Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam. Membina silaturahmi terhadap semua elemen umat Islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia Islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan Islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rasulullah SAW sebagai hasil dari aktivitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya Islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Badan Sakit Dicariin Obat, Kalau Hati Sakit Kenapa Didiemin?


Ilustrasi chibi seorang Muslim merenungi kesehatan hati dan memperbaiki niat dalam beramal.

Badan sakit dicariin obat, tapi kalau hati yang sakit, kenapa sering dibiarkan? Pertanyaan sederhana ini sebenarnya mengajak kita untuk berhenti sejenak dan memeriksa diri sendiri.

Ketika badan terasa tidak sehat, kita biasanya langsung mencari cara supaya cepat sembuh. Minum obat, beristirahat, pergi ke dokter, atau mengubah pola hidup agar tubuh kembali bugar.

Tetapi, bagaimana kalau yang sedang sakit bukan badan, melainkan hati kita sendiri?

Bagaimana kalau selama ini kita rajin melakukan kebaikan, tetapi diam-diam masih berharap mendapatkan pujian? Bagaimana kalau kita terlihat tulus di hadapan manusia, tetapi merasa kecewa ketika tidak ada yang menghargai usaha kita?

Jangan-jangan, ada sesuatu dalam hati yang perlu kita benahi, tetapi selama ini justru kita abaikan.

Badan Sakit Kita Obati, Hati Sakit Jangan Dibiarkan

Kita semua tentu ingin memiliki tubuh yang sehat. Namun, jangan sampai perhatian terhadap kesehatan fisik membuat kita lupa bahwa hati juga perlu dijaga.

Dalam kehidupan sehari-hari, penyakit hati tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang bisa tersenyum, rajin beribadah, membantu banyak orang, bahkan dikenal sebagai pribadi yang baik. Akan tetapi, hanya dirinya yang tahu perjuangan untuk menjaga niat dan membersihkan hati dari sifat-sifat yang tidak baik.

Misalnya, kita membantu seseorang, lalu merasa kesal karena tidak mendapatkan ucapan terima kasih. Kita bersedekah, tetapi berharap orang lain mengetahui kebaikan tersebut. Kita melakukan sesuatu yang bermanfaat, tetapi hati terasa tidak nyaman ketika orang lain justru mendapatkan perhatian.

Apakah kita pernah merasakan hal seperti itu?

Kalau pernah, jangan buru-buru menganggap diri kita sebagai orang yang buruk. Jadikan itu sebagai kesempatan untuk introspeksi. Manusia memang perlu terus belajar memperbaiki diri, termasuk dalam urusan niat yang terkadang berubah tanpa disadari.

Yang terpenting, jangan membiarkan keinginan untuk dipuji tumbuh begitu saja hingga menguasai hati.

Jangan Sampai Kebaikan Hanya Ingin Dilihat Manusia

Berbuat baik itu penting. Membantu orang lain, bersedekah, menghadiri majelis ilmu, memperbanyak selawat, dan melakukan berbagai amal saleh merupakan bagian dari usaha seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Namun, ada satu hal yang perlu terus kita periksa: untuk siapa kita melakukan semua kebaikan itu?

Ketika membantu orang lain, apakah kita benar-benar ingin memberikan manfaat atau justru ingin dianggap sebagai orang paling dermawan? Ketika melakukan amal kebaikan, apakah kita tetap bersemangat meskipun tidak ada yang melihat?

Inilah pentingnya ikhlas.

Ikhlas bukan berarti kita tidak boleh merasa senang ketika mendapatkan apresiasi. Kita tetap manusia yang memiliki perasaan. Mendapatkan ucapan terima kasih atau pujian yang wajar tentu bisa membuat hati bahagia.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika pujian menjadi tujuan utama. Kita baru bersemangat melakukan kebaikan ketika diperhatikan, tetapi kehilangan keinginan untuk melakukannya ketika tidak ada yang memberikan penghargaan.

Padahal, nilai sebuah amal bukan semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak orang yang mengetahuinya. Karena itu, mari belajar melakukan kebaikan dengan mengharap rida Allah SWT, bukan menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan utama.

Belajar Meluruskan Niat, Meski Harus Berkali-kali

Meluruskan niat bukan pekerjaan yang selesai dalam satu malam. Terkadang kita sudah berusaha ikhlas, tetapi muncul kembali keinginan untuk dipuji. Ada kalanya kita merasa tulus, lalu kecewa ketika kebaikan kita tidak dihargai.

Di sinilah kita perlu terus belajar.

Sebelum melakukan sesuatu, cobalah bertanya kepada diri sendiri, “Apa sebenarnya tujuan ana melakukan ini?” Kemudian, ketika selesai beramal, periksa kembali hati kita tanpa harus sibuk mencari pengakuan dari orang lain.

Jika muncul keinginan untuk dipuji, jangan langsung menyerah. Segera perbaiki niat dan mohon pertolongan kepada Allah agar hati kita dijauhkan dari riya dan sifat-sifat tercela.

Kita juga perlu memahami bahwa tidak semua amal harus diumumkan. Ada kebaikan yang cukup kita lakukan secara diam-diam, tanpa perlu diketahui siapa pun. Namun, bukan berarti semua amal yang terlihat oleh orang lain otomatis tidak ikhlas. Yang perlu dijaga adalah niat dan cara kita menjalankannya.

Kalau ingin belajar menjaga hati agar tidak merasa lebih baik daripada orang lain, antum juga bisa membaca nasihat tentang istiqamah dan menjaga hati dari perasaan lebih baik.

Jangan Berhenti Berbuat Baik Hanya karena Tidak Dihargai

Ada orang yang awalnya rajin membantu, tetapi perlahan berhenti karena merasa tidak mendapatkan penghargaan. Ada yang kecewa karena kebaikannya dilupakan. Bahkan, ada pula yang mulai berpikir bahwa berbuat baik hanya akan membuat dirinya dimanfaatkan.

Kalau kita pernah berada dalam keadaan seperti itu, mari belajar melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Tidak semua orang akan mengingat bantuan kita. Tidak semua orang akan membalas kebaikan dengan cara yang sama. Dan tidak semua usaha yang kita lakukan akan mendapatkan respons sesuai harapan.

Namun, jangan sampai sikap manusia membuat kita kehilangan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Evaluasi jika memang ada kesalahan. Tetapkan batasan jika bantuan kita mulai disalahgunakan. Belajar mengatakan tidak ketika memang tidak mampu. Akan tetapi, jangan biarkan kekecewaan membuat hati dipenuhi kebencian atau menjadikan kita enggan berbuat baik sama sekali.

Berbuat baiklah karena kebaikan itu memang patut dilakukan, dengan niat yang benar dan cara yang sesuai tuntunan agama. Kita tidak harus mendapatkan tepuk tangan manusia untuk terus memperbaiki diri.

Perbanyak Selawat dan Tumbuhkan Kecintaan kepada Rasulullah SAW

Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, kita tentu berharap mendapatkan syafaat beliau dengan izin Allah SWT kelak di akhirat. Karena itu, mari tumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah dengan memperbanyak selawat, mempelajari ajaran beliau, serta berusaha meneladani akhlak mulianya.

Namun, jangan sampai selawat dan amal kebaikan hanya menjadi sesuatu yang kita lakukan demi mendapatkan pengakuan manusia. Jadikan semuanya sebagai bagian dari ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Kecintaan itu perlu tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Belajar menjaga lisan, memperlakukan orang lain dengan baik, menjauhi kesombongan, dan memperbaiki akhlak merupakan langkah nyata yang bisa kita usahakan.

Kita memang belum tentu mampu menjadi pribadi yang sempurna. Namun, kita selalu bisa berusaha menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Yuk, Mulai Obati Hati Kita Hari Ini

Antum, terkadang kita terlalu sibuk memperhatikan apa yang terlihat oleh manusia, sampai lupa memeriksa apa yang sedang tumbuh di dalam hati sendiri.

Kita ingin terlihat baik, tetapi apakah kita juga sedang berusaha memperbaiki niat? Kita ingin dihargai, tetapi apakah kita tetap bersedia melakukan kebaikan ketika tidak ada yang memberikan apresiasi?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk membuat kita merasa paling buruk. Justru, ini adalah pengingat agar kita tidak berhenti melakukan introspeksi.

Mulailah dari hal sederhana. Luruskan niat sebelum beramal. Hindari menceritakan kebaikan hanya demi mendapatkan pujian. Belajar menerima ketika tidak dihargai. Perbanyak istigfar dan selawat. Serta mintalah pertolongan Allah SWT agar hati kita tetap berada dalam kebaikan.

Jangan menunggu sampai hati semakin keras baru kita berusaha memperbaikinya.

Badan yang sakit membuat kita mencari obat, maka hati yang mulai sakit juga harus kita rawat dengan kesungguhan. Sebab, kehidupan ini bukan hanya tentang apa yang berhasil kita kumpulkan atau bagaimana manusia memandang diri kita, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalani kehidupan sebagai hamba Allah.

Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari riya, kesombongan, iri dengki, dan segala sifat yang menjauhkan kita dari kebaikan. Semoga Allah membimbing kita agar senantiasa ikhlas dalam beramal, istiqamah dalam ketaatan, serta mengaruniakan kepada kita kecintaan yang tulus kepada Rasulullah SAW.

Semoga kelak kita termasuk umat yang mendapatkan syafaat Rasulullah SAW dengan izin Allah SWT.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.





Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *