Kisah wafatnya seseorang terkadang meninggalkan kesan mendalam bagi orang-orang yang mendengarnya. Terlebih ketika kisah tersebut berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, ibadah, dan keadaan seseorang menjelang akhir hayatnya.
Dalam sebuah majelis, Ustadz Yasin menyampaikan kisah tentang Ibu Aslamiyah, tetangga orang tuanya yang merupakan ibunda dari salah satu anggota tim hadroh. Almarhumah wafat dalam keadaan yang menjadi pengingat tentang husnul khatimah dan kebiasaan hidup seseorang.
Kisah yang disampaikan beliau bermula dari aktivitas Ibu Aslamiyah pada pagi hari. Seperti keseharian seorang ibu pada umumnya, beliau masih menjalankan tanggung jawabnya di rumah sebelum akhirnya mengambil wudu untuk melaksanakan salat Dhuha.
Kisah Ibu Aslamiyah Sebelum Wafat
Menurut penuturan Ustadz Yasin, pada pagi harinya Ibu Aslamiyah masih membangunkan anak-anaknya untuk melaksanakan salat Subuh. Beliau juga menyiapkan sarapan untuk suaminya sebagaimana rutinitas yang dijalani di rumah.
Setelah menyelesaikan aktivitas tersebut, Ibu Aslamiyah mengambil wudu untuk melaksanakan salat Dhuha. Namun, setelah berwudu, beliau meninggal dunia.
Kabar wafatnya Ibu Aslamiyah menjadi kisah duka sekaligus inspirasi yang disampaikan Ustadz Yasin dalam majelis. Almarhumah merupakan tetangga orang tua beliau dan juga ibunda dari salah satu anggota tim hadroh.
Dalam kisah tersebut, Ustadz Yasin menyampaikan bahwa Ibu Aslamiyah wafat dalam keadaan husnul khatimah. Keadaan almarhumah yang masih menjalankan aktivitas keluarga pada pagi hari, kemudian mengambil wudu untuk salat Dhuha, menjadi bagian utama dari kisah yang beliau ceritakan.
Ustadz Yasin Mengingatkan tentang Kebiasaan Hidup Seseorang
Dalam nasihatnya, Ustadz Yasin mengingatkan ungkapan yamutul mar'u 'ala ma 'asya 'alaih, yang secara makna menjelaskan bahwa seseorang akan diwafatkan sesuai dengan kebiasaan hidupnya.
Ungkapan tersebut menjadi bagian penting dari nasihat yang beliau sampaikan ketika menceritakan wafatnya Ibu Aslamiyah. Beliau kemudian membandingkan kisah tersebut dengan sebuah kejadian yang pernah dilihatnya sendiri di Jalan Antasari.
Ustadz Yasin menceritakan bahwa beliau pernah melihat seorang pemuda meninggal dunia dalam keadaan tergeletak berdarah akibat balap liar atau trek-trekan. Pemuda tersebut tidak mengenakan helm ketika melakukan aktivitas berbahaya tersebut.
Kejadian itu kemudian disampaikan sebagai perbandingan dengan kisah Ibu Aslamiyah. Di satu sisi, beliau menceritakan pemuda yang meninggal dunia setelah terlibat balap liar tanpa helm. Di sisi lain, beliau mengisahkan Ibu Aslamiyah yang meninggal dunia setelah mengambil wudu untuk melaksanakan salat Dhuha.
Perbandingan tersebut merupakan bagian dari penyampaian Ustadz Yasin mengenai kebiasaan hidup seseorang dan keadaan ketika ajal menjemput. Kisah Ibu Aslamiyah disampaikan bersama pengingat tentang pentingnya memperhatikan kebiasaan yang dijalani selama hidup.
Kebiasaan Mengaji Ibu Aslamiyah
Selain menceritakan keadaan Ibu Aslamiyah sebelum wafat, Ustadz Yasin juga mengungkapkan keterangan yang diperolehnya dari suami almarhumah. Menurut penuturan sang suami, Ibu Aslamiyah merupakan sosok yang sangat rajin mengaji.
Keterangan tersebut menjadi salah satu bagian yang diceritakan Ustadz Yasin ketika menyampaikan kisah almarhumah. Kebiasaan mengaji Ibu Aslamiyah disebut secara khusus dalam penuturan mengenai kehidupan sehari-harinya.
Namun, bukan hanya kebiasaan mengaji yang disampaikan oleh sang suami. Ada hal lain yang turut diceritakan, yaitu kebiasaan Ibu Aslamiyah meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya sebelum keluar rumah.
Menurut penuturan suaminya, Ibu Aslamiyah tidak pernah keluar rumah tanpa meminta izin terlebih dahulu. Bahkan, kebiasaan tersebut tetap dilakukan ketika beliau hendak menghadiri majelis ilmu.
Hal ini menjadi bagian penting dalam kisah yang disampaikan Ustadz Yasin. Almarhumah dikenal rajin mengaji, dan menurut keterangan suaminya, beliau juga selalu meminta izin sebelum meninggalkan rumah, termasuk ketika hendak datang ke majelis.
Hadis tentang Salat, Puasa, Menjaga Kehormatan, dan Ketaatan kepada Suami
Di akhir nasihatnya, Ustadz Yasin mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan tentang seorang istri yang menjaga salat lima waktu, berpuasa, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya.
Dalam hadis yang dikutip tersebut, disebutkan bahwa seorang istri yang menjalankan amalan-amalan itu akan dipersilakan masuk surga melalui pintu mana saja yang ia inginkan.
Empat hal yang disebutkan dalam nasihat tersebut adalah menjaga salat lima waktu, melaksanakan puasa, menjaga kehormatan diri, dan menaati suami. Keempatnya merupakan bagian dari hadis yang disampaikan Ustadz Yasin pada penutup nasihatnya.
Ustadz Yasin menyampaikan hadis tersebut setelah menceritakan kehidupan Ibu Aslamiyah, termasuk kebiasaan beliau mengaji dan keterangan sang suami mengenai kebiasaannya meminta izin sebelum keluar rumah.
Kisah Ibu Aslamiyah dalam Nasihat Ustadz Yasin
Kisah yang disampaikan Ustadz Yasin mencakup beberapa hal mengenai kehidupan Ibu Aslamiyah. Beliau menceritakan aktivitas almarhumah pada pagi hari, mulai dari membangunkan anak-anak untuk salat Subuh, menyiapkan sarapan bagi suaminya, hingga mengambil wudu untuk melaksanakan salat Dhuha sebelum akhirnya wafat.
Beliau juga mengingatkan ungkapan tentang seseorang yang diwafatkan sesuai dengan kebiasaan hidupnya. Untuk menjelaskan hal tersebut, Ustadz Yasin membandingkan kisah Ibu Aslamiyah dengan kejadian pemuda yang meninggal dunia akibat balap liar tanpa helm di Jalan Antasari, yang pernah beliau lihat sendiri.
Selain itu, beliau menyampaikan keterangan dari suami almarhumah tentang kebiasaannya mengaji dan meminta izin sebelum keluar rumah, termasuk ketika hendak menghadiri majelis ilmu.
Nasihat tersebut kemudian ditutup dengan kutipan hadis Nabi Muhammad SAW tentang seorang istri yang menjaga salat lima waktu, berpuasa, menjaga kehormatan, dan taat kepada suaminya, dengan keutamaan masuk surga melalui pintu mana saja yang dikehendakinya.
Demikian kisah Ibu Aslamiyah yang disampaikan Ustadz Yasin dalam majelis. Semoga Allah SWT merahmati almarhumah dan menerima amal ibadahnya.
