Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam. Membina silaturahmi terhadap semua elemen umat Islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia Islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan Islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rasulullah SAW sebagai hasil dari aktivitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya Islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Rezekimu Tetap Ada, Meski Orang Lain Bilang Kamu Tidak Akan Jadi Apa-Apa


Rezeki tetap ada meski diremehkan orang lain

Pernah nggak, kamu sedang berusaha memperbaiki hidup, tetapi justru ada orang yang meragukanmu?

“Kamu yakin bisa?”

“Kayaknya susah deh.”

“Dengan keadaan seperti sekarang, mau jadi apa?”

Kalimat seperti itu mungkin terdengar biasa bagi orang yang mengucapkannya. Tapi bagi seseorang yang sedang berjuang, ucapan tersebut bisa terasa cukup berat.

Apalagi kalau kita sedang berada di titik yang penuh keraguan. Sedikit demi sedikit, perkataan orang lain mulai masuk ke pikiran. Kita mulai mempertanyakan kemampuan sendiri dan takut kalau ternyata mereka benar.

Padahal, ada satu hal penting yang perlu kita ingat: manusia hanya melihat keadaan kita hari ini, sedangkan Allah mengetahui seluruh perjalanan hidup kita.

Jangan Biarkan Penilaian Orang Menentukan Masa Depanmu

Orang lain bisa menilai kita berdasarkan pekerjaan, kondisi ekonomi, pendidikan, usaha yang sedang dijalankan, atau kegagalan yang pernah kita alami.

Mereka mungkin melihat kita belum punya apa-apa dan kemudian menyimpulkan bahwa kita tidak akan menjadi apa-apa.

Tapi kesimpulan manusia bukanlah ketetapan Allah.

Hari ini seseorang mungkin masih berjuang dari bawah. Beberapa tahun kemudian, kehidupannya bisa berubah karena satu kesempatan yang bahkan sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Karena itu, jangan menjadikan komentar seseorang sebagai vonis terhadap masa depanmu.

Kalau perkataan itu berisi nasihat, ambil pelajarannya. Kalau hanya merendahkan, tidak perlu disimpan di dalam hati.

Rezeki Tidak Berhenti Hanya Karena Orang Lain Tidak Percaya

Rezeki bukan milik manusia. Kita memang diperintahkan untuk berusaha mencarinya, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah.

Inilah yang membuat seorang muslim seharusnya tidak mudah kehilangan harapan hanya karena keadaan sedang sulit.

Mungkin pekerjaan yang kita inginkan belum didapatkan. Usaha yang dibangun belum menghasilkan seperti yang diharapkan. Rencana yang sudah dipersiapkan ternyata gagal.

Bukan berarti pintu rezeki telah tertutup.

Bisa jadi kita hanya sedang diarahkan menuju pintu yang berbeda.

Yang penting, jangan menggunakan keyakinan tentang rezeki sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Tawakal berjalan setelah ikhtiar, bukan menggantikan ikhtiar.

Berusaha Sebaik Mungkin, Lalu Serahkan Hasilnya kepada Allah

Ada hal yang bisa kita kendalikan dan ada yang memang berada di luar kemampuan kita.

Kita bisa mengatur seberapa serius kita belajar. Kita bisa menentukan seberapa sungguh-sungguh kita bekerja. Kita bisa memperbaiki cara berkomunikasi, meningkatkan keterampilan, mencari peluang, dan mengevaluasi kesalahan.

Tetapi kita tidak bisa memaksa hasil sesuai keinginan.

Di situlah tawakal menjadi penting.

Setelah melakukan bagian kita dengan sebaik mungkin, hati belajar mengatakan:

“Ya Allah, aku sudah berusaha. Sekarang aku serahkan hasilnya kepada-Mu.”

Sikap seperti ini bukan tanda kelemahan. Justru ada ketenangan ketika seseorang menyadari bahwa dirinya tidak harus mengendalikan seluruh kehidupan.

Jangan Membalas Orang yang Meremehkan dengan Kesombongan

Ketika diremehkan, keinginan untuk membuktikan diri memang sangat manusiawi.

Tapi hati-hati. Jangan sampai keinginan membuktikan diri berubah menjadi kesombongan.

Kita tidak perlu mengatakan kepada semua orang bahwa suatu hari nanti kita akan sukses. Tidak perlu pula mengumumkan setiap rencana agar mendapatkan pengakuan.

Kerjakan saja dengan tenang.

Kalau berhasil, bersyukurlah. Kalau gagal, evaluasi. Kalau harus mengulang dari awal, jangan malu untuk belajar kembali.

Tidak semua keberhasilan harus diumumkan. Ada perjuangan yang justru lebih indah ketika hanya kita, orang-orang terdekat, dan Allah yang mengetahuinya.

Rezeki Bukan Sekadar Angka di Rekening

Kita sering mengukur rezeki dari jumlah uang yang dimiliki.

Padahal, kehidupan jauh lebih luas daripada itu.

Kesehatan adalah rezeki.

Keluarga yang masih bisa ditemui adalah rezeki.

Teman yang tulus juga rezeki.

Kesempatan belajar adalah rezeki.

Memiliki pekerjaan yang halal adalah rezeki.

Bahkan kemampuan untuk bangun pagi, menjalani aktivitas, dan masih memiliki kesempatan memperbaiki diri merupakan nikmat yang sering kita lewatkan begitu saja.

Di tengah keinginan mendapatkan lebih banyak, jangan sampai kita lupa mensyukuri apa yang sudah dimiliki.

Kalau ingin memahami lebih dalam tentang pentingnya menjaga sumber penghasilan tetap halal dan penuh keberkahan, kamu juga bisa membaca pembahasan kenikmatan rezeki halal dan berkah.

Jangan Membandingkan Jalan Hidupmu dengan Orang Lain

Salah satu penyebab hati mudah lelah adalah terlalu sering membandingkan diri.

Teman sudah mendapatkan pekerjaan bagus, kita merasa tertinggal.

Orang lain sudah punya rumah, kita merasa gagal.

Seseorang berhasil membangun usaha, sementara usaha kita masih berjalan di tempat.

Padahal, kita hanya melihat hasil yang tampak dari luar.

Kita tidak tahu berapa lama mereka berjuang. Kita tidak tahu kegagalan apa yang pernah mereka alami. Kita juga tidak tahu ujian apa yang sedang mereka sembunyikan.

Begitu pula sebaliknya, mereka tidak mengetahui seluruh perjuangan kita.

Jadi, tidak perlu menjadikan hidup sebagai perlombaan.

Fokus saja pada apa yang bisa diperbaiki hari ini.

Kalau Gagal, Jangan Langsung Menganggap Diri Tidak Mampu

Gagal dalam satu pekerjaan bukan berarti kita gagal sebagai manusia.

Gagal membangun usaha bukan berarti kita tidak memiliki masa depan.

Belum mendapatkan kesempatan yang diinginkan juga bukan berarti Allah sedang meninggalkan kita.

Kegagalan bisa menjadi tempat belajar yang mahal.

Dari sana kita mengetahui kesalahan, memahami kekurangan, dan menemukan cara baru yang mungkin lebih tepat.

Kalau hari ini belum berhasil, coba lagi dengan cara yang lebih baik.

Kalau masih belum berhasil, evaluasi lagi.

Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kegagalan membuat kita berhenti berdoa dan kehilangan harapan kepada Allah.

Ketika Doa Belum Terlihat Jawabannya

Ada kalanya kita sudah berdoa berkali-kali tetapi keadaan belum berubah.

Sudah meminta pekerjaan, tetapi belum mendapatkannya.

Sudah berusaha memperbaiki ekonomi, tetapi hasilnya masih terasa sedikit.

Sudah berharap pada sebuah kesempatan, tetapi kesempatan itu justru diberikan kepada orang lain.

Pada kondisi seperti ini, hati memang bisa lelah.

Namun, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa doa kita tidak didengar.

Bisa jadi kita sedang diminta menunggu. Bisa jadi ada sesuatu yang perlu dipersiapkan terlebih dahulu. Atau bisa jadi Allah sedang mengarahkan kita menuju sesuatu yang belum mampu kita lihat sekarang.

