Kita sering mendengar kata "Istiqamah". Saking seringnya, kata itu jadi terasa biasa saja. Tapi, ketika Habib Bagir bin Ahmad Al-Kaff naik mimbar di acara Haul Habib Musthofa, beliau mengubah kata itu menjadi sebuah power yang menggetarkan jiwa.
Habib Bagir bukan sekadar penceramah tamu. Beliau adalah saksi mata. Beliau adalah orang yang melihat langsung sepak terjang Almarhum Habib Musthofa bin Jafar Assegaf dari dekat. Dan dari kesaksian beliau, kita menemukan "Secret Sauce" kenapa sosok Habib Musthofa begitu dicintai ribuan orang bahkan setelah wafatnya.
Jawabannya ada dua: Istiqamah Tanpa Syarat dan Kedermawanan Tanpa Hitungan.
Istiqamah: Jangan Cuma Semangat di Awal
Habib Bagir menceritakan bagaimana Habib Musthofa berdakwah. Beliau tidak peduli jumlah jemaah. Mau yang datang ribuan, mau yang datang cuma sepuluh orang, semangat beliau tetap sama. Mau cuaca cerah, mau hujan badai seperti malam Haul ini, beliau tetap hadir.
"Al-Istiqamah khairun min alfi karamah," kutip Habib Bagir. Istiqamah lebih baik dari seribu keramat (kesaktian).
Di zaman sekarang, kita sering terjebak mentalitas "Viral". Kalau yang nonton sedikit, kita malas bikin konten. Kalau yang like sedikit, kita hapus postingan. Kalau bisnis lagi sepi, kita tutup.
Habib Musthofa mengajarkan mentalitas baja: Lakukan karena Allah, bukan karena Penonton. Konsistensi inilah yang membuat nama beliau abadi. Persuasifnya di sini ngena banget: Kamu mau sukses? Jangan tanya cara cepatnya, tapi tanyalah seberapa lama kamu tahan banting?
The Real "Sultan": Dermawan Sejak Miskin
Kisah yang paling menyentuh dari ceramah Habib Bagir adalah kilas balik ke masa Habib Musthofa masih menjadi santri di Tarim, Yaman.
Biasanya, santri itu identik dengan hidup pas-pasan atau hemat. Tapi Habib Musthofa beda. Teman-teman beliau bersaksi bahwa Habib Musthofa adalah orang yang paling sering meminjamkan uang (bahkan memberi) kepada siapa saja yang butuh, entah kenal atau tidak.
Ini pelajaran mahal. Banyak orang bilang, "Nanti kalau saya kaya, saya akan sedekah." Habib Musthofa tidak menunggu kaya. Beliau dermawan saat masih menuntut ilmu. Sifat "Royal" kepada sesama manusia inilah sifat asli Nabi Muhammad SAW.
Habib Bagir mengajak kita merenung: Harta tidak akan berkurang karena sedekah. Justru, kedermawanan Habib Musthofa itulah yang membuat rezeki dakwah beliau mengalir deras hingga akhir hayat.
Sorban dan Cinta Sunnah
Habib Bagir juga menyoroti penampilan fisik Habib Musthofa yang selalu memakai Imamah (Sorban). Kata teman-temannya di Tarim, beliau tidak pernah melepasnya. Mengapa? Bukan buat gaya-gayaan. Tapi sebagai tanda cinta pada Sunnah Nabi.
Ini adalah bentuk Identitas Diri. Habib Musthofa bangga dengan identitasnya sebagai pengikut Rasulullah. Bagaimana dengan kita? Apakah kita bangga menampakkan identitas keislaman kita, atau kita malu? Habib Bagir secara halus membujuk kita untuk lebih percaya diri dalam menjalankan sunnah.
Wafat di Tanggal Cantik: Skenario Langit
Sebagai penutup, Habib Bagir mengaitkan fakta menarik. Habib Musthofa wafat pada 1 Syaaban.
Syaaban adalah bulan di mana ayat perintah berselawat (Al-Ahzab: 56) diturunkan.
Habib Musthofa seumur hidupnya mengajak orang berselawat.
Dan Allah memanggilnya pulang tepat di bulan Selawat.
"Ini bukan kebetulan," kata Habib Bagir. Ini adalah stempel penerimaan dari Allah. Jika kamu hidup untuk bola, kamu akan mati saat nonton bola. Jika kamu hidup untuk selawat, kamu akan mati dalam naungan selawat.
Yuk, Tiru Mentalitas Ini:
Artikel ini mengajak kita untuk tidak sekadar kagum, tapi meniru.
Mulai Istiqamah dari hal kecil (misal: salat Dhuha 2 rakaat tiap hari, jangan bolong).
Berbagi walau sedikit.
Cintai Nabi dalam setiap gerak-gerik.
Habib Bagir berhasil meyakinkan kita bahwa Habib Musthofa bukan orang sembarangan, karena beliau memegang teguh prinsip-prinsip yang sudah mulai ditinggalkan manusia modern.
