Ada kalanya yang membuat kita kecewa bukan karena sesuatu yang terjadi, tetapi karena kita sudah terlalu jauh membayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi.
Kita membayangkan semuanya berjalan sesuai keinginan. Kita membayangkan seseorang akan tetap bersama. Kita membayangkan sebuah rencana pasti berhasil. Kita bahkan terkadang sudah merasakan bahagianya sesuatu sebelum benar-benar memilikinya.
Ketika kenyataan ternyata berbeda, rasanya seperti kehilangan sesuatu yang sebenarnya belum pernah menjadi milik kita.
Karena itu, ada sebuah kalimat sederhana yang layak direnungkan:
“Kurangi bersenang-senang dengan harapan, maka engkau tak akan sering terjatuh oleh kekecewaan.”
Kalimat ini bukan berarti kita harus berhenti berharap. Bukan pula mengajarkan kita untuk menjadi pesimis terhadap kehidupan.
Justru sebaliknya, kita diajak untuk belajar menempatkan harapan dengan lebih bijaksana.
Harapan Itu Baik, Tetapi Jangan Sampai Menjadi Sandaran Utama
Memiliki harapan adalah sesuatu yang manusiawi.
Kita berharap mendapatkan pekerjaan yang baik, memiliki hubungan yang bahagia, mendapatkan rezeki yang cukup, menyelesaikan sebuah rencana, atau melihat doa yang selama ini dipanjatkan akhirnya terwujud.
Tidak ada yang salah dengan semua itu.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika harapan tersebut mulai terasa seperti sesuatu yang wajib terjadi.
Di situlah hati mulai mudah gelisah.
Ketika sesuatu tidak sesuai rencana, kita bukan hanya merasa sedih karena hasilnya berbeda. Kita juga merasa seolah-olah hidup telah mengambil sesuatu yang sudah kita anggap pasti menjadi milik kita.
Padahal sejak awal, kita memang tidak pernah benar-benar tahu bagaimana akhir dari sebuah perjalanan.
Kita Sering Terlalu Bahagia dengan Sesuatu yang Belum Pasti
Pernah nggak kamu merasa sangat bahagia hanya karena membayangkan sesuatu?
Belum diterima kerja, tetapi sudah membayangkan gajinya.
Belum mendapatkan seseorang, tetapi sudah membayangkan masa depan bersamanya.
Belum memiliki sesuatu, tetapi sudah membuat banyak rencana seolah-olah semuanya pasti berhasil.
Tidak ada salahnya bermimpi. Namun ketika pikiran kita terlalu lama tinggal di dalam bayangan tersebut, kenyataan yang berbeda bisa terasa jauh lebih menyakitkan.
Itulah sebabnya terkadang kita perlu menikmati harapan secukupnya.
Berharap boleh. Berusaha wajib. Berdoa jangan berhenti.
Tetapi hasil akhirnya tetap kita serahkan kepada Allah.
Jangan Membuat Hati Terlalu Bergantung pada Satu Kemungkinan
Salah satu penyebab kekecewaan yang berat adalah ketika kita hanya melihat satu kemungkinan.
“Pokoknya harus ini.”
“Kalau bukan dia, aku tidak mau yang lain.”
“Kalau rencana ini gagal, semuanya selesai.”
Pikiran seperti itu membuat hati tidak memiliki ruang untuk menerima kemungkinan lain.
Padahal kehidupan tidak selalu berjalan melalui jalan yang sudah kita pilih.
Ada pekerjaan yang gagal tetapi kemudian membuka kesempatan lain.
Ada hubungan yang berakhir tetapi justru membuat seseorang belajar menghargai dirinya sendiri.
Ada rencana yang batal karena ternyata ada jalan lain yang lebih baik untuk ditempuh.
Kita mungkin belum memahami alasannya ketika semua itu terjadi. Dan memang tidak semua hal harus langsung kita pahami.
Allah Mengetahui Sesuatu yang Tidak Kita Ketahui
Dalam QS. Al-Baqarah ayat 216, Allah mengingatkan bahwa manusia bisa saja menyukai sesuatu padahal sesuatu itu tidak baik baginya. Sebaliknya, kita bisa membenci sesuatu yang ternyata membawa kebaikan.
Pesannya sederhana tetapi dalam: pengetahuan manusia terbatas.
Kita hanya melihat apa yang sedang terjadi hari ini. Allah mengetahui keseluruhan perjalanan.
Karena itu, ketika sebuah harapan tidak terwujud, jangan langsung menyimpulkan bahwa Allah sedang mengambil kebahagiaan dari kita.
Bisa jadi kita sedang diarahkan menuju sesuatu yang belum mampu kita lihat.
Renungan tentang hal ini juga pernah dibahas dalam artikel Jangan Terlalu Kecewa! Bisa Jadi yang Kamu Benci Justru Baik untukmu. Terkadang sesuatu yang terasa menyakitkan hari ini baru terlihat hikmahnya setelah waktu berjalan.
Ikhlas Bukan Berarti Tidak Boleh Kecewa
Ada anggapan bahwa orang yang ikhlas seharusnya tidak merasa sedih.
Padahal kita tetap manusia.
Kalau sebuah harapan gagal, tentu hati bisa kecewa. Kalau seseorang pergi, tentu ada rasa kehilangan. Kalau doa belum terwujud, tentu ada masa ketika kita merasa lelah menunggu.
Itu bukan berarti kita tidak bersyukur.
Yang penting adalah apa yang kita lakukan setelah rasa kecewa itu datang.
Apakah kita menyalahkan Allah?
Apakah kita berhenti berusaha?
Atau kita mencoba menenangkan diri sambil berkata, “Aku memang menginginkan ini, tetapi mungkin Allah mengetahui sesuatu yang belum aku ketahui”?
Di situlah proses belajar menerima takdir dimulai.
Berharap kepada Allah, Bukan Terlalu Bergantung pada Hasil
Mungkin ini perbedaan kecil yang memberikan dampak besar.
Kita tetap boleh memiliki target. Tetap boleh membuat rencana. Tetap boleh mengejar sesuatu dengan sungguh-sungguh.
Namun jangan sampai kebahagiaan kita hanya bergantung pada satu hasil.
Lakukan bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita.
Berusaha sebaik mungkin. Berdoa dengan sungguh-sungguh. Meminta petunjuk. Kemudian berikan ruang bagi Allah untuk menentukan hasil akhirnya.
Dengan begitu, ketika hasilnya sesuai harapan, kita bersyukur.
Ketika hasilnya berbeda, kita tetap punya alasan untuk melanjutkan hidup.
Kalau Harapan Tidak Terwujud, Jangan Menganggap Semuanya Sia-Sia
Sering kali kita menilai sebuah perjalanan hanya dari hasil akhirnya.
Kalau berhasil, kita menyebutnya perjuangan.
Kalau gagal, kita menyebutnya sia-sia.
Padahal tidak selalu begitu.
Sebuah kegagalan bisa mengajarkan kita tentang kesabaran. Sebuah penolakan bisa membuat kita memperbaiki kemampuan. Sebuah perpisahan bisa membuat kita lebih mengenal diri sendiri.
Jadi, sesuatu yang tidak sesuai harapan belum tentu tidak memberikan manfaat.
Mungkin hasilnya bukan seperti yang kita inginkan, tetapi prosesnya tetap meninggalkan pelajaran yang berharga.
Belajar Berharap Tanpa Memaksa Takdir
Akhirnya, kita tidak perlu membuang semua harapan.
Kita hanya perlu belajar memegangnya dengan lebih ringan.
Berharaplah, tetapi jangan menganggap harapan sebagai kepastian.
Berusahalah, tetapi jangan merasa hasil harus selalu mengikuti keinginan.
Berdoalah, tetapi jangan menentukan sendiri bagaimana Allah harus menjawabnya.
Dan ketika sesuatu tidak berjalan seperti yang direncanakan, berikan hati kesempatan untuk menerima.
Karena terkadang yang perlu kita ubah bukan keadaan, melainkan cara kita memandang keadaan tersebut.
Kalau hari ini ada sesuatu yang belum sesuai harapan, tidak apa-apa untuk merasa kecewa. Istirahat sebentar. Tenangkan hati. Kemudian lanjutkan lagi.
Jangan terlalu lama tinggal di dalam bayangan tentang sesuatu yang belum tentu menjadi milik kita.
Sebab semakin kita menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang belum pasti, semakin besar pula kemungkinan hati kita terluka ketika kenyataan berkata lain.
Belajarlah berharap kepada Allah dengan tenang.
Karena manusia hanya bisa merencanakan apa yang ingin terjadi, sedangkan Allah mengetahui apa yang sebenarnya kita butuhkan.
Dan mungkin, menerima hal itu adalah salah satu bentuk kedewasaan dalam menjalani kehidupan.
Seperti renungan lain tentang menerima keadaan, belajar berdamai dengan takdir bukan berarti berhenti berusaha. Justru kita tetap bergerak, sambil memahami bahwa tidak semua hal berada dalam kendali kita.