Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam. Membina silaturahmi terhadap semua elemen umat Islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia Islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan Islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rasulullah SAW sebagai hasil dari aktivitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya Islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Ketika Semuanya Tak Lagi Seperti Dulu, Belajarlah Terbiasa Tanpa Semuanya


Ilustrasi seseorang belajar terbiasa tanpa sesuatu yang dulu selalu ada

Ada masa ketika sesuatu terasa begitu dekat dengan kehidupan kita. Setiap hari ada, setiap waktu terbiasa, bahkan tanpa sadar kita menganggap semuanya akan terus berjalan seperti itu.

Sampai akhirnya keadaan berubah.

Seseorang pergi. Hubungan tidak lagi sama. Kebiasaan berubah. Lingkungan berganti. Atau mungkin sesuatu yang dulu membuat kita bahagia ternyata sudah tidak bisa kita miliki seperti sebelumnya.

Di titik seperti itu, hati sering bertanya, “Kenapa semuanya berubah?”

Padahal, mungkin yang perlu kita pelajari bukan bagaimana membuat semuanya kembali seperti dulu, tetapi bagaimana menerima bahwa tidak semua hal memang ditakdirkan untuk tetap sama.

Tidak Semua yang Berubah Harus Kita Kejar Kembali

Kita sering menghabiskan banyak energi untuk mengembalikan sesuatu ke keadaan sebelumnya.

Kita mengulang percakapan lama. Mengingat masa-masa yang pernah membuat bahagia. Membuka kembali kenangan. Bahkan terkadang berharap seseorang kembali menjadi seperti dulu.

Masalahnya, manusia berubah. Keadaan berubah. Prioritas berubah. Dan kita sendiri sebenarnya juga berubah.

Apa yang dulu terasa cocok belum tentu masih cocok untuk kehidupan kita hari ini.

Karena itu, menerima perubahan bukan berarti kita tidak peduli. Menerima berarti kita mulai memahami bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa kita kendalikan.

Belajar Terbiasa Tanpa Sesuatu yang Dulu Selalu Ada

Bagian paling sulit dari kehilangan bukan selalu tentang apa yang hilang, tetapi tentang kebiasaan yang ikut hilang bersamanya.

Dulu ada seseorang yang bisa diajak bercerita. Sekarang tidak lagi.

Dulu ada rutinitas tertentu yang selalu dilakukan. Sekarang semuanya berubah.

Dulu kita merasa ada tempat untuk pulang ketika sedang lelah. Sekarang kita harus belajar menemukan ketenangan dengan cara yang berbeda.

Awalnya memang terasa asing.

Tetapi manusia punya kemampuan untuk beradaptasi. Sesuatu yang hari ini terasa berat, perlahan bisa menjadi bagian dari kehidupan baru yang kita jalani.

Bukan karena kita melupakan semuanya, tetapi karena hati mulai belajar menerima kenyataan.

Melepaskan Bukan Berarti Tidak Pernah Menyayangi

Kadang kita menganggap kalau sudah benar-benar melepaskan, berarti semua kenangan harus dilupakan.

Padahal tidak selalu begitu.

Kita boleh mengingat seseorang tanpa harus kembali kepadanya. Kita boleh mengenang masa lalu tanpa harus tinggal di dalamnya. Kita juga boleh berterima kasih atas sesuatu yang pernah hadir tanpa harus memaksanya tetap ada.

Justru kedewasaan sering terlihat ketika seseorang mampu menghargai masa lalu tanpa menjadikan masa lalu sebagai tempat tinggal.

Kalau ada sesuatu yang memang masih bisa diperbaiki, tentu kita boleh berusaha. Kalau ada kesalahan yang perlu dimintai maaf, jangan gengsi untuk mengakuinya.

Tetapi setelah usaha dilakukan, ada saatnya kita juga perlu belajar menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Jangan Memaksa Semua Hal Tetap Sama

Salah satu sumber kelelahan hati adalah keinginan agar semua orang tetap seperti yang kita kenal.

Kita ingin teman tetap dekat. Ingin hubungan tetap hangat. Ingin keluarga selalu memahami kita. Ingin keadaan terus berjalan sesuai rencana.

Sayangnya, hidup tidak bekerja seperti itu.

Ada orang yang datang untuk menemani perjalanan kita dalam waktu yang panjang. Ada pula yang hanya hadir pada satu fase tertentu.

Keduanya tetap bisa memiliki makna.

Jadi, ketika sesuatu berubah, jangan langsung menganggap bahwa semuanya menjadi sia-sia. Bisa jadi, sesuatu tersebut memang sudah selesai menjalankan perannya dalam kehidupan kita.

Kalau Hati Sulit Menerima, Beri Waktu

Kita tidak harus langsung kuat.

Tidak perlu berpura-pura baik-baik saja ketika hati memang sedang berat.

Kalau hari ini masih terasa sedih, akui saja. Kalau masih membutuhkan waktu untuk terbiasa, berikan waktu tersebut. Yang penting, jangan sampai kesedihan membuat kita berhenti menjalani kehidupan.

Dalam proses itu, kita juga perlu belajar mengendalikan emosi. Ketika sedang marah atau kecewa, tidak semua hal harus langsung diucapkan. Kadang mengambil jeda justru membantu kita melihat keadaan dengan lebih tenang. Kamu juga bisa membaca cara menenangkan diri ketika sedang marah agar tidak mengambil keputusan hanya karena emosi sesaat.

Hati juga membutuhkan proses.

Jangan Mengukur Hidup dari Apa yang Sudah Pergi

Ada kalanya kita terlalu fokus kepada sesuatu yang hilang sampai lupa melihat apa yang masih Allah berikan.

Kita kehilangan satu hal, lalu merasa hidup kita kehilangan semuanya.

Padahal masih ada keluarga. Masih ada teman. Masih ada kesempatan untuk belajar. Masih ada kesehatan, waktu, rezeki, dan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Kita hanya terlalu sibuk melihat pintu yang tertutup sampai lupa bahwa mungkin ada pintu lain yang sedang terbuka.

Belajar menerima keadaan bukan berarti berhenti memiliki harapan. Justru kita sedang belajar membedakan antara sesuatu yang memang harus diperjuangkan dan sesuatu yang sudah waktunya diserahkan kepada Allah.

Seperti pembahasan tentang belajar ikhlas ketika hidup tidak berjalan sesuai keinginan, ada bagian dari kehidupan yang memang tidak bisa kita atur sesuai kemauan sendiri.

Yang Pergi Tidak Harus Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Jangan sampai karena seseorang pergi, kita ikut kehilangan semangat hidup.

Jangan sampai karena sebuah hubungan berakhir, kita merasa tidak lagi berharga.

Jangan sampai karena keadaan berubah, kita menganggap masa depan sudah tidak memiliki harapan.

Sesuatu boleh pergi dari hidup kita, tetapi jangan biarkan kepergiannya mengambil seluruh ketenangan hati kita.

Kita tetap punya kehidupan yang harus dijalani.

Tetap ada diri sendiri yang perlu dijaga.

Tetap ada kewajiban yang harus dilakukan.

Dan yang paling utama, tetap ada Allah yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Terbiasa Bukan Berarti Tidak Lagi Peduli

Mungkin suatu hari nanti kita bisa melewati tempat yang dulu penuh kenangan tanpa merasa sesakit sebelumnya.

Mungkin kita bisa mendengar nama seseorang tanpa hati langsung terasa berat.

Mungkin kita bisa mengingat masa lalu sambil tersenyum karena akhirnya memahami bahwa semuanya memang pernah menjadi bagian dari perjalanan.

Itulah proses.

Terbiasa bukan berarti tidak pernah peduli.

Terbiasa berarti kita sudah belajar menjalani hidup tanpa terus menggantungkan ketenangan kepada sesuatu yang sudah berubah.

Penutup: Tidak Semua yang Hilang Harus Dicari Kembali

Kalimat pada gambar tersebut mengingatkan kita pada satu hal sederhana: ketika semuanya sudah tidak seperti biasanya, mungkin sudah waktunya kita belajar terbiasa tanpa semuanya.

Bukan dengan membenci masa lalu.

Bukan dengan berpura-pura tidak pernah peduli.

Dan bukan pula dengan memaksa hati melupakan semuanya dalam satu malam.

Jalani saja prosesnya.

Ambil pelajarannya. Syukuri apa yang pernah hadir. Perbaiki apa yang masih bisa diperbaiki. Maafkan jika memang perlu memaafkan. Kemudian lanjutkan perjalanan.

Karena hidup akan terus berjalan.

Dan mungkin, ketenangan yang kita cari bukan berasal dari kembalinya semua hal seperti dulu, tetapi dari kemampuan hati untuk menerima bahwa hari ini memang sudah berbeda.

Kalau semuanya tak lagi seperti dulu, tidak apa-apa. Belajarlah menjalani hari ini dengan hati yang lebih lapang.





Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *