Bayangkan situasi ini: Sudah larut malam, hujan deras, perut lapar, baju basah kuyup, dan kaki pegal karena duduk bersila berjam-jam. Konsentrasi pasti buyar. Rasa kantuk menyerang. Di momen kritis seperti inilah, sebuah majelis membutuhkan "Penyegar".
Dan di Haul Habib Musthofa kemarin, penyegar itu datang dalam wujud Ustaz Fahmi (Prof. H. Fahmi).
Beliau hanya bicara sekitar 5 menit. Sangat singkat. Tapi efeknya? Ribuan jemaah yang tadinya mungkin sudah mulai "teler", tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Energi kembali naik. Apa rahasianya? Dan kenapa gaya ceramah "santai" seperti ini justru sangat krusial dalam dakwah Islam?
Humor sebagai Senjata Dakwah
Ustaz Fahmi naik panggung dengan bahasa Sunda yang kental dan ceplas-ceplos.
"Ibu-ibu damang?" sapa beliau. Lalu langsung menembak dengan guyonan soal "Mimin" dan "Kerupuk Lepek".
Mungkin bagi sebagian orang yang kaku, ini terdengar receh. Tapi cobalah lihat dari kacamata psikologi massa. Jemaah sedang kedinginan. Mereka butuh dopamin. Mereka butuh tertawa untuk menghangatkan badan dan hati.
Ustaz Fahmi paham betul audiensnya. Beliau tidak membawakan dalil yang berat-berat. Beliau membawakan Relatability (Keterhubungan).
Beliau membahas soal celana basah yang jadi "kareunang" (istilah Sunda untuk rasa tidak nyaman di area lipatan paha karena lembab). Jemaah tertawa karena mereka merasakannya saat itu juga.
Di sini Ustaz Fahmi mengajarkan kita: Agama itu tidak harus selalu kening berkerut. Rasulullah pun bercanda dengan para sahabat. Humor yang tepat sasaran bisa meruntuhkan tembok kebosanan dan membuat pesan agama lebih mudah masuk.
Menyapa Semua Kalangan
Lihat bagaimana Ustaz Fahmi mengabsen jemaah: "Pemuda aya? Gadis aya? Nini-nini aya?"
Beliau menyentuh semua segmen. Beliau menyapa "Bestie" (bahasa gaul anak muda), tapi juga menyapa nenek-nenek dengan guyonan soal "kanyut kunang" (dompet zaman dulu).
Ini adalah teknik komunikasi tingkat tinggi. Beliau membuat setiap orang merasa diakui kehadirannya. Dalam dunia blog atau konten, ini disebut Audience Engagement. Ustaz Fahmi tidak bicara kepada jemaah, beliau bicara bersama jemaah.
Pesan persuasifnya: Jangan jadi orang Islam yang eksklusif. Sapalah semua orang dengan bahasa mereka. Kalau bicara sama anak muda, pakailah bahasa mereka. Kalau bicara sama orang tua, hormatilah kenangan masa lalu mereka. Inklusivitas inilah yang membuat majelis seperti Nurul Musthofa bisa dihadiri jutaan umat.
Doa Pamungkas: Singkat Tapi Padat
Meskipun isinya penuh canda, ending-nya tetap daging.
"Angkatkeun pananganana sadayana (Angkat tangannya semua)," perintah beliau.
Beliau mendoakan agar yang menjawab salam banyak duitnya, yang hadir dosa-dosanya diampuni karena jadi saksi kehujanan.
Ustaz Fahmi mengingatkan kita bahwa Kualitas doa tidak ditentukan oleh panjangnya durasi, tapi oleh keikhlasan hati. Di tengah tawa itu, ada "Aamiin" yang tulus. Hujan dan baju basah yang dijadikan bahan candaan, sejatinya divalidasi sebagai saksi amal saleh di akhirat nanti.
Jadilah Pembawa Kebahagiaan
Apa yang bisa kita pelajari dari 5 menit penampilan Ustaz Fahmi?
Jangan Baperan: Hidup sudah susah, jangan dipersulit dengan muka masam. Hadapi masalah (seperti hujan/basah) dengan tawa.
Jadilah Orang yang Menyenangkan: Jadilah tipe teman yang kalau datang, suasana jadi hidup. Bukan yang kalau datang, suasana jadi tegang.
Hargai Momen: Ustaz Fahmi tahu waktunya sempit. Beliau tidak egois ingin ceramah panjang lebar. Beliau maksimalkan waktu yang ada untuk membahagiakan orang.
Jadi, kalau nanti kalian datang ke majelis dan kehujanan, ingatlah jokes Ustaz Fahmi. Anggap saja kita sedang jadi "kerupuk lepek" yang sedang dicelup ke dalam kuah rahmat Allah. Basah sedikit tidak apa-apa, yang penting hati bahagia!
