Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, terkadang kita terlalu fokus mengejar urusan dunia sampai lupa memperhatikan keadaan hati. Waktu banyak dihabiskan untuk bekerja, mencari penghasilan, mengikuti perkembangan zaman, dan berkumpul bersama teman. Namun, sudahkah semua itu membuat kita semakin dekat kepada Allah SWT?
Dalam sebuah tausiyah, Al-Habib Abdullah bin Ja’far Assegaf menyampaikan sejumlah nasihat yang mengajak umat Islam untuk kembali menata kehidupan. Beliau mengingatkan tentang pentingnya saling menasihati, memilih lingkungan pergaulan yang baik, tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama, serta memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Nasihat-nasihat tersebut terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebab, menjaga iman bukan hanya tentang apa yang kita dengarkan di majelis ilmu, tetapi juga bagaimana kita menjalani kehidupan setelah pulang dari majelis.
Agama Adalah Nasihat, Bukan Alasan untuk Merendahkan Orang Lain
Dalam tausiyahnya, Habib Abdullah bin Ja’far Assegaf mengucapkan, “Adinu nasihah, agama ini nasihat jadi kita saling menasihati...”
Pesan ini mengingatkan kita bahwa nasihat mempunyai tempat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Ketika melihat saudara kita melakukan kekeliruan, bukan berarti kita harus membiarkannya. Akan tetapi, cara menyampaikan nasihat juga perlu diperhatikan agar kebaikan yang ingin disampaikan tidak berubah menjadi sumber pertengkaran.
Menegur seseorang dengan sopan tentu berbeda dengan mempermalukannya di hadapan banyak orang. Begitu pula menasihati dengan kasih sayang tidak sama dengan merasa diri paling benar. Tujuan nasihat seharusnya membantu seseorang memperbaiki diri, bukan membuatnya merasa hina.
Di sisi lain, kita juga perlu belajar menerima nasihat. Jangan sampai kita senang mengingatkan kesalahan orang lain, tetapi langsung marah ketika kesalahan kita sendiri ditegur. Kedewasaan dalam beragama terlihat ketika hati bersedia mendengarkan kebenaran, sekalipun kebenaran itu tidak selalu nyaman diterima.
Jangan Sampai Dunia Menjadi Tujuan Utama Hidup
Habib Abdullah juga menyampaikan kutipan tentang dunia:
“Ad-dunya mal'unah mal'unun ma fiha illa zikrullah...”
Beliau turut menyampaikan ungkapan, “Wahai dunia jadikanlah orang itu hambamu ketika dia menjadikanmu Tuhan tujuan, tapi jadilah engkau hambanya ketika dia bertuhan kepadaku (Allah).”
Pesan tersebut mengajak kita merenungkan kembali posisi dunia dalam kehidupan. Bekerja, mencari nafkah, membangun usaha, menuntut ilmu, dan mencukupi kebutuhan keluarga bukan sesuatu yang harus ditinggalkan. Semua itu tetap bisa menjadi bagian dari kebaikan ketika dilakukan dengan cara yang benar dan tidak membuat kita melupakan kewajiban kepada Allah.
Masalahnya muncul ketika pencapaian dunia mulai menguasai hati. Seseorang bisa terlalu sibuk mengejar penghasilan sampai mengabaikan ibadah, terlalu mengejar pengakuan sampai kehilangan ketenangan, atau terlalu takut kehilangan sesuatu sampai menghalalkan berbagai cara.
Karena itu, kita perlu menata kembali tujuan hidup. Dunia digunakan sebagai sarana untuk berbuat baik, bukan dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan. Memiliki rezeki yang cukup itu baik, tetapi jangan sampai rezeki membuat kita lupa bersyukur. Meraih kesuksesan juga tidak salah, selama kita tidak mengorbankan keimanan dan akhlak demi mendapatkannya.
Pilih Teman yang Mengingatkan kepada Allah
Salah satu pesan yang disampaikan beliau berkaitan dengan lingkungan pergaulan.
“Carilah teman-teman yang baik, carilah teman-teman yang mengajak positif, carilah pergaulan tongkrongan... yang selalu mengingatkan kepada Allah.”
Nasihat ini penting, terutama ketika pergaulan dan media sosial ikut membentuk kebiasaan kita. Teman yang sering bersama kita dapat memengaruhi cara berpikir, cara berbicara, bahkan keputusan yang kita ambil. Karena itu, memilih lingkungan bukan perkara sepele.
Teman yang baik bukan berarti teman yang tidak pernah melakukan kesalahan. Mereka juga manusia biasa. Namun, pertemanan yang sehat adalah ketika satu sama lain berusaha mengajak pada kebaikan, saling mengingatkan saat mulai lalai, dan tidak mendorong kita melakukan sesuatu yang merugikan diri sendiri.
Habib Abdullah juga mengingatkan, “Jangan sampai kita kalah oleh setan, setan tuh penginnya kita jauh dari majelis ilmu.”
Kesibukan dan rasa malas memang bisa membuat seseorang semakin jarang menghadiri pengajian. Awalnya hanya melewatkan satu majelis, kemudian menunda lagi, sampai akhirnya nasihat agama terasa semakin jauh dari keseharian.
Untuk menjaga semangat tersebut, kita bisa membiasakan diri menghadiri majelis ilmu, meluangkan waktu untuk belajar agama, serta membangun lingkungan yang mendukung ibadah. Kita juga bisa membaca pembahasan tentang cara menjaga iman ketika semangat beribadah sedang naik turun.
Perbanyak Selawat agar Hati Tidak Lalai
Nasihat berikutnya berkaitan dengan selawat. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan, “Di dunia kita harus terus memperbanyak selawat agar kita mendapatkan cahaya (nur)...”
Memperbanyak selawat merupakan salah satu amalan yang dapat kita biasakan di tengah kesibukan. Kita tidak harus menunggu waktu luang yang panjang untuk memulainya. Selawat bisa dibaca setelah salat, ketika sedang beristirahat, dalam perjalanan, atau di sela aktivitas sehari-hari selama tetap memperhatikan kewajiban yang sedang dikerjakan.
Yang perlu dijaga bukan hanya banyaknya bacaan, melainkan juga kesungguhan hati dalam membangun kecintaan kepada Rasulullah SAW. Kecintaan itu selayaknya mendorong kita untuk mempelajari ajaran beliau, memperbaiki akhlak, menjaga hubungan dengan sesama, dan berusaha mengikuti tuntunan beliau dalam kehidupan.
Membiasakan selawat juga dapat menjadi pengingat agar hati tidak terus-menerus disibukkan oleh urusan dunia. Ketika pikiran terasa penuh, berhenti sejenak untuk berzikir dan berselawat bisa menjadi kesempatan untuk kembali mengingat Allah serta menata niat.
Menjaga Ikatan Batin dengan Para Wali Allah
Dalam bagian lain dari tausiyah tersebut, Habib Abdullah menyampaikan, “Nahnu ahlul wafa...” Beliau juga berpesan agar umat memiliki ikatan batin dengan para wali Allah melalui ungkapan “ta’alluq bihim daim”.
Pesan ini dapat menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga kecintaan dan penghormatan kepada orang-orang saleh, para ulama, serta guru yang membimbing kita dalam perjalanan beragama. Hubungan tersebut tidak seharusnya berhenti pada kekaguman terhadap sosok tertentu, tetapi juga mendorong kita meneladani ilmu, akhlak, ketulusan, dan perjuangan mereka dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam tradisi keilmuan Islam, menghormati guru dan mengambil teladan dari orang-orang saleh merupakan bagian dari usaha memperbaiki diri. Kita berharap mendapatkan pertolongan dan rahmat Allah, sembari terus memperkuat keimanan, memperbaiki amal, dan menjalankan kewajiban dengan sungguh-sungguh.
Dengan begitu, ikatan batin bukan hanya menjadi ungkapan kecintaan, melainkan juga dorongan untuk menjaga istiqamah dalam kehidupan sehari-hari.
Membawa Nasihat Majelis ke Dalam Kehidupan Sehari-hari
Nasihat yang baik akan semakin bermakna ketika mulai dipraktikkan. Kita tidak harus menunggu menjadi orang yang sempurna untuk memperbaiki diri. Perubahan bisa dimulai dari hal-hal sederhana.
- Biasakan menyampaikan nasihat dengan sopan dan belajar menerimanya tanpa terburu-buru membela diri.
- Pilih pergaulan yang mendukung kebaikan dan luangkan waktu untuk hadir di majelis ilmu.
- Atur kesibukan dunia agar tidak menggeser kewajiban ibadah dan tanggung jawab kepada keluarga.
- Sediakan waktu untuk memperbanyak selawat dan mengingat Allah di tengah aktivitas harian.
- Hormati para guru dan orang saleh dengan mempelajari serta meneladani akhlak mereka.
Di zaman ketika perhatian kita mudah teralihkan oleh berbagai hiburan dan informasi, menjaga hati memang membutuhkan kesungguhan. Kita juga bisa membaca nasihat tentang menjaga hati di tengah ramainya FYP dan media sosial sebagai pengingat untuk tetap sadar terhadap apa yang kita lihat, dengar, dan ikuti setiap hari.
Penutup
Tausiyah Al-Habib Abdullah bin Ja’far Assegaf mengingatkan kita bahwa kehidupan seorang Muslim bukan sekadar tentang mengejar pencapaian dunia. Ada hati yang perlu dijaga, pergaulan yang perlu dipilih, nasihat yang perlu diterima, serta kecintaan kepada Rasulullah SAW yang perlu terus dipupuk melalui selawat.
Jangan sampai kita hanya merasa tersentuh ketika mendengar nasihat di majelis, tetapi kembali menjalani kebiasaan lama tanpa perubahan. Mari mulai dari langkah kecil: memperbaiki niat, menjaga teman, meluangkan waktu untuk menuntut ilmu, dan membiasakan selawat dalam keseharian.
Semoga Allah SWT membimbing kita agar tidak diperbudak oleh dunia, menguatkan langkah kita dalam kebaikan, dan menjadikan kita hamba yang istiqamah dalam beribadah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
