Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam. Membina silaturahmi terhadap semua elemen umat Islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia Islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan Islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rasulullah SAW sebagai hasil dari aktivitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya Islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Cara Berdamai dengan Takdir: Berhenti Mengkhawatirkan Hal yang Tak Bisa Kamu Kendalikan


Cara berdamai dengan takdir dan berhenti mengkhawatirkan hal yang tidak bisa dikendalikan

Ada banyak hal dalam hidup yang ingin kita kendalikan.

Kita ingin semuanya berjalan sesuai rencana. Ingin orang lain memahami kita. Ingin usaha berhasil sesuai target. Ingin hubungan tetap baik. Ingin doa segera dikabulkan. Bahkan terkadang kita ingin tahu apa yang akan terjadi besok supaya hati terasa lebih tenang.

Tapi kenyataannya, tidak semua hal berada dalam kendali kita.

Dan mungkin, salah satu bentuk ketenangan yang paling sulit dipelajari adalah menerima kenyataan bahwa ada hal-hal yang memang harus kita serahkan kepada Allah.

Kalimat dalam gambar ini terasa sederhana, tetapi maknanya cukup dalam:

“Berhenti mengkhawatirkan hal-hal yang tidak mampu kamu kendalikan. Pejamkan matamu, bernafaslah dan katakan: ‘Yaa Allah, aku tahu ini semua adalah takdir-Mu, bantu aku melewatinya..’”

Bukan berarti kita diminta berhenti berusaha.

Bukan juga berarti semua masalah harus diterima tanpa melakukan apa-apa.

Justru ada keseimbangan yang perlu kita pelajari: berusaha pada bagian yang menjadi tanggung jawab kita, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Kita Sering Lelah Karena Ingin Mengendalikan Semuanya

Coba perhatikan ketika sedang menghadapi masalah.

Kadang masalah sebenarnya hanya satu, tetapi pikiran kita membuatnya menjadi sepuluh.

Kita memikirkan apa yang sudah terjadi. Lalu memikirkan kemungkinan terburuk. Setelah itu membayangkan apa yang mungkin terjadi besok. Kemudian memikirkan pendapat orang lain.

Akhirnya tubuh berada di tempat yang sama, tetapi pikiran sudah pergi ke mana-mana.

Padahal belum tentu semua yang kita khawatirkan benar-benar terjadi.

Di sinilah kita perlu belajar membedakan antara hal yang bisa kita ikhtiarkan dan hal yang memang berada di luar kendali kita.

Kita bisa mengatur usaha.

Kita bisa memperbaiki sikap.

Kita bisa meminta maaf.

Kita bisa belajar.

Kita bisa berdoa.

Tetapi kita tidak bisa memaksa hasil sesuai keinginan.

Kita juga tidak bisa mengendalikan pikiran semua orang tentang diri kita.

Dan kita tidak mungkin mengetahui seluruh jalan hidup yang telah Allah tetapkan untuk kita.

Berusaha Itu Wajib, Tetapi Hasil Bukan Sepenuhnya Milik Kita

Ini bagian yang sering disalahpahami.

Ketika kita berbicara tentang takdir dan tawakal, bukan berarti seseorang boleh bermalas-malasan lalu berkata, “Kalau memang sudah takdir, nanti juga terjadi.”

Bukan seperti itu.

Kalau ingin mendapatkan pekerjaan, tetap kirim lamaran.

Kalau ingin bisnis berkembang, tetap belajar dan memperbaiki strategi.

Kalau ingin hubungan menjadi lebih baik, tetap belajar berkomunikasi dengan baik.

Kalau ingin hidup berubah, tetap lakukan langkah yang memang bisa dilakukan.

Setelah itu, kita belajar menerima bahwa hasil akhirnya tidak selalu sesuai dengan apa yang kita bayangkan.

Di situlah tawakal menjadi penting.

Tawakal bukan meninggalkan usaha. Tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Allah setelah kita melakukan ikhtiar.

Tidak Semua yang Kita Inginkan Harus Menjadi Milik Kita

Salah satu sumber kekecewaan terbesar manusia adalah ketika kenyataan tidak sesuai dengan keinginan.

Kita sudah berharap sesuatu terjadi, tetapi ternyata tidak.

Sudah berusaha mempertahankan seseorang, tetapi akhirnya harus berpisah.

Sudah mengejar sebuah kesempatan, tetapi orang lain yang mendapatkannya.

Sudah berdoa cukup lama, tetapi jawaban yang datang belum seperti yang diharapkan.

Pada kondisi seperti ini, kita sering bertanya:

“Kenapa Allah tidak memberikan apa yang aku mau?”

Pertanyaan itu manusiawi.

Tetapi mungkin ada pertanyaan lain yang lebih menenangkan:

“Kalau Allah tidak memberikannya, apakah mungkin Allah mengetahui sesuatu yang belum aku ketahui?”

Kita hanya melihat bagian kecil dari sebuah perjalanan. Allah mengetahui keseluruhannya.

Karena itu, sesuatu yang hari ini terasa sebagai kehilangan belum tentu benar-benar menjadi kerugian bagi kita.

Kalau kamu sedang menghadapi keadaan yang tidak sesuai harapan, kamu juga bisa membaca renungan tentang mengapa sesuatu yang kita benci bisa saja justru membawa kebaikan.

Takdir Bukan Alasan untuk Berhenti Berusaha

Ada perbedaan antara menerima takdir dan menyerah.

Menerima takdir berarti kita memahami bahwa ada batas kemampuan manusia.

Sementara menyerah adalah berhenti melakukan sesuatu yang sebenarnya masih bisa kita perjuangkan.

Misalnya, ketika gagal dalam pekerjaan, kita boleh kecewa. Tetapi setelah itu kita bisa belajar dari kesalahan, memperbaiki kemampuan, lalu mencoba kembali.

Ketika sebuah rencana gagal, kita boleh menangis. Tetapi setelah hati lebih tenang, kita bisa mengevaluasi apa yang masih dapat diperbaiki.

Ketika seseorang pergi, kita boleh merasa kehilangan. Namun kita juga perlu belajar menerima bahwa tidak semua orang yang hadir dalam hidup kita ditakdirkan untuk tinggal selamanya.

Jadi, menerima takdir bukan berarti tidak punya harapan.

Justru menerima takdir membuat kita bisa melanjutkan hidup tanpa terus-menerus memaksa sesuatu yang memang berada di luar kemampuan kita.

Kalau Doamu Belum Terjawab, Jangan Langsung Berpikir Allah Tidak Mendengar

Ada orang yang sudah lama berdoa tetapi belum melihat hasilnya.

Wajar jika kemudian muncul rasa lelah.

“Sampai kapan?”

“Kapan doaku dikabulkan?”

“Kenapa orang lain sudah mendapatkannya, sedangkan aku belum?”

Pertanyaan seperti itu bisa muncul ketika hati sedang lemah.

Tetapi jangan biarkan penantian membuat kita berhenti berharap kepada Allah.

Bisa jadi yang kita minta memang belum waktunya.

Bisa jadi ada sesuatu yang perlu kita pelajari terlebih dahulu.

Atau bisa jadi jawaban yang Allah berikan nantinya tidak persis seperti yang kita bayangkan.

Kalau kamu sedang berada dalam fase menunggu jawaban doa, ada baiknya membaca renungan tentang doa yang belum dikabulkan dan bagaimana belajar tetap percaya kepada Allah.

Belajar Mengatakan: “Ya Allah, Bantu Aku Melewatinya”

Ada kalanya kita tidak membutuhkan jawaban panjang.

Kita hanya membutuhkan hati yang sedikit lebih tenang.

Saat masalah terasa terlalu berat, cobalah berhenti sejenak.

Tarik napas perlahan.

Jangan langsung memikirkan semua kemungkinan buruk.

Tanyakan kepada diri sendiri:

  • Apa yang masih bisa aku lakukan?
  • Apa yang memang berada di luar kendaliku?
  • Apakah aku sudah berusaha sebaik mungkin?
  • Apakah setelah berusaha aku sudah menyerahkan hasilnya kepada Allah?

Setelah itu, berdoalah dengan sederhana.

“Ya Allah, aku tahu tidak semuanya bisa aku kendalikan. Aku sudah berusaha semampuku. Jika ini adalah bagian dari takdir-Mu, berikan aku kekuatan untuk melewatinya, kesabaran untuk menjalaninya, dan hati yang tetap percaya kepada-Mu.”

Doa seperti ini bukan berarti kita meminta hidup tanpa masalah.

Kita sedang meminta agar diberi kemampuan untuk melewati masalah tersebut dengan cara yang baik.

Kamu Tidak Harus Memahami Semuanya Hari Ini

Salah satu kesalahan yang sering kita lakukan adalah merasa harus memahami alasan di balik setiap kejadian.

Padahal tidak semua jawaban harus kita dapatkan hari ini.

Ada hal yang baru kita pahami setelah beberapa bulan.

Ada yang baru terlihat hikmahnya setelah bertahun-tahun.

Bahkan mungkin ada kejadian yang tidak pernah kita pahami sepenuhnya.

Dan itu tidak apa-apa.

Manusia memang memiliki keterbatasan.

Kita tidak harus mengetahui seluruh jalan untuk tetap melangkah.

Kadang kita hanya perlu mengambil satu langkah yang benar, kemudian satu langkah berikutnya.

Fokus pada Bagian yang Bisa Kamu Kendalikan

Daripada terus memikirkan apa yang tidak bisa diubah, lebih baik gunakan energi untuk sesuatu yang masih berada dalam kemampuan kita.

Kalau hari ini belum bisa mengubah keadaan, setidaknya kita bisa mengubah cara merespons keadaan.

Kalau belum bisa mendapatkan apa yang diinginkan, kita bisa memperbaiki diri.

Kalau belum bisa mengetahui masa depan, kita bisa menjalani hari ini dengan lebih baik.

Kalau belum mendapatkan jawaban, kita bisa terus berdoa.

Kalau harus menunggu, kita bisa belajar sabar.

Hal-hal kecil seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi justru dari sanalah ketenangan sering tumbuh.

Penutup: Tidak Semua Harus Kamu Kendalikan

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari cara agar semua hal berjalan sesuai keinginan.

Padahal hidup tidak selalu bekerja seperti itu.

Ada pertemuan yang tidak bisa kita atur.

Ada perpisahan yang tidak bisa kita cegah.

Ada kesempatan yang tidak bisa kita paksa.

Ada doa yang membutuhkan waktu.

Dan ada takdir yang memang berada di luar kendali manusia.

Tugas kita bukan mengendalikan semuanya.

Tugas kita adalah berusaha dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan tulus, bersabar ketika harus menunggu, lalu bertawakal kepada Allah.

Jadi, kalau hari ini ada sesuatu yang membuatmu terlalu banyak berpikir, berhentilah sejenak.

Pejamkan mata.

Tarik napas.

Dan katakan dalam hati:

“Ya Allah, aku tahu ini semua adalah takdir-Mu. Aku tidak mampu mengendalikan semuanya. Maka bantu aku melewatinya dengan hati yang sabar, langkah yang baik, dan keyakinan bahwa Engkau selalu mengetahui apa yang tidak aku ketahui.”

Setelah itu, lanjutkan langkahmu.

Tidak perlu mengetahui seluruh jalan.

Cukup lakukan bagianmu dengan sebaik mungkin.

Selebihnya, serahkan kepada Allah.





Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *