Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam. Membina silaturahmi terhadap semua elemen umat Islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia Islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan Islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rasulullah SAW sebagai hasil dari aktivitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya Islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Musibah Itu Mengecil Kalau Dirahasiakan, Benarkah? Ini Makna yang Perlu Dipahami


Ilustrasi chibi seorang Muslim menghadapi musibah dengan sabar

Ada sebuah nasihat yang terdengar sederhana, tetapi cukup dalam untuk direnungkan:

“Musibah itu mengecil kalau dirahasiakan.”

Kalimat ini bukan berarti setiap masalah harus disimpan sendiri sampai hati terasa penuh. Bukan juga berarti seseorang tidak boleh bercerita ketika sedang berada dalam kesulitan.

Yang ingin disampaikan adalah tentang bagaimana kita memperlakukan musibah. Sebab, ada masalah yang justru terasa semakin berat ketika terus-menerus diceritakan kepada banyak orang, sementara ada pula masalah yang memang membutuhkan bantuan dan nasihat dari orang lain.

Jadi, persoalannya bukan sekadar “harus cerita atau tidak?”, tetapi kepada siapa kita bercerita, untuk tujuan apa, dan seberapa banyak yang perlu disampaikan.

Tidak Semua Musibah Harus Menjadi Konsumsi Banyak Orang

Ketika mendapatkan masalah, manusia biasanya memiliki dorongan untuk bercerita.

Itu sangat wajar.

Kita ingin didengar. Kita ingin dimengerti. Kadang kita hanya membutuhkan seseorang yang berkata, “Tenang, kamu tidak sendirian.”

Namun, ada perbedaan antara mencari tempat untuk mendapatkan dukungan dengan menjadikan masalah sebagai konsumsi banyak orang.

Semakin banyak orang mengetahui persoalan pribadi kita, semakin banyak pula komentar yang mungkin muncul.

Ada yang memberikan nasihat.

Ada yang menyalahkan.

Ada yang membandingkan dengan pengalaman mereka.

Bahkan ada pula yang menjadikan cerita tersebut sebagai bahan pembicaraan kepada orang lain.

Masalah yang awalnya hanya terjadi dalam kehidupan kita akhirnya menjadi semakin besar karena terlalu banyak orang ikut masuk ke dalamnya.

Diam Bukan Berarti Memendam Semuanya

Di sinilah kita perlu memahami makna “dirahasiakan” dengan benar.

Menjaga musibah bukan berarti menolak bantuan.

Kalau seseorang sedang menghadapi persoalan keluarga, masalah pekerjaan, kesulitan ekonomi, konflik dengan orang lain, atau persoalan pribadi yang berat, tentu ada keadaan ketika ia membutuhkan orang yang dipercaya.

Bercerita kepada orang tua, pasangan, guru, ulama, sahabat yang amanah, atau orang yang memang memiliki kemampuan untuk membantu bukanlah sesuatu yang sama dengan mengumbar masalah.

Justru terkadang meminta bantuan adalah bagian dari ikhtiar.

Yang perlu dihindari adalah kebiasaan menceritakan masalah kepada siapa saja tanpa mempertimbangkan manfaat dan akibatnya.

Kalau ingin memahami bagaimana Islam memandang kesabaran ketika menghadapi kesulitan, pembahasan tentang derajat sabar menurut tasawuf juga menarik untuk dibaca.

Kenapa Musibah Bisa Terasa Lebih Berat Setelah Diceritakan?

Ada satu hal sederhana yang sering tidak kita sadari.

Ketika terus mengulang cerita tentang masalah yang sama, pikiran kita juga terus kembali kepada masalah tersebut.

Hari ini kita menceritakannya kepada teman.

Besok kita ceritakan lagi kepada orang lain.

Lusa kita membuka kembali percakapan lama dan mengingat kejadian tersebut.

Akhirnya, masalah yang sebenarnya sudah terjadi beberapa waktu lalu tetap terasa seperti sedang berlangsung.

Bukan berarti bercerita selalu buruk. Namun, kalau bercerita hanya membuat kita semakin marah, semakin sedih, atau semakin membenci keadaan, mungkin sudah waktunya berhenti sejenak.

Tidak semua luka harus terus disentuh agar kita merasa sedang memprosesnya.

Jaga Aib, Bukan Berarti Menolak Nasihat

Salah satu sikap yang perlu dilatih ketika mendapatkan musibah adalah menjaga sesuatu yang memang tidak perlu diketahui orang banyak.

Kita tidak harus menjelaskan seluruh masalah hidup kepada semua orang.

Tidak semua orang perlu tahu alasan kita sedang diam.

Tidak semua orang perlu mengetahui konflik yang sedang kita hadapi.

Dan tidak semua masalah membutuhkan penjelasan di media sosial.

Kadang kita terlalu sibuk menjelaskan keadaan kepada manusia sampai lupa bahwa Allah sudah mengetahui semuanya.

Padahal, ada ketenangan tersendiri ketika kita menyadari bahwa kita tidak harus mendapatkan pengakuan dari semua orang.

Kalau memang ada kesalahan, kita perbaiki. Kalau membutuhkan nasihat, kita cari orang yang tepat. Kalau membutuhkan bantuan, kita meminta bantuan.

Selebihnya, tidak semua hal harus dipertontonkan.

Ada Masalah yang Memang Harus Dibicarakan

Meski begitu, jangan sampai nasihat untuk merahasiakan musibah justru membuat seseorang takut mencari pertolongan.

Ini penting.

Kalau masalah sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, menimbulkan kerugian, berkaitan dengan keamanan, atau membutuhkan keputusan yang tidak mampu kita ambil sendiri, jangan memaksakan diri untuk menghadapinya sendirian.

Meminta bantuan bukan tanda kelemahan.

Justru kita perlu cukup bijak untuk mengetahui kapan harus diam dan kapan harus berbicara.

Rahasia yang dijaga dengan bijak bisa menjadi bentuk kehormatan. Tetapi masalah yang membutuhkan pertolongan harus disampaikan kepada orang yang mampu membantu.

Musibah Tidak Selalu Harus Dijelaskan kepada Manusia

Ada saatnya seseorang hanya ingin duduk sendiri, berdoa, dan menangis di hadapan Allah.

Tidak ada kamera.

Tidak ada status.

Tidak ada unggahan.

Tidak ada kebutuhan untuk menjelaskan kepada siapa pun.

Hanya seorang hamba dengan segala kelemahannya dan Allah yang mengetahui apa yang ada di dalam hatinya.

Dalam keadaan seperti itu, seseorang bisa belajar bahwa tidak semua beban harus mendapatkan respons dari manusia.

Ada keluhan yang lebih baik dibawa dalam doa.

Ada kesedihan yang cukup Allah yang mengetahui.

Dan ada perjuangan yang tidak perlu mendapatkan tepuk tangan dari siapa pun.

Hal semacam ini juga sejalan dengan pengingat bahwa Allah lebih tahu isi hati kita, bahkan ketika manusia tidak memahami apa yang sedang kita perjuangkan.

Jangan Sampai Musibah Membuat Kita Kehilangan Kendali

Musibah memang bisa membuat seseorang kecewa, marah, sedih, bahkan bingung.

Itu bagian dari manusia.

Yang perlu dijaga adalah jangan sampai emosi membuat kita mengambil keputusan yang justru memperpanjang masalah.

Sebelum menceritakan sesuatu, coba tanyakan kepada diri sendiri:

  • Apakah orang ini memang bisa membantu?
  • Apakah cerita ini perlu disampaikan seluruhnya?
  • Apakah setelah bercerita masalah akan menjadi lebih baik?
  • Apakah aku sedang mencari solusi atau hanya ingin meluapkan emosi?

Empat pertanyaan sederhana ini bisa membantu kita lebih bijak dalam menjaga cerita pribadi.

Rahasiakan yang Perlu, Ceritakan yang Membantu

Pada akhirnya, “musibah itu mengecil kalau dirahasiakan” tidak harus dipahami secara mutlak.

Yang lebih penting adalah belajar mengendalikan bagaimana kita membawa sebuah musibah.

Jangan menjadikan masalah sebagai bahan untuk mencari perhatian. Jangan pula membuka aib sendiri hanya demi mendapatkan simpati sesaat.

Tetapi jangan juga merasa harus kuat sendirian ketika sebenarnya membutuhkan pertolongan.

Rahasiakan hal yang memang menjadi privasi. Ceritakan kepada orang yang tepat ketika membutuhkan nasihat. Mintalah bantuan ketika memang diperlukan. Dan bawa bagian terdalam dari kesedihan itu kepada Allah.

Sebab, terkadang masalah bukan benar-benar menjadi kecil karena kita menyembunyikannya.

Masalah terasa lebih ringan karena kita berhenti membuatnya semakin besar di hadapan manusia, lalu mulai belajar menyerahkannya kepada Allah sambil tetap melakukan ikhtiar.

Dan mungkin, di situlah letak ketenangan yang sebenarnya.





Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *