Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam. Membina silaturahmi terhadap semua elemen umat Islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia Islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan Islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rasulullah SAW sebagai hasil dari aktivitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya Islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Manusia Gak Akan Pernah Paham Sampai Berada di Situasi yang Sama, Ini Pelajaran yang Sering Kita Lupakan


Manusia gak akan pernah paham sampai berada di situasi yang sama

Pernah nggak kamu merasa sudah menjelaskan sesuatu dengan sebaik mungkin, tetapi orang lain tetap tidak mengerti?

Kamu sudah menceritakan apa yang terjadi. Sudah menjelaskan alasanmu. Bahkan mungkin sudah berusaha menunjukkan bagaimana rasanya berada di posisi tersebut.

Tapi tetap saja, mereka berkata, “Kalau aku jadi kamu, mungkin aku nggak akan seperti itu.”

Di situlah kita sering lupa bahwa setiap manusia menjalani kehidupan dengan pengalaman yang berbeda.

Seseorang yang belum pernah merasakan kehilangan mungkin tidak benar-benar memahami bagaimana rasanya kehilangan. Orang yang belum pernah mengalami tekanan ekonomi mungkin sulit mengerti mengapa seseorang begitu berhati-hati menggunakan uang. Begitu juga orang yang belum pernah berada dalam sebuah keadaan tertentu, sering kali hanya bisa menilai dari apa yang terlihat.

Bukan selalu karena mereka tidak peduli.

Kadang memang karena mereka belum pernah berada di posisi yang sama.

Kita Sering Menilai Sesuatu dari Sudut Pandang Sendiri

Manusia secara alami melihat dunia berdasarkan pengalaman yang pernah dilaluinya.

Ketika kita melihat seseorang mengambil keputusan yang menurut kita aneh, biasanya kita langsung membandingkannya dengan pengalaman sendiri.

“Kalau aku sih nggak akan melakukan itu.”

“Kenapa dia harus sesedih itu?”

“Masalah seperti itu sebenarnya kecil.”

Kalimat-kalimat seperti ini terdengar sederhana. Namun tanpa sadar, kita sedang menggunakan ukuran hidup kita untuk menilai kehidupan orang lain.

Padahal setiap orang memiliki kapasitas, pengalaman, kondisi keluarga, lingkungan, masalah, dan perjalanan hidup yang berbeda.

Hal yang menurut kita ringan belum tentu terasa ringan bagi orang lain.

Dan sesuatu yang menurut kita mudah belum tentu bisa dilakukan dengan mudah oleh seseorang yang sedang menghadapi keadaan berbeda.

Tidak Semua Perjuangan Terlihat dari Luar

Salah satu kesalahan manusia adalah terlalu mudah menilai sesuatu berdasarkan apa yang terlihat.

Kita melihat seseorang masih tersenyum, lalu menganggap hidupnya baik-baik saja.

Kita melihat seseorang masih bekerja, lalu berpikir dia tidak sedang menghadapi masalah.

Kita melihat seseorang terlihat tenang, lalu mengira tidak ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.

Padahal, manusia tidak selalu menunjukkan seluruh isi hatinya.

Ada orang yang memilih diam ketika sedang menghadapi masalah. Ada yang tetap bercanda agar keluarganya tidak khawatir. Ada yang terlihat kuat karena memang tidak punya pilihan lain selain terus berjalan.

Itulah mengapa kita perlu berhati-hati ketika menilai kehidupan seseorang.

Kita hanya melihat sebagian kecil dari ceritanya.

Empati Dimulai dari Kesadaran Bahwa Kita Tidak Mengetahui Semuanya

Empati bukan berarti kita harus mengalami semua masalah yang dialami orang lain.

Kita juga tidak mungkin merasakan seluruh luka seseorang secara persis.

Tetapi kita bisa belajar untuk tidak terburu-buru menghakimi.

Daripada langsung berkata, “Harusnya kamu begini,” terkadang lebih baik bertanya, “Apa yang sebenarnya kamu alami?”

Daripada buru-buru memberikan nasihat, mungkin seseorang hanya membutuhkan tempat untuk bercerita.

Dan daripada menganggap masalah orang lain terlalu kecil, cobalah memahami bahwa setiap manusia memiliki batas kemampuan yang berbeda.

Nasihat yang baik bukan hanya tentang apa yang ingin kita katakan, tetapi juga tentang apakah orang tersebut sedang siap menerimanya.

Jangan Membandingkan Luka Seseorang

Ada kebiasaan yang sering dilakukan tanpa sadar: membandingkan masalah.

“Kamu masih beruntung, banyak orang yang masalahnya lebih berat.”

Kalimat seperti itu mungkin dimaksudkan untuk membuat seseorang bersyukur. Tetapi pada kondisi tertentu, justru bisa membuat perasaannya semakin tidak dihargai.

Memang selalu ada orang yang menghadapi masalah lebih berat.

Tetapi itu tidak otomatis membuat masalah yang sedang kita hadapi menjadi tidak berarti.

Setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing. Seperti yang dibahas dalam porsi setiap orang berbeda, kita tidak bisa menggunakan perjalanan hidup orang lain sebagai ukuran mutlak untuk menilai perjalanan kita sendiri.

Yang lebih penting adalah bagaimana kita menghadapi keadaan tersebut dengan sebaik mungkin.

Suatu Hari Kita Bisa Berada di Posisi yang Sama

Ada pelajaran hidup yang cukup sederhana tetapi dalam.

Jangan terlalu yakin bahwa kita akan selalu tahu bagaimana seseorang seharusnya bersikap sebelum kita sendiri mengalami keadaan yang sama.

Hari ini mungkin kita melihat seseorang terlalu takut mengambil keputusan.

Besok bisa jadi kita berada dalam situasi yang membuat kita memahami mengapa dia begitu berhati-hati.

Hari ini kita mungkin bertanya mengapa seseorang memilih pergi.

Beberapa tahun kemudian, mungkin kita justru memahami bahwa meninggalkan sesuatu terkadang merupakan satu-satunya cara untuk menjaga diri.

Keadaan bisa berubah.

Peran bisa berubah.

Dan posisi kita dalam kehidupan juga bisa berubah.

Karena itu, jangan terlalu cepat merasa paling tahu tentang kehidupan orang lain.

Bukan Berarti Kita Harus Membenarkan Semua Perbuatan

Memahami seseorang bukan berarti membenarkan semua yang dia lakukan.

Ini bagian yang penting.

Kita tetap boleh mengatakan bahwa sesuatu itu salah. Kita tetap boleh memberikan nasihat. Kita juga boleh menjaga jarak dari seseorang yang perilakunya merugikan.

Empati tidak mengharuskan kita kehilangan prinsip.

Kita hanya sedang belajar melihat sebuah masalah dengan lebih luas sebelum memberikan penilaian.

Kalau seseorang melakukan kesalahan, kita bisa mengingatkan tanpa merendahkan.

Kalau seseorang berbeda pendapat, kita bisa tidak setuju tanpa membencinya.

Kalau seseorang memilih jalan yang berbeda, kita bisa menghormatinya tanpa harus mengikuti pilihannya.

Terkadang Kita Hanya Perlu Berkata, “Aku Tidak Tahu Apa yang Kamu Rasakan”

Ada kalanya kalimat paling bijaksana bukanlah nasihat panjang.

Cukup mengatakan:

“Aku mungkin tidak benar-benar tahu apa yang kamu rasakan, tapi aku berusaha memahami.”

Kalimat sederhana seperti itu menunjukkan bahwa kita tidak merasa paling tahu.

Kita memberikan ruang kepada orang lain untuk bercerita tanpa langsung menghakimi.

Dan terkadang, ruang seperti itulah yang sebenarnya dibutuhkan seseorang.

Belajar Memahami Sebelum Meminta Dipahami

Kita semua ingin dimengerti.

Kita ingin orang lain memahami alasan di balik keputusan kita. Kita ingin perjuangan kita dihargai. Kita ingin ketika sedang berada di titik terendah, ada seseorang yang tidak langsung menghakimi.

Tetapi sebelum menuntut hal yang sama dari orang lain, mungkin kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah kita mencoba memahami orang lain?

Sudahkah kita mendengarkan sebelum memberikan penilaian?

Sudahkah kita mencari tahu cerita lengkap sebelum menyimpulkan?

Sudahkah kita memberi kesempatan kepada seseorang untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?

Karena hubungan yang sehat bukan hanya tentang ingin dipahami. Ada juga proses untuk belajar memahami.

Jangan Sampai Pengalaman Membuat Kita Kehilangan Empati

Menariknya, pengalaman hidup sebenarnya bisa membawa kita ke dua arah.

Pengalaman buruk bisa membuat seseorang menjadi lebih keras dan mudah curiga.

Tetapi pengalaman yang sama juga bisa membuat seseorang menjadi lebih bijaksana dan memahami perasaan orang lain.

Ketika pernah disalahpahami, seharusnya kita belajar agar tidak mudah salah memahami orang lain.

Ketika pernah diremehkan, seharusnya kita belajar untuk tidak meremehkan perjuangan orang lain.

Ketika pernah berada di titik yang sulit, seharusnya kita menjadi lebih lembut kepada mereka yang sedang melewati keadaan serupa.

Dengan begitu, pengalaman tidak hanya menjadi luka, tetapi juga menjadi pelajaran.

Kita Tidak Harus Mengalami Semua Hal untuk Belajar Menghargai

Memang benar, terkadang manusia baru benar-benar mengerti setelah mengalami sendiri.

Tetapi bukan berarti kita harus menunggu mengalami semuanya untuk bisa memiliki empati.

Kita bisa belajar dari cerita orang lain.

Kita bisa mendengarkan tanpa menghakimi.

Kita bisa membaca pengalaman orang lain.

Dan yang paling sederhana, kita bisa mengingat bahwa manusia memiliki cerita yang tidak selalu terlihat.

Sikap kita kepada seseorang pun bisa meninggalkan pengaruh yang lebih besar daripada yang kita sadari. Karena itu, sebelum memperlakukan seseorang dengan sembarangan, ada baiknya kita berpikir kembali tentang bagaimana rasanya jika kita berada di posisi mereka.

Jangan sampai seseorang berubah menjadi lebih dingin hanya karena terlalu sering diperlakukan tanpa pengertian.

Pada Akhirnya, Tidak Semua Orang Akan Memahami Kita

Kita juga perlu menerima kenyataan bahwa tidak semua orang akan memahami kita.

Seberapa baik kita menjelaskan sesuatu, tetap ada kemungkinan seseorang memiliki sudut pandang berbeda.

Dan itu bukan selalu masalah.

Kita tidak harus membuat seluruh manusia memahami kehidupan kita.

Yang penting, kita tahu apa yang sedang kita perjuangkan, berusaha memperbaiki kesalahan, menjaga sikap, dan tidak sengaja menyakiti orang lain.

Seperti halnya kita ingin dimengerti, orang lain juga sedang menjalani cerita yang mungkin tidak kita ketahui. Karena itu, ketika kita belum memahami seseorang, setidaknya jangan buru-buru menghakiminya.

Belajarlah untuk memberi ruang.

Belajarlah mendengar.

Belajarlah melihat sesuatu dari lebih dari satu sudut pandang.

Dan kalau suatu saat kamu berada di posisi yang dulu pernah kamu nilai dari jauh, semoga saat itu kamu sudah menjadi manusia yang lebih bijaksana.

Penutup

Manusia memang tidak akan pernah benar-benar memahami semua hal sebelum mengalaminya sendiri.

Tetapi kita tidak harus menunggu hidup memberikan pengalaman yang sama untuk belajar memiliki empati.

Kita bisa memilih untuk lebih berhati-hati dalam menilai.

Kita bisa memilih untuk mendengarkan sebelum berbicara.

Kita bisa memilih untuk memahami sebelum menghakimi.

Karena kita tidak pernah tahu cerita lengkap seseorang.

Mungkin orang yang hari ini terlihat terlalu kuat sebenarnya sedang berusaha bertahan.

Mungkin orang yang terlihat terlalu diam sedang menyimpan banyak hal.

Dan mungkin seseorang yang menurut kita mengambil keputusan yang salah sebenarnya sedang memilih sesuatu yang menurutnya paling mampu ia jalani.

Jadi, sebelum berkata “kalau aku jadi kamu...”, mungkin ada baiknya kita berhenti sebentar.

Sebab kita bukan dia. Kita tidak menjalani hidupnya. Dan kita tidak pernah tahu seberapa berat perjalanan yang sudah dia lewati.

Pada akhirnya, memahami manusia bukan tentang selalu setuju dengan mereka. Memahami adalah tentang memiliki hati yang cukup luas untuk mendengar, mempertimbangkan, lalu memilih sikap dengan lebih bijaksana.





Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *