Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam. Membina silaturahmi terhadap semua elemen umat Islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia Islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan Islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rasulullah SAW sebagai hasil dari aktivitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya Islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Memberi Makan Orang Lapar, Amalan Mulia yang Dicontohkan Para Ulama


Memberi makan orang lapar sebagai amalan mulia yang dicontohkan para ulama.

Memberi makan orang yang sedang kelaparan merupakan amalan mulia yang mendapat perhatian dalam nasihat para ulama. Keutamaan berbagi makanan ini dibahas oleh Al-Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf dalam tausiyahnya melalui pembacaan kitab Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, kutipan perkataan Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas, serta kisah kedermawanan Syekh Abu Bakar bin Salim.

Ketiga bagian tersebut mengangkat pesan tentang pentingnya berbagi makanan, keutamaan memberikan sesuap nasi kepada orang yang lapar, dan keteladanan seorang ulama yang dikenal melalui kisah tentang dapurnya yang terus menyediakan makanan bagi para musafir dan orang-orang kelaparan.

Pesan Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad tentang Berbagi Makanan

Dalam tausiyahnya, Al-Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf membacakan teks kitab yang memuat pesan Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad tentang keutamaan berbagi makanan. Beliau menyampaikan perkataan berikut:

Al Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad berpesan pada kita semua agar selalu berbagi makanan... niscaya Allah akan menjauhkan dia dari panasnya api neraka.

Pesan tersebut menekankan pentingnya membiasakan diri berbagi makanan kepada orang lain. Rezeki yang kita miliki dapat menjadi sarana untuk membantu mereka yang membutuhkan, terutama orang-orang yang sedang kesulitan mendapatkan makanan.

Berbagi makanan juga dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Menyediakan hidangan bagi tamu, memberikan makanan kepada tetangga, atau membantu orang yang sedang membutuhkan merupakan beberapa bentuk kepedulian yang bisa dilakukan sesuai kemampuan.

Nasihat Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad ini menjadi bagian penting dari tausiyah Al-Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf tentang keutamaan berbagi makanan. Untuk mengenal lebih jauh sosok ulama tersebut, kamu dapat membaca manaqib Al-Imam Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang tersedia di situs Pemuda Majlis Nurul Musthofa.

Memberi Makan Orang Lapar Lebih Afdal Ketimbang Ibadah Sunah di 70 Masjid

Selain membacakan pesan dari kitab Al-Haddad, Al-Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf juga mengutip perkataan Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas radhiallahu anhu mengenai keutamaan memberikan makanan kepada orang yang lapar.

Al Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas radhiallahu anhu beliau pernah berkata: Luqmatun fi batnil jayi' afdalu min imarati sab'ina jami'. Yang artinya memberikan sesuap nasi kepada orang yang lapar itu lebih afdal ketimbang ibadah sunah di 70 masjid.

Perkataan tersebut secara khusus membahas keutamaan memberikan sesuap nasi kepada orang yang sedang kelaparan. Dalam kutipan yang disampaikan oleh Al-Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf itu, memberi makan orang lapar menjadi pokok pembahasan yang menunjukkan besarnya nilai amalan tersebut.

Bagi orang yang sedang kelaparan, makanan merupakan kebutuhan yang sangat penting. Memberikan makanan kepada mereka yang membutuhkan menjadi bentuk kepedulian yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung.

Melalui kutipan Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas tersebut, tausiyah ini kembali mengangkat pembahasan tentang berbagi makanan. Perkataan tersebut melengkapi pesan Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad yang sebelumnya dibacakan dalam kajian.

Kisah Syekh Abu Bakar bin Salim, Dapur yang Menyala Selama 24 Jam

Al-Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf juga menceritakan kisah kedermawanan Syekh Abu Bakar bin Salim. Dalam kisah tersebut, beliau menggambarkan bagaimana dapur Syekh Abu Bakar bin Salim terus menyediakan makanan untuk menjamu para musafir dan orang-orang yang kelaparan.

Api kompor beliau enggak pernah padam alias menyala selama 24 jam dan dari dapur beliau keluar ratusan sampai ribuan porsi makanan untuk menjamu musafir dan orang-orang kelaparan.

Kisah tersebut menggambarkan kedermawanan Syekh Abu Bakar bin Salim dalam menyediakan makanan bagi banyak orang. Dapur yang selalu menyala menjadi gambaran dari jamuan yang disediakan untuk para musafir dan mereka yang membutuhkan makanan.

Jumlah makanan yang disebutkan dalam kisah tersebut mencapai ratusan hingga ribuan porsi. Perhatian kepada orang-orang yang datang untuk mendapatkan jamuan menjadi bagian utama dari cerita kedermawanan yang disampaikan oleh Al-Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf.

Kisah Syekh Abu Bakar bin Salim melengkapi dua pesan sebelumnya. Jika Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad menyampaikan pesan tentang berbagi makanan dan Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas mengutarakan perkataan tentang keutamaan memberikan sesuap nasi kepada orang lapar, kisah ini menghadirkan gambaran kedermawanan melalui jamuan bagi banyak orang.

Keutamaan Berbagi Makanan dalam Kehidupan Sehari-hari

Pesan dan kisah yang disampaikan Al-Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf mempertemukan tiga pembahasan tentang berbagi makanan. Nasihat Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, perkataan Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas, dan kisah Syekh Abu Bakar bin Salim sama-sama membicarakan perhatian terhadap orang yang membutuhkan makanan.

Dalam kehidupan sehari-hari, berbagi makanan dapat dilakukan melalui berbagai cara. Kita bisa menyediakan makanan untuk tamu, membantu tetangga yang membutuhkan, atau ikut membagikan hidangan kepada orang-orang yang sedang kesulitan.

Kisah Syekh Abu Bakar bin Salim memperlihatkan skala jamuan yang sangat besar sebagaimana diceritakan dalam tausiyah. Sementara itu, pesan tentang memberikan sesuap nasi mengingatkan kita pada tindakan berbagi makanan yang sederhana tetapi menjadi pokok pembahasan dalam perkataan Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas.

Dengan demikian, pembahasan tentang keutamaan memberi makan orang lapar tidak hanya hadir melalui nasihat dan perkataan para ulama, tetapi juga melalui kisah kedermawanan yang disampaikan dalam kajian.

Penutup

Dalam tausiyahnya, Al-Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf membahas keutamaan berbagi makanan melalui pesan Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, perkataan Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas tentang memberikan sesuap nasi kepada orang lapar, serta kisah kedermawanan Syekh Abu Bakar bin Salim yang menjamu para musafir dan orang-orang kelaparan.

Ketiga bagian tersebut menghadirkan pembahasan tentang berbagi makanan melalui nasihat, perkataan, dan kisah para ulama. Semoga kajian ini menjadi pengingat bagi kita untuk senantiasa memperhatikan orang yang membutuhkan dan berbagi makanan sesuai kemampuan.

Semoga Allah SWT memberikan keberkahan dalam rezeki kita dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang gemar berbuat kebaikan. Aamiin ya Rabbal 'alamin.





Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *