuat orang lain terluka.
Jangan sampai kita merasa semakin dekat dengan Allah, tetapi semakin jauh dari akhlak yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Rahasia Kekuatan Generasi Sahabat Bukan Sekadar Jumlah
Kalau kita melihat sejarah Islam, ada satu hal yang menarik.
Generasi sahabat bukanlah generasi yang sejak awal hidup dalam kondisi penuh kemewahan atau memiliki kekuatan material tanpa batas.
Mereka justru tumbuh dari masyarakat yang sebelumnya berada dalam kondisi jahiliyah.
Tetapi setelah mendapatkan didikan Rasulullah ﷺ, mereka berubah menjadi generasi yang memiliki karakter, keberanian, kedisiplinan, pengorbanan, dan ketundukan kepada Allah SWT.
Inilah salah satu pesan yang sangat kuat dari tausiyah Habib Ridho Yahya: kekuatan mereka lahir dari keterikatan hati kepada Allah dan Rasulullah ﷺ.
Mereka belajar, lalu tunduk.
Mereka mengetahui, lalu mengamalkan.
Mereka mendapatkan perintah, lalu berusaha menjalankannya.
Bukan sibuk mencari alasan.
Bukan menunggu semuanya sempurna.
Bukan pula menjadikan ilmu sebagai alat untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Adab Bukan Berarti Tidak Boleh Bertanya
Perlu dipahami juga, mendahulukan adab bukan berarti kita dilarang bertanya atau berpikir kritis.
Justru dalam proses belajar, bertanya adalah bagian penting dari perjalanan mencari ilmu.
Namun ada perbedaan besar antara bertanya karena ingin memahami dengan bertanya karena ingin menjatuhkan.
Ada perbedaan antara berdiskusi untuk mencari kebenaran dengan berdebat hanya untuk memenangkan ego.
Adab membuat ilmu tetap berada di jalurnya.
Kita boleh berbeda pendapat, tetapi tidak harus saling merendahkan.
Kita boleh tidak setuju, tetapi tidak perlu menghina.
Kita boleh menyampaikan koreksi, tetapi tetap menjaga kehormatan orang lain.
Inilah bagian yang sering menjadi tantangan di era media sosial.
Media Sosial Membuat Ujian Adab Semakin Berat
Coba lihat kolom komentar hari ini.
Seseorang berbeda pendapat sedikit saja, langsung muncul serangan.
Seseorang salah mengucapkan sesuatu, langsung dipermalukan.
Potongan video beberapa detik bisa menjadi bahan penghakiman.
Padahal kita tidak mengetahui seluruh keadaan seseorang.
Di sinilah ilmu dan adab kembali diuji.
Karena orang yang benar-benar memahami nilai adab akan berpikir sebelum mengetik.
"Apakah kalimat ini perlu?"
"Apakah ini akan memperbaiki keadaan?"
"Apakah cara saya menyampaikan sudah baik?"
Tiga pertanyaan sederhana seperti itu mungkin terlihat kecil, tetapi bisa mencegah banyak masalah.
Maulid Jangan Berhenti di Acara, Bawa Pulang Akhlaknya
Momentum Maulid seharusnya tidak berhenti ketika acara selesai.
Kita datang ke majelis, mendengarkan tausiyah, membaca shalawat, lalu pulang.
Tetapi apa yang berubah setelah itu?
Pertanyaan inilah yang seharusnya kita bawa pulang.
Kalau sebelumnya kita mudah membentak orang tua, apakah setelah mendengar tausiyah kita mulai belajar menahan suara?
Kalau sebelumnya kita mudah meremehkan orang lain, apakah sekarang kita mulai belajar menghargai?
Kalau sebelumnya kita jarang bershalawat, apakah sekarang hati mulai rindu untuk memperbanyak shalawat?
Kalau sebelumnya kita belajar agama hanya untuk memenangkan perdebatan, apakah sekarang kita mulai belajar untuk memperbaiki diri?
Karena tujuan majelis bukan sekadar membuat kita tahu lebih banyak.
Tujuannya adalah membuat kita menjadi lebih baik.
Semangat tersebut juga terasa dalam rangkaian Maulid Agung Nabi Muhammad SAW di Masjid Al Hawi Condet, yang mengajak jamaah bukan hanya memperingati Maulid, tetapi juga membawa kecintaan kepada Rasulullah ﷺ ke dalam kehidupan sehari-hari.
Mulai dari Adab yang Paling Sederhana
Kita tidak perlu menunggu menjadi ulama untuk mulai memperbaiki adab.
Tidak perlu menunggu punya banyak ilmu.
Tidak perlu menunggu menjadi orang yang sempurna.
Mulai saja dari rumah.
Hormati orang tua.
Jaga ucapan kepada pasangan dan keluarga.
Hormati guru.
Jangan meremehkan orang yang masih belajar.
Berikan kesempatan orang lain untuk berbicara.
Kalau salah, berani meminta maaf.
Kalau mendapatkan ilmu, berusaha mengamalkannya.
Kalau mendapat nasihat, jangan langsung sibuk mencari kesalahan orang yang menasihati.
Dan yang tidak kalah penting, jangan merasa diri kita lebih baik hanya karena mengetahui sesuatu yang belum diketahui orang lain.
Ilmu dan Adab Harus Berjalan Bersama
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan "adab dulu atau ilmu dulu?" tidak perlu dijadikan alasan untuk mempertentangkan keduanya.
Kita membutuhkan ilmu.
Tetapi kita juga membutuhkan adab agar ilmu tersebut membawa manfaat.
Kita membutuhkan kecerdasan.
Tetapi kita membutuhkan kerendahan hati agar kecerdasan tidak berubah menjadi kesombongan.
Kita membutuhkan pengetahuan tentang agama.
Tetapi kita juga membutuhkan akhlak Rasulullah ﷺ agar pengetahuan tersebut terlihat dalam kehidupan nyata.
Ilmu menunjukkan jalan, sementara adab mengajarkan bagaimana kita berjalan di atasnya.
Pesan yang Layak Kita Renungkan
Tausiyah Habib Ridho Yahya pada akhirnya bukan hanya tentang sejarah para sahabat.
Pesannya justru sangat dekat dengan kehidupan kita sekarang.
Kita semua sedang belajar.
Kita semua masih punya kekurangan.
Kita semua masih perlu memperbaiki diri.
Maka jangan sampai semakin banyak ilmu yang kita dapat justru membuat hati semakin keras.
Jangan sampai semakin sering hadir di majelis membuat kita merasa lebih suci daripada orang lain.
Dan jangan sampai kecintaan kepada Rasulullah ﷺ hanya terdengar dalam ucapan, tetapi tidak terlihat dalam akhlak.
Kalau hari ini kita belum mampu memperbaiki semuanya, tidak masalah.
Mulai satu per satu.
Mulai dari ucapan.
Mulai dari cara menghormati orang tua.
Mulai dari cara memperlakukan guru.
Mulai dari cara berbicara kepada orang yang berbeda pendapat.
Mulai dari cara menggunakan media sosial.
Karena bisa jadi, perubahan besar dalam hidup kita memang dimulai dari satu hal yang sederhana: belajar kembali tentang adab.
Penutup
Pesan dari Habib Ridho Yahya ini layak menjadi bahan introspeksi untuk siapa saja yang sedang menuntut ilmu.
Jangan hanya bertanya, "Sudah berapa banyak ilmu yang saya punya?"
Coba tambahkan satu pertanyaan lagi:
"Sudah sejauh mana ilmu itu membuat saya lebih beradab?"
Semoga setiap ilmu yang kita pelajari menjadi ilmu yang bermanfaat, setiap majelis yang kita datangi membawa perubahan, dan setiap shalawat yang kita lantunkan semakin menumbuhkan cinta kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ.
Karena pada akhirnya, bukan sekadar banyaknya ilmu yang membuat seseorang mulia.
Ilmu yang dihiasi adab, diamalkan dengan ikhlas, dan diwujudkan dalam akhlak itulah yang insyaAllah menjadi bekal berharga dalam perjalanan hidup.
Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala ali Sayyidina Muhammad.