Kalau sedang berada di fase seperti ini, jangan berhenti berdoa. Pembahasan tentang hal tersebut juga pernah kami tulis dalam artikel kalau doa belum dikabulkan, mungkin memang belum waktunya.

Jaga Hati Saat Rezeki Orang Lain Datang Lebih Dulu

Kadang ujian bukan hanya ketika kita kekurangan.

Melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang kita inginkan juga bisa menjadi ujian bagi hati.

Teman mendapatkan pekerjaan yang kita incar. Orang lain mendapatkan pelanggan lebih banyak. Seseorang yang usianya lebih muda sudah mencapai sesuatu yang selama ini kita impikan.

Jangan sampai keberhasilan orang lain membuat kita kehilangan rasa syukur.

Rezeki orang lain tidak mengurangi rezeki kita.

Allah tidak kehabisan kesempatan hanya karena orang lain sudah mendapatkannya lebih dahulu.

Kalau orang lain mendapatkan kebaikan, doakan. Kalau giliran kita belum tiba, tetaplah berusaha.

Yang Dilihat Allah Bukan Hanya Hasil Akhir

Manusia sering memberikan penghargaan berdasarkan hasil.

Yang berhasil dianggap hebat. Yang belum berhasil sering dianggap kurang mampu.

Padahal, proses seseorang tidak selalu terlihat.

Mungkin ada seseorang yang hasilnya belum besar, tetapi setiap hari dia berusaha mencari nafkah dengan cara yang halal. Mungkin ada yang belum sukses secara materi, tetapi tetap menjaga kejujuran ketika memiliki kesempatan untuk mengambil jalan pintas.

Hal-hal seperti itu tidak selalu mendapatkan tepuk tangan manusia.

Namun, hidup bukan hanya tentang mendapatkan pengakuan dari manusia.

Yang paling penting adalah bagaimana kita menjalani proses dengan niat yang baik dan cara yang diridai Allah.

Jadi, Jangan Takut Jika Hari Ini Kamu Masih Berjuang

Kalau sekarang ada orang yang meragukanmu, tidak perlu terlalu sibuk membuktikan bahwa mereka salah.

Gunakan waktumu untuk sesuatu yang lebih bermanfaat.

Belajar.

Bekerja.

Berdoa.

Memperbaiki diri.

Menjaga hubungan dengan keluarga.

Mencari rezeki dari jalan yang halal.

Dan tetap berbuat baik meskipun belum mendapatkan apa yang kamu harapkan.

Mungkin perjalananmu memang tidak secepat orang lain. Tidak masalah.

Yang penting bukan siapa yang paling cepat sampai, tetapi bagaimana kita tetap berjalan tanpa kehilangan iman, harapan, dan rasa syukur.

Penutup

Perkataan manusia tidak menentukan rezeki kita.

Hari ini mungkin seseorang melihat kita sebagai orang yang belum berhasil. Mereka boleh memiliki penilaian seperti itu, tetapi kita tidak harus menjadikannya sebagai keyakinan terhadap diri sendiri.

Kita tidak tahu apa yang Allah siapkan untuk hari esok.

Maka teruslah ikhtiar selama masih ada jalan. Teruslah berdoa ketika hati memiliki harapan. Teruslah belajar ketika kemampuan masih perlu diperbaiki. Dan ketika hasilnya belum sesuai keinginan, belajar menerima dengan sabar.

Rezeki tidak selalu datang ketika kita merasa siap. Kadang Allah membukakan jalan justru setelah kita belajar sabar, ikhlas, dan tetap berjalan meski tidak semua orang percaya kepada kita.

Jadi, kalau hari ini ada yang berkata kamu tidak akan menjadi apa-apa, jangan jadikan kalimat itu sebagai akhir cerita.

Tenangkan hati.

Perbaiki ikhtiar.

Perbanyak doa.

Lalu biarkan Allah menentukan ke mana perjalanan ini akan membawa kita.

Karena manusia boleh meragukan, tetapi kita tetap punya alasan untuk berharap kepada Allah.





Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *