Ada satu nasihat sederhana yang mungkin sering kita dengar, tetapi ternyata maknanya cukup dalam:
“Jika berbuat baik, berarti kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri.”
Sekilas kalimat ini terdengar seperti nasihat biasa. Berbuat baik kepada orang lain memang sesuatu yang dianjurkan. Tetapi kalau direnungkan lebih jauh, ternyata kebaikan tidak hanya memberikan manfaat kepada orang yang menerimanya.
Kebaikan juga perlahan-lahan membentuk siapa diri kita.
Cara kita memperlakukan orang lain, cara kita menahan ucapan, cara kita membantu tanpa banyak bicara, bahkan cara kita memilih untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan, semuanya meninggalkan pengaruh kepada hati kita sendiri.
Kebaikan Tidak Selalu Kembali dalam Bentuk yang Sama
Kadang kita berbuat baik kepada seseorang, lalu berharap suatu hari orang tersebut akan melakukan hal yang sama kepada kita.
Itu manusiawi.
Kita membantu ketika dia kesulitan. Kita menjaga perasaannya. Kita memberikan waktu. Kita berusaha memahami keadaannya.
Tetapi ternyata ketika kita membutuhkan sesuatu, dia tidak ada.
Di sinilah sebagian orang mulai berpikir, “Untuk apa aku dulu terlalu baik kepadanya?”
Padahal, kebaikan tidak selalu kembali melalui orang yang sama.
Orang yang pernah kita bantu mungkin tidak membalas. Orang yang pernah kita perlakukan dengan baik mungkin bahkan melupakan semuanya.
Namun bukan berarti kebaikan tersebut menjadi sia-sia.
Karena sejak awal, nilai sebuah kebaikan tidak seharusnya hanya diukur dari apa yang kita terima kembali dari manusia.
Berbuat Baik Juga Sedang Membentuk Dirimu
Coba perhatikan.
Ketika kamu memilih membantu seseorang, kamu sedang melatih kepedulian.
Ketika kamu memilih memaafkan, kamu sedang belajar melepaskan dendam.
Ketika kamu menahan ucapan yang bisa menyakiti orang lain, kamu sedang belajar mengendalikan diri.
Ketika kamu tetap jujur meskipun ada kesempatan untuk berbohong, kamu sedang membangun karakter.
Artinya, setiap kebaikan yang kamu lakukan sebenarnya meninggalkan sesuatu di dalam dirimu.
Mungkin orang lain tidak melihat proses tersebut. Tetapi kamu perlahan menjadi pribadi yang berbeda.
Hati menjadi lebih peka. Lisan menjadi lebih terjaga. Cara berpikir menjadi lebih matang. Dan kita mulai memahami bahwa hidup tidak selalu harus berisi tentang apa yang bisa kita dapatkan.
Jangan Berbuat Baik Hanya Karena Ingin Dipuji
Di zaman sekarang, kebaikan juga mudah sekali berubah menjadi sesuatu yang ingin diperlihatkan.
Membantu orang lalu ingin diketahui. Bersedekah lalu ingin mendapatkan pengakuan. Melakukan sesuatu yang baik lalu kecewa ketika tidak ada yang memberikan apresiasi.
Padahal, kalau setiap kebaikan harus mendapatkan tepuk tangan, hati kita akan mudah lelah.
Akan selalu ada kebaikan yang tidak diketahui orang lain.
Ada bantuan yang tidak pernah dipublikasikan. Ada doa yang tidak pernah diketahui siapa pun. Ada pengorbanan yang hanya kita dan Allah yang mengetahuinya.
Justru di situlah kita belajar bahwa berbuat baik tidak harus selalu menjadi cara untuk mendapatkan pengakuan.
Kita bisa membaca kembali renungan tentang tetap berbuat baik meski kebaikan tidak selalu kembali, karena dalam kehidupan memang tidak semua kebaikan mendapatkan respons seperti yang kita harapkan.
Berbuat Baik Bukan Berarti Membiarkan Dirimu Disakiti
Ada satu hal yang juga perlu dipahami.
Menjadi baik bukan berarti harus selalu mengalah.
Bukan berarti kamu harus membiarkan orang lain memanfaatkanmu. Bukan berarti kamu tidak boleh berkata “tidak”. Dan bukan berarti kamu harus terus berada dalam hubungan yang membuatmu terluka.
Kamu tetap boleh membuat batas.
Kamu boleh menjaga jarak dari seseorang yang terus menyakitimu. Kamu boleh menolak sesuatu yang memang tidak sanggup kamu lakukan. Kamu bahkan boleh memilih diam daripada memperpanjang pertengkaran.
Yang perlu dijaga adalah caranya.
Menjaga diri tidak harus dilakukan dengan kebencian. Menjauh tidak harus disertai penghinaan. Menolak tidak harus dengan perkataan kasar.
Inilah mengapa akhlak tetap penting bahkan ketika kita sedang kecewa kepada seseorang. Kebaikan bukan hanya tentang apa yang kita berikan, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan manusia.
Hal ini juga sejalan dengan pembahasan tentang orang baik yang tercermin dari cara memuliakan orang lain.
Kalau Tidak Dihargai, Apakah Kebaikanmu Berarti Sia-Sia?
Tidak.
Setidaknya jangan terburu-buru menyimpulkan seperti itu.
Manusia memang bisa lupa. Manusia bisa berubah. Bahkan orang yang kita anggap dekat pun bisa mengecewakan.
Tetapi pengalaman tersebut bisa mengajarkan kita sesuatu.
Kita belajar bahwa membantu orang perlu dilakukan dengan bijaksana. Kita belajar bahwa kepercayaan harus diberikan dengan pertimbangan. Kita belajar bahwa memiliki hati yang baik tetap membutuhkan batas yang sehat.
Jadi, bukan kebaikannya yang harus dibuang.
Cara kita dalam memberikan kebaikanlah yang perlu diperbaiki.
Kebaikan Membuat Kita Tidak Mudah Menjadi Pahit
Salah satu bahaya terbesar setelah sering kecewa adalah berubah menjadi orang yang tidak lagi percaya kepada siapa pun.
Dulu mudah membantu, sekarang semuanya dicurigai.
Dulu mudah peduli, sekarang memilih tidak peduli.
Dulu berusaha memahami orang lain, sekarang merasa semua orang pasti punya niat buruk.
Pengalaman memang seharusnya membuat kita lebih bijaksana. Tetapi jangan sampai pengalaman buruk membuat hati kita kehilangan kebaikannya.
Kita boleh menjadi lebih hati-hati tanpa menjadi keras.
Kita boleh belajar dari kesalahan tanpa membenci semua orang.
Kita boleh menjaga diri tanpa kehilangan rasa peduli.
Berbuat Baik Karena Itu Pilihan yang Ingin Kamu Pertahankan
Pada akhirnya, ada sesuatu yang jauh lebih menenangkan daripada terus menghitung balasan manusia.
Yaitu menyadari bahwa kita ingin menjadi orang yang tetap baik karena itulah nilai yang ingin kita pertahankan dalam diri.
Kalau seseorang membalas kebaikanmu, syukuri.
Kalau seseorang tidak menghargainya, ambil pelajarannya.
Kalau ternyata kamu pernah salah dalam membantu seseorang, perbaiki caramu.
Tetapi jangan sampai satu pengalaman buruk membuatmu menyesal telah menjadi orang baik.
Sebab kebaikan tidak hanya mengubah keadaan orang lain. Kebaikan juga sedang mengubah dirimu, sedikit demi sedikit.
Jadi, Tetaplah Berbuat Baik
Mungkin hari ini kebaikanmu belum terlihat hasilnya.
Mungkin orang yang kamu bantu tidak pernah mengucapkan terima kasih.
Mungkin perhatianmu dianggap biasa saja.
Tidak apa-apa.
Berbuat baik bukan berarti kamu harus selalu mendapatkan balasan yang sama. Ada nilai yang lebih dalam dari sekadar menerima kembali apa yang sudah kita berikan.
Jaga niat. Perbaiki cara. Tetapkan batas. Dan jangan biarkan kekecewaan membuatmu kehilangan akhlak yang baik.
Karena ketika kamu berbuat baik, sebenarnya kamu bukan hanya sedang membantu orang lain.
Kamu juga sedang membentuk dirimu sendiri menjadi manusia yang lebih baik.
Dan mungkin itulah salah satu makna paling indah dari nasihat tersebut: ketika kebaikanmu memberi manfaat kepada orang lain, pada saat yang sama kebaikan itu juga sedang kembali kepadamu dalam bentuk hati yang lebih lembut, akhlak yang lebih baik, dan diri yang semakin matang.
